Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Menyukainya


__ADS_3

Brakk ...!


Pintu dibuka dengan kasar membuat penghuni di dalamnya kaget, Riki dan Caca yang tengah menonton televisi menatap heran dengan kelakuan Akhtar.


"Tidak bisahkah kau pelan-pelan membuka pintu?" tanya Riki dengan nada marah.


Akhtar berjalan dengan tangan yang sudah dikepal membuat Riki bangkit dari tempat duduknya pun Caca juga.


"Apa yang Papa ucapkan ke Ayu?"


"Papa tidak ucapkan apa pun."


"Jangan bohong!"


"Kenapa, sih kamu Akhtar? Kenapa datang-datang malah seperti ini?" tanya Caca menengahi.


Akhtar menatap ke arah Caca, "Mama tau? Papa hampir membuat anak orang meninggal karena ucapannya!" ungkap Akhtar dengan kemarahan.


Caca menutup mulutnya kaget mendengar ucapan Akhtar, dia menatap ke arah Riki yang mendatarkan wajahnya.


"Itu benar Mas?"


"Aku hanya berkata yang sebenarnya."


"Tapi, Papa gak punya hak atas itu! Dia juga tau, kok yang sebenarnya tentang hidup dia!"


"Kenapa kau jadi kurang ajar seperti ini cuma demi wanita itu? Apa kau menyukainya?" tanya Riki dengan teriak.


"Kalau iya emangnya kenapa? Papa gak ada hak untuk ikut campur siapa yang boleh aku sukai dan tidak!" tegas Akhtar dengan nada tak kalah tinggi.


"Berani sekali kau berbicara denganku seperti itu!" geram Riki yang sudah tak tertahankan lagi.


Plak ...!


Satu tamparan keras mengenai wajah Akhtar, membuat cairan merah keluar dari sudut bibirnya. Akhtar memegang pipinya dan menyapu cairan itu dengan jempol.


"Ck! Aku jadi ingin tau, separah apa Papa berucap ke Ayu. Apa Papa pikir bahwa diri Papa itu udah suci banget? Aku juga tau tentang Papa dulu! Jadi, jangan sok merasa diri suci dari orang lain! Papa cuma beruntung, Mama mau sama laki-laki yang tempremental dan gak jelas seperti Papa!"


Akhtar pergi begitu saja meninggalkan Riki yang sudah mengeras rahangnya mendengar ucapan Akhtar barusan.


"KESINI KAU ANAK TAK TAU TERIMA KASIH!" teriak Riki yang akan mengejar Akhtar di tangga.


Dengan cepat Caca menahan lengan Riki dan menggelengkan kepalanya, "Udah, Mas!" cegah Caca sebelum makin parah lagi perkelahiaan diantara mereka.

__ADS_1


Akhtar membuka pintu dengan kasar dan menutupnya kembali, ia lempar tas ke sembarang arah dan mengambil handphone genggam.


"Ayu di mana dirawat, ya?" tanya Akhtar duduk di pinggir kasur.


"Apa, aku tanya ke Ningsih aja, ya? Dia pasti tau di mana Ayu dirawat."


Beruntungnya, Akhtar memiliki nomor Ningsih. Dia meminta nomor Ningsih atau lebih tepatnya Ningsih yang meminta nomor Akhtar setelah Akhtar selesai latihan basket waktu itu.


[Ningsih, kamu tau Ayu dirawat di mana?]


[Di rumah sakit Harapan]


Tak perlu menunggu waktu yang lama, balasan diterima Akhtar dan membuat dia segera meraih kunci mobil juga dompetnya.


Ia kembali turun dengan setengah berlari.


"Tunggu!" perintah Riki yang masih ada di ruang tamu juga Caca.


Akhtar berhenti tanpa menatap ke arah Riki yang berada di belakangnya, Riki berjalan ke arah depan Akhtar dengan Caca yang memegang lengan Riki.


"Mau ke mana kau?"


"Ke rumah sakit, jenguk Ayu."


"Ngapain kau ingin menjenguk dia?"


"Sudah, ya, aku harus cepat. Gak ada waktu untuk meladeni Papa," sambung Akhtar dan berjalan ingin meninggalkan Riki dan Caca.


"Jangan pakai mobil hasil keringatku!" tegas Riki dan membuat kaki Akhtar berhenti.


Dirinya kembali ke hadapan Riki, ia menyerahkan apa yang diinginkan Riki tadi.


"Ada lagi?"


"Jika kau ingin bersama dengan wanita itu, maka jangan gunakan lagi fasilitas dariku apa pun itu termasuk kartu ATM!"


