
Hari yang ditunggu-tunggu Akhtar dan teman-temannya pun tiba, acara kelulusan diadakan di salah satu hotel yang tak jauh dari kampus mereka.
Ayu dan Ningsih rencananya akan ke sana setelah mata kuliah mereka selesai di jam 12 siang nanti.
"Yu, lu kasih kado apa?" tanya Ningsih menatap Ayu, mereka sekarang tengah berada di koridor kampus menuju kelas terakhir.
"Mmm ... gue juga gak tau, tapi nanti gue mau ke mall bentar, deh. Lu duluan aja ke sana," kata Ayu tersenyum tipis.
"Oh ... okey!" seru Ningsih mengacungkan jempolnya.
"Btw, lu jadinya kapan nikah?" tanya Ayu yang belum diberi tahu oleh Ningsih kapan hari bahagianya itu tiba.
"Hehe, satu tahun lagi Yu. Karena, Kak Ahmad udah dapat pekerjaan dari salah satu kerabat Ayahnya. Jadi, satu tahun cukup buat dia siapin segalanya termasuk rumah nantinya."
"Dia gak nyambung S2?"
Ningsih menggelengkan kepalanya, "Katanya mau fokus kerja aja, udah cukup belajarnya. Kalo pun mau nempuh S2, dia mau itu gue."
"Widih, keren banget tuh si Ahmad!"
"Akhtar juga keren," lirik Ningsih tersenyum ke arah Ayu membuat wanita itu mengerutkan dahi.
"Apanya yang keren?"
"Mampu nunggu lu sampe sekarang," celetuk Ningsih, "gue udah tau, dia ungkapin perasaan sama lu 'kan?" Ningsih berhenti dan membuat Ayu ikutan berhenti.
"Apa pun itu, gue akan selalu dukung langkah lu. Meskipun, gue agak sedikit kecewa jika lu nolak dia. Karena ... dari yang gue liat tentang dia, dia emang cinta banget sama lu. Sangking cintanya, dia mampu nunggu lu yang bahkan belum pasti mau nerima dia atau enggaknya," jelas Ningsih dan kembali berjalan ke kelas.
Ayu bergeming, dirinya menatap punggung Ningsih yang masuk ke dalam kelas. Helaan napas keluar dari bibir Ayu, senyum diterbitkan dan mulai melangkah masuk ke dalam kelas yang sama dengan Ningsih.
Dia tak tahu dari mana Ningsih mengetahui hal tersebut, karena selama ini Ayu masih menyimpan rapat hal tersebut.
***
"Ningsih jadi datang gak, Mad?" tanya Bayu yang berada di sampingnya.
"Jadi, dong! Masa dia gak datang, gak mungkin banget!"
__ADS_1
"Orang tua kalian pada datang, gak? Kok, orang tua gue dari tadi gak keliatan, ya?" celetuk Bambang melihat ke arah bangku pendamping.
"Acara juga bentar lagi dimulai, kok orang yang gue tunggu gak datang, ya?" tanya Bayu yang juga melihat ke sana-sini mencari keberadaan seseorang.
Mereka akhirnya saling pandang, menunjuk ke arah Akhtar yang dari tadi hanya menatap lantai dengan mulut seolah tengah ber-dzikir.
"Ini, lu dzikir supaya apa Tar? Kita, udah jelas lulus. Ini, lulus kuliah atau lulus hati?" tanya Ahmad menyenggol bahu Akhtar membuat laki-laki itu menoleh.
"Menguatkan hati," jawab Akhtar singkat.
Mereka bertiga mengerutkan kening mendengarkan jawaban dari Akhtar, "Buat apa?" tanya Ahmad heran.
"Menguatkan hati dengan penolakan," jelas Akhtar.
Seketika mereka bertiga tertawa, "Alah, Akhtar! Kalo emang lu ditolak, ya, tinggal cari cewek lain ajalah. Lu ganteng, pinter, kaya. Apa yang susah, coba?" imbuh Bayu yang berada agak jauh dari Akhtar.
Akhtar menatap ke arah Bayu dengan tajam dan tatapan tak senang, Bayu menegakkan punggungnya.
"Gue gak semudah lu buat jatuh cinta! Dan asal lu tau, gak semua wanita akan terpesona dengan itu semua!" tegas Akhtar dan berdiri dari bangkunya.
