Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Apakah Dia?


__ADS_3

Caca dan kedua anaknya sudah masuk ke dalam kediaman rumah Angga, mereka mengedarkan pandangannya melihat rumah yang cukup besar ini.


Deg ...!


Angga keluar dari ruang dapur menemui Caca juga kedua anaknya dengan senyuman, Caca yang merasa kenal atau tak asing dengan wajah laki-laki itu langsung mendatarkan wajahnya.


'Aku seperti pernah melihat wajahnya, tapi di mana, ya?' batin Caca menautkan alisnya.


"Selamat malam, Om. Maaf datang ke sini secara tiba-tiba," tutur Akhtar mengulurkan tangannya ke arah Angga.


Angga dengan cepat menjabat tangan Akhtar dengan senyuman yang tak juga memudar, "Iya, tak mengapa," jawabnya dan beralih menatap ke arah Caca yang sedang menatap lantai.


"Mama," bisik Akhtar karena merasa tak enak.


"Iya, ada apa?" tanya Caca tersadar dan langsung terkesiap ketika melihat Angga menatap ke arahnya.


"Oh, maaf Pak. Saya Caca, Mama dari Akhtar juga anak saya ini bernama Leon. Maaf menganggu malamnya," tutur Caca memperkenalkan diri dengan kedua tangan mengatup di depan dadanya.


"Tidak mengapa Nyonya Caca, saya Angga. Kalian sama sekali tidak menganggu malam saya," kata Angga ramah, "kalau begitu, mari duduk."


"Angga?" gumam Caca yang masih mencoba mengingat orang yang kini ada di depannya. Ia sedikit kesulitan mengingat orang tersebut.


Dan dia? Apakah Angga sama sekali tak mengenali wajah Caca? Ya, dia mana mungkin dapat mengenali wajah seseorang yang bukan client-nya.


Bahkan, terkadang dirinya juga sering lupa wajah client-nya karena dalam satu hari bukan hanya 1 atau 2 orang yang dilihat Angga melainkan puluhan.


"Jadi, ada apa maksud Nak Akhtar juga Nyonya Caca datang ke rumah saya?" tanya Angga yang memang belum tahu maksud kedatangan Caca.


"Hehe, tidak ada Tuan. Kami hanya ingin bermain dan bertemu dengan putri Anda, anak saya ini," ujar Caca menatap ke arah Leon dan mengusap kepalanya, "ingin melihat gadis cantik tersebut."


"Kapan kau melihat putriku, Nak?" tanya Angga ramah menatap ke arah Leon yang dari tadi hanya menyimak.


"Tadi siang di mall, Om," jawab Leon.


"Permisi," potong seseorang dan berlutut agar bisa dengan gampang meletakkan jamuan di meja.


"Kakak cantik Ayu!" teriak Leon bangkit dari tempat duduk dan berhambur ke pelukan Ayu.


Ayu yang mendengar teriakan itu langsung menatap ke arah suara, untung pas Leon memeluknya ia masih mampu menahan bobot tubuh bocah laki-laki tersebut.


"Cih! Bisa aja nih bocah modus!" cibir Akhtar melihat Leon yang sekarang tengah memeluk Ayu.


Caca yang mendengar cibiran Akhtar menyenggol lengan Akhtar dan menatap tajam ke arahnya.


"Ada apa kau ke sini? Dari mana kau tau rumah Kakak?" tanya Ayu setelah melepaskan pelukan.


"Leon lindu sama Kakak cantik Ayu mangkanya Leon ke sini, Leon tau lumah Kakak cantik Ayu dali tu ...," tunjuk Leon ke arah Akhtar.

__ADS_1


Ayu melihat ke arah yang ditunjuk Leon, "Sudah kuduga," kata Ayu dan membuat Akhtar menautkan alisnya.


"Apa?" tanya Akhtar kesal.


"Eh, udah-udah. Kok pada mau berantem?" tanya Caca yang merasa hawa mulai panas.


Leon kembali duduk di tengah-tengah antara Caca dan Akhtar, sedangkan Ayu duduk di samping Angga. Mereka berhadapan hanya berbatas meja saja.


"Silahkan di makan Nyonya Ayu, Nak Leon dan Nak Akhtar," papar Angga menyilahkan.


Mereka bertiga mengangguk dan menyeruput teh yang dibawa Ayu, Caca mengambil cake yang telah di potong-potong.


Matanya langsung membulat ketika merasakan cake masuk ke dalam mulutnya, "Di mana kau membelinya Nak?" tanya Caca menatap Ayu.


Ayu tersipu malu, ia tersenyum dengan kedua tangan memegang lutut, "Itu buatan Ayu sendiri, Tante," jawab Ayu.


"Uhuk-uhuk!" batuk Akhtar tersedak cake, Angga langsung memberikan minum ke Akhtar. Pria itu segera meminum agar tenggorokan lancar kembali.


"Terima kasih Om," ucap Akhtar meletakkan kembali gelasnya.


