Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Berdamai


__ADS_3

Sesuai dengan ucapannya kemarin, Akhtar sudah berada di depan pintu rumah orang tuanya. Dari tadi, ia sudah mengetuk pintu tapi tak kunjung dibuka.


"Nak Akhtar, tinggal masuk aja. Ngapain pake ketuk segala?" pekik penjaga pagar.


"Gak papa Pak."


Ceklek ...!


"Apa kau tak bisa masuk langsung?" tanya Riki yang membuka pintu.


"Bukankah aku harus belajar sopan santun dan adab, salah satu adab untuk masuk ke rumah orang lain adalah dengan mengucapkan salam, mengetuknya. Jika tidak dibuka juga maka pulang bukan membukanya begitu saja," jelas Akhtar seolah tengah berbicara dengan orang lain.


Riki tak menanggapi, dia pergi ke dalam kembali dengan pintu yang dibukanya tadi. Akhtar masuk dan mengucapkan salam kembali.


"Kau sudah sampai Nak?" tanya Caca dan bangkit dari sofa. Dia memeluk tubuh jangkung Akhtar.


Sesekali kecupan diberikan wanita itu di kening juga pucuk kepala Akhtar, Akhtar menyapu air mata di sudut mata wanita yang telah melahirkan dirinya.


"Jangan menangis Ma," ucap Akhtar tersenyum.


"Mama rindu sama kamu Nak, semenjak kamu gak ada rumah sepi. Kamu balik ke sini lagi, ya," bujuk Caca sendu.


"Kost-an sudah Akhtar bayar hingga setengah tahun ke depan Ma. Gak papa, biar Akhtar bisa fokus ngerjain tugas. Kalo Akhtar di sini takutnya nanti malah fokus bermain karena di sini banyak permainan salah satunya si Singa tuh," ungkap Akhtar menatap Leon yang tengah asyik mengunyah snack.


"Huftt ... baiklah, terserah padamu. Ayo, kita ke sofa," ajak Caca menggandeng tangan Akhtar.


Leon menatap Akhtar yang duduk di sampingnya, "Abang ngapain pulang lagi? Abang 'kan udah gak sayang sama Leon, gak usah pulang sekalian Bang!" rajuk Leon memalingkan wajah menatap televisi.


"Hey, siapa yang bilang Abang tak sayang lagi sama kau Singa?" bujuk Akhtar memegang bahu Leon.


"Abang gak mau nemenin Leon lagi, Abang gak mau antel Leon sekolah lagi, Abang gak mau ajalin Leon lagi. Abang udah gak sayang sama Leon!" ketus Leon menatap Akhtar.


"Bukan begitu, nanti Abang pasti akan pulang lagi ke rumah, kok. Sekarang Abang mau fokus kuliah dulu," jelas Akhtar dengan sabar.


Riki yang dari tadi hanya mendengar ucapan mereka tanpa berniat menimpal akhirnya bangkit dan pergi dari mereka.


Caca hanya melihat punggung Riki yang semakin menjauh tanpa berniat melarang dirinya untuk pergi.


"Mama mau ngomong apa?" tanya Akhtar menatap Caca.


"Kamu pulang, ya," pinta Caca sendu.


"Ya, Allah Ma. Baru mau masuk dua bulan lho ini. Belum sampai setengah tahun juga."

__ADS_1


"Ya, tapi jangan lama-lama. Mama gak bisa kamu jauh kayak gini Tar, Mama khawatir sama kamu. Liat kamu sekarang, kurus banget!"


Akhtar menatap badannya, Leon juga ikut menatap tubuh Abangnya yang ada di depannya. Ia mengerutkan kening.


"Badan Abang kayak golila gitu Mama bilang kulus?" tanya Leon polos.


Sedangkan Akhtar yang mendapatkan ucapan seperti itu menoyor kepala Leon karena kesal, "Enak aja kamu bilang kalo Abang kayak gorila!"


"Emang benel juga!" ketus Leon kembali menatap televisi.


Kunci mobil dan dompet di lempar ke meja di depan Caca juga Akhtar membuat mereka kaget dan menatap orang yang melakukan itu.


Riki kembali duduk di samping Caca dan menampilkan wajah datarnya.


"Papa tau kalo kamu gak akan mau melepaskan cewek itu, lusa Papa akan nemui dia untuk minta maaf agar dia mau jadi kekasih kamu. Itu pun kalo dia mau," cibir Riki.


Senyuman Akhtar dan Caca langsung terpasang di wajah mereka, Akhtar berhambur kepelukan Riki.


"Makasih, Pa. Makasih Papa udah mau minta maaf ke Ayu."


"Kamu suka sama dia?"


