
Akhtar sudah sampai di rumah sakit, di luar sudah menunggu ketiga temannya juga Ningsih.
"Udah lama kalian nunggu? Kenapa gak masuk aja duluan?"
"Ya, gak papa sih."
"Dia di ruangan apa?" tanya Ahmad membuat mereka saling pandang.
"Yaudah, nanti kita tanya di resepsionis aja," ujar Akhtar dan masuk lebih dulu.
Mereka menghampiri resepsionis rumah sakit dan sudah mengetahui Ayu dirawat di ruangan apa.
Sesekali, Bambang menggoda Ningsih dan membuat wanita itu tersenyum malu. Sedangkan yang lainnya menatap dengan jijik ke arah Bambang.
"Ini, kita ketuk dulu atau masuk baru bilang 'permisi' ya?" tanya Akhtar saat sudah berada di depan pintu kamar Ayu.
"Mmm ... kita ucapkan salam aja dulu, sini biar aku aja!" potong Ningsih dan menggantikan tempat Akhtar tadi.
Tok ...!
Tok ...!
"Assalamualaikum, Om Angga! Ini ada Ningsih mau ketemu sama Bestie Ningsih si Ayu cakep yang baik hati!" teriak Ningsih layaknya di hutan.
Tingkah Ningsih membuat mata ketiga teman Akhtar melotot sedangkan Akhtar menutup wajahnya agar tak dilihat oleh sebagian orang yang berhenti karena suara Ningsih.
"Jangan teriak-teriak, ini rumah sakit!" geram Akhtar dengan gigi terkatup.
Ceklek ...!
"Waalaikumsalam, eh, ada kalian semua. Ayo, silahkan masuk!" ajak Angga setelah membukakan pintu.
Mereka menyalim tangan Angga terlebih dahulu dan masuk ke ruangan Ayu, Ningsih langsung menghampiri Ayu dan duduk di atas ranjang.
Tak ada respons dari Ayu, dia membuang wajahnya ke samping.
"Ck! Lo sombong sekarang karena bisa berani melakukan hal itu? Lo sombong karena bisa selamat dari maut?" tanya Ningsih membuat Ayu menatap ke arahnya juga orang yang berdiri dengan sejajar di sisi ranjangnya.
"Hay, Ayu! Kami datang ke sini untuk ketemu sama kamu," sapa Ahmad dengan tersenyum.
__ADS_1
"Siapa yang nyuruh?"
"Gak ada, sih. Ini hanya inisiatif kita, kita juga mau ngajak kamu buat mendaki. Yuk, kita mendaki bareng biar kita semakin dekat!"
"Keluar," kata Ayu begitu saja.
Angga yang berada di samping Ayu memegang bahu putrinya itu agar tak bersikap selayaknya wanita tak memiliki sopan santun.
"Sayang, kamu gak boleh kayak begitu. Mereka jauh-jauh datang ke sini buat jenguk kamu, masa kamu mau nyuruh mereka pulang begitu aja," bujuk Angga menatap wajah mereka satu per satu.
"Gak ada yang nyuruh mereka datang dan gak ada yang mengharapkan mereka datang Pa!"
"Iya, Sayang. Tapi jangan seperti itu."
"Mmm ... Om, boleh saya bicara berdua dengan Ayu?" tanya Akhtar dengan hati-hati.
"Gak ada yang perlu dibicarakan, keluar!"
"Iya, setelah ini gue akan keluar kok. Kita bicara dulu sebentar aja," pinta Akhtar dan Ayu hanya diam saja.
Angga berdiri tegap setelah tadinya sedikit membungkuk, mereka keluar dari ruangan termasuk Ningsih.
Akhtar melirik ke arah pintu yang sudah kembali tertutup dan tak ada orang yang melihat dari kaca ke arah mereka.
"Ayu ... aku tau kalo Papa salah dan sangat salah, tapi aku mohon kau jangan sampai kehilangan dirimu sendiri seperti ini. Kasian Om Angga, apakah dia juga harus mendapatkan perlakuan seperti ini padahal dia tak berbuat apa pun padamu?"
"Aku tak tau apa yang Papaku ucapkan padamu, untuk itu aku mohon kemurahan hatimu untuk memaafkan kesalahan Papaku."
Diam. Tak ada sahutan dari Ayu atau perlawanan, Akhtar hanya mampu manahan sabar dan melihat ke arah pergelangan tangannya.
Ia membuka salah satu gelang yang ada di tangannya dan memasukkan gelang tersebut di tangan Ayu yang berbalut perban.
