
Pesawat telah sampai di bandara Jakarta, satu per satu penumpang turun dari pesawat. Saat tengah berjalan keluar, mata Ayu dan Akhtar bertemu.
Ayu dengan cepat memutuskan kontak lebih dulu, ternyata mereka satu pesawat dengan Ayu duduk di bangku belakang.
"Ayu, kamu naik apa?" tanya Kiki saat mereka sudah berada di dalam bandara menuju keluar.
"Naik taksi kayaknya Kak," jawab Ayu tersenyum.
"Saya antarkan aja sekalian, ya?" ajak Kiki.
"Aku juga mau diantar dong, Kak!" seru Ningsih yang tiba-tiba bergabung dengan mereka.
Mereka sampai di luar bandara, satu per satu sudah pulang dengan kendaraan masing-masing. Kiki menunggu mobil milik keluarganya.
"Ayu, kamu kenapa?" tanya Kiki yang melihat Ayu dari tadi hanya melamun saja.
"Eh, gak papa kok Kak," jawab Ayu cepat sembari tersenyum.
"Kakak mah, Ayu mulu yang ditanya. Ini lho, di sini ada aku. Ningsih Kak," tegur Ningsih yang berada di samping kiri Ayu.
Mereka langsung melihat ke arah Ningsih yang ternyata haus perhatian.
"Bukannya tadi kata kamu mau dijemput sama adik kamu, ya, Ningsih?" tanya Ayu. Karena seingat dia, Ningsih berkata bahwa akan dijemput oleh adiknya nanti.
"Gak jadi, dia aku suruh pulang lagi. Kesian lagian, masih enak-enak tidur masa harus bangun demi aku."
"Lah, ini 'kan udah siang. Hampir jam tengah sepuluh, lho," ucap Ayu melihat arloji miliknya.
"Hehe, udah-udah. Gak usah dipentingin soal adik aku, mending kita fokus nunggu mobil Kak Kiki aja," dalih Ningsih sembari menunjuk ke arah luar sambil cengengesan.
"Tar, lo di jemput sama siapa?" tanya Bayu.
Geng Akhtar berdiri di samping Kiki dengan memberi jarak yang lumayan jauh, Ayu tak sedikitpun melirik ke arah mereka.
Ia hanya fokus menatap ke depan, menunggu mobil Kiki datang.
"Jemput sama Mama gue," kata Akhtar sambil menyeruput kopi yang mereka beli di dalam bandara tadi.
"Eh, ada gadis penolong juga," ucap Bambang melihat ke arah Ayu.
Ayu yang tahu bahwa panggilan itu untuknya menatap acuh, sedangkan Ningsih melihat ke arah mereka dengan tersenyum tipis.
"Ck! Udah sok paling paham tentang alam. sombong pula!" cibir Akhtar.
__ADS_1
"Udah sok paling tau alam, sok tau pula!" kata Ayu tanpa melihat ke arah lawan.
Akhtar mengepalkan tangannya menatap ke arah Ayu, hingga suara mobil berhenti tepat di hadapan mereka.
Seorang wanita turun dari mobil, menatap ke arah anaknya.
"Mama," panggil Akhtar.
"Kamu ini, yah! Mama udah bilang buat jangan pergi ke sana, malah tetap aja pergi. Mama akan laporkan kamu ke Papa nanti!" geram Caca sambil menjewer telinga Akhtar.
"Aww ... sakit Ma, sakit," keluh Akhtar dengan tangan sebelahnya memegang tangan Caca.
Ningsih tertawa melihat hal itu, hingga membuat Caca menatap ke arah Ningsih sedangkan Ayu hanya menampilkan wajah datar melihat ke arah depan.
Memang, dirinya terkenal sebagai wanita yang irit berbicara, suka ketenangan dan jauh dari kerumunan orang semua itu dia dapatkan ketika mendaki gunung.
Caca melepaskan tangannya dari telinga Akhtar dan berjalan ke arah Ayu yang masih belum menyadari.
Akhtar mengusap telinganya yang merah akibat perlakuan Caca tadi, sedangkan temannya hanya menahan tawa.
"Kamu? Kamu yang bantu anak saya pas di gunung itu 'kan?" tanya Caca menunjuk ke arah Ayu.
Ayu yang merasa bahwa ada seseorang yang tengah berbicara padanya langsung menatap ke arah suara.
