Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Yang Jahat Bukan Dia


__ADS_3

"Jadi, Angga mau hak asuh anaknya jatuh ke tangan dia. Gitu, Pa?" tanya Riki mulai serius kembali.


"Iya, kasian anaknya. Padahal kalau diliat-liat anaknya baik, kenapa si wanita itu sampe gak mau ngurusin dia, ya?"


"Anak Pak Angga yang nolongin Akhtar waktu di gunung," ungkap Caca.


"Ha?" tanya Rahman menatap Caca juga Riki.


"Akhtar mendaki?" tanya Riki.


"Iya, aku udah larang tapi dia tetap kekeh mau mendaki dan pas di tempat camp dia malah terkena musibah. Untung ada Ayu, anaknya Diva dan Angga yang nolongin dia."


"Jadi, kamu udah pernah ketemu sama dia?"


"Jangankan ketemu dia, ketemu sama Angga aja aku pernah. Cuma, Angga gak kenal sama aku. Mungkin dia lupa karena kejadian itu udah lama."


"Ngapain kamu ketemu sama dia?"


"Nemenin Leon, Leon udah pernah ketemu sama Ayu juga. Ayu juga yang nolongin Leon di mall karena Akhtar lalai jagain Leon, hingga akhirnya Ayu yang jagain Leon sampai Akhtar dapat Leon."


"Jangan pernah datang dan ketemu lagi dengan Ayu itu, aku gak suka kalo anak-anak aku berteman dengan anak wanita itu," tegas Riki.


"Kenapa? Kan cuma berteman Mas, gak ada salahnya 'kan? Lagian, yang jahat itu ibunya bukan dia."


"Sama aja, aku gak mau tau. Pokoknya jangan pernah temui atau kasih izin anak-anak untuk bertemu dengan dia. Dia dibesarkan dengan Diva, baru di usia 19 tahun ini Papanya yang besarkan. Otomatis, dia punya pemikiran sekeji Diva!"


Riki bangkit dan meninggalkan ruangan, Caca menatap punggung yang keluar dari ruangan.


"Apa yang dikatakan Riki itu benar, anak tergantung didikan orang tua dan kita sama-sama tau bagaimana orang tuanya," timpal Rahman dan ikut pergi meninggalkan ruangan tak lupa dengan tasnya.


"Apa dipikiran mereka manusia itu gak punya akal kali, ya? Gak bisa berpikir mana yang baik dan enggak," ujar Caca menggelengkan kepala.


Ia ikut keluar dari ruangan dan bersamaan dengan Akhtar juga Leon yang baru pulang membawa kantong kresek.


"Abang, ih! Leon udah bilang mampir beli batagol juga, Leon mau batagol!" teriak Leon tak dihiraukan Akhtar.


"Nih, Bun. Makanannya," serah Akhtar kepada Caca.


"Ada apa ini?" tanya Caca mengambil kresek.


"Leon mau beli batagol tapi Abang gak mau belenti Ma," jelas Leon memajukan bibirnya.


"Papa dan Kakek ada, apa lu mau kalo gue ntar dimarahi Singa? Mereka akan marah karena lu jajan sembarangan di jalan!" tegas Akhtar.


"Udah-udah, yuk makan aja!" ajak Caca.


"Papa dan Kakek mana, Ma?" tanya Akhtar mencari sosok kedua orang itu.

__ADS_1


"Gak tau, biarin ajalah!"


Caca ke dapur lebih dulu dan di ikuti Akhtar juga Leon yang masih ngambek, "Gosah ngambek lu Singa, gak ada yang mau bujuk juga!" cibir Akhtar.


"Nyinyinyi," ejek Leon.


Akhtar menyunggingkan bibirnya menatap emosi dan kesal ke arah anaknya.


"Gimana tadi latihan basketnya? Siapa yang menang?" tanya Caca sambil fokus mengeluarkan makanan ke mangkuk.


"Pastinya anak Mama yang tampan ini, dong!" puji Akhtar duduk di bangku yang ada di ruang makan.


"Kapan masuk?"


"8 hari lagi palingan Ma."


"8 hari ada rencana apa aja?"


"Gak ada Ma, paling di rumah aja. Males juga main, masih capek habis turun dari mendaki. Badan-badan masih pada pegel," keluh Akhtar.


"Tapi, demam kamu langsung sembuh 'kan?" goda Caca menaik-turukan alisnya.


"Ck! Kalo mau gak sembuh, ya, tetap tinggal di situlah Ma. Kalo pindah ke Jakarta pasti akan sembuh orang panas banget di sini, kok."


