
Mendengar kalimat itu, Ayu langsung berlari dengan kencang keluar dari mall dengan menghapus air mata.
Ia tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang padanya, dirinya sudah tak kuat menahan tangisannya.
Seketika, deretan ucapan Riki kembali terulang di otaknya. Ia mengingat kembali berbagai hinaan dari Riki.
Brak ...!
Pintu utama dibuka kasar oleh Ayu dan langsung berlari ke kamar, ia pulang menggunakan taksi. Bibik yang berada di dapur pun berlari ke arah depan karena kaget mendengar suara tersebut.
"Ada apa Pak?" tanya Bibik cemas kepada Pak penjaga yang masuk ke rumah.
"Itu, Neng Ayu turun dari taksi langsung nangis gitu. Saya juga gak tau dia kenapa," jawab Pak penjaga yang juga bingung.
"Astaghfirullah, apa dia ketemu sama Kakaknya, ya?"
"Saya juga gak tau Bik."
Bibik berjalan mendekat ke arah kamar Ayu, diketuknya berulang-ulang pintu tersebut tapi tak kunjung ada jawaban.
Bahkan, pintu kamar pun di kunci dari dalam oleh Ayu. Untuk kunci cadangan, biasanya akan berada di kamar Angga.
"Neng Ayu, ayo buka. Neng kenapa? Sini cerita sama Bibik!" bujuk Bibik menempelkan telinga pada pintu Ayu agar dengar dengan jelas apa yang terjadi di dalam.
Brak ...!
"Aaaa ...!"
"Aku benci diriku!"
Pyar ...!
Suara pecahan kaca terdengar dari dalam kamar Ayu, membuat Bibik kalut dan memegang jantungnya yang kaget.
Dia segera berlari dan mengambil handphone untuk menghubungi Angga, sembari menunggu Angga dia berlari ke arah pos agar bisa mendobrak kamar Ayu.
"Pak! Tolong ...!" teriak Bibik dengan napas yang sudah ngos-ngosan.
"Ada apa Bik, kenapa Neng Ayu?"
"Itu, di kamarnya. Ada suara pecahan kaca, tolong Pak. Saya takut dia melakukan hal nekat di dalam!"
Tanpa pikir panjang, Pak penjaga langsung berlari meninggalkan Bibik yang masih mengatur napasnya.
"Neng Ayu, neng! Keluar, buka pintunya Neng!" teriak Pak penjaga dengan sesekali mendobrak pintu.
__ADS_1
Karena memang pintu yang begitu kuat tak mungkin rasanya jika dapat terbuka dengan tolakan tubuh Pak penjaga.
"Sebentar, saya akan ambil kunci cadangan saja," kata Angga yang baru sampai di rumah dengan Bibik yang berada di belakangnya.
Pak penjaga juga Bibik langsung memberi ruang untuk Angga membuka pintu, dengan cepat pintu terbuka dan terlihat seseorang yang sangat menyedihkan berada di atas kasur dengan tangan kanan tergulai.
Darah menetes dari tangan Ayu ke lantai, Angga berlari dengan cepat, "CEPAT SIAPKAN MOBIL!" teriak Angga kalut.
Dia membopong Ayu dengan cepat ke luar kamar, sedangkan Bibik sudah meneteskan air mata.
Mobil dengan cepat keluar dari halaman rumah, raut cemas terlihat di semua wajah orang. Bibik memilih masuk kembali ke kamar dengan tergesa-gesa.
Ia mengambil baju Ayu dan peralatan lainya, tak mungkin rasanya jika Ayu sampai tak di rawat inap di rumah sakit.
Ditatap Bibik lebih dulu darah yang masih ada, seketika hatinya teriris, "Neng Ayu, neng Ayu. Kamu kenapa toh nduk, seharusnya kamu cerita sama Bibik. Bukan melakukan hal begini," lirih Bibik menghapus air matanya.
Bibik langsung bergegas keluar dari kamar Ayu dan menutupnya kembali, mungkin setelah tahu Ayu nanti dirawat di mana juga separah apa penyakitnya baru dia akan pulang untuk membersihkan.
"Mau ke mana Bik?" tanya Pak penjaga melihat Bibik membawa tas yang cukup besar.
"Mau nyusul ke rumah sakit Pak."
