
Satu bulan sudah Ayu menempuh pendidikan di kampus yang sama dengan Akhtar dan selama dia berada di kampus tak ada terjadi sesuatu hal apa pun.
Akhtar juga masih tinggal di kost, setiap minggu dia memang akan berkunjung ke rumah orang tuanya di saat Riki tak ada di rumah tentunya.
Caca selalu memaksa Akhtar untuk kembali pulang, tapi lagi-lagi Akhtar menolak karena dirinya lebih nyaman tinggal sendiri meskipun sedikit ribet karena apa-apa harus dilakukan sendiri olehnya.
Riki juga Caca dan Leon tengah berjalan-jalan di mall, mereka akan membeli kebutuhan yang sudah habis. Semacam belanja bulanan.
Caca juga akan membeli beberapa kebutuhan untuk Akhtar tentunya dan Riki tak mempermasalahkan hal itu.
Saat tengah mendorong troli mengikuti Caca, langkah Caca terhenti karena melihat seseorang yang dia kenali.
Wanita di hadapannya itu kini tersenyum dengan bersedekap dada menatap penampilan Caca dari atas ke bawah.
Riki langsung berpindah tempat menjadi di samping Caca.
"Wah ... suatu kebetulan yang sangat luar biasa bisa bertemu dengan kalian," ucap Diva tersenyum sinis.
Leon yang berada di bawah dengan memegang tangan Caca langsung mendongak dan menarik tangan tersebut.
"Mama, tante itu siapa?" tanya Leon menatap Caca.
Pandangan Diva langsung beralih ke bawah, dia berjongkok dan menatap ke arah Leon.
"Hay, Boy! Tante adalah Diva, mantan calon Mommy kamu," ujar Diva tersenyum memperkenalkan diri.
Leon yang diajak berbicara langsung menatap ke arah Diva yang berada di depannya, ia mengerutkan keningnya.
"Boy? Nama aku Leon, Tante. Bukan Boy, mantan Mommy itu apa? Leon tidak punya Mommy. Leon punyanya Mama dan Mama Leon itu Mama Caca bukan Tante," jelas Leon dengan wajah polosnya.
Caca yang mendengar ucapan tak jelas dari mulut Diva langsung menyembunyikan Leon ke belakangnya.
Diva tersenyum sinis melihat apa yang dilakukan Caca, dia bangkit dan menatap ke arah mereka berdua.
"Kayaknya, kalian sudah seperti keluarga cemara, ya? Sudah begitu bahagia."
"Ya, dan hanya kaulah yang tak bahagia. Karena kau tak pernah bersyukur dan menerima apa yang Allah berikan!" cibir Caca.
"Hahaha, tau apa kau anak kecil tentang bersyukur? Kau bahkan dengan terang-terangan mengambil calon suamiku di hari pernikahan kami!"
Diva menatap ke arah Riki seraya mengedipkan matanya sebelah ke arah laki-laki yang menatapnya dengan tajam dari awal.
__ADS_1
"Oh, sekarang kau mau berubah jadi pelakor, ya? Ilmu tentang pelakormu sudah banyak ternyata!" cetus Caca.
"Tapi, aku pun tak minat untuk mengambil sampah yang sudah kubuang begitu saja," jelas Diva tersenyum sinis.
"Kau berkata kalau aku sampah? Itu lebih pantas untuk dirimu!" ujar Riki.
"Hahaha, sudahlah. Aku tak punya banyak waktu untuk meladeni kalian, lebih baik aku pergi dulu," ungkap Diva dan berjalan melewati Caca dan Riki.
Namun, baru beberapa langkah dirinya pergi. Ia sudah kembali lagi ke hadapan Caca dan Riki yang masih mematung.
"Aku saranin sama kalian, untuk jauhkan anak kalian dari anakku. Jangan pernah mimpi untuk dapat restu dariku, karena aku tak akan sudi memiliki besan seperti kalian!"
"Kalau kami tidak mau, kau mau apa?" tanya Riki yang sudah tersulut emosi.
"Wah ... apa kau sangat ingin berbesanan denganku?" tanya Diva menunjuk ke dirinya sendiri.
"Itu hak mereka, kami tak akan pernah ikut campur jika memang mereka ingin bersama."
"Tapi sayangnya, aku tak akan memberi izin untuk mereka bersama. Tak akan ada kebersamaan di antara mereka sampai kapan pun, kau paham itu? Lebih baik, suruh anakmu memutuskan anakku Ayu!"
Setelah mengucapkan hal itu, Diva kembali pergi dari hadapan mereka. Caca melihat ke arah belakang dan tampak punggung Diva mulai menghilang.
Caca menatap Riki dari samping, "Kenapa?" tanya Riki saat mengetahui Caca tengah menatapnya.