Grap ...!
Tanpa aba-aba, Caca langsung memeluk Ayu. Ayu yang mendapatkan pelukan secara tiba-tiba itu hanya mampu mematung.
Bahkan, ia sama sekali tak membalas pelukan dari Caca hingga tautan itu terlepas.
"Eh, maaf, ya. Maaf, banget kalo Tante lancang," rutuk Caca dengan apa yang dia lakukan ketika melihat Ayu yang masih berdiam diri.
"Eh, gak papa kok Tante," kata Ayu yang seolah baru sadar.
"Kalo gak ada kamu, Tante gak tau apa yang akan terjadi dengan anak bandel itu! Tante udah bilang sama dia buat gak pergi ke sana tapi dia malah tetap kekeuh pergi," jelas Caca sambil melirik tajam ke arah Akhtar.
"Mam pus! Malah di roasting sama Mama sendiri," gerutu Akhtar yang malu karena ulah Caca.
"Iya Tante, gak papa kok. Lagian, selagi saya mampu kenapa enggak? Gak ada salahnya membantu orang meskipun yang dibantu sebenarnya agak gak pantas dapat bantuan!" geram Ayu menekan setiap kalimatnya sambil menatap tajam ke arah Akhtar.
Hal itu diketahui oleh Caca, "Maksud kamu? Akhtar gak ada bilang makasih?" tanya Caca menaikkan alisnya.
"Oh, Tante. Jangankan makasih, bersikap baik aja dia enggak sama sahabat saya ini! Padahal, sahabat saya udah baik bangetttt sama dia!" timpal Ningsih yang mengeluarkan uneg-ujungnya.
__ADS_1
Akhtar yang mendengar kalimat itu membulatkan mata, dia kira bahwa mereka tak akan menceritakan apa-apa.
Ternyata, semua di luar pikiran dirinya. Mereka bukan orang yang suka menyimpan sesuatu melainkan akan berterus terang.
Caca yang mendengar kalimat itu mengepal tangannya sempurna dan membuang napas kasar.
"Baiklah kalau begitu, atas nama anak Tante. Tante minta maaf dan terima kasih sama kalian semua, ya," ucap Caca menatap wajah Ningsih, Ayu juga Kiki.
Ayu tersenyum, "Tante gak perlu terima kasih dan minta maaf, anak Tante gak bisu dan punya pikiran kok. Orang yang punya kekurangan bahkan bisa lebih menghargai," ujar Ayu mengusap bahu Caca.
"Berhubung mobil kami sudah datang, kami duluan, ya, Tante. Assalamualaikum," sambung Ayu mengambil tangan kanan Caca dan mencium punggung tangan itu dengan takzim.
Setelahnya, mereka bertiga masuk ke dalam mobil milik keluarga Kiki dengan laki-laki itu duduk di depan sopir.
Tit ...!
Caca melambai ke arah mobil hingga mobil tersebut sedikit menjauh, setelah merasa mobil tadi menjauh.
Ia menatap tajam ke arah anaknya, "Masuk kalian!" perintah Caca masuk ke dalam mobil lebih dulu.
"Hadeuh, auto dimarahin dah ini sama Tante," keluh Bambang dengan bahu yang lemas.
"Gue bilang juga apa, Tar lo jangan gak bilang makasih dan sikap baik ke Ayu dan temannya itu. Ntar, Mama lo akan marahin kita," timpal Ahmad.
"Tau, dah!" timbrung Bayu.
"Kalian kenapa malah pada salahin gue?" tanya Akhtar nyolot.
"Udah, ayo!" sambung Akhtar berjalan ke arah mobil diikuti ketiga temannya itu.
Di dalam mobil milik Kiki, Ayu hanya menatap jalanan dari kaca mobil. Ia hanya diam dari tadi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Yu, kenapa?" tanya Kiki melihat Ayu dari kaca spion mobil.
"Ha? Enggak papa Kak," ungkap Ayu menatap ke arah kaca spion.
"Serius?"
"Iya, Kak."
"Kalau ada apa-apa, kamu cerita aja sama saya, ya."
Ayu mengangguk dan tersenyum, 'Ternyata, gini rasanya di peluk oleh seorang Ibu, ya? Ada yang aneh, seperti rasa bahagia yang tak akan mampu kuukirkan' batin Ayu menatap ke bawah.
__ADS_1