Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Perasaan Buruk


__ADS_3

Suara peringatan kembali terdengar bahkan kali ini menyebut nama Akhtar, Ayu dan Akhtar sontak melihat ke arah suara tersebut.


Akhtar bangkit dan menatap ke arah Ayu lekat, "Ayu, maukah kau menjadi istriku? Aku serius sayang dan mencintaimu!" tegas Akhtar yang tak bisa lagi membuat moment ini menjadi romantis.


"Akhtar! Cepetan!" teriak Caca yang panik karena takut Akhtar tertinggal pesawat.


"Pergilah, aku akan menunggumu!" titah Ayu tersenyum ke arah Akhtar. Senyuman yang membuat Akhtar sumbringah seketika.


"Apakah ini artinya aku diterima?" tanya Akhtar memastikan ucapan Ayu. Ayu mengangguk dan membuat Akhtar melompat kegirangan.


"Akhtar!" pekik Caca kembali dan akhirnya Akhtar berlari meninggalkan mereka semua tanpa pamit masuk ke dalam pesawat.


"Ma, jagain Ayu buat Akhtar!" pekik Akhtar yang berlari semakin menjauh dari mereka.


Ayu berjalan mendekat ke arah mereka semua dengan tersipu malu, Caca hanya mengangguk dan melambaikan tangannya ke arah Akhtar.


Setelah punggung Akhtar tak lagi terlihat, mereka akhirnya memilih untuk berjalan meninggalkan bandara.


"Kamu udah bisa pulang, Yu?" tanya Caca yang membopong tubuh Ayu meskipun Ayu berkata sudah baik-baik saja.


"Inn Syaa Allah besok pagi udah bisa pulang, kok, Tante," ujar Ayu tersenyum.


"Ahmad mana Ningsih? Mentang-mentang lagi sibuk ngumpul cuan buat nikah sampe gak sempat nganterin Akhtar," sindir Caca yang memang tak melihat adanya Ahmad.


"Itu, Tante. Dia lagi di luar kota," jawab Ningsih dengan cengengesan.


Ayu dan Ningsih juga Angga satu mobil, Angga memang naik taksi tadinya ke bandara membiarkan Ayu dan Ningsih menaiki mobilnya karena dua masih ada urusan di kantor.


"Kalian hati-hati, ya," papar Caca mengusap punggung Ayu dan Ningsih saat tengah menyalim tangan dirinya.


"Iya, Tante juga."


"Ayu, kamu jangan sombong lho. Ingat, Tante ini calon mertua kamu. Sering-sering main ke rumah, gak perlu segan atau malu. Tau sendiri 'kan Om kamu tuh jarang di rumah!" sindir Caca menatap tajam ke arah Riki yang berdiri di depan pintu mobil supir.


"Hehe, iya, Tante. Nanti, kalo emang badan Ayu udah fit. Pasti akan main ke rumah Tante, buat ketemu sama Leon juga," jelas Caca menatap ke arah Leon yang melihat dirinya dari dalam mobil dengan kaca terbuka.


Ayu dan Ningsih akhirnya memutuskan untuk mulai masuk ke dalam mobil yang sudah ada Angga dan supir yang menunggu.


***


Tak luntur sama sekali senyuman dari bibir Akhtar, dia langsung membuka handphone dan memberi pesan ke nomor Ayu yang padahal dirinya belum menanyakan.

__ADS_1


Apakah handphone Ayu tak rusak akibat kecelakaan itu atau tidaknya, ia menatap awan-awan dari balik jendela pesawat.


[Woy, gue diterima!] pesan dikirim oleh Akhtar di grup aplikasi hijau yang hanya ada mereka ber-empat.


[Ha? Serius, lu?] tanya Ahmad yang langsung ngerespon.


[Asyik, ada yang akan kayang nih!]


[Yuhuuuu ... gue akan balik ke Jakarta deh nanti, demi ngeliat orang yang akan kayang di monas!] celetuk Bayu dengan emot tertawa yang banyak.


[Eh, sejak kapan ada begituan?] tanya Akhtar dengan wajah yang dipasang sengit padahal mereka tak akan melihat hal itu.


[Heleh, pasti lupa 'kan? Tanya aja sama yang lain, lu pernah bilang gak akan jatuh cinta sama si Ayu dan kalo lu sampe jatuh cinta atau suka sama dia lu akan kayang di monas. Lu sendiri yang nantang diri lu, lho. Iya 'kan, Guys?]