"Ha?" tanya Akhtar tersadar dan langsung melepaskan pelukan.


"Enggak, tapi kamu sampe berani keluar dari rumah."


"Lagian, Papa kenapa batasi Akhtar berteman. Udah tau Akhtar gak bisa dibatasi berteman begitu."


"Murni berteman atau ada sedikit perasaan?"


"Apaan, sih? Gak ada!"


"Yaudah kalo gak ada, tadi niatnya Papa mau bantuin kamu biar dapetin dia. Denger-denger sih, ada temennya yang suka juga sama dia. Cowok itu lagi ada di luar negri dan bisa jadi pas balik ke sini langsung lamar tuh si Ayu."


"Dih, Papa suruh mata-mata nyari tau tentang Ayu, ya? Itu gak sopan, Pa. Papa mengganggu atau mengusik privasi seseorang," tegur Akhtar.


"Ya, gak papa dong. Setidaknya Papa tau tentang bibit, bebet dan bobot calon menantu Papa," goda Riki.


"Ck! Apaan, sih!" Akhtar kembali duduk di bangkunya kembali.


"Tapi, Akhtar gak mau ini. Akhtar tetap mau kost dulu. Nanti, setelah masa kost Akhtar sudah habis. Akhtar akan balik ke sini lagi, kok."


Wajah Caca kembali sendu, apalagi mengingat jika 2 bulan lagi Riki akan kembali pergi ke daerah untuk bekerja.

__ADS_1


"Tapi, nanti siapa yang akan jaga Mama kamu? Papa akan pergi ke luar kota dalam 2 bulan lagi."


"Yaudah, nanti pas Papa pergi. Kabari aja Akhtar, Akhtar akan balik ke sini buat temenin dan jaga Mama gantiin Papa. Tapi, sekarang Akhtar butuh sendirian. Gak papa, ya, Akhtar di kost dulu," bujuk Akhtar menatap ke arah Caca dengan penuh harap.


Caca membuang napasnya kasar, dirinya mencoba untuk tersenyum dan mengangguk, "Mama akan ikut apa pun keputusan kamu, kalo emang mau sendiri dulu, gak papa. Kamu sendiri aja, Mama gak akan melarang."


Akhtar tersenyum dan memeluk tubuh Caca, "Terima kasih Ma," ungkap Akhtar mengusap punggung Caca.


Caca hanya mengangguk dan mengusap punggung Akhtar juga.


"Jadi, gimana? Ayu sudah sembuh?" tanya Caca ketika pelukan telah terlepas.


"Sudah, Ma."


"Dia sakit apa emangnya waktu itu?"


"Dia ingin putuskan urat nadinya," jawab Akhtar.


"Akhtar tau, Pa. Kalo Mamanya Ayu itu gak baik, tapi Akhtar bisa jamin kalo Ayu berbeda dengan Mamanya meskipun Ayu lama tinggal dengan Mamanya," sambung Akhtar menatap Riki.


"Ck! Iya-iya, Papa tau kalo pacar kamu itu baik, kok. Gak usah di promosikan lagi."


"Ha? Pacar?" tanya Akhtar dengan menautkan alisnya.


"Lah 'kan kamu yang ngaku-ngaku ke Mamanya Ayu kalo kamu pacar dia, sekarang Mamanya nyuruh kalian putus," jelas Riki dengan tertawa.


Caca yang mengingat ucapan Diva di mall waktu itu akhirnya ikut tertawa juga, "Gimana kamu nembak Ayunya?" goda Caca mencolek tangan Akhtar.


"Haish, Mama apaan sih?" ketus Akhtar menahan malu.


"Gak boleh! Kakak cantik Ayu itu punya Leon Papa, bukan punya Abang!" potong Leon dengan amarah.


"Wah-wah-wah, pelet apa yang digunakan wanita itu, ya sehingga dia bisa membuat kedua anakku jadi menyukainya," ucap Riki melihat ke arah anak-anaknya.


"Hih, kamu ini!" tegur Caca menepuk punggung tangan Riki.


"Abang! Awas aja kalo Abang jadi pacal Kakak cantik Ayu, Leon akan musuhan sama Abang!" tekan Leon menatap tajam ke arah Akhtar.


Akhtar mendekat ke arah telinga Leon, "Itu buat Abang aja, ya, nanti kamu Abang carikan cewek yang lain. Yang lebih cantik dan juga baik," bisik Akhtar.


"Oke!" seru Leon tersenyum memperlihatkan gigi rapinya juga mengacungkan jempol ke arah Akhtar.


Sedangkan Caca dan Riki yang tak tahu mereka tengah membahas apa hanya bisa saling pandang.

__ADS_1


__ADS_2