Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Bandara


__ADS_3

Hari yang ditunggu akhirnya tiba, atau mungkin hari yang tak ditunggu oleh Akhtar? Dirinya akan berangkat pukul 9 pagi nanti.


Segala sesuatu telah dia siapkan jauh hari, kini dirinya berjalan di koridor rumah sakit dengan membawa buket di tangannya.


"Pasti Ayu suka, nih! Jarang-jarang gue bawa bunga buat dia," ucap Akhtar sambil berjalan ke ruangan Ayu.


Diedarkan pandangan dan menatap ke dalam, tak ada tanda-tanda adanya Angga. Dirinya langsung masuk setelah mengucapkan salam.


"Hay, Baby. Hahaha, lucu pasti, ya. Kalo lu tau gue manggil lu kayak gitu, auto bonyok pasti muka gue lu buat!" kata Akhtar dan duduk di bangku yang biasanya ia duduki.


Ceklek ...!


Suara pintu terbuka, Akhtar menoleh ke arah pintu melihat siapa yang datang.


"Eh, lu bukannya akan pergi hari ini, ya?" tanya Ningsih yang baru datang.


"Iya, bentar lagi juga gue akan pergi kok."


"Yaudah, pergi aja sekarang! Ayu biar gue aja yang jaga," suruh Ningsih agar Akhtar segera pergi dari ruangan Ayu.


Akhtar melihat jam di tangannya, menghela napas terlebih dahulu dan memilih bangkit.


"Jaga Ayu baik-baik, ya!" pinta Akhtar menatap ke arah Ayu yang masih terpejam matanya.


"Pastinya, dia 'kan temen gue!"


Akhtar melirik ke arah Ningsih dan mengangguk, "Yaudah, gue pergi dulu."


Akhtar melangkah ke luar ruangan dengan gontai, ia akan ke rumah terlebih dahulu nantinya baru akan ke bandara.


"Yu ...!"


"Ayu ...!" panggil Ningsih dengan tergesa-gesa. Ayu membuka matanya dan langsung duduk di brankar.


"Dia udah pergi?" tanya Ayu dengan wajah panik.


"Iya, ayo cepetan kita ke bandara!" ajak Ningsih menggenggam tangan Ayu.


Ayu mengangguk dan turun dari brankar, mereka berlari di koridor dengan Ayu yang masih menggunakan baju rumah sakit.


Mereka masuk ke dalam mobil pribadi milik Angga, "Ke bandara, ya, Pak!" titah Ayu yang sudah duduk di bangku belakang bersama dengan Ningsih.

__ADS_1


"Baik, Neng."


Mobil mulai keluar dari halaman rumah sakit, Ningsih mengedarkan pandangan memastikan bahwa Akhtar sudah tak ada di rumah sakit lagi.


Sedangkan Ayu sedikit menunduk agar tak ketahuan jika dirinya sudah siuman oleh Akhtar.


"Kayaknya dia udah pulang, Yu!" kata Ningsih tetap menatap ke arah luar jendela. Ayu mulai menaikkan kepala perlahan dan menyandarkan punggung ke bangku.


"Jangan terlalu banyak gerak, lu!" sambung Ningsih menatap ke arah Ayu.


"Iya-iya!"


Di sepanjang jalan, mereka hanya diam di dalam mobil dan berharap apa yang direncanakan akan berhasil.


"Iya, halo Tante?" tanya Ningsih ketika mendapatkan panggilan dari Caca.


"Kalian udah di jalan 'kan? Kami udah mau gerak ini," bisik Caca dari sebrang karena takut ketahuan.


"Udah, kok, Tante. Ini udah di jalan sama Ayu juga," kata Ningsih melihat ke arah Ayu dan langsung di tatap Ayu juga ke arahnya.


"Oke, semoga berhasil, ya!"


Tut ...!


Panggilan diakhiri oleh Caca lebih dulu, Ayu menatap ke arah Ningsih dengan tersenyum simpul.


"You okey?"


"Huum," jawab Ayu sambil mengangguk.


***


"Ma, bisa gak kalo berangkatnya sebulan lagi?" rengek Akhtar dengan barang-barangnya sudah dimasukkan ke bagasi mobil.


"Apa, sih, Tar? Kita 'kan udah bahas ini jauh hari, kenapa mulai lagi?" tanya Caca yang sudah bosen menjawab pertanyaan itu.


"Kalau dia emang ditakdirkan untukmu, pasti dia akan kembali padamu, Boy!" timpal Riki sambil menepuk bahu Akhtar.


