
Ayu sampai ke salah satu taman yang ada di dekat rumahnya, di taman juga ada permainan anak-anak.
Suara gelak tawa dan teriakan pun terdengar, bibir Ayu terkadang terangkat karena melihat tingkah laku mereka.
"Kakak kok sendirian di sini?" tanya seseorang tiba-tiba berada di samping Ayu.
Dia langsung terperanjat kaget dan melihat ke arah suara dengan mengelus dada.
"Kamu buat Kakak kanget," ujar Ayu tersenyum ke arah anak perempuan dengan rambut terurai panjang.
"Haha, maafin aku Kak."
"Iya, gak papa Sayang," kata Ayu mengelus surai hitam milik anak tersebut.
"Kamu kenapa gak main-main sama mereka?"
"Gak papa, aku capek aja Kak."
"Orang tua kamu mana?"
"Sibuk kerja Kak."
"Jadi, ke sini sama siapa?"
"Tu ...," tunjuk anak kecil itu ke arah bodyguard yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Baby sister kamu mana?"
"Lagi beli makanan Kak."
Ayu hanya mengangguk dan tersenyum ke arah anak tersebut.
"Mereka enak, ya 'kan Kak," celetuk anak tersebut membuat Ayu menatap kaget.
"Enak kenapa?" tanya Ayu menatap wajah yang masih memandang ke arah anak-anak di depannya.
"Itu, bisa main sama Mama dan Papanya," ucap anak tersebut menatap ke arah Ayu.
Ayu tersenyum getir, "Kamu juga enak, banyak yang jaga. Tuh aja udah dua orang, belum baby sister belum lagi kedua orang tua kamu. You are special!"
"Iyakah?" tanya anak tersebut ragu.
Hanya anggukan serta senyuman yang dapat Ayu berikan, tak lama baby sister anak tersebut datang menghampiri mereka.
"Non, ayo kita pulang!" ajak baby sister dengan bodyguard yang mendekat.
"Hmm," dehem anak tersebut dan turun dari bangku taman yang terbuat dari besi.
__ADS_1
"Kak, aku pulang dulu, ya!" pamitnya dengan berlambai tangan.
"Iya, hati-hati," balas Ayu.
Ayu melihat handphone dan bangkit dari tempat duduk, sebentar lagi akan waktunya salat Zuhur.
Dirinya tak akan berjalan ke masjid karena jaraknya yang cukup jauh, Ayu telah memesan taksi online.
Berjalan ke arah pinggiran jalan raya untuk menunggu kedatangan taksi, belum ada terlihat tanda-tanda Angga tahu bahwa dirinya pergi sendirian.
Pak penjaga rumah sebenarnya tak mengizinkan Ayu tadinya, cuma dirinya berhasil merayu dan meminta tolong agar diberi izin untuk keluar dari rumah.
"Mbak Ayu, ya?" tanya supir taksi dengan kaca mobil terbuka.
"Iya, Pak," jawab Ayu tersenyum.
"Silahkan masuk Mbak!"
Ayu mengangguk dan masuk ke bangku belakang, ia menatap jalanan di sampingnya melalui kaca mobil.
"Kenapa malah ke masjid Mbak? Kenapa gak minta anterin ke rumahnya aja?" tanya supir melirik Ayu dari kaca spion.
"Lagi emang mau shalat di luar Pak," jawab Ayu tanpa menoleh.
Jarak dari taman ke salah satu masjid tujuan Ayu menempuh waktu sekitar 30 menit, sedangkan dari rumahnya ke taman hanya 15 menit saja dengan berjalan kaki.
"Waduh, macet lagi!" keluh supir melihat antrean di depan.
Dirinya langsung melihat ke sekelilingnya, supir membuka kaca spionnya.
"Ada apa di depan Pak?" tanya supir taksi ke salah satu pengendara roda dua.
Salah satu supir ambulans juga turun yang tepat berada di samping Ayu.
"Ada kecelakaan Pak katanya, mana beruntun lagi."
"Wah, lama dong ini baru longgar jalannya."
"Tergantung polisi datangnya lama atau enggak dan perawat, sih Pak."
"Semoga aja cepat, ya, Pak."
"Aamiin deh Pak."