[Tepat!]


[Benar!]


[Ck! Yaudah, sebagai laki-laki sejati. Gue akan lakukan itu deh!]


[Nah, cakep! Gitu dong!]


[Iye, sekalian liat si Akhtar kayang ntar!]


[Emangnya lu jadi nikah?] celetuk Bambang.


[Jadilah, enak aja lu! Masa kagak jadi!]


[Santai, dong. Bro! Mana tau, kemarin Ningsih nerima karena khilaf atau kesian kalo lu sampe malu karena dia tolak!] ejek Bambang yang tetap tak puas.


[Hahahaha]


[Wkwkkwkw]


[Jangan gitu, Guys! Yaudah, selamat ya Ahmad. Ternyata, lu orang pertama yang akan nikah di antara kita. Gue kira si Akhtar] potong Bambang.


[Gue malah ngira kalo lu yang akan duluan nikah Bambang!] timpal Akhtar.


[2-in]


[3-in]

__ADS_1


Bambang di sebrang hanya tersenyum getir sambil meremuk foto seseorang yang pernah ia ambil secara diam-diam.


"Mana mungkin gue bisa nikah dengan seseorang yang sebentar lagi akan nikah sama sahabat gue sendiri," lirih Bambang menghapus air matanya menggunakan jempol.


Ia merobek foto tersebut kecil-kecil dan membuangnya, "Sahabat lebih berharga dibanding cinta, gue akan ikhlas demi pernikahan kalian tahun depan," kata Bambang dengan suara yang bergetar tapi mencoba kuat dengan menampilkan senyuman penuh kepalsuan.


[Oh, iya, doain gue, ya. Ini lagi di dalam pesawat, mau otw Jepang. Doain semoga sampe dengan selamat!] Satu pesan kembali dikirim Akhtar hingga akhirnya dia mematikan sambungan data tak menunggu balasan para teman-temannya.


Ia membuka buku pelajaran yang sempat ia beli di perpustakaan, bukan buku yang 100% sama nantinya dengan mata kuliahnya di sana.


Namun, lumayan ada sedikit-sedikit ilmu di buku tersebut yang merujuk ke mata kuliahnya nanti. Semacam akan mempermudah dirinya saja.


Bahagia, satu kata yang sekarang tengah memenuhi jiwa dan hati Akhtar. Diterima oleh orang yang kita cintai, bukankah suatu impian setiap orang?


***


Di dalam mobil perjalanan menuju kediaman Caca, dirinya merasa ada yang mengganjal dan tak enak di hatinya.


Raut wajah cemas dan degub jantung yang memompa begitu cepat dari sebelumnya, ia menatap ke arah Riki yang tengah fokus menyetir.


"Kamu kenapa?" tanya Riki sekilas melirik ke arah Caca.


"Mas, aku ngerasa gak enak deh. Kayak, takut gitu. Takut yang berlebihan atau khawatir gitu sama Akhtar," jelas Caca dengan kalimat yang sedikit belepotan.


"Ini kali pertama dia terbang jauh, menurutku ini adalah hal yang biasa dirasakan oleh orang tua," kata Riki mencoba menenangkan.


"Aku harap begitu," pasrah Caca yang mencoba berkali-kali menenangkan dirinya sendiri.


"Tak perlu khawatir, dia anak yang kuat dan pesawat itu pasti akan membawa dia ke Jepang dengan selamat. Percayalah!"


Caca menatap wajah Riki dari samping, ia mengangguk dan melirik ke arah Leon yang tengah tidur di bangku belakang.


***


"Jadi, kapan Yu?" goda Ningsih menyenggol bahu Ayu pelan. Dia tak lupa bahwa wanita itu baru bangun dari koma, karena pakaian rumah sakit yang masih menempel di tubuhnya.


Bukannya menjawab apa yang ditanya Ningsih, Ayu menatap Ningsih dengan wajah serius lalu memegang dadanya.


"Lu kenapa, Yu?" tanya Ningsih yang khawatir melihat raut wajah Ayu.


"Gue gak tau, tapi perasaan gue buruk soal Akhtar! Gue boleh pinjam handphone lu?" tanya Ayu dengan gelagap dan wajah tampak serius.

__ADS_1


__ADS_2