
Seminggu lagi menuju hari perkemahan bersama teman kampus, Akhtar terpilih untuk ikut ke acara tersebut.
Dirinya juga tahu Ayu dan Ningsih lolos bahkan memang ditunjuk untuk ikut dan memberi pengarahan nantinya pada teman-teman yang baru pertama kali berkemah.
Hari ini, Akhtar menepati janjinya ke Leon untuk menemani bocah tersebut membeli boneka untuk Viona.
"Lu mau boneka apa?" tanya Akhtar menatap ke arah Leon yang berjalan sendiri dan tak mau digandeng.
"Boneka yang paling cantik, Bang!"
"Emangnya lu punya duit?" tanya Akhtar menaikkan alisnya sebelah.
Leon mendongak dan menunjukkan kartu kredit yang ada di genggaman Leon, hal tersebut membuat Akhtar kaget.
"Lu ambil kartu punya Mama, ya?"
"Enggak! Ini punya Leon sendili Abang!"
"Masa? Kok bisa?"
"Kakek yang ngasih!"
Akhtar hanya mengangguk dan ber 'oh' ria, menatap kembali jalanan untuk menuju ke toko mainan.
Akhtar menyipitkan matanya ketika seperti melihat seseorang di depannya dan ternyata dugaannya benar tentang orang tersebut.
"Leon, jangan panggil Kak--"
"Kakak cantik Ayu!" pekik Leon yang membuat sang empunya nama berhenti. Akhtar yang berjongkok di depan Leon langsung mengepalkan tangan.
"Apa Bang?" tanya Leon melihat ke arah Akhtar saat ucapan Akhtar masih terjeda.
Akhtar membuka kepalan tangan perlahan dan membuang napas dengan kasar, dirinya tersenyum dengan paksa dan menggelengkan kepala.
"Gak papa," tekan Akhtar.
"Oh, yaudah!" Leon pergi dari hadapan Akhtar dan menuju ke arah Ayu yang masih berhenti karena panggilan dari Leon tadi.
Kembali berdiri dan membalikan badan serta mengayunkan kaki ke arah Ayu juga Leon. Mau tak mau, Akhtar harus bertemu dengan Ayu lagi setelah di kampus.
Entah mengapa, meski selalu ingin menjauhi Ayu. Mereka selalu berjumpa, entah itu di kantin, lapangan atau pagar kampus.
"Ada apa, Leon?" tanya Ayu tersenyum dengan berjongkok.
"Kakak sibuk?" tanya Leon.
Ayu tampak bergeming, ia seolah tengah berpikir, "Emangnya kenapa?"
"Temenin Leon buat beli kado, dong! Kata Abang, bagusnya dikasih kado boneka."
__ADS_1
"Yang ulang tahun, cewek?"
Leon mengangguk, "Temen satu kelas di TK Leon."
"Mmm ... itu juga bagus, kok," jawab Ayu dan melirik ke arah Akhtar yang ternyata juga menatap ke arahnya.
Pandangan mereka bertemu hanya beberapa menit hingga akhirnya Akhtar lebih dulu memutus kontak mata tersebut.
"Kakak temenin Leon, ya?" pinta Leon.
"Yaudah, boleh deh! Kakak juga udah selesai kok belanjanya," ucap Ayu dan berdiri.
"Kakak beli apa? Kok banyak," kata Leon melihat dua kantong plastik yang berukuran sedang.
"Kakak akan ada kegiatan di kampus nanti, jadi ada barang yang harus dibeli," ujar Ayu yang menggandeng tangan Leon dan berjalan ke arah toko mainan.
Akhtar berjalan di belakang kedua orang di depannya kini, ia mengeluarkan tangan yang tadinya berada di saku celana dan mengambil belanjaan Ayu begitu saja.
Sontak hal tersebut membuat Ayu kaget dan berhenti untuk menatap ke arah Akhtar yang sudah memegang barang Ayu.
"Kenapa diambil? Gue bisa bawa sendiri, kok," ucap Ayu menatap ke arah Akhtar.
"Orang dari tadi pada ngeliatin, gue gak tau tatapan mereka berisi apa. Cuma yang pasti, isinya negatif tentang gue yang biarin cewek bawa barang sebanyak ini," tegas Akhtar dengan wajah yang dibuat sedatar mungkin.
Ayu langsung melihat ke sekitar, tak ada satu pun orang menatap ke arah mereka. Ia membuang napas, "Yaudah, makasih!"
Mereka sudah memasuki toko mainan, belanjaan tadi di titip di kasir toko. Mengelilingi rak demi rak mainan untuk mencari kado yang cocok.
"Walna bilu Kak."
"Wah ... bukan pink?"
Leon menggelengkan kepalanya, "Emang, kenapa kalo walna bilu Kak?"
