
Siang ini, Ayu tengah berada di perpustakaan kampus untuk mencari buku yang bersangkutan dengan tugasnya.
Awalnya, ia mengajak Ningsih untuk ke sini bersama-sama. Tapi, Ningsih punya kesibukan lain hingga harus pulang lebih dulu.
Ayu berjalan di lorong-lorong buku untuk mencari buku yang dia inginkan, dibaca satu per satu judul buku di lorong paling ujung.
"Nah, itu bukunya!" seru Ayu mendongak ke arah buku yang berada di rak paling atas.
Dirinya melihat ke arah sekitar, tak ada orang yang bisa diminta tolong. Ayu mencoba untuk jinjit agar mampu mengambilnya.
"Dih, seharusnya pihak perpustakaan menyediakan kursi plastik gitu di setiap lorong. Jadi, kalo ada yang susah diambil bukunya biar gampang!" ketus Ayu masih mencoba mengambil bukunya.
Tiba-tiba, buku yang dia inginkan sudah di pegang oleh orang lain. Ayu sontak menatap ke orang tersebut.
"Yah 'kan aku duluan yang nemu," tegur Ayu memajukan bibirnya.
"Haha, tapi 'kan saya duluan yang mengambilnya."
"Ck! Kirain akan kek di drama-drama, cowoknya ngambilkan buku di rak, eh, ternyata malah enggak," gumam Ayu dan berjalan hendak meninggalkan lorong tersebut.
"Eh, hey tunggu!" larang orang tersebut dengan memegang pergelangan Ayu membuat wanita itu berhenti.
Ayu langsung menatap tangan pria itu di pergelangan dia, "Eh, maaf," ucapnya dan melepaskan tangannya.
"Nih, lagian kamu main ngambek aja."
"Dih, siapa yang ngambek?" tanya Ayu mengambil buku yang diserahkan orang tersebut.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat mereka dari ujung lorong. Laki-laki tersebut langsung menghampiri ke arah mereka.
"Eh, hay, Sayang. Kamu, kok gak ngasih tau aku sih kalo mau ke sini juga? Padahal, kita bisa bareng, lho," ujarnya memegang tas tote bag yang tengah di kenakan Ayu.
Ayu dan pemuda itu langsung menatap heran ke arah Akhtar, sedangkan Akhtar menampilkan senyum lebarnya.
"Eh, makasih, ya, Haykal karena udah bantuin pacar gue. Kalo gitu kami duluan dulu," pamit Akhtar dengan menarik tas tote bag Ayu membuat wanita itu juga ikut tertarik.
"Dih, lu apaan sih!" ketus Ayu melepaskan tangan Akhtar dari tasnya.
"Lu yang apaan, kenapa berduaan sama dia begitu di lorong? Mana gak ada siapa-siapa di situ, kalo lu diapa-apain sama dia gimana?"
Pertanyaan dari Akhtar membuat Ayu kaget dan menautkan alisnya, ia meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menatap tajam ke arah Akhtar.
__ADS_1
"Emangnya kenapa? Bukan urusan lu, mau kita ngapain juga! Lu bukan siapa-siapa gue!" jelas Ayu dan pergi dari hadapan Akhtar.
"Guys, calon pasutri muda tengah berantem tuh!" ucap Ahmad dengan pelan bersama kedua temannya.
"Asyik, nih! Kapan jadi pasutri benerannya?" tanya Bambang tersenyum.
"Bener, dah gak sabar mau bungkusin rendang buat dibawa pulang. Hahaha," timpal Bayu.
Mereka tengah asyik mengintip Akhtar dan juga Ayu yang tengah sedikit berdebat tersebut tanpa diketahui oleh Akhtar.
Rupanya, Akhtar tak tinggal diam. Dia kembali menahan Ayu dan membuat wanita itu menatap Akhtar dengan muak.
"Gue calon suami lu, jangan paksa gue harus menikahi lu di waktu yang cepat karena sikap lu begini," ancam Akhtar dengan wajah yang serius.
Ayu yang mendengar ucapan itu menatap dengan fokus, beberapa detik kemudian dia tertawa tapi ditahan untuk tak keras.
Karena, di perpustakaan tentunya dilarang untuk tertawa karena akan menganggu kenyamanan orang yang tengah membaca buku di ruangan ini.
