Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Bola Salju


__ADS_3

Ayu sudah diperbolehkan pulang pagi ini, dirinya tengah menunggu Angga menyelesaikan biaya administrasi juga obat yang masih harus Ayu minum.


Tak ada kebahagian dan keceriaan terpancar di wajahnya, dia hanya menatap dengan kosong ke arah jendela.


Pintu terbuka, Ayu melirik ke arah pintu tersebut dan mendapati Angga berjalan mendekat ke arahnya.


"Sayang, ayo kita pulang!" ajak Angga dan langsung diangguki oleh Ayu. Barang-barang mereka sudah lebih dulu dimasukkan ke dalam bagasi mobil.


"Ini, handphone kamu sudah Papa benerin dan data-data yang ada di dalam gak akan hilang," kata Angga memberikan handphone Ayu saat berada di dalam mobil.


"Makasih, Pa," ucap Ayu dan langsung dibalas dengan senyuman dari Angga.


Ayu menghidupkan handphone-nya yang mati, setelah beberapa saat. Ia langsung menghidupkan data dan seketika notif pesan dari berbagai aplikasi terdengar.


Dia lebih memilih untuk membuka aplikasi hijau lebih dulu, terlihat banyak yang memberi pesan padanya baik teman kampus atau komunitas.


Satu pesan yang membuat dia tak sabar membukanya, dengan tangan bergetar dan mata kembali berembun. Akhirnya, Ayu membuka pesan tersebut di aplikasinya.


[Aku akan kembali, setelah kembali kita akan menikah. Aku tak peduli kau sudah lulus kuliah atau belum nantinya, aku tak ingin yang seharusnya memiliki menjadi mengikhlasi hanya karena keterlambatanku!]


Satu pesan dari Akhtar yang dilihat dari waktunya adalah kemarin saat dia mungkin berada di dalam pesawat.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Angga menatap ke belakang.


"Akhtar bilang dia akan kembali Pa, apakah ini benar? Dia mengirim pesan bahwa dia akan kembali, dia berpikir bahwa dirinya akan benar-benar sampai di Jepang dengan selamat. Tapi ...." Suara Ayu terjeda, ia tak sanggup menyambungkan kalimat-kalimat yang ingin diucapkan.


"Sudah, Sayang. Kamu tenang, Akhtar adalah anak yang kuat! Dia pasti akan baik-baik saja, jangan terlalu berpikiran negatif tentangnya, percayalah Allah pasti akan bersamanya!" tegas Angga yang mencoba menenangkan.


Ayu mengangguk, ia menghela napas dan tak lupa ber-istighfar agar setan tak membuat dirinya lagi-lagi larut dalam kesedihan yang tak pasti.


Di tatap jalanan dan gedung dari kaca mobil, Ayu memeluk handphone miliknya, 'Kau akan kembali! Harus! Karena kau sudah berjanji, kuatlah di mana pun kau berada. Kami akan selalu berdoa dan menunggu kembalimu!' batin Ayu menghapus air mata dan mencoba untuk tersenyum.


Ada tiga hal yang tak bisa wanita tahan; air mata, cemburu dan rasa ingin tahu. Jadi, tak perlu mengatakan bahwa wanita adalah makhluk paling cengeng.

__ADS_1


Karena, mereka bukan cengeng melainkan segala sesuatunya mereka gunakan perasaan. Memang sudah seperti itulah.


Suara dering handphone membuat Ayu mengalihkan pandangannya, nama Caca tertera di layar gadjet.


"Assalamualaikum, halo ada apa Tante?" tanya Ayu membuka pembicaraan lebih dulu.


"Waalaikumsalam, Sayang. Kamu udah keluar dari rumah sakit? Maaf banget Tante gak bisa ikut jemput kamu dari rumah sakit, ya," jelas Caca dari sebrang dengan nada bicara yang lebih tegar dari kemarin.


"Iya, Tante. Gak papa, kok. Gimana, Tante. Apa ada perkembangan tentang Akhtar?"


"Nanti sore kata mereka akan ada beberapa jenazah yang akan dibawa ke bandara lebih dulu," jelas Caca dengan lirih.


Deg ...!


Seolah tengah disambar petir di pagi hari, Ayu merasa dalam dadanya dipenuhi dengan bebatuan yang membuat dia sulit untuk bernapas.


