
Sebelum sang surya menyinari juga kokokan ayam saling sahut-menyahut. Kiki dan tim sudah siap untuk turun.
Kegiatan mereka selama tiga hari sudah selesai di gunung Rinjani ini, banyak cerita yang pastinya akan menjadi kenangan.
Saat mereka tengah fokus berjalan turun, Ningsih menyipitkan matanya melihat ke arah depan dengan menyenggol tangan Ayu.
"Yu, itu bukannya orang-orang yang kemarin, ya?"
Ayu melihat ke arah yang dimaksud Ningsih, "Iya, kali," jawab Ayu singkat dan fokus kembali dengan jalannya.
Punggung yang membawa ransel berisi berbagai peralatan, sudah tak lagi membuat Ayu merasa letih atau pegal.
Karena, ini bukan kali pertama ia melakukan pendakian.
"Yu, habis ini ke mana lu?" tanya temen tim Ayu.
"Rehat, Kak."
"Cari jodoh!" timpal Ningsih seraya tertawa.
"Hahaha, bener tuh. Biar ada yang bawain beban lu!" saran teman Ayu.
"Dih, emangnya jodoh gue ntar babu? Sampe beban gue dia yang tanggung?" tanya Ayu nada kesal.
Ahmad yang merasa bahwa di belakang mereka seperti ada orang tertawa dan berbicara langsung melihat ke arah belakang.
"Widih, ada si penyelamat dan timnya di belakang," ujar Ahmad membuat Bayu juga Bambang melihat ke arah belakang.
"Pas banget, ya, mereka juga mau pulang. Jangan-jangan tujuan kita sama mereka juga sama," imbuh Bayu yang kembali melihat ke arah jalan.
"Tanya aja," suruh Bambang.
"Buat apa?" tanya Akhtar menaikkan alisnya.
"Ya, biar gak terlalu terasa pulangnya. Kalo ada temen 'kan biar kesan perjalanan kali ini lebih berasa, gitu."
"Gak usah, gue ogah kalo harus satu perjalanan sama mereka," jelas Akhtar angkuh.
"Dih, udah ditolongi bukannya terima kasih masih bisa aja sok angkuh si Akhtar mah," gumam Ahmad membuang pandangan.
"Gue denger apa yang lo omongin!" geram Akhtar.
"Yaiyalah lu denger, lu 'kan gak tuli Tar!" jelas Ahmad yang langsung ditatap tajam oleh Akhtar.
__ADS_1
Sesampainya di bawah, Akhtar dan tim langsung mencari transportasi yang akan membawa mereka ke bandara.
"Kita naik truk 'kan Kak?" tanya Ayu menatap ke arah Kiki.
"Iya, udah aku telpon kok tadi orangnya."
Mereka hanya mengangguk dan menunggu kedatangan truk yang akan mengangkat mereka menuju bandara.
Dari Lombok ke Jakarta memerlukan waktu kurang lebih 2 jam menggunakan pesawat terbang pastinya.
Kenapa naik truk pengangkut? Agar uang yang dikeluarkan lebih hemat. Bagaimana pun biaya naik pesawat juga sudah mengeluarkan nominal yang cukup besar.
Jarak tim Ayu dan Akhtar tak terlalu jauh, mereka tak saling sapa seolah tak pernah kenal juga Ayu tak pernah membantu siapa-siapa.
"Kak, kenapa sih kita harus mau-mau aja mungutin sampah kemarin?" tanya Ningsih di sela-sela kegiatan mereka menunggu truk.
"Karena kantong plastik membutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun untuk dapat terurai secara alami. Itu sebabnya, kita sebagai manusia yang mencintai lingkungan harus menjaga lingkungan itu dari sampah," jelas Kiki.
"Jangan pula jadi manusia yang gak peduli dengan sampah!" tegas Ayu dengan suara yang disengaja besar.
Merasa tersindir, Akhtar menatap ke arah Ayu yang menatap tajam ke arah laki-laki itu. Tak ada rasa takut di dalam benak Ayu meskipun lawannya itu laki-laki.
"Tar, kok lama banget taksinya?" keluh Ahmad.
"Ningsih, yok shalat. Lagian, mungkin masih lama truknya datang," bisik Ayu.
"Kak, izin mau shalat dulu, ya," ujar Ningsih yang Kiki berada tepat di sampingnya.
