Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Selamat Tinggal


__ADS_3

Petugas pembawa jenazah mulai datang dengan membawa kantong berisikan jenazah korban pesawat.


Ayu dan lainnya langsung berdiri dan mendekat ke area, tak jauh di petugas ada anak buah Riki yang juga ikut bersama mereka.


Caca menatap dengan tajam ke arah Riki, mata yang sudah sembab akibat terlalu lama menangis meminta kejelasan akan hal itu.


"Kenapa mereka pulang Mas?" tanya Caca lirih dengan menggelengkan kepala. Riki mengangguk dengan tatapan dingin ke arah mereka.


Tak lama, suara ambulans sudah datang di depan bandara, "Mas, kamu bilang mereka gak akan pulang kalo Akhtar gak ditemukan. Di situ gak ada Akhtar, Mas! Di situ para mayat semuanya, gak ada laki-laki tampan dengan hidung mancung juga tingginya bahkan ngalahin aku sedang berdiri dan tersenyum natap aku. Suruh mereka nyari Akhtar lagi Mas!" rengek Caca dengan menarik-narik baju Riki.


Ayu yang mendengar obrolan kedua orang tersebut, langsung membulatkan mata dan tanpa dipinta bulir mening langsung membasahi pipinya.


"Sayang, ikhlas. Ini sudah takdir yang Allah tetapkan buat kita," ucap Riki mencoba menenangkan.


Caca terdiam, dirinya menggeleng kemudian tertawa, "Ikhlas kamu bilang Mas? Ikhlas! Gimana aku bisa ikhlas sedangkan aku yang harus mempertaruhkan nyawa demi dia hidup dan sekarang malah diambil begitu saja? Hahahahaha."


Semua orang menatap iba ke arah Caca, kerudung yang sudah lesu dan bagian yang basah akibat air mata.


Petugas mulai membuka satu per satu kantong jenazah, hingga akhirnya kantong yang ke-5 pun dibuka.


Caca terjatuh ke lantai, dirinya tak kuat lagi melihat apa yang ada di hadapannya sekarang. Wajah pucat dengan sedikit tersenyum terpampang di hadapan mereka.


Mati ... tak akan pernah bertanya kau akan siap atau tidak, tak akan bertanya yang ditinggalkan akan ikhlas atau tidak.


Jika sudah waktunya! Dia akan datang membawamu ke alam selanjutnya, alam yang kekal abadi.


Petugas tak perlu bertanya atau menghidupkan toa untuk mencari identitas korban yang mereka temukan.


Anak buah Riki langsung membawa kantong jenazah menuju ambulans yang sudah ada, Ayu menatap kantong jenazah yang melewati mereka semua.


Dirinya hanya bisa tersenyum, menangis tanpa mengeluarkan air mata dan isakan. Begitu menyakitkan hingga dirinya tak mampu mengungkapkan lagi melalui tangisan.


Caca dibopong oleh Riki berjalan ke arah mobil, Ayu menatap kosong. Dirinya berjalan dengan gontai seolah hanya ada raga tapi jiwa tak ada lagi di dalamnya.


Mereka masuk kembali ke dalam mobil untuk menuju rumah Caca dan Riki, rencananya akan malam ini juga dimakamkan mengingat bahwa jenazah pasti sudah bermalam.

__ADS_1


Hancur. Itu yang dirasakan sekarang, bingung dan entahlah. Terlalu sulit mendefinisikan rasa sakit kehilangan seseorang untuk selamanya.


Mobil mereka mengikuti mobil Caca dan Riki sedangkan paling depan adalah ambulans, ya, mereka mengiringin ambulans tersebut.


Sesampainya di kediaman sudah ada bendera hijau juga rumah yang sudah penuh dengan karangan bunga juga bangku-bangku yang tersusun.


Seolah, sudah sangat dipersiapkan semuanya. Jenazah dikeluarkan dari dalam ambulans dan langsung dibawa masuk ke dalam rumah.


Caca dan Riki masuk lebih dulu, Ningsih juga teman-teman sudah masuk ke dalam. Sedangkan Ayu, masih terpaku dan menggelengkan kepalanya.


Ia menepuk-nepuk pipinya dan berdiri di samping mobil, "Ayolah Yu! Ayo bangun! Sudah cukup kau koma apalagi tertidur! Ayo bangun!" pinta Ayu dengan lirih.


Ningsih yang tak melihat Ayu berada di sekitarnya langsung menatap ke belakang, ia yang sudah masuk ke dalam rumah memutuskan untuk keluar kembali dengan berlari.


