
Ayu sudah memakai dress dengan sedikit brukat di bagian depan dress panjang tersebut. Rencananya, dia akan datang di malam hari.
Hanya saja, rumah Ningsih terlalu jauh. Jadi, tak mungkin rasanya mereka akan undangan ke nikahan Kiki di malam hari.
Beruntung, jalanan senggang. Ayu bisa dengan cepat sampai di lokasi pesta yang diselenggarakan di rumah mempelai wanita.
"Pak, tunggu sebentar, ya," ucap Ayu ketika ingin membuka pintu mobil menemui Ningsih.
"Iya, Neng," sahut supir yang memberhentikan mobil di rumah tanpa pagar ini.
Belum sampai di teras rumah Ningsih, wanita itu sudah membuka pintu duluan.
"Lah, kok tau aku udah datang?" tanya Ayu ketika baru sampai di teras.
"Kebetulan kayaknya," ucap Ningsih menutup pintu kembali setelah selesai memakai sepatunya.
Ningsih berdecak kagum melihat penampilan Ayu yang sederhana tapi glamour, "Ini kayaknya, pengantinnya akan ketukar, deh!" puji Ningsih.
"Dih, apaan sih lu! Orang biasa banget juga, ini!" ketus Ayu menatap penampilannya.
"Menurut lu, tapi menurut orang lain enggak!"
"Udah, ayo kita pergi! Ntar, keburu rame tuh jalanan. Ini 'kan weekend."
"Yaudah, yuk!"
Mereka berjalan ke arah mobil secara bersamaan, Ayu tak pamit atau permisi dengan orang tua Ningsih karena orang tuanya lagi pergi bersama adiknya.
Itu sebabnya, mereka langsung pergi saja. Tapi sebelumnya, Ningsih memang sudah izin terlebih dahulu.
"Aku kok jadi deg-degan, ya?" tanya Ningsih di dalam mobil melihat ke arah Ayu.
"Kenapa kamu yang deg-degan? Kan, Kak Kiki juga pasti udah sah jadi suami. Akadnya 'kan jam 10 pagi tadi," jelas Ayu menatap ke arah Ningsih.
"Gak tau, kayak ikutan bahagia juga karena tau kalo Kak Kiki nikah. Padahal, dulu aku jodohin kalian lho. Pendukung kalian garis keras aku!"
"Haha, kenapa kamu bisa dukung?"
"Karena kalian cocok!"
__ADS_1
"Cocok aja gak bisa jadi patokan!"
"Tapi, kayaknya bukan cuma cocok. Kak Kiki juga seperti ada perasaan sih ke lu, cuma lunya aja yang gak peka," cibir Ningsih memalingkan wajah.
"Semua orang aja lu bilang ada perasaan sama gue, setiap orang yang deket lu pasti akan beropini kalo mereka suka sama gue!"
"Eits ... ini bukan cuma opini semata, lho. Karena emang beneran mangkanya gue bisa ngomong kayak gini."
"Iya, deh si paling mengetahui soal percintaan padahal dirinya sendiri aja jomlo karatan!" ejek Ayu dengan tersenyum.
Ningsih memajukan bibirnya, tak terima dengan ejekan yang berupa fakta dari Ayu tersebut.
40 menit menempuh perjalanan, cukup jauh karena memang kawasan rumah istri Kiki sanget berbeda dengan Ayu juga Ningsih.
Ayu ke belakang mobil dan membuka bagasinya, di situ sudah ada kado yang mereka siapkan. Bukan satu kado, melainkan dua kado.
Juga, ada beberapa teman pendaki yang menitip kado ke Ayu karena tak bisa datang ke acara nikah Kiki.
"Lu yakin bisa bawa semuanya? Gue suruh supir yang bawakan aja," ucap Ayu kepada Ningsih saat wanita itu bersikeras untuk membawa tiga kado.
"Udah, bisa! Aman-aman!" potong Ningsih.
Ayu menutup bagasi kembali dan menyuruh supirnya untuk pulang karena akan menjemput Angga dari luar kota hari ini juga.
"Iya, Pak! Aman!" teriak Ayu yang sudah mulai berjalan ke arah acara.
Decor dengan warna full putih juga bunga-bunga yang menjadi penghias, serta lampu-lampu yang tertata begitu megahnya.
