Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Membantu Pulih


__ADS_3

Rumah Caca masih ramai oleh orang-orang yang tengah beberes, mulai dari mengangkat papan bunga juga lainnya karena tahlilan sudah selesai.


Ayu masuk ke dalam dan menyalami nenek-nenek almarhum Akhtar yang datang dari Bandung.


"Om, Tante Caca di mana, ya?" tanya Ayu dengan sedikit berbisik karena merasa tak enak.


"Oh, di atas. Kamu udah ditungguin oleh Tante, Om mohon kamu bantu Tante untuk mencoba ikhlas, ya. Kesian dia, kamu juga kenapa gak datang? Padahal, Tante butuh kamu."


"Ayu juga butuh menguatkan diri sendiri dulu Om dan sekarang Ayu sudah lumayan kuat, mangkanya berani ke sini dan ketemu sama Tante," jelas Ayu dengan tersenyum getir.


"Kamu udah ke makam?" Ayu mengangguk lemah menatap ke arah Riki.


"Yaudah, sana. Kesian Tante nunggu dari tadi."


"Baik Om."


Ayu menaiki anak tangga, beruntungnya Leon meskipun masih kecil tapi bisa untuk diberi arahan.


Dia tahu apa yang terjadi, bahkan kata Ningsih dia juga ikut menangis sejadi-jadinya ketika melihat Akhtar dimandikan, dikafani dan di salatkan.


Pintu terbuka dengan lebar, Caca berdiri di balkon, "Tante?" Ayu berjalan ingin masuk dengan ragu.


"Masuk, Yu. Tutup pintunya!" titah Caca tanpa menatap ke arah Ayu, sepertinya Caca sudah hafal dengan suara wanita itu.


Ayu mengangguk dan menutup pintu kamar Akhtar, Ayu memandangi kamar yang lumayan besar ini.


Barang yang tertata dengan rapi serta wangi, ya, sangat wangi. Bahkan, suhu di kamar ini tak terlalu dingin. Pantasan saja almarhum sering hipo waktu di gunung, ternyata dia memang tidak terlalu dingin suhu kamarnya.


Ayu masih berdiri di dekat pintu, memegang tali tas yang dikenakan karena memang habis pulang kuliah dirinya langsung ke sini.


"Ini kamar Akhtar, kamar yang begitu dia jaga. Tempat dia mencurahkan apa yang dia rasakan," jelas Caca berjalan mulai masuk ke kamar dan meninggalkan balkon.


Wajah sembab serta mata yang sedikit bengkak, begitu sangat memperhatinkan keadaan Caca saat ini.

__ADS_1


"Tempat, yang pertama kali tau bahwa dia ada perasaan sama kamu," sambung Caca lagi dan duduk di pinggir kasur.


Caca menatap Ayu dan tersenyum, dia menepuk-nepuk kasur di sebelahnya menyuruh Ayu untuk duduk di sampingnya.


Di tatap Ayu dengan hangat, tangan Caca terulur mengusap kepala yang berbalut dengan kerudung yang sekarang lebih syar'i.


Dulu, Ayu masih mau memakai celana jens atau apa saja yang penting panjang. Sekarang, wanita itu tengah mencoba taat. Menggunakan gamis atau rok serta aurat yang ditutupi.


"Kalau aja anak Tante masih ada, mungkin Tante mertua paling beruntung di dunia. Bisa punya menantu secantik kamu," puji Caca tersenyum dengan manis ke arah Ayu.


Embun seketika hadir di kelopak mata Ayu kala Caca berkata seperti itu, tapi sebisa mungkin dihilangkan dengan menatap ke arah langit-langit kamar.


"Tante gak boleh begini Tante, kita harus ikhlaskan Akhtar. Dia bisa-bisa tersiksa jika melihat kita terus-terusan bersedih apalagi sampai terpuruk begini."


"Tante sedang mencoba, Sayang."


"Alhamdulillah, gak akan mudah memang Tante. Tapi, gak ada yang gak mungkin 'kan? Memang beginilah kehidupan, kematian akan selalu menghampiri setiap yang bernyawa."


"Ya, kamu benar," kata Caca mengangguk.


