Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Pergi


__ADS_3

Angga yang mendengar kabar tersebut memilih untuk berlayat terlebih dahulu, nanti Ayu juga akan tenang sendiri.


Dia hanya perlu waktu untuk mencoba mengikhlaskan segala keputusan yang telah ditetapkan oleh Allah.


Malam kembali menyapa, Ayu sama sekali tak pergi meski sudah beberapa kali dihubungi oleh Caca bahkan teman-temannya memberi tahu bahwa Akhtar akan dikebumikan.


Tok tok tok


Suara ketukan yang keras dari pintu utama membuat Ayu sedikit terusik, "Gak ada orang di luar, ya?" tanya Ayu pada dirinya sendiri.


Ia bangkit dari sajadah dengan mukena yang masih melekat pada tubuhnya, ia buka pintu dan secara bersamaan Angga keluar dari ruang kerjanya.


Mata Ayu membulat kala melihat siapa yang datang, ia mundur beberapa langkah dan membuat Angga kini mendekat.


"Ngapain kamu datang ke sini!" geram Angga dengan rahang yang mengeras menatap ke arah tamu yang tak diundang.


"Mau jemput anakku, seperti ucapanku beberapa bulan yang lalu 'kan? Aku akan menjemput dia karena kau tak becus menjaganya!" tegas Diva menaikkan satu alisnya menatap dengan seringai ke arah Angga.


"Gak! Ayu, kamu masuk ke dalam Ayu!" titah Angga dan langsung berdiri di depan Ayu.


Ayu hanya bergeming, ia menatap apa yang tengah terjadi di hadapannya sekarang. Dilihat ke arah Diva yang begitu tenang.


"Jadilah laki-laki sejati Angga, tepati janjimu. Kau tak bisa menjaga dirinya, artinya kau harus ikhlaskan dia kembali padaku lagi!"


"Sejak kapan aku berjanji soal hal bodoh tersebut padamu?"


"Oh, apakah itu suatu hal yang bodoh menurutmu? Berarti akan ada kecelakaan-kecelakaan lainnya nanti dong yang Ayu dapatkan karena ulahmu?"


"Udah, cukup! Ayu akan ikut sama Kakak," potong Ayu membuat Angga menatap dengan tak percaya sedangkan Diva tersenyum kemenangan.


"Gak, Ayu, gak! Kamu kenapa mau sama dia? Ngapain? Dia jahat sama kamu!"

__ADS_1


"Gak masalah, kok, Pa. Lagian, biar Papa dan Tante nanti gak ada yang ganggu. Ayu tunggu undangannya, ya."


"Ohh ... jadi kau akan nikah ternyata? Baguslah kubawa Ayu, sebelum istri barumu nanti memperlakukan Ayu selayaknya budak gratis!"


"Apa kau kira calon istriku seburuk dirimu?"


"Hahaha, aku buruk? Apa matamu katarak? Aku begitu cantik bahkan!"


"Udah Kak udah! Tunggu sebentar, Ayu akan bawa pakaian dan juga buku kuliah," timpal Ayu menengahi sebelum kedua orang di depannya ini semakin panjang berdebat.


Ayu pergi ke kamar sedangkan Diva bersedekap dada menatap anak tersebut, Angga menyusul ke arah Ayu.


"Gak perlu dibuat sesat, cukup kau saja yang sesat!" teriak Diva yang sama sekali tak mengejar mereka.


Sebelum masuk ke dalam kamar Ayu, Angga hanya melirik tajam ke arah wanita tersebut. Sedangkan yang di lirik hanya biasa-biasa saja.


"Beginilah minusnya akhlak laki-laki tersebut, tamu saja tidak diberi izin duduk!" gerutu Diva yang tetap berdiri di ruang tamu akhirnya.


***


"Gak papa Pa, Ayu udah lama gak ketemu sama nenek dan kakek. Ayu juga rindu sama mereka," ujar Ayu yang fokus merapikan buku-buku.


Dirinya memang belum tahu kalau Kakeknya sudah meninggal karena Angga yang tak memberi izin agar wanita itu tahu.


"Sayang ... jangan pergi, ya, di sini saja sama Papa," bujuk Angga menatap Ayu yang sedang fokus.