"Ya, Papa benar. Banyak orang berkata kalo jodoh gak bakal ke mana, nanti kalo jodoh pasti waktu akan mempertemukan di waktu yang tepat. Tapi, mereka lupa bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata, 'cinta itu tidak bisa di nanti, ambil dia dengan penuh keberanian atau lepaskan dia dengan penuh keridhoan dan keikhlasan!" protes Akhtar yang langsung meninggalkan Riki juga Caca di belakang mobil.


Ia langsung masuk ke bangku belakang yang sudah ada Leon di dalamnya, Riki dan Caca hanya saling pandang dengan Caca yang mencoba membuat Riki agar tetap sadar.

__ADS_1


Bagasi mobil di tutup oleh Riki, mereka berjalan ke arah bangku depan mobil dengan Caca yang berada di samping Riki.


"Abang kenapa? Kok malah cembelut kayak gitu? Abang gak mau kuliah, ya? Kemalen 'kan Abang yang mau kuliah. Jadi cowok gak boleh plin-plan, Bang. Itu 'kan yang Abang bilang sama Leon?" ejek Leon mendongak menatap ke arah Akhtar.


Perlahan, Akhtar menatap ke arah Leon dan membuka tautan tangan yang sempat bersedekap dada.


Dirinya mencoba tersenyum dan mengangguk, Caca menatap ke dua putranya dari kaca spion dalam mobil dengan tersenyum.


"Emangnya kenapa sih takut banget jauh dari Ayu?" tanya Caca mencoba memecahkan keheningan.


"Nanti, dia pas bangun gak ada Akhtar. Dia malah ngira bahwa Akhtar gak beneran sayang sama dia Ma."


"Emangnya kamu beneran sayang sama dia?" tanya Caca menaikkan alisnya dengan tersenyum menggoda menatap ke arah Akhtar.


"Kalo sayang, emangnya sudah harus banget kalo kamu yang memiliki dia? Lagian, kamu udah siapkan apa untuk menikahi dia? Ilmu? Kamu aja belum sebanyak itu, anak orang nanti diajari apa?" sambung Caca membuat Akhtar terdiam.


"Inn Syaa Allah Ma, Akhtar akan belajar bersama dengan Ayu nanti. Kami akan sama-sama mendatangi taman-taman surga setiap minggunya dan juga Akhtar 'kan udah lumayan sering ke majlis. Sudah lumayan ada ilmu yang tertempel di otak Akhtar," jelas Akhtar yang membuat Caca memajukan bibir bawahnya sambil mengangguk.


"Tapi, kamu gak lupa 'kan? Bahwa, baik menurutmu belum tentu baik menurut Allah? Bisa jadi baik menurutmu Ayu dan baik juga menurut Allah."


"Inn Syaa Allah, Akhtar gak lupa Ma. Akhtar bahkan sudah siap untuk di tolak oleh Ayu, meskipun nanti akan sakit. Tapi, setidaknya Akhtar tau bahwa kami gak akan bisa bersama. Biar bisa Akhtar fokus kuliah dan mencintai wanita lain. Buat apa juga stay dengan orang yang gak bisa mencintai Akhtar balik 'kan?" tanya Akhtar dengan tersenyum simpul yang seolah tengah menutupi perih yang nantinya akan dia terima jika Ayu benar-benar menolaknya.


Karena terlalu asyik bercerita dan saling bercanda-tawa, mereka sampai tak menyadari bahwa telah sampai di bandara.


Barang-barang Akhtar langsung diturunkan, Akhtar keluar dari mobil dengan membuat napas kasar sekali tarikan.


Mencoba ikhlas atau terpaksa ikhlas lebih tepatnya, 'Sesakit ini mencintaimu, ya? Hahaha,' batin Akhtar dengan tersenyum.


Mereka mulai berjalan ke dalam bandara setelah Riki meletakkan mobil di tempat parkir.


"Kamu bahagia?" tanya Caca menatap Akhtar yang membawa koper miliknya.


"Hahaha, bohong jika Akhtar berkata bahwa Akhtar bahagia Ma," ungkap Akhtar dengan tersenyum.


Caca hanya bisa tersenyum simpul dan menguasap bahu Akhtar agar lebih kuat, dirinya menatap ke arah Riki yang tengah menggendong Leon karena mengeluh capai.


"Di sana nanti, sudah ada anak Om Farhan yang menunggumu. Dia juga akan mengambil S2 juga, jadi belajarlah yang rajin dan giat di sana!" titah Riki yang diangguki Akhtar.


Akhtar menatap ke arah depan, ia memicingkan mata karena merasa melihat ada seseorang yang berdiri menatapnya tak jauh dari tempatnnya sekarang.


"Ma? Itu siapa?" tanya Akhtar berhenti dengan menatap ke arah Caca lekat.

__ADS_1


__ADS_2