"Udah tau rumah sakitnya?"
"Yaudah, Bibik tunggu di sini dulu. Nanti baru telepon supirnya Pak Angga biar tau di mana rumah sakitnya."
Bibik akhirnya menurut ucapan Pak penjaga, Pak penjaga sudah tahu bagaimana perasaan dan pikiran Bibik. Mangkanya, ia menyuruh agar Bibik duduk bersamanya saja.
***
Brankar di dorong dengan cepat, hingga memasuki ruangan UGD terlebih dulu.
"Maaf, Pak, Bapak di luar saja."
"Tapi, saya Ayahnya."
"Iya, Bapak di luar saja biar kami yang mencek anak Bapak."
"Pak, biarkan mereka periksa Neng Ayu. Bapak di sini saja," larang supir Angga dan menahan tubuh laki-laki itu agar tak masuk.
Angga sedikit menjauh dari pintu dan membuat perawat menutup kembali pintunya, supir memberikan minum kepada Angga.
"Minumlah dulu, Pak. Agar Bapak bisa tenang."
Angga mengambil minum dan duduk, setelah selesai minum dirinya kembali berdiri dan mondar-mandir layaknya setrikaan.
__ADS_1
Suara dering handphone terdengar dari saku supir Angga, dia langsung mengambil handphone tersebut.
"Ya, ada apa Bik?"
"Neng Ayu dibawa ke rumah sakit mana?"
"Rumah sakit Harapan, Bik."
"Makasih, Bibik mau ke sana."
Tut ...!
Panggilan terputus begitu saja, supir pun memasukkan handphone-nya kembali ke saku dan menatap Angga dengan sendu.
Padahal di kantor tadi, Angga akan ada rapat penting. Mendengar telepon dari Bibik yang cemas dan suaranya ketakutan.
Ia langsung membatalkan dan menyuruh sekretaris Angga menggantikan dirinya di meeting kali ini.
"Pak, sudah adzan. Lebih baik Bapak salat lebih dulu biar saya yang menjaga Neng Ayu, nanti kita gantian. Dokter bekerja, kita mendoakan. Agar Neng Ayu selamat dan tidak kenapa-kenapa," saran supir dan langsung ditatap Angga.
Angga meletakkan botol minum dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada supirnya.
15 menit telah berlalu, kini Angga tengah menadahkan tangannya dengan mata yang sudah mengeluarkan bulir bening.
Dirinya tak malu atau tak enak dengan orang yang ada di dalam musala, lagi musala tak terlalu banyak orang di dalamnya juga sebagian sudah pergi.
"Ya, Allah. Yang Maha Pengasih juga Penyayang, selamatkan putriku Ya Allah. Walaupun aku sebenarnya tak berhak menyentuh dia atau bahkan begitu dekat dengannya. Namun, jika bukan aku dia harus mengadu pada siapa?"
"Maafkan aku yang lalai menjaga titipan-Mu, aku yang terlalu acuh padanya. Tolong selamatkan dia yang tengah berjuang di dalam, hamba berjanji Ya Allah. Akan mencari tau siapa yang membuat anak hamba melakukan hal senekat ini."
"Jika pun anak hamba yang membuat orang tersebut sakit hati lebih dulu, hamba akan meminta maaf pada orang tersebut dan memarahi juga mengajari anak hamba agar hormat pada orang lain. Namun, tolong jangan ambil dia."
Dengan badan yang bergetar, Angga menyapu tangannya ke wajah yang sudah penuh dengan air mata.
Ia mengapus air mata juga cairan dari hidungnya, tak lupa berdzikir agar ditenangkan untuk menghadapi semua yang terjadi.
Membuang napas, menariknya kembali. Beberapa kali hal tersebut dilakukan Angga hingga akhirnya dia yakin sudah siap dan kuat.
Angga keluar dari musala dan memasang sepatu lebih dulu, ia rapikan baju yang sempat berantakan juga rambutnya.
"Bibik, sejak kapan di sini?" tanya Angga ketika sudah mendapati Bibik berada di bangku tunggu depan UGD.
"Beberapa menit yang lalu Pak."
"Silahkan kalian salat, ada pembatasnya kok," suruh Angga dan dibalas anggukan dengan mereka berdua.
__ADS_1