Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Melamarmu ....


__ADS_3

Tepat pukul 5 sore, Akhtar dan Ayu kembali ke perkemahan hanya berdua saja. Lainnya sudah lebih dulu kembali ke sana.


"Lu gak papa 'kan?" tanya Akhtar melirik ke arah Ayu sebentar memecah keheningan.


Ayu tersenyum dan menggelengkan kepala, "Gak papa, kok. Kan, udah lu lindungi," ujar Ayu dengan sedikit tertawa.


Setelah marah besar tadi, Akhtar menghela napasnya agar lebih sabar. Ayu pun akhirnya melangkah ke depan agar membuat Akhtar lebih tenang.


Ia langsung memberi pencerahan dan arahan ke mereka dengan lembut dan juga sabar, awalnya mereka bergeming.


Hingga lambat laun, mereka mulai bersuara dan merespons setiap kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ayu.


Akhtar pun menatap dengan mata yang berbinar, ia juga akhirnya turut membantu Ayu dalam menjelaskan sesuatu meski dirinya tak terlalu sepintar dan semengerti Ayu.


"Haha, udah kewajiban laki-laki buat melindungi perempuan."


"Kakak ... Abang ... tunggu!" teriak seseorang membuat langkah Ayu dan Akhtar terhenti. Mereka membalikan badan dan melihat ke arah sumber suara.


Sudah ada beberapa anak murid yang berlari ke arah mereka, Ayu dan Akhtar sedikit ke pinggir lagi karena mereka tengah berada di trotoar jalan.


"Ada apa?" tanya Ayu dengan tersenyum menatap ke arah mereka.


"Ini, sebagai permintaan maaf kami buat Kaka dan Abang. Maaf, karena kami sudah jahat," lirih salah satu di antara mereka sambil memberikan bungkusan.


Ayu jongkok agar mudah menatap wajah mereka satu per satu, "Kalian anak baik-baik, kok. Gak ada yang salah dengan kalian, terima kasih juga sudah mau nerima Kakak dan Abang di sini. Kalian harus jadi orang yang sukses dan tetap mencintai lingkungan, ya?" tanya Ayu dengan mengusap kepala anak laki-laki di depannya.


"Eh, kita belum foto. Ayo, kita foto!" seru Akhtar dan mencari tempat yang agak luas dan jauh dari jalan.


Bungkusan tadi diambil dan dibawa Ayu, mereka akhirnya berfoto ria dengan 7 murid yang ada dengan berbagai gaya.


***


Malam terakhir di sini, semuanya telah berkumpul selesai salat Isya dan makan malam. Ada yang sudah memetik senar gitar dan saling sahut-sahutan bernyanyi.


Ayu baru keluar dari tenda setelah menyusun baju dan alat-alatnya agar besok tinggal pergi dan gampang.


Dirinya ikut duduk di samping Ningsih, mereka sudah melingkari api unggun dengan Bambang bergitar juga lainnya bernyanyi bersama.


"Nih, kado dari mereka tadi," ucap Ayu memberikan bungkusan tadi.


"Punya lu?" tanya Akhtar menatap ke bungkusan itu.


"Udah gue buka."


Akhtar mengambil dan membuka isinya, sebuah gambar yang memperlihatkan mereka tengah mengajar murid-murid tadi.


Bibir Akhtar terangkat melihat gambaran yang meskipun tak sebagus buatan para seniman. Namun, ini merupakan kado yang tak kalah berkesan.


"Kalian dapat kado? Kok, kami enggak, ya? Mereka sangat pelit!" ucap Ningsih.


"Lu gak denger tadi suara yang menggelegar ke kelas? Lu harus kayak gitu dulu baru bisa dapat kado kayak mereka," timpal Bambang menatap jarinya yang berpindah mencari kunci yang pas.


"Ha? Jadi itu dari kelas kalian? Lu gak papa 'kan Yu?" tanya Ningsih yang baru menyadari bahwa suara ribut tadi dari kelas Ayu.


"Gak papa, kok. Gue baik-baik aja," terang Ayu dan tersenyum melirik ke arah Akhtar sebentar.

