
"Kenapa tidak boleh?" tanya Leon menatap ke arah Akhtar, "dia baik, Ma. Cantik juga."
Caca memijit pelipisnya, memilih jongkok agar menyamaratakan tingginya dengan Leon.
"Siapa namanya?" tanya Caca.
"Kakak cantik Ayu," ucap Leon tersenyum menggemaskan menampilkan gigi rapi dan masih kecil-kecil itu.
"Ayu?" tanya Caca mengerutkan alis dan menatap ke arah Akhtar.
"Iya, Ma. Yang bantu Akhtar waktu di gunung," ungkap Akhtar memalingkan wajah.
Caca hanya mengangguk, "Itu, cocoknya buat Abang," ungkap Caca memegang bahu Leon.
"Dih, apaan sih Ma. Akhtar ogah banget sama cewek sok kayak dia begitu!"
"Leon gak akan kasih izin Abang sama Kakak cantik Ayu. Itu punya Leon, Ma!" tegas Leon bersedekap dada.
"Tapi, Leon masih kecil, Sayang," bujuk Caca.
"Gak papa Ma, Kakak cantik Ayu suka sama Leon kalena Leon lebih ganteng dalipada Abang."
"Masa?"
"Iya, Ma."
Akhtar yang bosen mendengar pembicaraan kedua orang yang ada di depannya itu memilih untuk meninggalkan kedua orang itu.
"Tar, kamu mau ke mana?" tanya Caca berdiri dengan suara sedikit teriak.
"Mau tidur, capek Ma! Baru pulang dari mendaki juga," kata Akhtar pergi ke arah kamarnya.
"Yaudah, Leon juga tidur, ya. Eh, atau Leon mau makan? Udah masak tuh," tutur Caca mengusap rambut anak bungsunya.
"Ayo, Ma!" seru Leon memegang tangan Caca dan berjalan beriringan ke ruang makan.
'Punya anak gini amat dah, ngikut siapa bener sih ini? Masih bocil juga udah pen pacar-pacaran, pasti ngikut si Om nih!' batin Caca yang mulai pusing dengan tingkah laku anak-anaknya.
Caca dan Riki dikaruniai dua orang anak laki-laki yang ganteng seperti Riki, tinggi Akhtar juga mengikuti tinggi Riki dan bahkan dia melewati tinggi Caca.
Setelah melahirkan, Caca dibawa Riki dengan Akhtar ke Jakarta untuk menetap di ibu kota.
Sedangkan Milda dan juga Mama Riki masih berada di Bandung begitu pula dengan Aldy, Farhan tetap ikut ke Jakarta karena dirinya masih bekerja dengan Riki.
Anak Farhan sekolah di luar negri, Akhtar tak berteman sama sekali dengan anak kerabat atau sahabat dari Riki.
Karena anak teman-teman Riki memilih untuk menempuh pendidikan di luar negri sedangkan Akhtar memilih untuk tetap di dalam negri.
__ADS_1
Mereka tak mengetahui lagi tentang Diva, bahkan Riki tak mencari tahu kehidupan wanita itu setelah kejadian belasan tahun yang lalu.
"Leon ketemu di mana sama Kakak Ayu?" tanya Caca sembari menemani Leon yang tengah makan siang.
"Di mall Ma," jawab Leon dengan tangan yang masuk ke mulut menyuapkan nasi juga lauk-pauk.
Meskipun hidup dengan mewah, Leon bukan seperti Akhtar atau mungkin karena masih kecil sehingga dirinya tak perlu hidup dengan mewah.
"Kok bisa ketemu?" tanya Caca menaikkan alis.
"Tadi, Leon nyali-nyali Abang Aktal. Telus, ketemu deh sama Kakak cantik Ayu."
"Kenapa Leon nyari-nyari Abang?"
"Leon ditinggal, Abang liatin cewek tadi Ma."
"Ha?" tanya Caca dengan nada kaget.
"Iya, Ma. Abang Aktal liatin cewek cantik pake baju kulang bahan," tuduh Leon.
Padahal, Akhtar sebenarnya tak sedang melihat cewek cantik apalagi seksi. Dirinya tengah membeli minuman yang mana penjaga kasirnya emang wanita cantik dan seksi.
Lantas, apakah itu salahnya? Apakah dia harus menyuruh pemilik minuman itu mengganti penjaga kasir tersebut?
Tangan Caca terkepal mendengar penuturan Leon, "Tuh anak, ya! Bener-bener," geram Caca.
"Nanti malam kayaknya," jelas Caca.
"Mama gak kelja?"
