
Tak ...!
Tak ...!
Tak ...!
Suara hels kaki seseorang melangkah mendekat ke arah IGD membuat semua orang yang menunggu di depan ruangan menatap ke arahnya.
"Wah-wah-wah, haruskah aku memberimu selempang untuk Papa paling bisa mengurus putrinya? Dalam waktu setahun, gadis itu sudah hampir mau mati atau sudah mati kau buat?" sinis Diva menatap Angga.
"Jaga ucapanmu baik-baik! Dia masih hidup!" geram Angga.
"Hahaha, jika dia hidup. Maka, kau harus memberikan dia padaku! Karena apa? Karena ternyata, kau tak pernah becus mengurus dia. Berlagak seolah Papa yang paling sayang dan perhatian sama anak, cih! Nyatanya, dia sekarang tengah berjuang di dalam sana sebab kelalaianmu!"
Angga berdiri dengan tangan yang sudah terkepal hebat, Akhtar segera menahan agar laki-laki itu tak membuat keributan di situ.
"Kenapa? Aku benar, bukan?" sambung Diva menaikkan alisnya serta bersedekap dada menatap Angga.
"Maaf, Tante. Jika Tante datang ke sini cuma nyari keributan, maka jangan di sini. Ini rumah sakit," timpal Akhtar yang juga sudah mulai emosi melihat keberadaan Diva.
Diva beralih menatap Akhtar, dirinya tersenyum sinis, "Siapa kau yang berani mengusirku? Bahkan, kau sepantasnya tak di sini. Kau bukan siapa-siapa anak itu," kata Diva dengan santai.
"Iya, Tante pun bukan siapa-siapanya," jawab Akhtar mencoba untuk sabar dalam menanggapi ucapan Diva.
Diva mengedarkan pandangan, dirinya melihat ke arah Caca, Riki, Leon juga Ningsih yang ada di bangku.
"Wah ... kenapa dengan mata kalian? Apa aku terlihat begitu seperti hama? Hahaha, baiklah aku akan pergi," ucap Diva tertawa renyah, "dan untukmu, kita akan bertemu lagi ketika gadis itu telah sadar. Aku akan mengambilnya darimu!"
Diva berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka semua, Angga menatap dengan tajam punggung yang sudah mulai menghilang.
"Om tenang aja, Ayu akan tetap jadi anak Om dan ada di dekat Om, kok," bisik Akhtar menenangkan.
Angga menepuk tangan Akhtar yang ada di bahunya, laki-laki tersebut tersenyum menatap wajah Akhtar yang masih terlihat cemas.
Ceklek ...!
__ADS_1
Suara pintu terbuka tak lama setelah kepergian Diva, Akhtar dan Angga buru-buru untuk melihat dan bertanya dengan dokter.
Ningsih dengan mata yang sudah sembab juga mencoba berdiri, berbagai doa dia panjatkan untuk temannya yang tengah berjuang di dalam.
"Gimana keadaan anak saya dokter?" tanya Angga cepat sedangkan Akhtar hanya memilih diam dan berada di samping dokter saja.
"Alhamdulillah, Tuhan masih memberi dia kesempatan untuk hidup meskipun sekarang tengah koma. Luka yang cukup parah serta benturan di kepalanya membuat dia mengalami kritis tadinya. Namun, beruntungnya dia mampu melawan itu semua. Kami juga masih men-cek apakah ada keretakan atau patah di tulangnya."
"Nanti, anak Bapak akan diberi obat otak agar otaknya tak terguncang dengan apa yang terjadi. Kami akan memberi resep dan Bapak bisa menebusnya," jelas dokter menatap lekat ke wajah Angga.
"Jadi, dia udah bisa dipindahkan sekarang dokter?"
"Sudah, Pak. Sebentar lagi anak Bapak akan dipindahkan ruangannya, Bapak boleh ikut dengan saya untuk melihat bagian tubuhnya yang terkena efek dari kecelakaan itu. Mari, Pak!" ajak dokter ke ruangannya dan diangguki oleh Angga.
Setelah kepergian Angga dan dokter, pintu IGD terbuka lebar. Brankar keluar dengan Ayu yang terbaring begitu pucat di atasnya.
Tak hanya itu, begitu banyak perban dan alat bantu salah satunya oksigen karena dirinya memang ada riwayat sesak meski tak terlalu parah.
Ningsih terduduk kembali melihat keadaan Ayu yang begitu menyedihkan, hilang sudah wanita yang begitu ceria dan tak pernah menampakkan kesedihan.
Sekarang, hanya ada wanita yang begitu kuat karena akan terus berjuang demi kehidupannya itu.
