Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Takut Baper


__ADS_3

Ayu hanya memperhatikan mereka yang tengah salat dari jauh karena memang ia tengah tak melakukan kewajiban.


Sesekali, terdengar suara gigilan dari bibir Akhtar yang membuat Ayu semakin panik. Di pegangnya sekarang kotak P3K dengan kuat.


Agar, ketika selesai salat ia bisa langsung membantu Akhtar agar suhu tubuhnya bisa turun.


Saat mendaki, hipo bisa sangat sering muncul dan menyerang pendaki. Biasanya mereka akan langsung; menggigil, pucat, tidak sadarkan diri dan denyut nadi melemah karena kedinginan dan kurangnya memakan makanan berkalori tinggi.


Sebelum salat tadi, mereka telah menghidupkan api unggun agar sedikit menerangi. Namun, Akhtar berada di barisan agak jauh dari api unggun.


Selesai salat dan merapikan terpal juga sajadah yang dimiliki beberapa orang, Akhtar juga teman-temannya berjalan ke arah Ayu yang menatap dengan kekhawatiran.


"Akhtar, kamu kenapa?" tanya dosen yang melihat wajah Akhtar sudah pucat.


"Gak papa, Pak," kilah Akhtar yang berjalan sudah di papah oleh teman-temannya.


"Dia terkena hipo, Pak. Ningsih, kamu tolong cek anggota yang lain. Bisa jadi ada juga yang terkena hipo," timpal Ayu yang berdiri di dekat Akhtar.


"Baik, yuk, temenin gue!" ajak Ningsih menatap Ahmad dan langsung diangguki oleh Ahmad.


"Itu, gak papa?" tanya dosen menatap Ayu.


"Tergantung Pak, kalau sampai dia gak sadarkan diri maka ada baiknya pulang aja," ungkap Ayu menatap ke arah Akhtar yang masih menggigil meski tak terlalu parah.


"Yaudah, Bapak akan cek juga yang lainnya. Akhtar, kamu langsung dekat ke api unggun. Biar gak kedinginan," saran dosen dan berlalu melihat ke tenda lain.


Akhtar mengangguk lemah, Bayu juga Bambang membopong Akhtar ke dekat api unggun dan duduk di bangku yang kecil yang mereka bawa.


"Oh, ternyata lu itu hipo, ya, Tar?" tanya Bambang duduk di samping Akhtar.


"Pantasan aja Tante Caca ngelarang lu buat mendaki, tubuh lu ternyata gak tahan," sahut Bayu yang mengingatkan bahwa memang mereka sering kali tak diberi izin untuk pergi mendaki.


"Apaan, sih! Si Ayu aja itu yang sok tau!" ketus Akhtar menggesek-gesekkan tangannya agar kembali hangat.


"Bukan gue yang sok tau, tapi lunya aja yang gak mau tau!" ketus Ayu dan berjalan mendekat ke arah Akhtar.


"Hipotermia bukan suatu penyakit yang bahaya, tenang aja. Jauh dari kematian, kok dan itu hal wajar. Jadi, gak usah malu," sambung Ayu meletakkan nesting atau alat masak di depan Akhtar.


Akhtar menaikkan alis dan menatap heran ke arah Ayu, "Buat apa tuh air?" tanya Akhtar keheranan.


"Celupkan tangan atau kaki lu ke sini, nanti kalo udah agak hangatan biar semua tubuh juga hangat. Gak perlu terlalu lama, habis itu gue kasih minyak kayu putih biar hangat semua tubuh lu," jelas Ayu panjang lebar.

__ADS_1


"Minyak kayu putih? Emangnya aku masih anak-anak?"


"Ck! Emangnya cuma buat anak-anak? Udah, nurut aja kenapa, sih!" sebal Ayu menatap Akhtar yang tak bisa menurut.


Mereka menatap api yang masih terus menyala, tanpa ada niatan memecahkan keheningan di antara mereka berempat.


"Ehem!" dehem Bayu dan membuat pandangan Ayu juga Bambang menatap ke arah mereka. Sedangkan Akhtar, dia masih asyik merendam tangannya juga kakinya.


"Kita ... mau bantu Ningsih sama Ahmad dulu, ya. Mungkin, mereka butuh bantuan kita. Karena 'kan bukan sedikit yang ikut kemah ini," sambung Bayu sambil berdiri dan menarik tangan Bambang.


