
"Mas, kamu dari mana? Kok lama banget, tadi kataya cuma mau ke mall aja," tanya Caca saat suaminya baru sampai ke rumah.
"Aku habis ketemu sama anak Diva," jelas Riki dan duduk di pinggir kasur dengan sedikit melonggarkan dasinya.
"Ha?" tanya Caca kaget dan berjalan mendekat ke arah Riki, "kamu gak bilang macam-macam ke dia 'kan?"
"Enggak, aku cuma nyuruh dia untuk gak dekat sama keluarga kita aja."
"Mas, kenapa? Kamu kok malah ngomong begitu sama anak yang gak tau menau urusan orang tuanya?"
"Mangkanya itu aku kasih tau dia tentang urusan kita dan keluarganya itu, biar dia itu sadar diri jadi anak!"
Caca menggelengkan kepalanya menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Riki, dirinya bangkit.
"Aku gak percaya Mas sejahat itu, dia gak salah kenapa malah Mas bicara seperti itu ke dia? Dia gak tau menau soal ini semua!"
"Mangkanya aku kasih tau! Bagaimana pun dia pasti akan mewarisi sifat licik Ibunya, aku hanya tak mau anakku dan keluargaku harus jadi korban kejahatan ibunya. Bisa jadi mereka sekongkol, udahlah! Aku mau ke ruang kerja aja, ngapain malah debat sama kamu karena mereka?"
Riki pergi meninggalkan Caca yang masih tak menyangka bahwa Riki sampai senekat itu, bagiamana pun seorang anak tetap akan sakit hati jika disuruh menjauh dari seseorang yang dia tidak tahu apa kesalahannya.
***
Pintu rumah sakit terbuka, Angga berdiri dan menatap dokter yang baru keluar dari dalam ruangan.
"Bagaimana keadaan putri saya Dokter?"
"Alhamdulillah, untungnya putri Bapak cepat dibawa ke sini. Jika tidak? Mungkin nyawanya sudah tak tertolong karena yang disayat putri Bapak urat nadi yang cukup dalam."
"Putri Bapak akan dipindahkan ruangannya, Bapak silahkan bayar administrasi dulu dan tentukan kamar yang Bapak mau di mana. Kalau begitu, saya permisi!"
Dokter pun pergi dari hadapan Angga membuat laki-laki itu sedikit lega, dirinya langsung berjalan ke arah administrasi untuk membayar sewa kamar nanti.
Pak supir dan Bibik sudah disuruh pulang oleh Angga, dia tak mungkin menyuruh mereka untuk menemani Ayu yang belum tahu kapan bisa dijenguknya.
Setelah menyelesaikan administrasi, Ayu yang masih menutup mata dikeluarkan dengan tubuh yang berbaring di brankar.
Menuju kamar VIP yang hanya bermuatan satu orang di kamar tersebut, tersedia sofa, lemari, kulkas kecil juga kamar mandi dan televisi.
Angga menyusun baju Ayu yang dibawa Bibik tadi ke lemari sambil menunggu perawat keluar dari kamar putrinya.
__ADS_1
"Jika terjadi sesuatu sama Ayu, Bapak boleh langsung tekan telepon itu, ya. Kami akan langsung datang ke sini," jelas perawat.
"Baik, terima kasih Buk."
"Sama-sama Pak, saya permisi!"
Angga mengangguk dan langsung duduk di sisi Ayu, dia menatap wajah teduh itu dan beralih ke tangan yang di perban oleh dokter.
"Siapa yang buat kamu sampai melakukan hal senekat ini nak?"
"Apakah sungguh sakit yang dia ucapkan padamu? Maafkan Papa yang gak tau akan hal itu."
Tanpa sadar, air mata sudah membanjiri wajah Angga. Dirinya menatap ke depan dengan rahang yang mengeras juga tangan terkepal kuat.
"Papa gak akan biarkan orang yang buat kamu jadi seperti ini tenang begitu saja, dia sudah hampir buat kamu pergi selamanya dari Papa dan Papa akan membuat hal yang sama padanya!" tekan Angga menatap dengan tajam ke arah depan.