"Haha, biasa aja kali Tar. Kalo Ayu yang buat emangnya kenapa? Enak, ya?" tanya Caca menaik-turunkan alisnya menatap Akhtar.


"Enggak, biasa aja," kilah Akhtar cepat.


"Maaf, permisi semua," potong seseorang yang baru datang. Mereka langsung menatap ke arah pembantu yang baru datang.


Pembantu sedikit membungkuk, "Ada telepon dari Nyonya Diva," bisik pembantu ke telinga Ayu yang tertutup kerudung.


"Kakak nelpon?" tanya Ayu dengan suara pelan memastikan.


"Iya, Neng," jawab pembantu mengangguk dan tegap kembali.


"Maaf Tante, Ayu pergi sebentar, ya," pamit Ayu dan mendapatkan anggukan dari Caca.


Tanpa Ayu sadari, percakapan antara dirinya juga pembantunya tadi di dengar jelas oleh Caca yang memang ingin mengetahui sesuatu.


Ia menatap punggung Ayu yang semakin menjauh, 'Kakak? Artinya dia bukan anak Diva? Tapi, berarti benar dong kalau Angga ini adalah ...,' batin Caca kaget refleks menutup mulutnya.


"Mama kenapa?" tanya Akhtar yang kaget melihat sikap Caca.


"Nyonya kenapa?" tanya Angga juga mengetahui perubahan Caca tadi.


"Ha? Tidak-tidak, aku tadi hanya sedang memikirkan sesuatu," gagap Caca tak tahu jika aksinya tadi diperhatikan.


'Tapi, kenapa dia tak mengenaliku? Apakah dia lupa padaku?' batin Caca semakin penasaran.


"Oh, iya Tuan Angga. Kenapa aku tak melihat Ibu Ayu?" tanya Caca mencoba mencari tahu.

__ADS_1


"Karena Ibunya memang tidak ada Nyonya," cakap Angga tersenyum.


"Apakah sudah meninggal?" tanya Caca semakin penasaran.


"Belum."


"Oh, apakah kalian su--"


"Ma, tidak boleh bertanya soal privasi sejauh ini," potong Akhtar dengan cepat karena merasa bahwa Caca sudah terlalu jauh bertanya.


Caca hanya cengengesa karena memang berasa bersalah, "Maafkan saya Tuan," kata Caca tak enak hati.


"Haha, tak mengapa Nyonya. Silahkan di makan dan minum lagi," suruh Angga dan diangguki oleh Caca.


'Tapi, aku tetap ingin tau lebih dalam tentang kehidupan Diva juga laki-laki itu. Apakah benar Diva yang dikatakan oleh pembantu Ayu tadi adalah Diva mantan pacar dari suamiku?' batin Caca.


Di ruang dapur, Ayu duduk sambil mengenggam telepon dari Diva.


"Halo, ada apa Kak?" tanya Ayu mencoba untuk sabar.


"Dari mana aja lo? Udah berasa paling sibuk banget, ya, telepon gue aja gak bisa langsung lo angkat?!" marah Diva di sebrang.


"Maaf, Kak. Kalo gak ada yang penting Ayu matiin, ya, soalnya ada tamu di depan dan gak enak kalo ditinggal lama-lama. Assalamualaikum."


Ayu mematikan panggilan lebih dulu, malas jika harus berdebat apalagi mendengarkan omelan Diva yang entah apa pasalnya.


Berjalan dan mencoba kembali tersenyum, Ayu duduk di sofanya kembali.


"Kakak cantik Ayu, mau ikut gak sama kita ke mall?" tanya Leon yang mengingatkan bahwa mereka bukan semata-mata ingin ke rumah Ayu tetapi akan ke mall.


Ayu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Gak usah, Sayang. Kakak juga banyak kerjaan malam ini, lain waktu aja inn syaa Allah Kakak ikut, ya."


"Oke Kakak cantik Ayu, nanti kalo Leon mau pelgi ke mall lagi Leon akan ajak Kakak," ucap Leon bersemangat.


"Hahaha, oke-oke Sayang," kata Ayu memberikan jempolnya ke arah Leon.


"Emm ... karena hari juga sudah lumayan malam dan takut larut di jalan, Om ... Akhtar dan keluarga pamit pergi, ya," pamit Akhtar memegang kedua lututnya.


"Oh, iya-iya," kata Angga seraya berdiri di ikutin yang lain.


Akhtar dan Angga berjalan di depan ke arah pintu, sedangkan di belakang ada Leon juga Caca dan Ayu. Leon tak berhenti-henti mengoceh membuat Ayu beberapa kali tertawa.


"Kenapa Tante?" tanya Ayu saat mendapati Caca tengah menatap ke arahnya.


"Eh, enggak-enggak. Kamu cantik sekali, sudah cantik mana pinter masak pula," bohong Caca yang ketahuan bahwa tengah menatap Ayu.


'Tapi kalo dilihat dari wajah, Ayu malah gak ada miripnya sama Diva. Apa sebaiknya hal ini aku cari tau sendiri, ya?' batin Caca yang tersenyum ke arah Ayu.

__ADS_1


__ADS_2