
Caca menatap Akhtar yang berdiri di balkon dengan pintu yang terbuka, dirinya masuk dan berdiri di ambang pintu.
"Jika dia memang jodohmu, maka dia akan kembali padamu. Namun, jika dia bukan jodohmu. Mau sekuat apa pun kau menahan dia, dia akan tetap pergi."
Akhtar menatap ke arah suara Caca di belakangnya, dia tersenyum tipis ke arah Caca dan berjalan ke arah wanita itu.
Caca merentangkan tangannya dan mendekap tubuh jangkung putra sulungnya tersebut.
"Akhtar sudah menyerahkan semuanya pada Allah, Ma. Sesuai dengan saran Mama dan Papa, Akhtar harus lebih banyak menyiapkan diri dengan penolakan daripada diterima," ucap Akhtar melepas pelukan.
"Ya ... kamu benar, Sayang. Bukan berarti kamu itu tidak berhak bahagia, kamu berhak bahagia. Namun, mungkin bukan dengan dia," kata Caca mengusap rambut Akhtar.
Laki-laki itu hanya membalas dengan anggukan dan senyum yang ditampilkan, "Makasih, Ma. Makasih sudah menguatkan."
"Sama-sama, Sayang. Kamu jadi mau ngambil S2 di Jepangnya?"
"Jadi, Ma. Inn Syaa Allah."
"Lantas, kalau dia menerima. Gimana?"
"Kalo dia masih butuh waktu, kami akan LDR. Tapi, kalau dia gak butuh waktu untuk menikah maka Akhtar akan ngambil S2 di sini," jelas Akhtar dengan tersenyum.
"Uluh-uluh anak Mama," goda Caca dengan menoyor kepala Akhtar, "udah mikirin ke nikah aja, emangnya udah siapin ilmu?"
"Alhamdulillah udah, Ma. Selama ini Akhtar sering ikutan majelis yang diadakan di kampus juga beberapa tempat di salah satu Masjid tentunya ilmu dari beberapa ustadz terkenal melalui handphone."
"Maa Syaa Allah anak Mama, ini semata-mata demi Ayu doang atau demi Allah, nih?" tanya Caca menaik turunkan alisnya.
"Inn Syaa Allah karena memang niat murni ke Allah, Ma. Jodoh adalah cerminan diri sendiri, jika kitanya agamanya jelek jangan pernah berharap bahwa akan mendapatkan agamanya yang bagus. Yang bagus tentu untung yang bagus."
"Subhanallah anak Mama," lirih Caca dengan mata yang berbinar menatap Akhtar, "semoga Allah memberikan kebahagian selalu untukmu, ya, Nak."
"Aamiin, Ma. Terima kasih."
Caca tersenyum dan mengusap bahu Akhtar, "Mama turun dulu, ya. Kamu langsung tidur, udah malam. Angin malam gak baik bagi tubuh," peringat Caca dan diangguki oleh Akhtar.
Caca berjalan keluar kamar Akhtar dan menutup pintu kamar laki-laki tersebut, ia mengusap ujung matanya karena bulir bening sempat tertahan agr tak menetes.
Akhtar memang menjadi laki-laki yang lumayan sering mengikuti kajian di majlis. Hal tersebut bermula dari dia mengikuti Ayu dan mendapatkan wanita tersebut tengah masuk dan duduk di salah satu tempat duduk khusus wanita.
__ADS_1
Awalnya, dirinya mendengar ceramah salah satu Ustadz sekitaran situ dari luar Masjid. Hingga ke hari berikutnya, ia datang sendiri tanpa memperdulikan apakah Ayu ada atau tidak.
Hal tersebut tidak diberi tahu Akhtar ke orang tuanya, ia bahkan menjadi hamba Allah yang sudah taat dalam melakukan kewajibannya.
"Lagi ngapain dia?" tanya Riki ketika mendapati Caca yang sudah masuk kembali ke kamar.
Sedangkan dirinya tengah berkutat dengan laptop sambil menyandarkan tubuh.
"Meratapi kisah percintaan," jawab Caca dan ikut bersandar.
"Lagian, aku tuh bingung sama kalian kaum cewek. Kenapa, sih? Maunya itu menyuruh seseorang menunggu? Giliran disuruh nunggu, malah auto nikah dengan yang lain," ucap Riki mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Tergantung, ada cewek yang lebih mementingkan agar impiannya lebih dulu tergapai baru percintaan, ada cewek yang mau melihat keseriusan dan kesetiaan dengan cara menyuruh menunggu dan ada juga yang emang mengulur karena agar memantaskan diri menjadi pendamping laki-laki tersebut," jelas Caca panjang kali lebar.