__ADS_1


"Wih ... gak kerasa, bentar lagi kalian pada lulus kuliah, deh. Tinggal kami berdua, semangat menyelesaikan skripsinya, ya!" sendu Ningsih mengingat bahwa beberapa bulan lagi Akhtar dan teman-temannya akan ada kelulusan.


Bambang menyenggol bahu Ahmad dan membuat laki-laki itu menatap dengan emosi, "Apaan, sih!" bisik Ahmad dengan menekan suara.


"Cepetan ungkapin, katanya mau lu ungkapin malam ini. Sebelum diambil orang!" bisik Bambang dengan tak kalah ngegas.


"Kalian kenapa? Kok malah bisik-bisik?" tanya Bayu yang menyadari aktivitas mereka berdua.


Ayu tersenyum sedangkan Ningsih hanya menatap dengan datar ke arah mereka, "Temen si Akhtar, yang waras kayaknya gak ada deh. Bahkan, si Akhtar juga gak waras. Iya 'kan?" tanya Ningsih bersedekap dada.


"Enak aja tuh mulut, pengen gue ikat?" tanya Bayu yang tersindir.


Bambang berbisik ke telinga Akhtar dan menyerahkan gitar, Ayu menatap ke arah lain sembari tersenyum.


Mata Akhtar langsung membulat tak percaya ketika mendengar ucapan Bambang, ia langsung melihat ke arah Ahmad untuk mencari jawaban.


Laki-laki yang dilihat itu lantas menempelkan jarinya ke bibir memberi kode pada Akhtar agar diam.


Suara senar gitar terdengar begitu indah di telinga, dari tadi Bambang mencoba belajar tentang kunci lagu itu.


Namun, dirinya kesusahan. Otomatis mau tak mau Akhtar pun harus diberi tahu misi malam ini. Sedangkan yang lainnya sama sekali belum tahu.


Di ujung cerita ini


Di ujung kegelisahanmu


Kupandang tajam bola matamu


Cantik dengarkanlah aku


Aku tak setampan Ayahmu


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini ku tak ragu


Ku sungguh memintamu


Satu lirik lagu mereka ubah begitu saja, jangan ditiru. Ayu tersenyum mendengar lagu mereka dan sesekali ikut bernyanyi bersama.


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Ahmad mulai memegang kotak cincin yang telah disiapkan olehnya jauh hari, dirinya pun menenangkan degub jantung yang mulai tak karuan.


Aku tak main-main


Seperti lelaki yang lain


Satu yang kutahu


Kuingin melamarmu

__ADS_1


'Gimana kalo ntar gue ditolak? Malu, dong! Ah ... tapi lebih baik malu karena mengungkapkan daripada sakit hati karena tak mengutarakan!' batin Ahmad mulai cemas.


Aku tak setampan Ayahmu


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini ku tak ragu


Ku sungguh memintamu


Jadilah pasangan hidupku


Ahmad mendekat ke arah Ningsih dan membuka kotak cincin yang di pegangannya, Ayu langsung menutup mulut dan membuka mata lebar-lebar melihat pemandangan yang ada di depannya sekarang.


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Aku tak main-main


Seperti lelaki yang lain


Satu yang kutahu


Kuingin melamarmu


Huh


Oh


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku (di sampingku)


Aku tak main-main (main-main)


Seperti lelaki yang lain


Satu yang kutahu


Oh satu yang kumau


Kuingin melamarmu ho


Judul, "Melamarmu" dari "Badai Romantic Project"


Lagu dinyanyikan sampai habis oleh mereka bertiga, sedangkan Ningsih masih membekap mulutnya tak percaya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ayu, tampar gue Yu. Sadarkan gue bahwa ini gak mimpi!" pekik Ningsih memegang tangan Ayu dan menatap wanita itu lekat.


Plak ...!


Ayu menampar pipi Ningsih hingga meninggalkan jejak merah di pipi putih wanita itu, semua mata tampak kaget melihat apa yang Ayu lakukan.

__ADS_1


"Hehe 'kan dia yang nyuruh," kata Ayu dengan cengegesan.


__ADS_2