Ayu melihat tingkah Akhtar tapi masih enggan untuk berbicara, "Biar cepat sembuh," kata Akhtar tersenyum ke arah Ayu untuk pertama kalinya.
"Kapan lu pulang? Besok? Atau lusa? Gue ikut antar lu pulang, ya."
"Gak usah, keluar sana lo!"
"Iya-iya, gue akan keluar kok. Masa di sini lama-lama, eh, tapi boleh sih kalo lo mau juga. Ntar, gue jagain."
__ADS_1
Ayu menatap tajam dan seolah siap menerkam Akhtar yang berada di hadapannya.
"Haha, gue becanda! Maafin Papa gue Yu, gue tau ucapan Papa gue salah. Tapi, mohon. Maafin beliau dan lu jangan lemah seperti ini juga sikap lu jangan sedingin ini, kesian orang-orang disekitar lu yang gak tau apa-apa harus mendapatkan perlakuan yang sama."
"Gue keluar, ya. Gelangnya jangan dibuka, biar tuh gelang bisa nemenin lu. Itu perumpamaan gue, hahaha."
Akhtar keluar dari kamar dan meninggalkan Ayu.
"Gimana, Ayu gak marah sama lu?"
"Enggak, kok. Kalian mau masuk? Masuk sana, gue mau bicara berdua sama Om Angga."
"Kok dari tadi lu mau bicara berdua mulu, atau jangan-jangan yang buat Ayu kayak gini itu elu!" tuduh Ningsih menaikkan alisnya.
"Sutt ... udah-udah, kalian masuk sana. Kalo mau minum ambil di kulkas, Om ada beli minuman tadi pas sekalian pulang dari kampus," potong Angga.
"Yaudah, deh Om. Kita masuk ke dalam dulu, ya," pamit Ningsih dan masuk ke dalam ruangan Ayu kembali diikuti ketiga teman Akhtar.
"Kita mau bicara di mana?" tanya Angga menatap Akhtar dengan tersenyum.
"Di sini juga gak papa Om," kata Akhtar dengan nada pelan.
Angga mengangguk dan duduk di bangku yang tersedia di depan ruangan Ayu, mereka duduk bersama-sama.
"Sebelumnya, Akhtar minta maaf sama Om karena yang buat Ayu melakukan hal nekat seperti ini adalah kesalahan Papa saya Om."
"Memang, rasanya tidak pantas jika diwakilkan seperti ini. Namun, sebagai seorang anak dan laki-laki lebih gak pantas jika saya tak meminta maaf karena perlakuan keluarga saya."
"Saya sebenarnya tidak tau apa yang diucapkan Papa ke Ayu, tapi yang saya ketahui dan pasti ucapan itu berupa kalimat yang sangat menyakitkan hingga membuat Ayu seperti itu."
Angga turun dari bangku dan berlutut di hadapan Angga membuat laki-laki itu kaget, "Eh, kamu ngapain? Gak perlu kayak gini, Akhtar. Duduk di sini!" perintah Angga dan membantu Akhtar agar berdiri dan duduk kembali.
"Om hargai keberanian kamu sebagai seorang laki-laki sejati, gak papa kok. Om udah maafin apa pun yang orang-orang lakukan pada keluarga Om. Gak papa Akhtar dan Ayu juga pasti sudah memaafkan keluarga kamu terutama Papa kamu. Mungkin, saat Papa kamu berucap sedemikian dengan dia. Mentalnya lagi gak baik-baik aja, itu sebabnya dia melakukan hal nekat tersebut," jelas Angga tersenyum dan mengusap bahu Akhtar.
"Om gak akan marah sama kamu juga keluarga kamu, jadi tenang aja. Om juga gak akan melarang Ayu untuk berteman dengan siapa pun, selama dia nyaman dan senang berteman Om akan ikut senang juga," sambung Angga membuat wajah Akhtar terangkat.
"Makasih, Om," lirih Akhtar
"Eh, menurut kalian. Apakah si Akhtar serius minta maaf, atau jangan-jangan dia ada perasaan lagi sama si Ayu. Itu sebabnya dia sampe kayak gitu banget," bisik Ahmad yang melihat perlakuan Akhtar tadi.
__ADS_1
"Iya, ya, aneh banget! Biasanya mana mau tuh manusia kayak begitu, apa jangan-jangan dia sudah mulai suka sama Ayu?" tanya Bambang melotot dengan senyum mengembang.
"Asyik! Akan ada yang kayang di Monas!" seru Bayu tertawa dan membuat temannya yang lain ikutan tertawa karena mengingat ucapan Akhtar waktu di gunung dulu.