Riki terdiam dan memandang ke arah selimut sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Terus, gimana? Ayu udah ngasih jawaban ke Akhtar?"
"Belum, Akhtar akan minta jawaban pas hari kelulusan nanti."
"Dua hari lagi?" tanya Riki menaikkan alis.
"Kamu kenapa gak ambil S2?" tanya Riki menatap Caca.
"Gak mau, aku mau tuh diizinkan buat kerja!" ketus Caca memajukan bibirnya.
"Kamu doakan aja aku agar segera gak ada, biar kamu bisa bebas kerja," jelas Riki menatap ke arah laptop lagi.
"Dih, kok ngomongnya gitu, sih, Mas!"
"Lagian kamu, disuruh buat jaga rumah aja malah pengennya kerja. Banyak orang yang pengen kerja malah mau di rumah aja, ngabisin waktu dengan mendidik anaknya."
"Iya, deh iya," potong Caca cepat.
***
Setelah kepergian Caca, Akhtar memilih duduk di bangku balkon dan menatap langit yang kebetulan ada bulan di langit.
"Apakah kau juga menatap bulan yang sama denganku malam ini Ayu? Atau, kau malah tengah bimbang untuk menjawab pertanyaanku? Jangan jadikan itu sebagai beban, kau berhak memilih orang yang terbaik untukmu," lirih Akhtar mengusap rambutnya.
__ADS_1
Akhtar menatap lurus dan tersenyum, "Ternyata benar kata orang, cinta mampu mengubah segalanya termasuk diri sendiri. Tapi, aku akan tetap menjadi lebih baik lagi demi cintaku pada Rabb-ku dan diri sendiri."
Akhtar mengehela napas dan bangkit dari bangku menuju tempat tidurnya, ia memilih untuk mengistirahatkan tubuh juga pikirannya.
Di lain tempat, Ayu masih duduk di ayunan. Dirinya menatap ke arah penjaga gerbang yang sedang menyeruput kopi.
"Pak, sini!" panggil Ayu dan membuat Pak penjaga berjalan ke arah Ayu.
"Ada apa Neng?"
"Duduk, sini Pak. Saya mau nanya-nanya sama Bapak," tutur Ayu tersenyum.
Pak penjaga bukan langsung duduk tetapi menatap jam tangan yang ada di pergelangannya.
"Udah malam ini Neng, emangnya gak kuliah?" tanya Pak penjaga.
"Iya, Pak. Sebentar lagi juga mau tidur kok."
"Oh, mau ngomong apa Neng?" tanya Pak penjaga dan akhirnya duduk di depan Ayu.
"Ceritain dong Bapak dulu ngimana bisa nikah sama istri Bapak? Kan, pasti setiap orang cara diterima cintanya beda-beda. Kalo versi Bapak dan istri itu gimana, sih?" tanya Ayu dengan sumbringah tak sabar mendengar cerita dari Pak penjaga.
"Si Neng mah ngapain nanya soal itu?" tanya Pak penjaga malu.
"Haha, ya, gak papa dong Pak. Apa salahnya belajar dari yang sudah berpengalaman?"
"Eh, si Neng jangan-jangan ada yang suka sama Neng, ya? Mangkannya Neng nanya begitu sama Bapak?" selidik Pak penjaga menaikkan sebelah alisnya.
"Dih, si Bapak mah sok tau pisan. Orang nanya doang juga!" ketus Ayu agar tak ketahuan misi dirinya bertanya dengan Pak penjaga.
"Dulu, Bapak harus nunggu istri Bapak selesai tamat SMA lebih dulu," ucap Pak penjaga membuka pembicaraan.
"Bapak cuma tamatan SMP saat itu dan ngerasa gak pantas, karena status sosial Bapak dan istri. Namun, karena memang niat Bapak baik saat itu. Akhirnya Bapak diterima oleh keluarga dan istri Bapak, waktu Bapak nunggu istri tamat SMA. Bapak merantau ke Jakarta, berbagai pekerjaan Bapak tekuni agar bisa menikahi istri Bapak."
"Apa istri Bapak cantik?" tanya Ayu memotong ucapan Pak penjaga.
Si Bapak penjaga menoleh ke arah Ayu dan mengangguk serta memberikan senyuman. Ayu mendengarkan dengan seksama kisah percintaan Pak penjaga dengan istrinya.
Hingga tak terasa, Ayu harus segera masuk ke kamar karena akan ada kuliah besok harinya.
__ADS_1