Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Mencoba Menerima


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul 9 malam, hanya ada keheningan di dalam mobil. Ayu menatap ke arah samping dan Akhtar fokus ke jalanan sambil sesekali melirik ke arah Ayu.


"Ehem!" dehem Akhtar dilirik Ayu sekilas lalu membuang pandangan kembali.


"Lu ngomong apa tadi sama Papa gue?" tanya Akhtar memecah keheningan.


"Bukan urusan lu!" ketus Ayu.


"Ck! Gak jelas banget, jadi cewek," cibir Akhtar.


"Lu kenapa ada di rumah? Bukannya lu ngekost, ya?" tanya Ayu menatap wajah Akhtar dari samping.


"Cie ... dari mana lu tau kalo gue ngekost? Lu cari tau tentang kehidupan gue, ya?"


"Dih, pede banget lu! Temen-temen lu tuh yang ngasih tau!" ketus Ayu menatap ke arah depan.


"Papa aturannya mau pergi ke luar kota hari ini, cuma karena ternyata jadwalnya malam. Mama gak ngasih izin, harus besok pagi aja dan gue udah janji buat jaga Mama kalo Papa pergi ke luar kota," jelas Akhtar.


Ayu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tak berniat bertanya apa-apa lagi. Ketika mereka tengah di ruangan tadi dan tahu jika Akhtar menguping.


Riki langsung bangkit setelah mengalihkan pembicaraan dan menutup pintu ruangan tersebut secara diam-diam.


Sontak saja, Akhtar kaget karena aktivitasnya itu ketahuan. Akibatnya, ia tak bisa mendengar percakapan mereka di dalam.


"Wah ... ada gula-gula," ucap Ayu dengan mata yang berbinar melihat ke arah pedagang harum manis di pinggir jalan.


"Lu mau?" tanya Akhtar menatap ke arah Ayu.


Ayu menganggukkan kepalanya, "Yaudah, sekalian street food aja kita, yuk!" ajak Akhtar.


Ayu dengan cepat langsung mengangguk. Mereka mencari parkir yang tersedia di area street food.


Ayu keluar dan langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Akhtar ke arah tukang jual harum manis.


"Pak, mau satu dong!" kata Ayu.


"Mau yang warna apa?"


"Warna pink aja Pak!"

__ADS_1


Penjual memberikan satu bungkus harum manis berwarna biru ke arah Ayu, Ayu yang merasa aneh menatap kaget dan melirik ke arah Akhtar.


"Makasih Pak," ucap Ayu mengambil harum manis.


"Eh, duitnya?"


"Oh, iya!" Ayu membuka dompet dan memberikan uang 5rb sesuai dengan harga harum manis tersebut.


"Kenapa gak ditukar? Kan, warnanya gak sesuai," ucap Akhtar menatap Ayu yang membuka bungkusan harum manis.


"Ya, sama seperti kehidupan 'kan? Kadang, kita mintanya apa malah yang dikasih apa. Selama itu masih yang terbaik dan apa yang kita mau, lantas kenapa harus komplen akan hal itu?" tanya Ayu menatap ke arah Akhtar dengan mendongak.


Akhtar hanya diam dengan wajah datarnya, ia berjalan mengikuti Ayu. Bahkan, beberapa kali ia harus menarik tangan Ayu karena kawasan ini teramat ramai.


Jadi, bisa saja orang saling dorong-dorongan atau memang sengaja mencari kesempatan dalam keramaian.


"Pak, bakso bakarnya 10rb, ya," ucap Ayu ramah.


"Oke, bentar, ya."


"Lu tunggu di sini, ya. Gue mau beli jasuke habis itu odeng di situ juga enak dan dimsum keliatan juga enak banget!" titah Ayu dan pergi ke arah yang ditunjuknya tadi.


"Ini, Mas!" ucap penjual bakso bakar. Akhtar langsung menyerahkan uang senilai yang dipesan Ayu tadi.


Dengan membawa bakso bakar dan harum manis, Akhtar berjalan ke arah penjual yang disebut Ayu tadi.


Ia mengedarkan pandangannya mencari Ayu ke outlet penjual, dilihatnya satu per satu orang yang antre.


"Lah, ke mana tuh orang?" tanya Akhtar yang sudah mulai agak panik.


Ia kembali berjalan ke pedagang yang lainnya dan ternyata tetap tak menemukan keberadaan Ayu.


