Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Yang Ditunggu


__ADS_3

Kelas telah selesai, Ningsih ke hotel lebih dulu sedangkan Ayu ingin membeli hadiah terlebih dahulu untuk mereka ber-empat yang sudah lulus.


Dia pergi ke salah satu mall menggunakan taksi, sebelumnya Ayu juga sudah minta izin kepada Angga bahwa akan ke acara wisuda Akhtar terlebih dahulu dan laki-laki itu memberi izin.


Sepanjang jalan, Ayu sedikit gelisah. Ia memainkan jari-jarinya dan menatap ke arah samping jalan.


"Mbak, udah sampe," ucap supir memberi tahu Ayu. Ayu langsung tersentak dan menatap ke arah sekitar.


"Eh, iya. Bentar, ya, Pak saya ke dalam sebentar aja," kata Ayu memakai tasnya.


Supir mengangguk dan Ayu keluar dari taksi menuju mall, dirinya sudah tahu akan membelikan hadiah apa ke mereka.


Jadi, akan sedikit cepat untuk pergi ke acara tersebut. Kado terakhir di toko yang berbeda, Ayu menatap arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah satu.


Acara akan dimulai setelah salat Dzuhur nantinya, ia masih ada waktu meski tak banyak. Saat akan kembali ke taksi, Ayu berhenti dengan papar bag di tangan.


"Kok, perasaan gue gak enak, ya?" tanya Ayu memegang dadanya. Ada perasaan yang tak enak dari tadi ia rasakan.


"Hadeh, paling gue deg-degan karena akan diminta jawaban Akhtar nantinya," kata Ayu menepis perasaan yang tak karuan tersebut.


Ia kembali berjalan ke luar mall dan masuk kembali ke dalam taksi yang sudah menunggunya.


"Langsung ke hotelnya, Mbak?"


"Iya, Pak," jawab Ayu tersenyum dengan membuka handphone yang ada di tasnya.


[Yu, lu jadi datang 'kan? Orang yang pertama kali di wisuda Akhtar, nih. Mereka sekarang masih shalat Dzuhur dulu] pesan dari Ningsih yang ternyata sudah ada di acara tersebut.


[Iya, jadi kok. Ini juga lagi di jalan, tungguin gue, ya,] jawab Ayu tersenyum dan keluar dari aplikasi hijau tersebut.


Mata Ayu membulat kala melihat apa yang ada di depannya.


"Pak ...! Berhenti, Pak. Lampu merah itu!" pekik Ayu yang melihat mobil tak kunjung berhenti padahal di depan sudah ada mobil dari arah lain yang melaju karena di arah depan lampu hijau.


"Mbak, remnya blong Mbak!" pekik supir yang pamit.


"Pak ...!" teriak Ayu menutup mata melihat apa yang hampir saja ternyata. Tanpa mereka sadari, dari arah samping Ayu sudah ada truk yang melaju.


"Pakk ...!"

__ADS_1


Brukkk ...!


Mobil terpental karena truk yang melaju, mobil tersebut pas mengenai Ayu yang duduk di belakang.


Gelap. Tak ada setitik cahaya yang terlihat, Ayu menutup mata entah akan selamanya atau sementara.


Lokasi langsung ricuh, banyak yang membantu tak banyak pula yang langsung membuka handphone untuk mem-videokan kejadian.


***


Salat telah selesai, mereka kembali ke ruangan. Ningsih semakin cemas karena beberapa kali mengirim pesan juga telepon untuk Ayu tapi tak kunjung diangkat dan dibalas.


Ia melihat story yang ada di WA-nya, tampak salah satu temannya meski tak terlalu dekat mengunggah kejadian kecelakaan di persimpangan jalan.


Dengan tangan yang bergetar hebat, perasaan yang mulai tak karuan. Ningsih membalas cerita temannya itu.


[Ya, Allah. Korban sudah di eksekusi Mbak?]


[Sudah Mbak, beruntung polisi langsung segera datang. Korbannya anak kuliahan kalo gak salah dan kata polisi itu anak yang pernah nolongin kecelakaan beruntun waktu itu.]


Deg ...!


Handphone terlepas dari tangan Ningsih, dengan dada yang terasa sesak dipenuhi oleh tusukan juga bebatuan.


