Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Pacar?


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Ayu sudah diperbolehkan untuk pulang, besok dirinya sudah bisa masuk kuliah sebagai mahasiswi baru.


Pakaian dan barang-barang sudah dibawa Bibik lebih dulu, mereka tengah menunggu supir yang masih membawa Bibik pulang.


Angga ke pihak administrasi untuk menebus resep obat yang diberi dokter, Ayu menunggu Angga di brankar.


Ceklek ...!


Suara pintu terbuka, Ayu yang membelakangi pintu seketika turun karena mengira yang datang adalah Angga.


"Udah siap, P--" ucapan Ayu terjeda kala melihat yang masuk bukanlah Angga, "mau ngapain Kakak?"


"Mana Papa kamu?" tanya Diva yang datang dengan dress di atas lutut juga lengan dress yang begitu terbuka.


"Lagi ke administrasi, Kak."


"Berapa hari kamu di sini dan kenapa tidak ada yang mengabari saya?" tanya Diva berjalan mendekat ke arah Ayu dengan tatapan tajamnya.


"Saya gak papa kok, Kak. Lagian, kalo Kakak dikasih tau juga gak akan mau tau," ujar Ayu melangkah mundur.


"Oh, kamu sudah berani melawan saya?" Diva memegang dagu Ayu dengan keras, Ayu tak dapat lagi mundur karena sudah mentok di dinding.


"Bukankah seorang Ibu adalah madrasah pertama anaknya, jelas saya berani melawan sedangkan Ibu saya saja berani melawan orang tuanya!" tegas Ayu menepis tangan Diva dari dagunya.


Ada rasa perih di dagu tersebut karena Diva memang memiliki kuku yang panjang dan dirawatnya.


"Oh, seperti itu? Baik kalo gitu, kayaknya pelajaran buat kamu kurang, sih. Ayo, sini ikut denganku!" bentak Diva mengambil tangan Ayu dengan kasar dan membawa putrinya ke luar.


"Aku gak mau Kak!" bentak Ayu menghempas tangan Diva dari pergelangan tangan sebelah kirinya.


"Kakak gak ada hak untuk mengatur aku!"


"Gak ada hak kamu bilang? Hahaha, coba kaca kamu tuh!"


"Apa hak Kakak ngatur saya? Kamu cuma Kakak saya 'kan? Bukan Ibu atau Mama saya, tak ada perintah untuk seorang Kakak bisa mengatur kehidupan adiknya!"


Prok ....


Prok ....


"Wah-wah-wah," sinis Diva sembari menepuk tangannya dan bergeleng-geleng, "belum setahun tinggal dengan laki-laki brengsek itu, kamu udah gak tau sopan santun dan tata krama, ya?" Diva bersedekap dada.

__ADS_1


"Sejak kapan Kakak pernah ngajari aku untuk sopan santun, sejak kapan?"


Mendengar Ayu yang terus menjawab pertanyaan Diva tanpa rasa takut sedikit pun, membuat Diva menjadi semakin marah.


Tangan kanannya diangkat dan sudah siap untuk melayangkan tamparan di wajah Ayu, wanita di depannya itu menutup mata beberapa menit hingga akhirnya melihat ke arah depan.


Ada seseorang yang menghentikan dan membuat tangan Diva terhenti, dibuang orang tersebut tangan Diva dengan kasar.


"Kamu siapa? Kenapa ikut-ikutan dalam urusan orang lain?"


"Maaf, Tante kalo saya tidak sopan. Tapi, tidak sepantasnya Tante menampar anak Tante sendiri apalagi keadaan dia baru sembuh dari sakit."


"Gak usah ikut campur dalam urusan orang lain."


"Saya kenal Ayu Tante, ya, jelas saya urus dia. Kalo saya gak kenal mungkin saya gak akan urusin kehidupan dia."


"Kamu cuma sebatas kenal dan tak memiliki hubungan apa-apa, jadi jangan ikut campur dalam urusan kami!" geram Diva menatap nyalang.


"Saya pacarnya, jadi dia urusan saya Tante. Emangnya Tante gak bisa bicara baik-baik sama dia, ya?"


Ayu menatap kaget dengan ucapan orang barusan, "Tar, dih, sejak kapan gue jadi pacar lu?!" bisik Ayu membuat Akhtar menatap ke arahnya.


