
Acara makan malam bersama dimulai, ada sekitar 5-6 orang yang menjadi tukang masak atau chef dadakan.
Nantinya, akan bergiliran siapa yang akan bertugas selanjutnya. Mereka dibagi menjadi tiga kelompok.
Namun, Ningsih meminta untuk dipindahkan ke tempat makan Ayu juga Akhtar tentunya ketiga teman Akhtar pun tak mau tinggal.
Akhirnya, dengan bujukan yang bertubi-tubi dosen pun akhirnya mengijinkan mereka untuk pindah.
"Gimana, Tar? Udah mendingan?" tanya Ahmad di sela-sela mengunyah makanan.
"Hmm, lumayan," sahut Akhtar seadanya.
"Gak mungkin gak mendingan, yang rawat 'kan dokter yang sudah profesional. Udah kebal di susahin sama Akhtar," ejek Bambang membuat Bayu dan Ahmad tertawa.
"Bener, dari yang gak kenal aja udah nyusahin apalagi sekarang kenal. Pasti lebih nyusahin!" timpal Bayu.
"Maaf, tapi saya tidak merasa disusahin, kok," potong Ayu yang duduk agak jauh dari Akhtar.
Semua mata langsung menatap ke arah Ayu terutama Akhtar, ia langsung mengerutkan alis saat mendapat tatapan seperti itu.
"Kalo lu gak ngerasa direpotkan, berarti lu ada rasa dong sama Akhtar, Yu!" tegas Ningsih dengan tersenyum menggoda.
"Cieee ...."
"Uhuk-uhuk!"
"Cintaku bersemi di gunung Rinjani ini namanya mah!"
"Bukan!" potong Ningsih cepat.
"Terus, apaan?" tanya Ahmad menatap Ningsih.
"Namanya, 'gara-gara sampah' karena akibat sampah Ayu dan Akhtar jadi terlibat pembicaraan. Kalo karena gak ada sampah, mungkin mereka tetap biasa-biasa aja sampe sekarang atau malah jadi gak kenal satu sama lain," jelas Ningsih terus tersenyum seolah puas mengejek Ayu.
Sedangkan yang lainnya ricuh, Ayu hanya diam tak mengubris hal itu. Klarifikasi atau menjelaskan ke mereka sekarang tak ada gunanya.
Biarkan saja mereka berprasangka sendiri tentang Ayu juga Akhtar.
***
Pagi yang cerah dengan kicauan burung juga alam yang begitu sejuk, tadi malam sebelum tidur. Ayu sudah menyuruh Akhtar untuk memakai selimut yang tebal.
Karena, dirinya tahu bahwa pagi ini akan jauh lebih dingin karena embun. Ayu meregangkan otot-ototnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Wah, kamu sudah bangun Ayu?" tanya seseorang yang membuat Ayu kaget.
"Eh, iya Pak. Sudah," gugup Ayu dan tersenyum ramah.
"Materi untuk hari ini sudah kamu siapkan?"
Ayu mengangguk dan tersenyum, "Sudah Pak."
"Yauda, tim cewek nanti bersih-bersih dulu di pos 1 sana. Tadi, Bapak sudah minta izin juga bayar uang numpang mandinya."
"Baik, Pak."
Tak lama, dosen menghidupkan toa dan memberi perintah untuk tim cewek segara bangun dan langsung mandi.
Sedangkan yang cowok, membuat sarapan sebelum misi dan visi diadakan kegiatan ini selesai.
Sekitar satu jam karena harus bergantian memakai dua kamar mandi, akhirnya tim cewek sudah kembali dengan wajah yang segar-segar dan polesan make-upnya sebagian.
Namun, Ayu dan Ningsih tetap saja polos kecuali hanya memakai sunscrean saja.
"Kalian sarapan, biar tim cowok gantian yang mandi. Kalian habiskan saja, karena mereka sudah makan duluan tadi," titah dosen menggunakan toa.
Ayu dan Ningsih hanya mengangguk, mereka sudah menggunakan jas kuliah karena memang diberi perintah agar membawanya.
Sedangkan yang lainnya, disuruh untuk mencari kayu bakar, menyiapkan makanan juga air agar memudahkan masak.
Karena, malam ini adalah malam terakhir dalam berkemah. Akhtar pun tak lagi merasa menggigil atau pucat karena Ayu akan setiap hari menyuruh Akhtar melakukan hal yang seperti awal secara berulang-ulang.
Mereka telah sampai di sekolah yang akan dikunjungi, Ayu sedikit gugup dan takut jika ternyata mereka tak terima dengan kehadiran mereka.
"Gak usah takut, lu sama gue, kok," bisik Akhtar yang membuat Ayu mendongak menatapnya.