"A-apakah jenazah Akhtar salah satunya Tan?" tanya Ayu terbata-bata tapi masih bisa menahan bulir bening miliknya.


"Belum tau, Sayang. Tapi, doakan saja semoga itu bukan dia. Kalau kamu mau datang, langsung ke bandara saja nanti sore sekitar jam 4. Kamu bisa istirahat terlebih dahulu pagi dan siang ini agar semakin baik pulihnya."


"Yaudah kalau gitu, Tante cuma mau sampein itu aja. Assalamualaikum," salam Caca di sebrang.


"Waalaikumsalam," jawab Ayu dan mematikan panggilan.


"Ada apa?" tanya Angga yang sudah menyimak percakapan anak gadisnya dari tadi.


"Nanti sore akan ada jenazah yang dibawa ke bandara, belum tau identitasnya. Mangkanya, kita diajak Tante Caca buat liat bersama jenazah korban jatuhnya pesawat itu. Buat mastiin itu Akhtar atau bukan di salah satu jenazah tersebut," jelas Ayu dengan tangan yang bertautan gelisah.


"Yaudah, nanti kamu diantar sama supir aja. Biar Papa ke kantornya naik taksi."


"Gak papa, Papa dianter dulu aja. Kan, sore baru ke bandaranya."


"Oh, baiklah kalau gitu." Ayu mengangguk dengan tersenyum, dia pun harus sabar dan tabah nantinya.

__ADS_1


'Gak mungkin itu Akhtar, dia 'kan udah janji buat kembali nanti!' batin Ayu dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya.


Mobil yang membawa Ayu sudah sampai di halaman rumah, "Pa, Ayu masuk duluan, ya. Udah rindu sama kamar dan Bibik," kata Ayu tersenyum dan keluar dari mobil lebih dulu.


Angga mengangguk dan menatap dengan sendu ke arah putrinya yang sudah semakin menjauh dari mobil, "Papa harap, kau tak terlalu berharap bahwa Akhtar masih hidup Yu," lirih Angga dengan menyeka ujung matanya menggunakan jempol.


"Pak, bantuin turunin barang Ayu, ya," titah Angga menatap ke arah supir dan langsung diangguki.


Mereka keluar dan berjalan ke bagasi mobil mengambil barang-barang Ayu bekas berada di rumah sakit waktu itu.


Tok ... tok ... tok


"Iya, Pa?" teriak Ayu dari dalam.


"Ini barangnya, Nak!"


"Bentar, Pa."


Ceklek ...!


Ayu membuka pintu dengan di tangannya membawa benda, "Untuk apa kau bawa itu, Sayang?" tanya Angga menautkan alis.


"Ini dari Akhtar Pa, biar dia semangat untuk hidup dan bisa kembali ke sini lagi karena Ayu sudah peluk barang yang dia beri," jelas Ayu tersenyum ke arah Angga.


Bola salju, ya, bola salju yang diberi Akhtar sebagai hadiah untuk Ayu karena sudah menemani Leon waktu itu untuk memilih hadiah.


"Yaudah, kamu beres-beresin barang kamu, ya. Habis itu mandi dan salat Dhuha nanti, doakan Akhtar agar cepat kembali. Papa mau ke kantor, jangan lupa kamu buat sarapan lagi!" perintah Angga dan langsung dibalas anggukan oleh Ayu.


Ayu mengecup punggung tangan Angga dan membawa masuk kopernya ke dalam kamar untuk memberesin barang-barang yang ada di dalamnya.


"Bik, tolong temani Ayu juga hidupkan ceramah soal; takdir dan lainnya yang membuat dia jangan berharap. Saya takut, dia kenapa-kenapa karena terlalu berharap bahwa Akhtar akan pulang untuk menemuinya," perintah Angga menatap pembantunya dan langsung diberi anggukan.


"Baik, Pak!"

__ADS_1


Angga keluar dari rumah dengan perasaan yang campur aduk, dirinya takut jika ternyata kenyataan berbanding terbalik dengan harapan mereka.


Ia tak mau, terjadi sesuatu kepada Ayu akibat kenyataan tersebut. Dirinya baru merasakan hampir kehilangan dan tak ingin jika kehilangan lagi.


__ADS_2