Angga mengambil handphone yang ada di sakunya dengan menghapus air mata yang ada di wajah.
"Halo, ada apa Bos?" tanya seseorang di sebrang.
"Kamu tolong ke mall dan cek CCTV di sana, minta tolong sama bagian penjaga CCTV-nya. Lihat Ayu ketemu sama siapa di mall saat itu."
"Baik, Bos."
Tut ...!
Dua jam Ayu masih betah menutup mata dan selama itu juga Angga masih setia menemani Ayu.
"Eug," Suara lenguhan keluar dari bibir pucat Ayu membuat Angga langsung menatap dengan semangat ke arah Ayu.
"Kamu kenapa, Sayang? Ada yang sakit atau apa?" tanya Angga bangkit dari tempat duduk dan menatap ke arah Ayu yang baru membuka mata.
Ayu hanya menatap platfon dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Sayang, kamu mau apa? Kamu mau minum atau makan?" tanya Angga kembali.
"Mau mati. Ayu mau mati, Pa," lirih Ayu menatap ke arah Angga dengan air mata yang sudah luruh dari sudut matanya.
"Sutt ... Sayang, kamu gak boleh ngomong gitu, ya. Papa gak akan biarin kamu ninggalin Papa lebih dulu, gak akan," sendu Angga mengusap sudut mata Ayu yang mengeluarkan bulir bening.
__ADS_1
"Kamu harus sehat, besok kamu akan kuliah Sayang. Kan, kamu udah beli buku buat nambah pengetahuan. Masa, seorang dokter yang seharusnya menjaga diri malah menyakiti diri, sih?"
"Jangan seperti ini, Sayang. Papa mohon, kamu harus sembuh dan sehat. Papa yakin kamu pasti bisa sehat!"
Berbagai ucapan Angga sama sekali tak di respons Ayu, dia hanya menatap ke depan tanpa melirik ke arah Angga lagi.
"Sayang, tunggu sebentar, ya. Papa mau bicara sama dokter dulu, kamu gak papa ditinggal 'kan?" tanya Angga kembali.
Diam, tak ada respons. Itulah yang dilakukan Ayu setelah dia mengucapkan keinginannya. Angga yang tak melihat adanya respons langsung memencet telepon.
"Iya, ada apa Pak?"
"Bisa tolong ke kamar saya, Buk?"
"Baik, Pak."
Tut ...!
Angga menjambak rambutnya kuat, dirinya seperti dicabik-cabik melihat anaknya berubah drastis seolah kehilangan diri sendiri.
"Ada apa Pak?" tanya perawat yang sudah datang.
"Tolong jaga anak saya sebentar, Buk. Saya mau bicara sama dokter."
"Oh, baik Pak."
Angga keluar dari ruangan, rencananya ia akan bertanya dengan dokter kenapa dengan anaknya. Apakah Ayu terkena gangguan mental atau bagaimana.
Jika pun terkena, mungkin dirinya akan membawa Ayu ke psikolog nantinya. Tak ada salahnya bertanya terlebih dahulu kepada dokter.
"Hay, Ayu. Apa yang kamu tatap di atas?" tanya perawat duduk di dekat ranjang Ayu sambil melihat ke atas.
Perawat mengerutkan keningnya dan menatap wajah Ayu, "Ayu, kamu kenapa?" tanya perawat itu kembali.
"Kalau kamu mau cerita, cerita aja sama saya. Kita sama-sama perempuan dan anggap saja saya Kakak kamu."
Ayu memiringkan wajahnya sedikit untuk melihat ke arah perawat, senyuman diberikan perawat saat Ayu menatap ke arahnya.
"Saya mau sendiri," jelas Ayu dengan nada dingin dan kembali menatap ke atas.
__ADS_1
'Aku kehilangan jati diriku, kukira aku akan kuat menghadapi dunia. Ternyata, aku tak sekuat itu. Aku yang tak kuat atau memang ujian yang datang tak beradab?'
'Aku ingin pergi ke tempat yang jauh, di mana aku tak dihina atas perbuatan kedua orang tuaku. Kalau aku bisa memilih lebih baik aku tak pernah ada di bumi!'