Kiki mengangguk, Ayu dan Ningsih menjauh dari rombongan. Rupanya, kepergian mereka tak lepas dari pandangan seseorang.
Dia menatap ke mana arah perginya kedua wanita itu, sedangkan Kiki dan tim yang lain tengah pergi untuk mengisi termos dengan air panas.
Agar ketika di truk nanti mereka dapat mengisi perut dengan mie yang ber-cup itu. Tentang tiket pesawat, semua sudah diatur sebaik mungkin oleh Kiki.
Bahkan, laki-laki itu mencari tiket pesawat yang mendapatkan diskon agar timnya tak terlalu banyak mengeluarkan uang.
Ayu dan Ningsih melaksanakan kewajiban dua rakaat di dekat salah satu rumah pedagang yang memang ada di kawasan pegunungan.
"Widih, naudzubillah sekali mereka," ucap Bayu yang ternyata juga melihat ke arah Ayu dan Ningsih yang tengah salat.
Bambang yang mendengar kalimat keluar dari mulut Bayu itu langsung memukul bahu Bayu, "Masya Allah! Bukan naudzubillah!" geram Bambang.
Bayu sedikit meringis dan mengusap bahunya, "Iye-iye, salah dikit juga!"
__ADS_1
Setelah selesai, Ayu dan Ningsih kembali berjalan ke arah Kiki dan teman-teman yang sudah mulai berubah posisi dari berdiri menjadi ada yang jongkok.
Tak jarang juga masih ada suara menguap keluar dari mulut mereka juga mata yang terpejam.
"Masih lama Kak?" tanya Ayu melihat arloji miliknya.
"Mungkin bentar lagi," jawab Kiki mencoba menenangkan.
Taksi penjemputan Akhtar dan teman-teman telah tiba lebih dulu, sopir langsung membuka bagasi mobil dan memasukkan ransel-ransel milik mereka.
"Mangkanya, lain kali kalo mau mendaki tuh naikkannya yang berkelas dikit. Biar gak lumutan nunggunya!" ejek Akhtar seraya masuk ke dalam mobil.
"Ck!" decak Ayu memalingkan wajah sedangkan Kiki hanya menatap datar ke arah mereka.
Kaca mobil diturunkan dan kepala Akhtar keluar juga tangannya yang melambai-lambai dengan mobil taksi yang mulai menjauh.
Ayu bersedekap dada menatap tak percaya, "Ternyata, ada cowok yang modelnya kek gitu. Keren kagak, ilfel iya," cibir Ayu.
Sedangkan Ningsih yang sempat melihat hal itu tertawa, "Ganteng, sih. Tapi, sayang. Kurang se-ons otaknya!" seru Ningsih dan membuat Ayu ikut tertawa.
"Kamu kalo soal ngehina, sadis banget, ya," kata Ayu menatap ke arah Ningsih yang masih betah tertawa.
"Udah-udah, ntar dari kalian berdua malah jatuh cinta pulak sama dia," tegur Kiki dan seketika membuat Ayu juga Ningsih terdiam.
Mereka saling pandang selama lima menit dan tertawa kembali, Kiki hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Hal seperti itu memang biasa terjadi antara Ayu dan Ningsih, mereka tak perlu berkata apa-apa. Cukup saling pandang, lalu kembali tertawa.
Setelah kepergian rombongan Akhtar sekitar setengah jam, truk yang akan mengangkut Kiki juga tim pun akhirnya tiba.
Mereka mulai naik ke belakang truk yang terbuka, moment seperti ini yang sangat mereka rindukan khususnya Ayu nantinya.
Semua orang naik, tak ada yang mau duduk di samping kursi sopir karena moment ini tak akan terjadi lagi dalam beberapa tahun atau bahkan tak akan terjadi lagi sama sekali.
Ningsih dan Ayu membuka penutup mie cup dan menunggu giliran termos berisi air panas ke tangan mereka.
"Dikit, Yu, dikit!" tegur Ningsih yang takut kehabisan air panas.
"Ih, belum lagi ini Ningsih!" keluh Ayu saat Ningsih sudah memegang gagang termos.
"Haha, udah tambahi air dingin itu," kata Ningsih santai.
Ayu hanya menatap dengan sebal dan mulai menutup mie kembali dengan penutup tadi yang tak dibuka secara keseluruhan.
__ADS_1