
"Ayu, kita mau ke mana?" tanya Ningsih mengikuti Ayu.
"Pulang 'kan udah selesai, masalah lolos atau enggaknya nanti diumumkan melalui internet," jawab Ayu menatap Ningsih.
"Lah, cepat amat, sih. Kita liat-liat gedung kampusnya dululah!" ajak Ningsih menahan lengan Ayu.
Ayu membuang napas kasar, "Yaudah, ayo!"
Mereka yang tadinya sudah hampir sampai di gerbang kampus kembali membalikan badan ke arah gedung kampus.
Pengumuman diterima atau tidaknya paling lama seminggu lagi akan keluar.
"Yu, kamu daftar ke kampus lain, gak? Kalo gak lolos di sini, gimana?" tanya Ningsih yang mulai cemas.
Ayu tersadar, ucapan Ningsih ada benarnya juga. Dirinya sama sekali tak ada kampus cadangan yang di daftarnya.
"Iya, juga, ya. Yaudahlah, rejeki aja. Kalo Allah kasih izin di sini alhamdulillah. Kalo enggak, kita harus buru-buru daftar ke kampus lain paling," kata Ayu menenangkan.
Ningsih mengangguk meskipun perasaannya masih belum bisa tenang, "Yu, itu lapangan basket 'kan?" tanya Ningsih menunjuk ke arah lapangan.
"Iya kayaknya," jawab Ayu seadanya.
"Kita liat basket aja, yuk!" ajak Ningsih sumbringah.
"Lah, tadi katanya ngajak liat-liat kampus. Kok malah jadi liat basket, sih?" geram Ayu melihat tingkah Ningsih.
"Hehe, gak papa dong. Aku juga capek, nih! Eh, iya. Kamu ke sini naik apa? Aku belum nanya soal handphone kamu juga," cerca Ningsih yang mengingat ucapannya tadi di depan kampus.
"Lah, aku kira kamu udah lupa. Yaudah, kita masuk ke dalam biar aku jelasin," jelas Ayu dan diangguki Ningsih.
Mereka masuk ke dalam tempat basket yang sudah ada bangku penonton, "Beuh, padahal lagi cuti tapi tetap aja banyak yang nonton," kata Ningsih melihat bangku penonton hampir penuh terisi.
Duduk di salah satu bangku yang kosong, Ayu dan Ningsih menatap sekitar terlebih dahulu juga melihat siapa saja yang akan bermain.
"Yu, liat! Ternyata Akhtar dan temen-temennya itu pemain basket!" seru Ningsih dengan tersenyum lebar menunjuk ke arah Akhtar juga tim-nya yang sedang duduk di lapangan.
"Jadi, kenapa emangnya?" tanya Ayu datar dan tak melihat ke arah yang ditunjuk Ningsih.
"Dih, gak boleh kamu kayak gitu. Nanti, lama-lama jatuh cinta, lho," ejek Ningsih menoel hidung Ayu.
"Apaan, sih!" ketus Ayu menepis tangan Ningsih.
__ADS_1
Ayu bangkit dari tempat duduknya, "Yu, mau ke mana?" teriak Ningsih meskipun tak terlalu kuat.
"Ke toilet!" jawab Ayu tanpa menoleh.
Ningsih hanya mengangguk dan kembali menatap para pemain basket yang ada di dalamnya, toilet tersedia di dalam ruangan basket ini. Jadi, tak perlu harus keluar-masuk mencari toilet.
Saat akan ke toilet, handphone milik Ayu berdering. Ia mencoba mengambil handphone yang ada di tas ransel dan tetap berjalan.
Bughh ...!
Tubuh Ayu tak dapat seimbang membuat dirinya ingin jatuh ke belakang, ia langsung menutup mata dengan tangan yang memegang handphone.
'Kok gak sakit? Apa belum jatuh, ya?' batin Ayu dengan mata yang masih terpejam.
Merasa tak kunjung mendapatkan sakit tubuhnya, Ayu membuka mata dan melihat apa yang terjadi.
Tubuhnya di tahan oleh seseorang, laki-laki itu menatap lekat mata Ayu sembari tersenyum ramah padanya.
Ayu dengan cepat berdiri dan menjauh dari laki-laki tersebut.
"Eh, sorry-sorry," ucap laki-laki itu.
"Emm ... gue yang minta maaf. Karena gak fokus jalan, soalnya mau ngambil handphone tadi," jelas Ayu kikuk.
Ayu mengangguk dan menutup tas ransel yang tadi masih terbuka.
"Haykal," ujarnya menjulurkan tangan ke depan Ayu.
"Ayu," jawab Ayu menangkup tangan ke depan dadanya.