"Masa, sih?"


"Haha, iya-iya, maaf," ujar Caca menyatukan bungkusan-bungkusan yang ada dan membuangnya ke sampah, "gak sampe jatuh cinta sama Ayu 'kan Tar?"


Kali ini, nada bicara Caca lebih serius dengan dirinya yang duduk di samping Akhtar.


"Ya enggaklah,Ma! Masa cinta sama tuh cewek aneh, lagian tadi Akhtar liat di pegang sama cowok di kampus dia diam aja gak nampar tuh cowok sama sekali," jelas Akhtar mengingat kejadian di kampus tadi.


"Ha? Kalian satu kampus Tar?" tanya Caca melihat Akhtar dari samping.


Akhtar yang tanpa sadar mengucapkan hal tersebut langsung tersadar dan melihat ke samping, seketika pandangan anak dan ibu bertemu.


"I-iya, Ma. Dia kuliah di tempat Akhtar juga."


"Ngambil jurusan apa?"


"Kata temennya sih kedokteran, gak tau juga sih bener apa enggak."


"Wah ... sama kayak Mama dong."


"Siapa yang kayak kamu?" tanya Riki menimpal pembicaraan antara Akhtar juga Caca.


"Gak ada Mas," kilah Caca menatap ke arah Riki dan Rahman yang berjalan bersamaan.

__ADS_1


"Ayo makan, Pa!" ajak Caca.


Caca langsung memberikan piring ke masing-masing orang, tak lupa mengambilkan nasi juga lauk-pauk.


Akhtar menatap wajah Caca yang tengah tersenyum dengan menautkan alisnya, 'Mama kenapa tiba-tiba aneh, kok malah ngalihin topik pembicaraan? Padahal tadi lagi bahas Ayu juga,' batin Akhtar merasa janggal.


***


Ayu telah sampai di rumah dan langsung menuju kamar, membersihkan tubuh terlebih dahulu. Itu yang dilakukannya.


Tok ...!


Tok ...!


"Neng Ayu, makan siang dulu!" teriak Bibik di depan pintu kamar Ayu.


Dirinya kini tengah menatap dengan pandangan yang kosong dari jendela, "Iya, Bik. Nanti aja," jawab Ayu tanpa mengalihkan pandangan.


"Jangan nanti-nanti Neng, ntar sakit. Kesian Tuan, Neng. Kalau ada masalah cerita sama Bibik jangan dipendam sendirian, anggap Bibik itu ibu Neng sen--"


Ceklek ...!


Pintu terbuka membuat kalimat Bibik terjeda, "Hehehe, ayo makan Neng!" ajak Bibik dengan tersenyum.


Ayu menampilkan senyum yang begitu sedikit dan mengangguk.


"Neng kalau kenapa-kenapa jangan di kamar, lebih baik jalan-jalan gitu. Kalo di kamar terus malah lebih serem," kata Bibik berjalan di samping Ayu.


"Iya, Bik."


Mereka telah sampai di meja makan, Ayu duduk di salah satu bangku.


"Neng mau makan apa? Sini biar Bibik yang ambilkan!"


"Gak usah Bik, Ayu bisa sendiri," henti Ayu dan mengambil alih sendok nasi ke tangannya.


Hanya satu sendok nasi dan sedikit lauk pauk, Ayu makan tanpa ada senyuman dan tetap termenung.


"Bibik ngapain liatin saya aja? Ayo, makan!" ajak Ayu menatap ke arah Bibik yang melihat ke dirinya juga.


"Bibik mah udah makan, porsinya lebih banyak dari Neng. Neng mau tau porsi Bibik semana? Sini, biar Bibik kasih tau!"


"Ayu kenyang Bik," potong Ayu dan berdiri, "Ayu keluar, ya, ngikutin saran Bibik. Handphone Ayu bawa, batreinya banyak kok. Kasih tau Papa nanti, ya."


Ayu pergi begitu saja, kembali ke kamar untuk mengambil handphone juga uang.


Sengaja tak memakai tas karena dirinya pergi sendirian, takut jika ada penjahat yang merampok dirinya dengan mengambil tas Ayu.

__ADS_1


Bibik hanya menatap sendu melihat Ayu yang seperti kehilangan semangat, "Yo, kalo aku yang jadi Neng Ayu pun belum tentu bisa bertahan sampe sekarang," lirih Bibik menggelengkan kepalanya dan membawa piring bekas Ayu ke wastafel.


__ADS_2