"Apa?"
"Ck! Sok gak tau lagi, bukannya Mas gak ngasih izin Akhtar buat berteman sama Ayu? Kenapa pas disuruh Diva buat jauhin anak kita Mas malah gak mau?"
"Apakah kau kira anak kita bisa ditentang keinginannya? Apalagi perihal wanita, dia sama seperti dengan Papanya yang tampan ini. Jika dia suka, dia akan pertahankan bahkan lihat sekarang. Dia sampai rela keluar dari rumah demi Ayu," terang Riki tersenyum tipis.
Bibir Caca terangkat mendengar kalimat 'tampan' dari Riki, ia kemudian mengangguk karena memang itulah kenyataannya bahwa Akhtar sama sifatnya seperti Riki.
"Jadi selama ini?"
"Ya, aku hanya menguji dia. Melihat apakah dia beneran suka sama anak itu atau tidak dan aku juga sudah menyuruh mata-mata untuk mengikuti dan mencari tau tentang Ayu. Ternyata, dia sangat jauh berbeda dengan Diva," ujar Riki
"Hanya saja, aku heran kenapa tentang dirinya juga disembunyikan oleh Angga. Terlebih tentang ia yang menyelamatkan korban kecelakaan itu," sambungnya lagi.
"Ya, mungkin dirinya tak mau jika Ayu harus terseret jika terjadi sesuatu pada orang tuanya. Itu sebabnya Pak Angga tak mau sampai anaknya tersorot media," ungkap Caca.
Riki mengangguk, "Ya, mungkin saja." Riki mengambil kembali trolinya dan Caca membuat Leon kembali ke samping tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu sudah minta maaf sama Ayu, Mas?" tanya Caca sembari berjalan mencari kebutuhan yang lain.
"Belum, tapi aku akan minta maaf langsung sama dia, kok. Cuma belum dapat waktu yang tepat aja."
"Apa Ayu dan Akhtar sudah pacaran, ya? Kok Diva tadi nyuruh Akhtar putuskan Ayu, sih?"
"Akhtar tak berbicara apa pun dengan kau?"
"Tidak, Mas. Kemarin dia gak ngomong apa-apa, dia cuma cerita tentang kampus dan dia bilang akan lulus tepat waktu."
"Kenapa? Apakah ada sesuatu yang ingin dia capai sehingga mau lulus tepat waktu?"
Plak ...!
Pukulan dihadiahi Caca di lengan Riki yang kekar tersebut, "Kenapa?" tanya Riki kaget dengan apa yang dilakukan Caca.
"Kamu ini, memang sudah seharusnya dia lulus tepat waktu. Kok malah nanya 'kenapa' sih?" tanya Caca memajukan bibirnya kesal.
"Ya, biasanya 'kan cowok pasti akan malas-malasan untuk lulus tepat waktu. Mereka akan berkeluh-kesah saat menyelesaikan skripsi dan pasti bermain-main dulu untuk satu atau dua semester."
"Tapi 'kan gak semua anak itu sama! Kamu liat dulu siapa Mamanya, masa dia mau lebih buruk dari Mamanya, sih?"
"Iya-iya," potong Riki dengan tersenyum. Ia menoel hidung Caca, membuat wanita itu semakin kesal.
"Jangan kesal, kau akan semakin cantik dan menggemaskan apa kau ingin aku memakanmu di sini?" tanya Riki berbisik.
Caca yang mendengar kalimat itu langsung membulatkan matanya dan menatap tajam ke arah Riki.
"Coba aja kalo berani, aku pukul kamu Mas!" ancam Caca dengan tangan yang sudah siap melayang.
Cup ...!
Tangan Riki sebelah kanan dibuat menutup mata Leon agar tak melihat kejadian barusan, Riki dengan santai mencium Caca.
"Mas, kamu ya!" teriak Caca yang tak tahu bahwa Riki senekat itu.
"Kan, kamu yang nyuruh aku. Kamu kira aku akan takut dengan ancamanmu itu, Baby?" tanya Riki menaik turunkan aslinya.
Dengan cepat, Caca memijak kaki Riki dan berjalan mendahului laki-laki tersebut. Ia sesekali melihat ke belakang, bukan untuk melihat Riki tapi men-cek suasana barusan apakah ramai orang yang melihat apa yang dilakukan Riki tadi padanya atau tidak.
"Hahaha, kau makin mengemaskan seperti itu Sayang. Aku jadi gak sabar buat memakanmu," gumam Riki dan berjalan menyusul Caca juga Leon yang sudah berada di depan.
__ADS_1
'Sepertinya, aku memang harus minta maaf sama Ayu juga bertemu dengan Angga untuk membahas hal ini atau sekedar berkenalan saja,' batin Riki mengangguk.