"Eh, maaf, ya, gue tadi lancang pegang tubuh lu," jelas Haykal merasa tak enak dengan tangan yang diambil kembali.
"Iya, gak papa. Kalau gitu, gue permisi, ya. Sekali lagi terima kasih," pamit Ayu berlalu dengan menunduk dari hadapan Haykal.
Haykal tertegun dan menatap Ayu yang sudah masuk ke dalam toilet.
"Haykal!" panggil teman Haykal yang sudah ada di dalam lapangan basket.
Haykal langsung menatap temannya dan tersenyum, dirinya masuk ke dalam lapangan dan kumpul dengan timnya lebih dulu.
Sedangkan di lain tempat, ada seseorang yang sudah mengepal tangannya karena melihat Haykal memegang tubuh Ayu tadi.
__ADS_1
"Tar, lu kenapa?" tanya Ahmad yang melihat Akhtar menatap ke arah luar lapangan basket.
"Gak papa," jawab Akhtar dingin dan mengalihkan pandangannya.
Tak semua orang tahu kejadian tadi karena Ayu tak teriak, jika dirinya teriak bisa jadi semua orang menatap ke arah dirinya juga Haykal.
Permainan dimulai dengan ketua lawan adalah Haykal. Haykal dan Akhtar perbedaannya hanya 11-12. Mereka sama-sama jago dalam dunia basket.
Namun, tak bisa dibohongi bahwa yang lebih jago adalah Akhtar. Entah karena memang dirinya menekuni olahraga ini atau tidak sehingga dirinya mampu mengalahkan beberapa lawan dari universitas lainnya yang ternama.
Ketika selesai dari toilet, pertandingan sudah mulai. Ayu berjalan dari samping lapangan basket yang diberi jaring agar ketika bola melenceng tak langsung kena ke penonton yang ada di sekitar.
Ayu duduk kembali ke bangkunya tadi dan mendekat ke arah Ningsih, "Ningsih, aku mau pulang duluan, ya. Ada urusan," bisik Ayu dengan Ningsih yang masih fokus menatap pertandingan.
"Iya, sana pulang aja," suruh Ningsih tanpa menatap ke Ayu terlebih dulu.
Ayu memajukan bibirnya kesal, tak biasanya Ningsih mengabaikannya seperti ini, "Ck! Kayak baru pertama kali liat orang main basket aja lu!" cibir Ayu dan turun dari bangku.
"Bukan baru pertama kali liat main basket, tapi baru pertama kali liat pemainnya secakep ini," jawab Ningsih yang masih menanggapi ucapan Ayu.
Berjalan ke luar dengan kaki menghentak, Akhtar yang mencuri pandang ke arah Ayu kini dilanda kebingungan.
"Yeee ...!" teriak orang-orang dan para pemain saat bola basket masuk ke ring basket.
Akhtar yang tak menyadari hal tersebut sebelumnya langsung menatap ke arah ring, "Gue pergi bentar!" tegas Akhtar dan berlari keluar lapangan.
Dirinya mencari Ayu yang sudah keluar dari gedung basket.
"Lah, ke mana tuh si Akhtar?" tanya pemain satu tim mereka ke Ahmad.
"Gak tau, kebelet boker kayaknya," jawab Ahmad yang juga keheranan.
Langkah Ayu terhenti ketika marasa ada seseorang yang menahan tasnya, ia membalikkan badannya dengan alis tertaut menatap Akhtar di belakang.
"Dih, kenapa lu?" tanya Ayu keheranan dengan berkacang pinggang.
"Jangan deket-deket sama Haykal!" perintah Akhtar serius dengan wajah penuh keringat.
Ayu membulatkan matanya, "Eh, emangnya kenapa? Suka guelah mau deket sama siapa aja! Atau jangan-jangan ...," ucap Ayu menunjuk ke arah Akhtar, "lu cemburu, ya?"
Akhtar yang menyadari sikap anehnya ini kepada Ayu langsung melepaskan tangannya dari tas Ayu dan mencoba menetralkan wajah marahnya itu.
__ADS_1
"Ck! Pede banget lu! Gue bilang kayak gini karena dia udah punya pacar, pacar dia galak dan mending lu gak usah cari masalah sama pacar dia. Lu 'kan anak baru, masa udah ada masalah aja cuma karena cowok," papar Akhtar.
Bukannya percaya, Ayu tersenyum ke arah Akhtar, "Oh, kayak gitu? Tapi, apa peduli lu? Mau gue rebut atau deket sama pacar orang? Kita temen aja enggak, cuma sebatas manusia yang pernah ketemu doang. Itu pun gak sengaja, paham lu?" tanya Ayu tegas menatap wajah Akhtar dengan mendongak.