Ayu menatap ke sampingnya, melihat ke arah Angga yang sudah menampilkan tatapan sendu, "Papa ... sebentar lagi Papa akan menikah, bukan? Jadi, ada baiknya Papa punya waktu berduaan dengan Tante. Ayu gak mungkin ada di antara kalian, Ayu takut kalau Ayu adalah biang dalam pertengkaran di antara kalian nantinya. Apalagi, dia tau kalau Ayu ini bukan anak kandung Papa ternyata," jelas Ayu yang sudah memikirkan hal tersebut.


"Jika memang itu alasannya, Papa akan batalkan pernikahan Papa dengan dia!" ujar Angga yang menatap lekat ke arah Ayu.


Ayu langsung tersenyum dan menggelengkan kepala, "Gak perlu Pa, lagian nanti Ayu masih bisa ketemu sama Papa 'kan? Ayu masih bisa datang ke sini, biar Nenek juga ada temennya di rumah. Lagian, Kakak juga belum nikah. Itu sebabnya Ayu mau kembali ke sana. Kalau Kakak udah nikah pun Ayu gak akan balik ke sana lagi, kok. Ayu gak mau jadi bahan perkelahian antara kalian dengan pasangan kalian masing-masing."

__ADS_1


Angga menunduk seolah ada penyesalan karena memilih akan menikah dengan wanita pujaannya, "Papa gak salah, Papa dan Kakak berhak mencari kebahagiaan masing-masing. Hidup akan terus berjalan, kalian gak mungkin harus stay seperti ini sampai kapan pun juga 'kan? Gak papa, kok. Ayu bahagia dengan kalian yang bahagia juga," timpal Ayu yang seolah tahu isi hati Angga.


Angga mengangkat wajahnya, membuang napas kasar dan mencoba tersenyum, "Papa boleh peluk kamu?" tanya Angga dengan lirih.


Ayu mengangguk dan memeluk tubuh Angga, dirinya mengusap punggung laki-laki tersebut sedangkan Angga dengan cepat menghapus bulir bening yang lolos dari matanya.


Mereka akhirnya keluar dan menemui Diva yang masih berdiri di luar, sangat tahan sekali kakinya padahal menggunakan heals.


Ayu memakai tas ransel juga membawa kotak berukuran lumayan besar, "Apa semiskin itu Papamu? Sampai membeli koper saja tak mampu?" sindir Diva menatap rendah ke arah Angga.


Ayu melirik ke arah Angga yang sudah terpancing emosi, dengan cepat dicegah dengan memegang lengan Angga.


"Saya tunggu di luar, 10 menit kau tak datang juga. Anak buah yang akan membawamu ke dalam mobil!" tegas Diva dan berjalan keluar lebih dulu.


Ayu mengangguk dan menatap ke arah Angga, ia mengulurkan tangannya di hadapan Angga dan mencium dengan takzim punggung tangan pria tersebut.


"Papa jaga diri baik-baik, ya, jangan lupa makan dan olahraga. Bentar lagi juga rumah akan ramai kembali dengan kehadiran istri baru Papa," ejek Ayu dengan suara kekehan.


"Kamu ini! Itu mulu yang dibahas!" ketus Angga dengan sedikit cemberut.


"Hahaha, yaudah Ayu ke mobil dulu Pa. Pa, ingat, ya, undangannya jangan lupa kasih ke Ayu!" peringat Ayu dan mulai berjalan menjauh dari Angga.


Ia melirik ke arah lorong dapur, sudah ada Bibik yang menatap ke arahnya dengan sendu, "Daa ... Bik! Hati-hati dapat nyonya baru!" teriak Ayu dengan melambaikan tangan seraya terkekeh.


Dengan langkah yang berat, Ayu keluar dari rumah. Rumah yang sebenarnya sangat berat untuk ia tinggalkan.


Namun, dirinya pun tak ingin jika kehadirannya malah membuat Angga dan istri barunya semakin berdebat.


Belum lagi, Ayu bisa merasakan bahwa istri baru Angga sedikit tak menyukainya melihat dari sorot mata wanita itu.


Kotak sudah dimasukkan Ayu ke dalam bagasi mobil, ia menatap lekat ke arah bangunan yang ada di depannya itu.

__ADS_1


"Ayu, cepatlah!" teriak Diva dari dalam mobil.


"Iya, Kak!" sahut Ayu dan akhirnya masuk ke dalam mobil.


__ADS_2