Terkesan biasa saja, tapi sungguh elegan dan mewah meskipun acaranya menutup jalanan sementara.
Ayu dan Ningsih berjalan ke arah pelaminan, Kiki yang sudah melihat kedatangan Ayu langsung melambaikan tangan ke arah wanita tersebut.
Saat menaiki tangga pelaminan, Ningsih sedikit kelelahan karena membawa kado yang ukurannya lumayan besar.
Dirinya mundur ke bawah untuk tetap menjaga agar kado tak terjatuh, tanpa dirinya sadari bahwa ada Ayu di belakangnya.
Tubuh Ayu terjatuh akibatnya, "Aaa ...!" teriak Ayu saat tak bisa lagi menjaga keseimbangan.
Ayu memejamkan matanya, 'Kuat, Yu, kuat. Sakitnya sih gak seberapa, malunya ini! Nah 'kan, bahkan gak sakit sama sekali,' batin Ayu masih enggan menutup mata.
__ADS_1
"Ehem!" dehem seseorang.
'Kok gak ada teriakan? Kok gak ada yang bantuin?' batin Ayu lagi dengan mata yang tetap terkatup.
"Enak banget, ya, di pelukan gue? Tapi, sayangnya. Lu berat, mending berdiri yang bagus sebelum lu beneran jatuh!" bisik seseorang di telinga Ayu yang tengah mengancam.
Dirinya langsung membuka mata dan melihat siapa yang berbisik tadi, saat matanya terbuka sontak Ayu langsung membulatkan mata dan menjauhkan tubuhnya dari orang tersebut.
"Hmm ... sama-sama," kata orang tersebut menepuk-nepukkan tangan.
"Eh, makasih!" ketus Ayu dan langsung memalingkan wajah.
Ningsih yang melihat hal tersebut langsung tersenyum, dirinya sudah berada di atas pelaminan dan Ayu yang masih berada di tangga dengan cepat menyusul wanita itu.
"Udah gue bilang! Jangan sok mau bawa semuanya!" gerutu Ayu ke Ningsih dengan sedikit berbisik.
"Ya, gak papa dong. Harusnya lu bilang makasih sama gue, karena kalo tanpa ada gue nih ya. Lu mana mungkin bisa ditangkap dan sedekat itu sama dia," bela Ningsih yang tak terima disalahkan.
Ayu diam dengan wajah kesalnya, mereka tetap berjalan ke arah pengantin. Beruntungnya siang ini agak sunyi orang yang datang.
Karena biasanya, pemuda-pemudi akan datang di malam hari jika ada undangan pernikahan.
"Kamu gak papa 'kan Ayu?" tanya Kiki kala mereka sudah di hadapan pengantin.
"Gak papa dong Kak 'kan udah di tangkap pangeran tadi!" potong Ningsih sambil menunjuk ke arah orang yang menolong Ayu tadi ke arah mereka.
"Diam, gak, lu?!" kata Ayu dengan wajah dibuat se-seram mungkin.
Ningsih langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat, Kiki hanya bisa tertawa dengan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.
"Oh, iya. Selamat, ya, Mbak. Mbak cantik banget, Maa Syaa Allah. Cocok sama Kak Kiki," ucap Ayu dengan menempelkan pipinya ke kanan dan kiri wanita yang telah sah menjadi istri Kiki.
Kado sudah mereka letakkan terlebih dahulu di samping tempat duduk Kiki.
"Widih, anak sultan, nih! Kadonya gak main-main," ucap Kiki yang melihat salah satu kado bawaan Ayu tadi.
"Punya Ayu itu!" timpal Ningsih menatap ke arah kado.
"Udah, ah! Kok pada ribut gini, orang masih ada yang mau ngasih ucapan juga. Selamat buat Kak Kiki, udah gak sendiri lagi. Nanti, kapan-kapan ajak Mbaknya mendaki bareng dong!"
__ADS_1
"Pastinya, tapi berdua ajalah. Ngapain harus sama komunitas, gak bisa bulan madu dong!"
"Ck! Gak modal banget, bulan madu tuh di hotel atau vila gitu. Masa di tenda yang pengapnya minta ampun!" ejak Ayu membuat Kiki tertawa juga Ningsih sedangkan istri Kiki hanya tersenyum.