"Baik, mungkin mereka tak akan langsung menerima kalian dengan baik dan ramah selayaknya anak sekolah pada umumnya. Namun, bukankah pada umumnya sekolah juga tak mudah menerima orang asing? Jadi, cobalah untuk membuat mereka mau mendengarkan dan menurut dengan kalian."
"Ini, kelas yang akan kalian masukin dan juga souvenir untuk mereka," sambung dosen memberi papar bag ke masing-masing tim.
Setelah mendapat arahan, Ayu Ningsih dan ketiga teman Akhtar tak lupa juga Akhtar mencoba strategi agar anak-anak tersebut mau menerima dan mendengarkan mereka.
"Kalo tau anak-anaknya jahatnya minta ampun kayak gini, mending gue ikut nyari kayu aja!" protes Bambang.
"Bener, mending gue ikut masak aja. Malesin banget, tau!" timpal Ningsih bersedekap dada.
"Apalagi gue, sensi beut liat bocil. Pen langsung karungi dan buang ke sungai rasanya!" imbuh Bayu.
__ADS_1
"Udah-udah, kok malah pada menggerutu dan protes gini? Anak-anak gak semenakutkan yang kalian bayangkan, mungkin memang awalnya mereka gak akan terima kita. Tapi, sabar aja. Lagian, cuma sehari kok. Hanya beberapa jam, jadi coba enjoy dan cobalah menganggap mereka adalah adik atau saudara kita sendiri agar sabar kita gak ada batasnya," jelas Akhtar dengan tegas.
Ayu dan Akhtar kini tengah berada di depan kelas yang tertutup pintunya, bukankah seharusnya pintu kelas di buka? Ini, mengapa pula di tutup?
Ayu memegang gagang pintu dan menatap ke arah Akhtar yang memberikan anggukan. Ketika pintu di buka.
"Awas!" teriak Akhtar dan menekan kepala Ayu agar menunduk. Suara gelak tawa anak-anak terdengar di dalam.
Sedangkan Ayu dan Akhtar berjongkok agar menghindari kaleng bekas cat yang mereka buat untuk mengerjai mereka.
Mereka akhirnya diam setelah menyadari bahwa rencana yang dibuat gagal, Ayu menatap dengan emosi ke arah anak-anak tersebut.
Namun, dengan tenang Akhtar menggeleng agar Ayu bisa sabar dan tak mudah terpancing dengan perlakuan mereka.
Akhtar dan Ayu berdiri sedangkan kaleng tadi masih menggantung di ambang pintu, mereka berjalan masuk dan melihat ke arah kursi yang ternyata ada kebakaran di situ.
"Hay, semua adik-adik. Apa kabar?" tanya Akhtar dengan seramah mungkin sedangkan Ayu hanya diam memperhatikan.
"Kalian pasti tau maksud dan tujuan Kakak ke sini 'kan?" Tak ada jawaban, mereka hanya diam menatap ke arah Akhtar yang maju satu langkah dibanding Ayu.
Akhtar menarik napas dan mencoba untuk bersabar, "Jadi, hari ini kita akan bermain bersama."
"Bermain?" tanya seorang anak laki-laki yang bertubuh gempal.
Akhtar mengangguk dengan semangat, ia kira bahwa anak-anak tersebut mungkin sudah menerima kedatangan mereka.
"Ayo, Guys! Serang ...!" teriaknya bak seorang komandan.
Kertas-kertas yang di gumpal di lempar ke arah Akhtar juga Ayu, refleks Akhtar langsung melindungi Ayu dengan berdiri di depan wanita itu.
Bahkan, ada yang sampai ingin melempar botol kosong yang beruntungnya tak jadi mengenai kepala Ayu karena dilindungi oleh tangan Akhtar.
Hal tersebut membuat Akhtar geram hingga rahangnya mengeras juga tangan terkepal kuat menampakkan urat-uratnya.
Merasa tak ada lagi lemparan, Akhtar berjalan mendekat ke meja paling depan dan ....
Brak ...!
Akhtar memukul meja tersebut dengan keras membuat Ayu serta murid lainnya yang kelas 6 langsung kaget.
"Kalian masih kelas 6 dan perlakuan kalian tadi sangat keterlaluan, bagaimana kalau botol tadi mengenai kepala Kakak yang ada di belakang? Apa kalian mau tanggung jawab dan berurusan dengan polisi? Kalian semua akan dimasukkan penjara karena melukai orang lain!" tegas Akhtar dengan wajah datar menatap satu per satu murid yang sudah menunduk.
'Apakah dia semarah itu hanya karena botol tadi hampir mengenai kepalaku?' batin Ayu menatap punggung Akhtar.
__ADS_1