"Nah, iya! Daripada kita cuma santuy-santuy di sini, mending bantuin mereka. Kesian Ningsih kalo sendirian," timpal Bambang yang kini sudah berdiri juga dengan cengiran.


"Kami pergi dulu, ya. Bye, Guys!"


"Iya, hati-hati," ujar Ayu dengan tersenyum tipis.


Hanya tinggal mereka berdua kini, Akhtar masih fokus menatap api unggun dan tak berniat melirik ke arah Ayu.


"Sudah dingin airnya? Jangan terlalu lama direndam, nanti masuk angin!" tegur Ayu dan membuat Akhtar melirik ke arahnya.


Dia akhirnya mengeluarkan tangan juga kaki dari nesting, meskipun sebenarnya nesting tak terlalu besar.


"Nih, lap!" titah Ayu memberi kenebo kering ke arah Akhtar.


"Kenapa peduli?" tanya Akhtar sambil melap bekas air tadi di tangan juga kakinya.


"Karena, manusia 'kan emang makhluk sosial. Jadi, wajar, bukan?" tanyaku menatap ke arahnya.


"Kalau gak ada perasaan, sebaiknya jangan terlalu baik. Hatiku soalnya gampang baper," ujar Akhtar melirik sekilas ke arah Ayu.


"Gue hanya menjalankan tugas sebagai sesama manusia," ucap Ayu dengan tegas, "nih, pakai!" Ayu menyodorkan minyak kayu putih ke arah Akhtar.


Akhtar tak kunjung mengambil minyak kayu putih dari tangan Ayu, Ayu menghela napas pelan. Entah mengapa, laki-laki di sampingnya sekarang sudah seperti anak-anak saja.


Ayu langsung membuka tutup minyak kayu putih dan meletakkan di telapak tangannya serta mengusap ke kaki Akhtar lebih dulu.


"Jangan terlalu bucin, gak semua cewek menyukai hal itu!" kata Ayu dengan ketus.


"Apa kau juga tak menyukainya?"


"Ya," jawab Ayu singkat.

__ADS_1


"Biarlah, bukankah kau memang juga tak menyukai aku? Biar sekalian kau ilfil dan menjauh padaku, setelah itu aku bisa membenci dan lupa padamu."


Ayu mendongak melihat ke arah Akhtar, "Membenci cuma akan buat lu makin susah melupakan orang tersebut dan malah akan semakin suka sama dia."


"Sok tau!" ketus Akhtar memalingkan wajah.


"Pake tuh kaos kaki!" titah Ayu dan kembali duduk setelah tadi jongkok karena mengoleskan minyak kayu putih.


Akhtar menghela napas sekali tarikan, ia segera memasang kaos kaki hitam tebal miliknya.


"Nih, sapu ke tangan," ucap Ayu menyerahkan minyak kayu putih.


Akhtar menurut dan menyapukannya ke kedua tangannya, "Sudah 'kan?" tanya Akhtar menutup kembali minyak kayu putih.


Ayu mengangguk, "Makan kurma," perintahnya lagi memberikan tiga biji kurma.


Akhtar menaikkan alisnya, "Buat apa?" tanya Akhtar sambil menatap kurma di tangannya.


"Kurma salah satu makanan tinggi kalori selain nasi, karena belum waktunya makan malam. Jadi, ada baiknya makan kurma dulu buat kalori lu makin naik!"


"Oh, okey!"


Akhtar memakan kurma sambil menatap wajah Ayu yang fokus menatap api unggun yang kayunya hampir habis.


"Gimana cara agar dapetin lu, sih?" gumam Akhtar dan membuang biji kurma di sampingnya.


"Apa?" tanya Ayu yang ternyata mendengar ucapan Akhtar tadi.


"Apanya yang apa?" tanya Akhtar dengan cepat menatap ke arah Ayu.


"Lu tadi ngomong apa?"


"Gue emangnya ngomong apa tadi? Gak ngomong apa-apa," elak Akhtar dengan wajah dibuat setenang mungkin.


"Ck! Labil banget, tadi manggil aku-kamu. Sekarang lu-gue," sindir Ayu kembali menatap ke depan.


"Wajar, namanya juga manusia," kata Akhtar seolah tak bersalah, "lu mau? Bijinya udah gue buang, kok."


"Enggak, makan aja."


"Pemberian orang itu harus diterima, gak boleh nolak!" ungkap Akhtar dan memasukkan kurma ke mulut Ayu yang membuat Ayu langsung menatap ke arah Akhtar, "apalagi yang diberi itu hati."

__ADS_1


__ADS_2