"Ningsih ikut sama Mama dan Papa, ya, kalau nunggu Ahmad mungkin akan lama," sambung Akhtar menatap Ningsih.
"Gak, gue mau nungguin Ayu aja!" lirih Ningsih menatap brankar yang masih di dorong oleh dua perawat.
"Lu ke sini bisa besok sama Ahmad atau pas pulang kuliah, sekarang lu pulang dan mandi. Kasian juga orang tua lu, pasti nyariin!"
"Iya, Sayang. Kita pulang, yuk!" ajak Caca dengan lembut mengusap bahu Ningsih.
"Bang, Kakak cantik Ayu gak kenapa-kenapa 'kan?" tanya Leon yang akhirnya membuka suara setelah dari tadi hanya diam mencoba memahami apa yang terjadi.
Akhtar jongkok untuk menyamakan tingginya dengan bocah tersebut, "Gak kenapa-kenapa, kok. Tapi, Kakak cantik Ayu sekarang tengah berjuang. Dia butuh doa dari kita semua termasuk Leon agar dia cepat sembuh dan bisa main lagi sama Leon kayak waktu itu," kata Akhtar dengan suara yang bergetar mengusap kepala Leon.
"Iya, Bang. Leon akan doakan supaya Kakak cantik Ayu cepat sembuh!"
__ADS_1
"Nah, kayak gitu baru adiknya Abang!"
"Yaudah, kami pulang dulu, ya. Kalo ada apa-apa, langsung kabari kami," timpal Riki.
Akhtar mengangguk dan mencium tangan kedua orang tuanya, setelah mereka pergi Akhtar mencari keberadaan ruangan Ayu.
Perawat memberi izin untuk masuk tetapi tak lama juga tidak boleh lebih dari dua orang masuk ke ruangan Ayu.
Akhtar masuk dengan menggunakan pakaian khusus, suara alat medis di nakas memenuhi ruangan yang hanya ada Ayu di dalamnya.
"Hay, wanita yang paling aneh di muka bumi ini! Lu doyan banget, ya, buat orang-orang jengkel! Sekarang ... bukan hanya jengkel, melainkan sedih melihat lu," lirih Akhtar mencoba untuk menahan isakan dari bibirnya.
"Sekarang, apa yang harus gue lakukan? Sebentar lagi gue akan ngurus S2 gue di luar negri, apa yang harus gue lakukan Yu? Sementara, penolakan dari bibir lu belum gue terima yang membuat gue akan tenang nantinya di sana," sambung Akhtar mengusap ujung matanya.
Akhtar terdiam, menggigit bibir bawah agar tak mengeluarkan isakan yang akan membuat Ayu sedih juga nantinya.
"Liat lu sekarang? Pucat banget, penuh dengan luka. Apakah lu kira gue akan tenang nanti sekolahnya? Ya, Allah, Ayu ... gue bingung harus ngomong apaan!"
Akhtar mendekat ke arah telinga Ayu, "Yu, gue masih nunggu jawaban dari lu. Jangan pernah pergi dan berjuanglah! Di dunia ini, kita memang harus berjuang dan perjuangan lu itu sangat dibutuhkan oleh orang-orang!" bisik Akhtar dan menatap ke wajah Ayu sebentar.
Ia kembali menegakkan tubuhnya, "Gue keluar, ya. Gue akan selalu doakan lu, cepat sembuh Yu!"
Angga sudah berada di bangku depan ruangan Ayu, Akhtar yang melihat kehadiran Angga dengan cepat menyembunyikan kesedihannya.
"Om," panggil Akhtar dan membuat Angga menatap ke arahnya.
"Kata dokter, kita perlu banyak-banyak berdoa. Karena, bisa jadi Ayu gak akan bertahan lama dari komanya ini."
"Tapi, Om. Dia mampu kok ngelewati kritisnya," kata Akhtar dengan cepat dan duduk di samping Angga.
"Ya, kalau pun dia sembuh. Akan ada beberapa organ yang tak sesempurna awalnya, bisa jadi otaknya atau pun tubuhnya karena parahnya luka yang dia alami."
"Dia tetap akan jadi Ayu yang dulu, Om. Mau ada yang gak bisa digerakkan seperti semula, dia tetap sempurna. Om gak usah khawatir, dia akan sembuh karena dia adalah anak yang kuat Om! Akhtar pulang dulu, ya, Om. Nanti, Akhtar akan ke sini lagi."
Angga tersenyum dan mengangguk ke arah Akhtar, "Kamu hati-hati," pesan Angga kepada Akhtar.
__ADS_1
"Iya, Om. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," lirih Angga kembali menatap lantai rumah sakit.