Saat akan keluar, dirinya langsung dihadang oleh Ahmad dan teman-temannya yang kebetulan sudah selesai dari musala hotel.


"Kamu kenapa?" tanya Ahmad panik dan memegang tubuh Ningsih yang sudah bergetar hebat juga wajah panik.


"A-ayu," lirih Ningsih dengan terbata-bata. Akhtar langsung mendekat dan menatap ke arah Ningsih.


"Ayu kenapa?" tanya Akhtar yang penasaran dan sudah merasa tak enak.


Ningsih menatap ke arah Akhtar, dia juga menatap ke arah Caca yang kebetulan berada di belakang mereka semua.


"A-ayu, Ayu kecelakaan." Suara tangis Ningsih langsung pecah, tubuhnya lunglai dan beruntung Ahmad dengan sigap menopang tubuh wanita itu.


Akhtar mengangguk cepat, "Gak, gak mungkin. Gak mungkin Ayu kecelakaan!"


"Ayu kecelakaan di perempatan simpang, dia udah mau jalan ke sini. T-tadi, dia bilang mau beli kado buat kalian," jelas Ningsih dengan tangisan yang terus mengalir di pipi.

__ADS_1


"Dia dibawa ke rumah sakit mana?" tanya Akhtar yang sudah tak bisa sabar.


"Gue gak tau, mungkin dia dibawa ke rumah sakit dekat situ."


Akhtar langsung berlari meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun, "Akhtar!" teriak Caca yang takut jika Akhtar membawa mobil sendirian dengan keadaan dirinya yang panik.


"Mas, ayo kita ikuti Akhtar!" sambung Caca.


"Ningsih ikut Tante!" potong Ningsih dan melepaskan diri dari dekapan Ahmad.


"Yaudah, ayo! Kalian yang lain tetap di sini saja, nanti kalau sudah selesai acaranya kalian baru nyusul kami!" terang Caca dan diangguki mereka meski dengan raut wajah yang tak tenang.


"Gak, Yu! Enggak, lu gak boleh pergi, lu belum nolak gue! Gue gak bisa nerima ini, bibir lu belum berucap kalo lu nolak gue Yu!" lirih Akhtar dan mengusap ujung matanya.


Dia langsung masuk ke dalam mobil miliknya dan membelah jalanan menuju ke rumah sakit yang sekiranya dekat dengan lokasi kejadian.


Tak perlu waktu yang lama, Akhtar langsung berlari dengan tak menghiraukan juru parkir yang berteriak, "Mas, parkirnya yang bagus dong!"


"Mbak, apakah ada pasien dengan nama Ayu?" tanya Akhtar ke resepsionis.


"Bentar, ya, saya cek dulu," kata perawat dengan mengetik layar monitornya.


Akhtar seperti setrika, ia menggigit bibir bawah mengusap wajah dengan kasar dan berharap ini hanya mimpinya dan terbangun saat ia sudah bahagia bersama Ayu.


"Maaf, tidak ada. Tapi, ada korban kecelakaan yang baru masuk dan datanya memang belum ada. Dia korban kecelakaan--"


"Di mana dia sekarang Mba!" potong Akhtar dengan cepat.


"Di IGD."


Akhtar langsung berlari tanpa bertanya terlebih dahulu di mana ruang IGD tersebut.


'Yu, hiduplah untuk menolakku. Setidaknya, gue tetap bisa melihatmu bahagia meski tak denganku. Jangan seperti ini, Yu. Gue mohon, Yu. Jangan ninggalin gue selamanya,' batin Akhtar dengan berlari di koridor mencari ruangan IGD.


Beruntung, ruangan tersebut tak terlalu jauh dari resepsionis tadi. Pintu ruangan masih tertutup dan sudah ada Angga di depannya.


Dia juga tampak begitu khawatir dengan berdiri mondar-mandir.


"Om," lirih Akhtar berjalan ke arah Angga.

__ADS_1


Angga merasa tercebik melihat penampilan Akhtar yang begitu memprihatinkan, Angga beranjak dari pintu ruangan dan langsung memeluk tubuh Akhtar.


"Ayu, Om ... di-dia belum nolak saya Om ... g-gak, dia gak akan pergi 'kan Om?" tanya Akhtar dengan suara yang begitu menyayat hati. Tubuhnya sudah bergetar hebat di dalam dekapan Angga yang juga menangis.


__ADS_2