
"Ayu!"
"Yu!
"Woy!"
"Ada apa?" tanya Ayu berhenti dan menatap ke arah orang yang tengah berlari ke arahnya.
"Lu budeg amat dah! Sesek gue ngejar lu!" cibir Ningsih dengan mengatur napasnya.
"Gue mau ke dosen dulu, mana tau gue bisa ngejar ketertinggalan pelajaran. Jadi, bisa lulus bareng sama lu," jelas Ayu tersenyum menatap Ningsih.
"Widih, ini baru temen gue nih! Pantang menyerah dan selalu berambisi!"
"Kalau ambisinya buat kebaikan, kenapa enggak 'kan?" tanya Ayu menaikkan satu alisnya ke atas. Mereka akhirnya berjalan bersama-sama ke ruangan salah satu dosen.
"Lu gimana sama Ahmad? Mereka udah pulang?" tanya Ayu melirik ke arah Ningsih sambil terus berjalan di koridor kampus.
"Katanya, besok mereka pulang. Karena hari ini akan ada acara tabur bunga gitu, semacam doa bersama dan pelepasan para jenazah yang misalnya nanti gak akan ketemu."
Ayu terdiam, tatapan sendu hadir kembali setelah Ayu mencoba kuat dan ikhlas atas segalanya, "Yu, lu gak papa 'kan?" tanya Ningsih yang panik langsung memegang bahu Ayu.
"Gue gak papa, kok. Lu tenang aja," ujar Ayu meyakinkan.
***
"Diva, kamu mau ke mana?" tanya Mama Diva menatap anaknya yang sudah rapi dengan pakaian warna putihnya.
"Aku akan jemput Ayu, Ma," kata Diva dengan datar.
"Dia sudah sembuh?"
"Sudah Ma."
"Apakah Angga akan memberi izin nantinya?"
"Aku sudah bilang sama dia soal ini, lagian ini sudah terlalu lama Ayu bersamanya. Sampai-sampai, kabar Papa meninggal saja tak diberi tahunya pada anak itu. Memang keterlaluan laki-laki brengsek tersebut!" geram Diva mengepal tangannya.
__ADS_1
Papa Diva memang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu dan kabar tersebut di dengar oleh Angga.
Namun, Angga sama sekali tak memberi izin agar Ayu mengetahui hal tersebut. Mama Diva bahkan menyuruh Diva agar membawa Ayu kembali.
Agar menemani Mamanya karena Diva harus menghandle perusahaan dan terkadang harus keluar kota untuk mencek perusahaan.
Diva juga tahu Ayu kecelakaan dari salah satu mata-matanya, saat itu ia sedang berada di luar kota dan segera pulang karena hal tersebut.
Mama Diva sempat ingin menjenguk Ayu, tapi dilarang oleh Diva karena dirinya tahu bahwa Angga tak akan pernah memberi izin akan hal itu.
"Emangnya, kamu yakin Ayu akan mau Nak?" tanya Mama Diva dengan wajah sendu.
"Kita liat aja nanti Ma," ujar Diva menatap tajam ke arah depan.
"Kalau dia gak mau, jangan dipaksakan, ya. Mama gak papa, kok. Nanti, kalau Mama rindu sama dia Mama bisa datang ke rumah Angga," jelas Mama Diva membuat Diva melirik ke wajah wanita yang mulai keriput itu.
***
Mata kuliah terakhir telah selesai, Ayu membuka handphone sambil duduk di bangku koridor untuk menunggu Ningsih.
Mereka akan bersama-sama ke bandara nantinya, ia mengirim pesan lebih dulu menanyakan apa Caca masih ada di situ atau sudah pulang.
"Heh! Ngapa lu senyum-senyum?" tanya Ningsih sedikit mengintip ke arah handphone Ayu dan dengan cepat wanita itu langsung menutupnya.
"Dih, kepo banget lu!" ejek Ayu dan berdiri, "kata Tante Caca, jenazah belum datang. Jadi, kita bisa langsung pergi ke sana sekarang. Gue juga udah bawa tugas tambahan dari berbagai dosen yang mata pelajarannya tertinggal sama gue waktu itu."
"Yaudah, yuk!" ajak Ningsih tersenyum. Mereka mengayunkan kaki menuju luar gedung secara bersama-sama.