"Jangan bilang kayak gitu, Bay. Karena, emang gak semua cewek melihat hal itu ke cowok salah contohnya Ningsih gue dan Ayu," terang Ahmad dan ikut menyusul Akhtar keluar ruangan.
Bayu merasa tak enak, dirinya dan Bambang akhirnya ikut meninggalkan bangku mereka yang kebetulan berada paling depan.
Di saat Bayu dan Bambang akan keluar, Caca, Riki dan Leon ingin masuk ke dalam, "Eh, kalian kok pada keluar? Acaranya 'kan bentar lagi mau dimulai," ucap Caca menatap ke arah mereka dengan tersenyum ramah.
"Eh, iya, Tante. Kita lagi mau beli minuman dulu," gelagap Bambang cengengesan.
"Akhtar juga?"
"Iya, Tante. Akhtar udah duluan."
"Yaudah kalau gitu, nanti bilangin kalau Tante udah datang, ya, sama dia."
Bambang mengangguk, "Kalau gitu, kami permisi, ya, Tante, Om," pamit Bambang sambil sedikit membungkuk dan dibalas anggukan dari keduanya.
Mereka berdua mengedarkan pandangan mencari keberadaan Akhtar dan Ahmad hingga pandangan mereka berdua menatap dua orang yang tengah duduk di loby.
__ADS_1
Bambang dan Bayu saling pandang, Bambang memberi semangat Bayu agar bisa meminta maaf ke Akhtar.
"Mmm ... Tar, gue minta maaf soal omongan gue tadi," jelas Bayu yang berdiri di depan Akhtar.
Akhtar langsung mendongak melihat ke arah Bayu yang menampilkan wajah merasa bersalah. Akhtar tersenyum bahkan sedikit tertawa.
"Aelah! Lebay banget, sih, lu! Apaan minta maaf segala?" kata Akhtar dan menarik tangan Bayu agar duduk di sampingnya, "intinya, ya, lu itu gak boleh berpikir bahwa cewek itu hanya mandang materi dan fisik lu. Karena, gak semua cewek kayak gitu! Jika lu ketemu satu orang yang seperti itu, bukan berarti semuanya begitu!"
Bayu mengangguk dan memahami kata-kata Akhtar barusan.
"Oh, iya, Tar. Bokap dan nyokap lu dah datang, noh!" potong Bambang yang masih berdiri.
"Yaudah, kita masuk, yuk!" ajak Akhtar dan ingin berdiri bersama ketiga temannya.
"Permisi, ada yang kenal sama Aa Bayu?" tanya seseorang dan membuat mereka semua menatap ke arah sumber suara.
Tampak seorang wanita yang menggunakan pakaian serba hitam senada dengan khimar juga secebis kain penutup di mukanya.
Menggunakan sepatu warna putih juga tas selempang di bahunya, dia yang melihat mereka menatap ke dirinya hanya mampu menautkan tangan dan menunduk.
"Aisyah?" tanya Bayu yang berjalan ke arah wanita itu. Bambang langsung menautkan alis dan menahan tubuh Bayu yang berniat mendekat.
"Dih, lu mau ngapain deket sama tuh cewek? Bukan mahram!" tegur Bambang yang membuat Bayu menatap ke arah Bambang dengan tatapan sendu.
Bayu tak mengubris, ia mengawaskan tangan Bayu dari depan tubuhnya dan langsung memeluk wanita yang bernama Aisyah tersebut.
Sontak mereka bertiga langsung membulatkan mata, Bambang merapat ke arah Akhtar, "Itu emangnya siapa dia? Apa jangan-jangan Bayu udah nikah, ya, di kampung?" bisik Bambang dengan tetap menatap ke depan.
Akhtar mengalihkan pandangannya ke arah Bambang, dirinya menaikkan bahu karena memang tak tahu soal itu.
Sekitar 5 menit mereka menatap kedua orang di depannya itu saling berpelukan, Bayu akhirnya melepas tautan tersebut dengan mengusap matanya yang sudah mengeluarkan bulir bening dan menatap ke arah ketiga temannya yang masih berada di belakang.
"Dia adek gue," terang Bayu dan membuat Bambang serta Ahmad semakin kaget.
"Astaga, Kakaknya kek iblis, adeknya kek malaikat," ujar Bambang dengan menggelengkan kepala.
Hal tersebut membuat Ahmad dan Akhtar tertawa, bahkan adik Bayu juga tampak tersenyum terlihat dari matanya yang menyipit.
__ADS_1