Ia takut jika terjadi sesuatu dengan Ayu, sesuatu yang tak diinginkan. Bagaimana pun dirinya baru saja sadar dari komanya.


"Ayu, lu ngapain di sini? Apa yang lu lakuin, ha?!" sentak Ningsih dan menggenggam tangan Ayu yang terus memukuli diri sendiri.


Ayu menatap wajah Ningsih dengan tatapan sendu, "Bilang sama gue Ningsih kalau ini cuma mimpi! Bangunin gue dari mimpi buruk ini Ningsih! Gue mohon," pinta Ayu dengan wajah memelas.


Ayu bergeming, dia terdiam dan menatap aspal yang dipijak, "Gue mau pulang," kata Ayu tiba-tiba dengan dingin tanpa ekspresi.


Ningsih langsung kaget mendengar ucapan Ayu, "Lah, lu gak mau liat Akhtar? Acaranya belum selesai."


"Gue mau pulang!" tegas Ayu dan melepaskan tangannya dari genggaman Ningsih. Ayu berjalan dengan setengah berlari keluar dari kawasan rumah Akhtar.


Ningsih dilanda kebingungan, ia segera berlari mengejar Ayu. Di sela-sela berlari ia membuka handphone untuk memberi kabar kepada Ahmad bahwa dirinya sedang mengikuti Ayu.


"Gue pulang sendiri aja, lu liat Akhtar aja sana!" perintah Ayu yang sudah mendapatkan taksi dengan menatap Ningsih.


"Gak, gue akan temenin lu sampe di rumah!"


"Gue mau pulang sendiri, kalo lu mau temenin pake mobil lain aja!" jelas Ayu dan langsung masuk ke dalam taksi yang di berhentikannya tadi.


Mobil akhirnya melaju menjauh dari kawasan rumah Akhtar, Ayu hanya menatap dengan kosong ke samping.

__ADS_1


'Bagaimana aku bisa menatap orang yang kusayangi dimandikan? Ditangisi? Di satalkan? Bahkan dikubur? Hahaha, aku tak akan pernah sanggup untuk melihat hal seperti itu,' batin Ayu menggelengkan kepala dan mengusap air mata yang menetes ke pipinya.


"Gayanya sok pencinta alam! Eh, ternyata malah orang yang perusak alam!"


"Gak usah sok jadi orang!"


"Siapa juga yang akan suka sama lu?"


"Pergi!"


"Jangan ganggu hidup gue!"


Kata-kata dan moment bersama Akhtar seketika kembali berputar di dalam pikiran Ayu, ada rasa sesak dan penyesalan yang begitu besar.


Menyesal karena tak pernah meminta maaf kepada Akhtar, maaf karena kata-kata Ayu yang terkadang atau mungkin pernah melukai hatinya.


Ayu turun setelah membayar ongkos, sudah ada mobil Angga di halaman rumah, "Sore Neng, kok pulangnya sore banget, sih?" sapa Pak penjaga dengan tersenyum ramah ke arah Ayu.


Bukannya mendapat jawaban, Ayu langsung masuk begitu saja dengan setengah berlari ke arah rumah.


"Lah, Neng Ayu kenapa dah? Apa ada masalah, ya? Gak biasanya dia begitu," pikir Pak penjaga kembali menutup gerbang rumah.


"Ayu, kamu udah pulang Sayang?" tanya Angga yang tengah duduk di sofa menatap Ayu yang masuk tanpa salam.


Bukannya menjawab, Ayu langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Jangankan menjawab, menatap ke arah Angga saja Ayu tidak.


Angga langsung bangkit karena panik dan menautkan alisnya, ia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan Ayu.


"Ayu ... Sayang, kamu kenapa?" tanya Angga dengan mengetuk pintu.


Hanya ada suara tangisan yang begitu memilukan terdengar dari dalam kamar, Angga langsung mengambil handphone.


Firasat dirinya mengatakan ada hal yang buruk terjadi sehingga membuat Ayu seperti itu. Dirinya langsung menelpon Ningsih.


"Maaf, Ningsih Om telepon kayak gini. Om mau nanya, ada apa ya di kampus? Kenapa Ayu pulang langsung nangis-nangis kayak gini?"

__ADS_1


"Akhtar Om, Akhtar sudah ditemukan dan dalam keadaan meninggal dunia," jelas Ningsih dari sebrang dengan begitu pelan bahkan terkesan seperti tengah berbisik.


__ADS_2