Ayu menatap Ahmad yang sudah menunggu di luar kampus, "Ck! Apa-apa sekarang udah di antar jemput, dibayar berapa tuh?" bisik Ayu ke arah Ningsih.
"Mahal! Soalnya bayarannya dengan cinta dan kesetiaan," imbuh Ningsih sambil cengar-cengir. Sedangkan Ayu langsung membuat gerakan seolah ingin muntah mendengar ucapan dari Ningsih.
Wanita itu mendengus kesal menatap Ayu yang sama sekali tak pernah ikut bahagia ketika dirinya bahagia.
"Yu, lu duduk di belakang, ya!" titah Ahmad yang berdiri di depan mobil.
"Baik Tuan," kata Ayu seolah tengah menjadi anak buah atau budak dari Ahmad. Ningsih hanya terkekeh dan Ahmad menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar jawaban dari Ayu.
__ADS_1
"Astagfirullah!" kaget Ayu saat melihat seorang wanita berpakain serba hitam dengan wajah yang juga tertutup.
Suara tawa menggelegar bahkan wanita tersebut menutup mulutnya melihat ekspresi kaget Ayu yang menurut mereka lucu dengan tangan memegang dada.
"Dia itu adiknya si Bayu! Namanya Aisyah," terang Ningsih yang belum masuk ke kursi depan.
"Astagfirullah, gue kira si Ahmad sendirian tadi lho!"
"Kagaklah, woy! Di belakang juga ada dua orang lagi nih!" teriak Bayu dan langsung dilihat Ayu dengan tubuh yang setengah masuk.
"Yaudah, ayo masuk!" ajak Ahmad dan langsung diangguki oleh Ningsih dan juga Ayu. Pintu mobil di tutup dan menjauh dari kawasan kampus.
"Kamu kok kemarin gak keliatan?" tanya Ayu yang mulai bertanya-tanya dengan Aisyah.
"Iya, Kak. Saya kecapean dan memilih untuk tinggal aja di rumah Kak Ahmad," ungkap Aisyah dengan suara yang lembut.
"Panggil saya Ayu aja, gak perlu ada 'Kakak' segala," perintah Ayu tersenyum tipis ke arah Aisyah.
"Baik Ayu," potong Aisyah dengan tersenyum. Terlihat dari matanya yang sedikit menyipit.
Tak perlu waktu yang lama, mereka sudah sampai di bandara. Dengan jalan yang sedikit tergesa-gesa Ayu berjalan ke arah Caca juga beberapa orang di sana.
"Ayu, kenalin. Ini Mama Tante atau neneknya Akhtar," kata Caca menatap ke arah Ayu dan menunjuk ke arah Milda.
"Maa Syaa Allah, pantasan aja cucu Nenek gak mau dijodohkan. Ternyata, pilihannya secantik ini," puji Milda dan memeluk tubuh Ayu.
Ayu tersenyum, "Makasih, Nek."
"Jenazahnya belum datang, kemungkinan hari ini akan lebih banyak dibanding kemarin," jelas Caca dengan suara bergetar.
Ayu langsung berjalan ke arah Caca yang tengah duduk, dirinya ikut duduk di samping wanita tersebut.
Diambil Ayu tangan Caca yang tengah bergetar, "Tante, apa pun yang akan terjadi sama Akhtar. Kita harus atau terpaksa mengikhlaskan dia, Allah sayang sama dia itu sebabnya dia yang dipilih. Kita gak boleh berlarut-larut seperti ini, dia yang kesian di alam sana," tutur Ayu mencoba menguatkan Caca.
Rasullulah bersabda, "Tidaklah termasuk dari (golongan) kami orang yang menampar pipi, merobek-robek kerah (pakaian)nya, dan menyeru dengan seruan jahiliah." Bukhari, no. 1294.
Rasulullah juga bersabda, "Wanita yang meratap, apabila dia tidak bertaubat sebelum kematiannya, (maka) pada hari kiamat dia akan dibangkitkan dalam keadaan dipakaikan pakaian dari cairan tembaga serta mantel dari penyakit kulis." (Diriwayatkan oleh Muslim).
__ADS_1
Riki yang berada agak jauh dari mereka ikut tersenyum menatap ke arah Ayu juga Caca yang sekarang tengah saling menguatkan satu sama lainnya.
"Nak, kamu sangat tepat memilih seorang wanita. Semoga, di surga nanti kau diberi pengganti yang lebih baik lagi dari dirinya."