Supir kembali menaikkan kaca mobil dan menatap jalanan, "Gimana Mbak? Bentar, ya."
"Pak, saya mau turun bentar. Tunggu, ya!" titah Ayu dan turun dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Ia sedikit berdesak-desakan dengan pengendara yang memenuhi jalanan.
Ayu berlari ke salah satu korban kecelakaan itu, dirinya menempelkan telinga ke dada orang tersebut yang membuat darah tertempel di kerudungnya.
"Pak, ada bawa obat atau alat, gak?" tanya Ayu berteriak ke supir ambulans tadi.
"Gak ada Mbak."
"Ini masih ada napasnya, tolong bawa ke mobil Bapak!" teriak Ayu yang sudah mulai panik.
"Maaf Mbak, ini bukan urusan saya. Gimana kalo dia mati di tengah jalan karena saya bawa? Bisa-bisa saya yang tanggung jawab dan di tuntut oleh polisi."
"DAN KAU MEMBIARKAN MEREKA MATI DI SINI?! IYA, KAU MEMBIARKAN MEREKA SEMUA MATI DI SINI?" teriak Ayu yang sudah tersulut emosi.
Ada yang pernah melihat atau bahkan merasakan hal seperti itu? Di salah satu negara lebih tepatnya di negara Konoha.
Orang-orang akan lebih membiarkan korban-korban seperti itu sambil menunggu polisi datang yang bisa jadi polisi tersebut datang hingga 1 jam lamanya.
Alhasil, korban yang masih bisa hidup auto meninggal karena sudah tak kuat lagi menahan sakit yang dia rasakan.
Kata orang, karena memang begitu peraturan di jalanan. Jika ada yang kecelakaan maka dibiarkan saja hingga polisi datang.
Padahal menurut Direktur Penegakan Hukum Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, Brigjen Pol Pujiyono Dulrachman dalam pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD)
"Fatalitas ini mencegahnya dengan pertolongan pertama. Dengan pertolongan yang benar, yang tadinya fatal bisa diselamatkan. Tidak perlu menunggu polisi, kalau terlalu lama nanti korban bisa meninggal dunia di lokasi," katanya
Namun, tindakan pertolongan pertama tentu tidak sembarangan. Pertolongan pertama yang salah justru dapat memperparah kondisi korban kecelakaan.
"Misal korban mengalami patah tulang belakang, luka di kepala, leher atau tukang leher, mengangkatnya salah bisa meninggal dunia. Makanya hari ini kira jelaskan kepada masyarakat apabila menemukan kecelakaan, bagaimana cara kita menolong, kita ajari. Kalau patah kaki bisa pakai kayu di sekitar kita," ujarnya.
Jadi, kita memang boleh membantu korban kecelakaan dengan catatan kita memang paham atau memiliki skill di bidang tersebut.
Jangan ketika kita melihat perawat atau dokter dan bidan juga tenaga medis lainnya yang membantu korban kecelakaan malah dicibir atau lainnya.
Coba berkaca, di mana rasa empati kita melihat orang yang tak berdaya bahkan kadang jadi kehilangan nyawa karena tak ada yang ingin menolongnya.
Mau tak mau supir tadi pun akhirnya membantu Ayu mengangkat korban ke dalam mobil ambulans.
Salah seorang pengendara mobil keluar dari mobilnya dan membantu Ayu.
Ayu berpindah ke salah satu korban lagi, "Apakah dia masih hidup?" tanya orang tersebut berdiri di samping Ayu yang tengah mengecek pernapasan dan detak jantungnya.
"Iya, cepat bawa di ke mobil!" tegas Ayu menahan isak.
Sekitar 5 orang menjadi korban mobil milik salah satu pengendara yang berhasil diamankan warga yang ada.
Namun, mereka hanya mengamankan pelaku, bukan korban sepeda motor karena alasan takut dan bukan urusannya itu.
__ADS_1
"KAN MENINGGAL! KALIAN SUDAH BERAPA JAM SIH MEMBIARKAN MEREKA!" murka Ayu dengan menangis saat mengecek nadi juga pernapasan korban tersebut.
"Lebih baik urus yang di dalam mobil dulu dan janganlah menangis, kau tak akan konsentrasi nanti," kata seseorang tersebut.