"Ayu!" teriak Akhtar dengan berputar melihat satu per satu orang yang ada.


Dirinya keluar dari keramaian, "Di mana lagi ini tempat informasinya, apa gak ada, ya?" tanya Akhtar yang sudah kalut.


"Argg ...!" Dengan kasar, Akhtar membuang makanan Ayu tadi dan berlari ke sana-sini mencari keberadaan Ayu.


"Ayu!" teriak Akhtar panik.

__ADS_1


Ia meraba saku celana dan mengambil handphone miliknya, "Argg ... kenapa gue lupa beli kuota, sih!" rutuk Akhtar melihat notif kuotanya habis.


Beruntungnya, dirinya masih memiliki pulsa yang cukup untuk dibuat ke paket internet.


"Ayu, lu di mana! Angkat telepon gue!" gumam Akhtar saat panggilan darinya tak kunjung diangkat.


Ia kembali berlari ke sana dan sini, menyusuri lokasi mencari keberadaan Ayu. Ia melihat ada dua orang yang berdiri agak jauh dari tempat street food dan penerangan tempat tersebut pun hanya sedikit.


"Kakak pikir, Kakak punya hak atas aku? Aku udah tau semuanya, Kak. Aku tau kalo aku bukan anak Kakak!" bentak Ayu menatap ke arah wanita yang ada di hadapannya.


"Oh, jadi karena itu kau berani melawanku? Apa kau tak punya kaca! Berkacalah! Liat, siapa yang membuat kau menjadi sebesar ini dan ketika kau sudah dewasa! Kau ingin pergi seperti itu saja? Wah ... sungguh kau manusia yang tak tau balas budi!"


"Apa yang Kakak mau dariku? Apa? Bukankah Papa selalu memberi uang untuk mengganti pengeluaran Kakak? Bahkan, Kakak saja tak pernah memberi aku ASI. Jadi, balas budi apa yang harus aku beri? Baby sister pun dari Papa, bukan dari Kakak!"


"Haha, ternyata wanita bodoh ini sudah dewasa. Sudah berani kau menjawab setiap ucapanku! Berani sekali kau meninggikan nada bicaramu padaku!" bentak Diva menjambak rambut Ayu.


Ayu meringis dan mendorong tubuh Diva dengan kuat, "Kakak pikir aku takut? Bahkan, selama menjadi anakmu aku tak pernah bahagia kau buat. Apa aku harus hormat padamu?"


"Apa pantas anak dari panti asuhan seperti dirimu diberikan kebahagian? Apa kau kira kau pantas mendapatkan hal itu? Bahkan, orang tuamu saja tak sudi memiliki anak seperti dirimu sehingga dia membuangmu ke panti asuhan!"


Bulir bening yang ditahan Ayu sejak tadi akhirnya jatuh juga, bak tengah tersambar petir di malam hari mendengar ucapan Diva yang memang benar.


"Ya, memang Kakak benar bahwa aku memang tak pantas dapat kebahagia. Tapi aku rasa, aku juga tak pantas mendapatkan dan berada di dalam keluarga yang tak memiliki ketenangan juga kasih sayang seperti keluarga Kakak!" tegas Ayu dan membalikkan tubuhnya ingin pergi dari hadapan Diva.


Saat dirinya membalik, ia menatap Akhtar yang tak jauh dari mereka. Ayu segera menghapus air mata dan berjalan setengah berlari.


Dirinya melewati Akhtar begitu saja, Akhtar mengerjapkan matanya beberapa saat mencoba mencerna apa yang di dengarnya tadi.


Akhtar langsung berlari mengejar Ayu yang sudah pergi dari tempat tersebut, beruntungnya dirinya masih bisa mengejar Ayu.


Lebih tepatnya, Ayu memang berhenti di depan mobil Akhtar, "Lu gak papa?" tanya Akhtar menatap wajah sembab Ayu.


"Gak papa, yuk kita pulang!" ajak Ayu menatap ke bawah.


Keheningan kembali menyelimuti perjalanan, 25 menit terlewati dan mereka telah sampai di depan rumah Angga.


"Terima kasih dan maaf merepotkan lu," kata Ayu kemudian turun dari mobil.


Akhtar menatap tubuh Ayu yang sudah masuk ke dalam halaman rumah, "Apa emang bener? Ayu bukan anak dari wanita tadi? Artinya, Ayu bukan anak Om Angga dong?" gumam Akhtar.

__ADS_1


__ADS_2