"Gak papa, sih. Cuma, biasanya anak cewek lebih dominan menyukai warna pink ketika mereka masih kecil," ujar Ayu berdiri setelah mengambil mainan yang menurutnya bagus.
Ia tengah memegang; boneka, alat mewarnai, kotak musik dan bola salju, "Kamu pilih yang mana?" tanya Ayu menatap Leon.
Leon menggaruk-garuk kepalanya yang sepertinya tengah kebingungan, Ayu tertawa pelan melihat tingkah Leon di depannya kini.
Hingga tanpa sadar, sorot matanya mencari keberadaan seseorang yang ternyata tak ada di antara mereka, "Ke mana dia?" gumam Ayu mencari-cari keberadaan orang tersebut.
"Ini!" seru Leon membuat Ayu tersadar bahwa di sini masih ada Leon. Ayu menatap ke bawah dan kembali tersenyum.
"Mau dua?" tanya Ayu saat melihat Leon memilih boneka dan kotak musik.
"Iya, Kak. Bial bonekanya ada yang nyanyiin, Viona bial ada yang nyanyiin dia," jelas Leon maksud dia memilih kedua benda tersebut.
Ayu mengusap kepala Leon dan memencet hidung yang lumayan mancung milik bocah tersebut, "Keren, kamu!" puji Ayu dan kembali membalikkan kedua barang yang tak dipilih Leon.
__ADS_1
"Sudah?" timpal seseorang bertanya yang membuat Ayu terkejut dan hampir saja membuat bola salju jatuh dari tangannya.
Ayu membalikan badan dan melihat ke arah orang tersebut, "Minimal kalo mau datang permisi atau apa dulu kek! Buat kaget aja!" gerutu Ayu dengan wajah sebalnya.
"Oh, sorry," kikuk Akhtar menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Yauda, yuk kita bayar!" aja Ayu menggandeng tangan Leon dan membantu anak tersebut membawakan satu hadiah di tangannya saat ini ke meja kasir.
Dua kado sudah dengan dibungkus oleh pihak toko, Leon membawa kado-kado tersebut dengan bahagia.
Sesekali dia berlari dan bernyanyi, "Balonku" meski sedikit tak menyambung tapi lebih baik daripada ia bernyanyi tentang lagu percintaan.
Awalnya Ayu yang ingin membayar belanjaan Leon, tapi bocah tersebut menolak karena dirinya memiliki uang.
Pun Akhtar juga melarang hal tersebut, kini mereka bertiga berada di salah satu tempat ice cream.
Leon yang mengajak mereka berdua dan berkata akan mentraktir mereka, satu cokelat, satu strawbery dan satu vanila.
Sungguh, rasa yang berbeda-beda kini tercipta di meja mereka. Tak ada yang membuka keheningan, Ayu bahkan tak melirik ke arah Akhtar yang berada di depannya.
"Kakak habis ini mau ke mana?" tanya Leon akhirnya memecah keheningan.
"Mau pulang, udah agak capek soalnya hehehe."
"Kakak udah lama di sini?"
"Lumayan."
"Kata Mama, cewek cantik gak boleh seling jalan sendilian Kak. Nanti ditangkap sama buaya dalat," larang Leon.
"Uhuk!" Akhtar tersedak ice cream vanila miliknya, Ayu langsung mengalum senyumnya melihat respons dari Akhtar yang langsung tersedak.
"Abang, kenapa?" tanya Leon polos.
"Gak papa," potong Akhtar cepat dengan mengelap sekitar bibirnya yang bekas ica cream.
Selesai makan ice cream dan menunggu Ayu mendapatkan taksi, akhirnya Akhtar dan Leon masuk ke dalam mobil mereka yang sudah terparkir di kawasan mall.
Akhtar tersenyum-senyum sendiri seakan tengah mengingat atau membayangkan sesuatu, "Abang kenapa?" tanya Leon menautkan alis menatap penuh penasaran.
"Gak papa," ujar Akhtar tersenyum.
Sementara di dalam taksi, Ayu tengah mencek barang belanjaan yang dia beli untuk memastikan bahwa sudah semua yang dibutuhkan terbeli semua.
"Ini punya siapa?" tanya Ayu kala mendapati bola salju ada di dalam satu kantong belanjaannya.
Di bawah pengganjal bola salju tersebut ada tulisan, Ayu mengambil kertas yang tertempel menggunakan slasiban.
[For; you. Sebagai ucapan terima kasih untuk segala yang sudah kamu lakukan terhadap aku, Leon juga keluargaku. Terima kasih.^^]
__ADS_1
Seketika semburat merah hadir di pipi putih milik Ayu, senyum merekah pun terlihat di wajahnya itu.