"Oke, fine!" jawab Akhtar santai dengan membuka dompet mengeluarkan uang juga satu kartu yang memang diberikan Riki padanya.


Akhtar mengambil tangan Caca dan memberikan; uang, kartu juga kunci mobil di telapak tangan Caca.


"Atau kalo emang perlu, nanti aku akan angkat kaki dari sini. Tenang saja Tuan Riki," ujar Akhtar dengan tersenyum, "kalau begitu, saya permisi!"


Caca menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu menatap kepergian Akhtar, "Enggak, Tar. Enggak, jangan pergi Nak!" teriak Caca yang ingin mengejar tapi ditahan oleh Riki.

__ADS_1


"Udah biarin saja!"


Caca menatap tajam ke arah Riki, "Biarin aja kata kamu Mas? Biarin aja, kamu pikir dia akan kembali lagi karena semua fasilitas ini kamu ambil?" tanya Caca dengan nada marah sambil memberikan barang yang dikasih Akhtar tadi ke dada Riki.


"Kamu salah! Dia bisa lebih mandiri tanpa kita! Aku capek harus bujuk dia untuk tetap tinggal di sini dan kamu dengan gampangnya membuat dia pergi begitu aja? Kamu gak pernah nanya mau dia apa, yang kamu mau semua yang ada di rumah ini harus sesuai dengan mau kamu! Aku gak paham lagi, ego kamu terus saja tinggi! Aku capek!" lirih Caca pergi meninggalkan Riki dengan tangannya yang memegang barang diberi Caca tadi.


Memang sejak kecil, Akhtar selalu di kekang oleh Riki bahkan untuk hal berteman. Namun, beruntungnya ada Caca yang selalu bilang ke Riki dan bujuk Riki agar tak bertindak semaunya terhadap Akhtar.


"Dia bukan kamu, dia punya hak sendiri mau jadi apa dan mau bagaimana. Tugas kamu dan aku cuma mendukung apa yang dia inginkan, selagi keinginan dia itu baik kenapa harus dilarang?"


Akhtar pun sebenarnya setiap bulan mendapatkan kiriman dari orang tua Riki tanpa sepengetahuan mereka.


Itu sebabnya, gampang bagi Akhtar jika memang diusir dari rumah. Ia tinggal mencari kost-kosan yang dekat dengan kampus juga kerja separuh waktunya sebagai barista.


Kini, Akhtar sudah di dalam taksi. Handphone memang tidak diberinya karena handphone tersebut adalah hasil menabungnya sendiri.


'Gila, udah kek sinetron aja nih hidup gue! Pake diusir segala pula, huftt,' batin Akhtar mengusap wajahnya kasar.


Ia terdiam dan menatap jalanan dari samping, seketika senyum terbit hadir dari bibirnya itu kala mengingat sesuatu.


'Bisa-bisanya gue bilang ke Papa kalo suka tuh si cewek sok lagi, astaga Akhtar. Apa yang lu pikirin pas ngomong kayak gitu?' batin Akhtar dengan memukul keningnya beberapa kali.


"Pak, lagi sakit kepalanya, ya? Jangan di pukul begitu, nanti malah tambah parah. Sebentar, ya, dikit lagi kita sampe, kok," timpal supir taksi melihat Akhtar dari kaca spion.


"Eh, Pak. Bukan saya, kok yang sakit," kata Akhtar dengan cengegesan karena malu.


"Oh, saya kira Bapak tadi."


Akhtar hanya menjawab dengan senyuman saja, suara dering handphone membuat dirinya segera meraih dan melihat dari siapa.


"Ada apa?"


"Dih, lu ke mana? Baru masuk kuliah udah menghilang aja, untung hari ini masih belum belajar karena pelatihan mahasiswa-mahasiswi baru!" ketus Ahmad di sebrang.


"Gue mau ke rumah sakit."


"Eh, lu sakit apa?" tanya Bambang menimpal.


"Ck! Lu lespeaker, ya?"


"Iya, dong! Kita semua harus denger kalian ngomong apaan!" timbrung Bayu tak ingin ketinggalan.


"Bukan gue, Ayu. Dia ada di rumah sakit Harapan, dah kalo kalian mau ke sana. Langsung ketemu di sana aja kita, gue nitip buah-buahan, ya. Kan dari kampus lebih deket ke rumah sakit itu, bye!"

__ADS_1


Tut ...!


"Dih, nih orang main matikan aja!" kesal Ahmad saat panggilan diputus oleh Akhtar sepihak.


__ADS_2