Bukannya takut dengan tatapan Ayu, Akhtar malah mengedipkan matanya sebelah membuat Ayu menaikkan bibirnya.


"Sebentar, kamu anaknya Riki dan Caca, bukan?" Sontak pertanyaan itu membuat Akhtar kaget, karena bagaimana bisa Diva tahu soal orang tuanya.


"Da-dari mana Tante tau nama orang tua saya?" tanya Akhtar terbata-bata.


"Ck! Benar ternyata!" cibir Diva membuang pandangannya, "ingat, ya! Saya gak akan pernah memberi restu sama kalian terlebih kamu anak Riki dan Caca. Jangan pernah mimpi untuk bisa bersatu dengan anak saya!" tegas Diva dan pergi keluar dari ruangan Ayu.


Mereka berdua menatap punggung Diva yang menjauh dan keluar dari ruangan Ayu, tak lama setelah kepergian Diva. Angga masuk dengan menatap ke arah luar.


"Apa tadi Kakakmu datang ke sini?"


"Mamanya Om, bukan Kakaknya," larat Akhtar yang belum tahu.


"Oh, hahaha. Iya, Mamamu Ayu."


"Iya, Pa."


"Apa dia melukaimu?"

__ADS_1


Ayu menggelengkan kepalanya, "Yaudah kalo gitu, ayo kita pulang!" ajak Angga.


Mereka berjalan di koridor rumah sakit menuju tempat parkir dengan Akhtar dan Ayu berada di belakang Angga.


"Lu ngapain ke sini?" tanya Ayu sinis.


"Lah, gue 'kan emang udah bilang kemarin bahwa mau ikut nganter lu pulang."


"Ngapain segala bilang ke Mama kalo lu pacar gue?"


"Ya, kalo gue gak bohong yang ada ntar Mama lu gak akan percaya. Lagian 'kan bohongan, apa jangan-jangan lu mau beneran, ya?" tanya Akhtar menatap wajah Ayu dengan tersenyum menggoda.


"Ck! Gosah mimpi deh lu! Ogah beut gue harus beneran jadi pacar lu, gue juga masih baru masuk kuliah. Fokus ke kuliah dulu, lagian lu tau? Kita tuh kayak bumi dan langit, saling melengkapi tapi tak bisa bersatu!"


"Uhuk-uhuk, saling melengkapi?" tanya Akhtar menaikkan satu alisnya.


"Eh!" kata Ayu yang merasa salah mengucapkan kalimat.


"Lu tenang aja, gue cuma ngucapkan itu biar masalahnya cepat kelar aja, kok. Tapi, kok Mama lu bisa tau nama orang tua gue, ya? Dan kenapa lu manggil Kakak?"


"Gak usah kepo! Nanya mulu lu kek wartawan!" ketus Ayu.


"Dih, nanya pun salah?"


Mereka telah sampai di parkiran dan sudah ada mobil Angga di situ.


"Mobil kamu yang mana Akhtar?" tanya Angga mengedarkan pandangan.


"Akhtar ke sini naik taksi Om," jelas Akhtar tersenyum ke arah Angga.


"Oh, kamu mau pulang? Biar Om anterin ke rumah kamu aja sekalian."


"Gak usah Om, Akhtar pulang sendirian aja nanti naik taksi."


"Ini kamu mau nganter Ayu ke rumah sekalian atau cuma sampe di sini?"


"Sampe sini aja Pa, apaan malah nawarin dia buat nganter Ayu sampe rumah!" potong Ayu dan masuk ke dalam mobil meninggalkan Akhtar dan Angga.


Angga menatap Ayu dengan menggelengkan kepalanya, "Yaudah kalau gitu, kamu hati-hati, ya, dan langsung pulang ke rumah," perintah Angga mengusap bahu Akhtar.


Akhtar mengambil tangan Angga dan mencium punggung laki-laki itu dengan takzim, "Iya, Om. Hati-hati, ya," kata Akhtar dengan sopan.

__ADS_1


Angga mengangguk dan masuk ke dalam mobil, Akhtar melihat kepergian mobil tersebut dari halaman rumah sakit dengan membalas lambaian tangan Angga yang sempat terulur.


__ADS_2