"Kamu baca, kamu juga boleh istirahat sebentar di sini. Kamu juga pasti sangat rindu sama dia 'kan? Tante keluar dulu," papar Caca menyerahkan semua peninggalan Akhtar kepada Ayu.


Ayu menatap dengan heran, dilihat Caca sudah tak ada lagi di kamar dengan pintu yang sudah ditutup olehnya.


Dilepas Ayu tas yang dari tadi masih dikenakannya, satu per satu kertas mulai dibaca dan bulir bening langsung keluar begitu saja.


Perasaan rindu kembali hadir tanpa dipinta, menyerang dan meminta pertemuan yang tak bisa lagi dilakukan.


Selesai membaca dan melihat box yang diberi oleh Caca tadi, Ayu berjalan ke arah balkon dan menatap hamparan pepohonan yang ada.


Menghirup udara banyak-banyak agar rasa sesak hilang dibuat olehnya, Ayu kembali masuk ke dalam dan memakai kembali tas miliknya.


Kertas tadi diletakkan di atas meja belajar beserta boxnya, Ayu menuruni tangga yang di sana sekarang hanya tinggal Caca saja dan makanan yang tak disentuh dengannya.

__ADS_1


Ayu duduk di samping Caca yang menatap kosong ke arah depan, "Tante, kok makanannya gak dimakan sih?" tanya Ayu dengan suara dibuat seolah tak ada sedih.


Caca melirik ke arahnya, "Kamu udah baca?" Ayu mengangguk dan mengambil piring yang ada di depan Caca.


"Akhtar bilang, dia mau milih Ayu karena Ayu sepertinya bisa menjadi menantu yang menyayangi Tante seperti Mama Ayu sendiri. Nah, jadi biarkan Ayu sekarang buktikan bahwa kata Akhtar itu benar. Tante makan, ya, Tante gak kasian liat Akhtar di sana nantinya?" celetuk Ayu dengan tersenyum ke arah Caca.


"Tante gak napsu makan, Yu," kata Caca mengalihkan pandangannya.


"Semua orang juga gitu Tante, emang bener Tante Mama Akhtar. Tante yang paling tau gimana dia dan rasa sakit yang Tante rasakan demi melahirkan dia. Namun, Tante juga harus ingat satu hal. Bahwa; dia, Om, Ibu tante, Leon itu bukan punya Tante. Itu milik Allah dan jika Allah mau sewaktu-waktu Allah bisa ambil dan Tante harus siap, karena itu milik Allah. Jadi, suka-suka Allah dong."


Caca memutar kepalanya menatap ke arah Ayu dengan mata yang sudah menahan bulir bening, mata Caca mengedip dan turunlah seluruh bulir bening tersebut.


"Makan, ya, dikit aja. Ayu suapin," bujuk Ayu yang sudah memegang sendok. Caca mengangguk dan dengan cepat Ayu memasukkan sendok ke mulut Caca.


Baru satu suapan, tubuh Caca sudah bereaksi. Wanita itu berlari ke arah toilet, Riki yang dari tadi menatap dari jauh seketika ikut berlari.


"Om, ambilkan minyak kayu putih aja. Tante masuk angin doang, kok, itu," perintah Ayu yang sudah berdiri dan ingin menyusul Caca.


Riki pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk menemui Caca, ia kembali ke kamar untuk mengambil barang yang diinginkan Ayu tadi.


***


"Sayang, kenapa sampe malam gini pulangnya? Nenek emang ngasih izin buat ke sana, tapi bukan berarti sampe malam kayak gini dong!" tegas Mama Diva saat Ayu sudah sampai di rumah di jam 7 malam.


"Maaf, Nek. Ayu tadi bantuin Tante Caca dulu. Kesian Tante Caca soalnya, dia sangat terpukul karena Akhtar pergi semendadak ini," jelas Ayu dengan menunduk.


"Iya, tapi gak harus kayak gini juga. Lagian kali gak ada lagi pulang selarut ini, ya, Ayu!"


"Baik, Nek."


"Yaudah, kamu udah mandi? Udah makan?" Ayu sedikit mendongak dan menatap ke arah Mama Diva dengan menggelengkan kepala.


"Sekarang, kamu mandi dulu. Nenek mau siapkan makan, kita makan sama-sama!"

__ADS_1


"Baik Nek."


__ADS_2