"Kamu mau Mama tinggal-tinggal emangnya?"
"Mau! Kalo yang jaga Leon Kakak cantik Ayu."
"Kamu kira Kakak Ayu mau jadi baby sister, apa?"
"Ya, tanya aja Ma. Mana tau Kakak cantik Ayu mau, kalena yang dijaga olangnya ganteng kayak Leon."
"Ya, Allah," lirih Caca yang membuang napas kasar. Dia segera memegang kepala yang rasanya berdenyut karena ucapan Leon barusan.
Semua anaknya mengikuti Riki, bagus sekali. Tingkat pede yang tinggi itu ternyata tak tinggal, ikut diwarisi mereka juga.
"Udah, Sayang. Sekarang kamu cepat makan habis itu tidur siang, sebelum Mama marah dan jadikan kamu tumbal di gunung sana!" geram Caca berucap dengan gigi yang tertaut bawah dan atas.
Leon yang tahu bahwa Caca tengah marah itu langsung melihat makanannya dan memasukkan ke mulut agar cepat selesai.
Bisa-bisa dirinya akan ditumbalkan nanti jika terus berucap atau bertanya dengan Caca.
__ADS_1
Di dalam kamar, Akhtar bukannya sedang tidur dia malah asyik dengan gitarnya juga bersandar di kasur miliknya.
"Akhtar!" pekik Caca membuka pintu begitu saja..
"Ada apa Ma?" tanya Akhtar kaget melihat Caca yang masuk ke kamar dengan tiba-tiba.
"Apa yang kamu lakukan sama Leon? Kenapa dia hampir hilang di mall? Kalo gak ada yang liat dia tadi, gimana?" tanya Caca menatap marah ke arah Akhtar.
"Dia aja tuh yang gak bisa diem Ma, orang lagi beli minum bukannya diem anteng gitu. Ini malah berkeliaran!" papar Akhtar emosi melihat adik bungsunya itu.
"Beli minum? Leon bilang kamu liatin cewek cantik dan seksi. Awas kamu, ya, Akhtar! Jangan macem-macem!" tegas Caca menunjuk ke arah Akhtar.
"Ih, mana ada Ma. Ya, liat ceweknya ya tukang kasir penjaga minuman itulah," terang Akhtar membela diri.
"Mama kasih kebebasan bukan berarti kamu boleh liar! Kamu tetap harus mengikuti peraturan Mama, Tar. Jangan sampai berbuat hal-hal yang tidak-tidak," jelas Caca menasehati dan mengingatkan Akhtar.
"Iya, Ma. Akhtar ingat, kok."
"Yaudah, tidur kamu. Jangan main gitar mulu, capek tuh badan habis pulang mendaki. Makan kalo emang mau makan lagi."
"Iya, Ma."
Caca keluar dari kamar Akhtar dengan menutup pintunya kembali, sedangkan Akhtar mengepal tangannya.
"Dasar si Singa! Ngadu yang macem-macem pasti sama Mama, untung aja adik sendiri. Kalo engga? Udah aku lempar dia ke kandang singa sekalian biar sama jenisnya dia!" gerutu Akhtar.
****
Mobil Angga telah masuk ke kawasan halaman rumah miliknya, saat mematikan mesin mobil dan membuka sabuk pengaman.
Angga melihat ke arah Ayu yang ternyata tengah tertidur pulas, senyuman terukir di wajah Angga melihat wajah teduh itu.
Meskipun Ayu tertidur pasti karena letih menangis bukan karena tidur sudah waktunya, Angga melepaskan sabuk pengaman pelan-pelan dari tubuh Ayu.
Ia keluar dari pintu sopir dan berkeliling membuka pintu tempat duduk Ayu.
"Saya bantu Pak," ucap penjaga rumah saat melihat Angga ingin menggendong Ayu.
"Tidak perlu, dia anak saya kau tak boleh menyentuh dia. Pegang pintu mobilnya saja," titah Angga dan dibalas anggukan.
Angga membawa Ayu ke dalam rumah, dengan sangat hati-hati agar tidur putrinya tidak terganggu.
Membawa Ayu ke kamar yang memang khusus untuk dirinya di lantai bawah yang penuh dengan warna biru--kesukaan Ayu.
"Tidurlah, Sayang. Kau pasti lelah," ucap Angga membaringkan Ayu ke kasur king size-nya itu dan menyelimuti anaknya.
Cup ...!
__ADS_1
Satu kecupan diberikan Angga di kening Ayu sebelum dirinya beranjak keluar dari kamar sang putri.