"Hahaha, gak usah halu deh lu! Pede banget gue akan nerima lu, lu kira lu itu cakep apa? Ingat, lu itu cuma cowok sombong dan gak peduli pada sampah!" cibir Ayu dan menepuk lengan Akhtar menggunakan buku yang dipegangnya.
Ayu langsung ke tempat penjaga perpustakaan untuk memberi tahu bahwa dia meminjam buku. Batas meminjam buku seminggu, jika ingin meminjam buku tersebut lagi maka diperbolehkan kembali.
"Ada apa Buk?" tanya Akhtar menatap ke samping.
"Kamu baca buku apa? Kalo kamu ke sini cuma buat caper sama cewek biar dianggap rajin membaca, mending gak usah ke sini!" tegas penjaga perpustakaan.
"Ck! Ini namanya memperjuangkan perasaan, Buk."
"Perjuangkan-perjuangkan, kuliah masih lama lulus udah sok banget kamu tuh!" ketusnya.
"Dih, gak papa dong Buk. Biar pas udah lulus langsung nikah, bukan kayak Ibu yang udah tua gak nikah-nikah," ejek Akhtar langsung berlari karena melihat penjaga perpus yang sudah siap untuk mengeluarkan amukannya.
"AKHTAR!!!" pekik Ibu penjaga perpustakaan.
"Sutttt ...," desis orang-orang yang tengah membaca menatap ke arah penjaga perpustakaan karena ribut.
Dirinya hanya tersenyum kikuk, antara malu dan masih ingin memberi pelajaran pada anak itu.
Akhtar kini berada di koridor kampus dengan langkah yang panjang, bukan untuk menghindari penjaga perpus lagi.
Tapi, ia sedang mencari keberadaan Ayu. Suara dering handphone membuat Akhtar berhenti sejenak untuk melihat siapa yang menelpon dirinya.
__ADS_1
"Iya, ada apa Ma?" tanya Akhtar saat melihat nama Caca yang tersemat di sana.
"Kamu besok bisa pulang? Kan, besok kampus libur."
"Ada apa emang, Ma?" tanya Akhtar dengan mata dan langkah kaki yang tetap mencari Ayu.
"Mama mau bicara dan pastinya Mama rindu sama kamu."
"Ohh, iya Ma. Nanti, Akhtar datang ke rumah, ya. Oh, iya, apa Mama yang kirim barang-barang minggu lalu ke kost Akhtar?"
"Dih, kamu udah gak sayang lagi sama Mama, ya?"
"Ha, kok Mama ngomong begitu, sih?"
"Seminggu yang lalu dan baru ini kamu tanyakan? Ke mana aja kamu selama ini?"
"Akhtar banyak tugas dan praktek kampus Ma, jadi fokus ke situ."
"Hmm ... alibinya selalu tentang kampus!" ketus Caca.
"Haha, jangan ngambek Ma. Ntar, Mama malah tambah cantik, lho," goda Akhtar tersenyum.
"Tau, ah! Pokoknya besok kamu datang ke rumah, ya. Mama mau ngobrol dan rindu sama kamu, oh, ya, kamu udah makan? Ini lagi di mana?"
"Udah Ma, lagi di kampus kok."
"Masih ada kelas?"
"Enggak, Ma. Udah mau pulang, kok."
"Yaudah kalau gitu, kamu hati-ha--"
"Ayu!" pekik Akhtar saat melihat Ayu ingin masuk ke dalam mobil.
"Ma, udah dulu ya, Ma. Besok pokoknya Akhtar datang ke rumah kok. Assalamualaikum." Akhtar mematikan panggilan lebih dulu dan berlari mengejar Ayu yang tak mendengar pekikan darinya tadi.
Caca menatap ponselnya, "Gaya beut alibinya kampus, padahal lagi fokus ngejar pujaan hati juga," cibir Caca menggelengkan kepalanya.
Sebelum Akhtar dapat menahan Ayu, wanita itu sudah masuk ke mobil milik Angga. Memang, sekarang Ayu lebih sering diantar-jemput daripada menggunakan taksi atau angkutan umum.
"Ck! Budeg kayaknya tuh cewek!" cibir Akhtar saat sampai di tempat Ayu sedangkan mobil telah pergi jauh.
__ADS_1