Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Anak Pungut


__ADS_3

POV Akhtar


Kumatikan panggilan sepihak dan mendengus kesal, bisa-bisanya Mama malah bertanya ke Ahmad. Beginilah jadinya.


Setelah beberes alat salat, kulirik jam di dinding yang menunjukkan hampir jam 5. Turun ke bawah untuk mengisi perut yang penduduknya sudah berdemo.


Mataku menangkap ke arah Mama juga Singa yang tengah asyik menonton film dua bocah botak yang tak kunjung beranjak SD itu.


"Eh, Tar? Kamu udah selesai shalat?" tanya Mama menatap ke arahku yang masih berada di anak tangga ini.


"Sudah, Ma. Akhtar mau makan dulu, ya," ujarku melangkah ke arah dapur dan mendapatkan anggukan dari Mama.


Kulihat berbagai jenis makanan telah tersedia, rasanya, ya, biasa saja karena ini pasti beli. Mama tak bisa masak, bisa hanya saja tak terlalu banyak makanan yang bisa dimasak Mama.


Apalagi Singa yang super aktif sekarang, mangkanya Mama sulit untuk belajar masak. Namun, bukan berarti Mama tak mau belajar.


"Enak?" tanya Mama saat aku telah selesai dengan makan sore dan bergabung di sofa melihat televisi.


"Biasa aja Ma," jawabku datar.


"Bosen?"


"Gak, kok Ma."


"Yaudah, nanti kapan-kapan Mama masak deh. Atau, gak, kamu bawa cewek kamu itu biar Mama dan dia bisa belajar bareng atau bahkan dia yang ngajari Mama masak," saran Mama dengan wajah sumbringah.


Aku langsung menatap ke arah Mama dan berpaling dari layar yang besar itu, menaikkan alis bosen dengan topik ini.


"Ma ... Akhtar gak punya cewek, Ma," jelasku lagi dan lagi, "emangnya salah, ya, kalau shalat?"


"Mmm ... enggak, sih, cuma aneh aja," jawab Mama jujur dengan cengengesan.


"Akhtar dan Ahmad tadi janji sama temen Ayahnya Ahmad buat shalat. Kami tadinya diajak buat shalat bareng, tapi kami nolak dengan alasan mau shalat di jalan aja nanti. Eh, malah kami gak berhenti dan sampe di rumah Ahmad. Jadi, mau gak mau kami harus shalat deh meskipun gak jadi shalat di jalan atau di Masjid," tuturku panjang kali lebar.


Mama hanya terdiam dan persekian detik ia mengangguk memahami apa yang kumaksud juga alasanku salat.


"Altinya, Abang shalat bukan kalena Allah dong? Kalena menepati janji doang," timpal Singa yang tengah duduk di karpet menatap ke arahku.

__ADS_1


"Abang ... kata Mama, kita melakukan segala sesuatunya itu halus kalena Allah. Bukan kalena seseolang," sambungnya lagi bak seorang Ustadz yang tengah berceramah.


"Ya, gak mungkin Abang gak menepati ucapan? Abang juga gak mau jadi manusia munafik yang ingkar!" tegasku membela diri.


Masa aku harus diam saja dengan ocahan Singa, huh, bisa-bisa dia besar kepala karena menganggap aku tak bisa menjawab ucapannya.


"Yaudah, gak papa. Semoga ini awal yang bagus, apa teman ayahnya Ahmad punya anak cewek?" tanya Mama tersenyum menggoda.


"Ada, tuh si Ayu," jawabku pelan dan tanpa sadar sambil menatap kembali televisi.


Seketika, mataku langsung membulat saat menyadari terlalu jujur jadi anak. Kubekap mulut dan menatap Mama yang sudah tersenyum entah apa maksudnya.


"Abang! Abang habis dali lumah Kakak cantik Ayu?" tanya Singa semangat dan langsung mendekat ke arahku.


"Wah-wah-wah," cibir Mama.


"Dih, apaan sih Ma?" tanyaku yang kesel.


"Loh, apa? Mama gak ada ngomong apa-apa, kok. Cuma ngomong 'wah' doang," goda Mama.


"Abang!" seru Singa menggoncang pahaku karena merasa pertanyaannya tadi kuabaikan.


"Abang jumpa sama Kakak cantik Ayu tadi?" tanyanya mengulang pertanyaan.


"Iya jumpa. Ketemu sama Papanya juga," ungkapku yang sudah tanggung. Sekalian aja bicarakan semuanya, "tau rumahnya juga."


Tangan Singa mengepal ke udara dengan kegirangan, ia bahkan beberapa kali meloncat sudah seperti orang memang undian.


"Yee ... nanti Abang bisa antelin Leon ketemu sama pacal Leon. Abang nanti jadi nyamuk, ya," perintah Leon.


Aku melirik ke arah Mama sekilas, wajah wanita itu juga tampak frustasi tak kalah frustasinya denganku.


"Leon, Sayang. Kakak Ayu itu bukan pacar Leon," jelas Mama mengusap bahu Leon.


"Suka Kakak cantik Ayu dong, Ma. Kalo dia mau pacalan sama Leon, ya, gak papa dong!" kekehnya bersedekap dada.


Apalagi ini Tuhan, mengapa bocah ini sangat ngebet pengen pacaran dengan wanita si sok pencinta alam dan pahlawan itu.

__ADS_1


"Supaya apa emangnya lu Singa pacaran sama dia?" tanyaku yang meladenin kemauan bocah itu.


"Bial Kakak cantik Ayu bisa Leon jagain dali cowok jahat kayak Abang," tutur Singa menampilkan wajah sok imutnya.


Ucapannya itu membuatku ingin sekali mem banting dirinya, bisa-bisanya ia berkata bahwa diriku yang bergelar Abangnya ini dikatain jahat.


Mama tertawa mendengar ucapan Singa, apa yang lucu? Ini penghinaan bukan candaan namanya.


"Emangnya, Abang jahat gimana?" tanya Mama menaikkan satu alisnya melirik diriku sebentar.


"Mm ... Abang banyak ceweknya Ma."


"Tau dari mana Leon?"


"Taulah, waktu itu Leon pelnah pinjem handphone Abang. Nah, pas Leon pegang balu bebelapa menit udah banyak cewek seksi nelpon Abang Ma," jelas Singa.


Singa memang tak diberi handphone oleh Mama, karena takut jika bocil tersebut akan kecanduan dan enggan untuk berbaur dan aktif selayaknya anak seumurannya.


Memang waktu itu dia pernah aku kasih pinjam handphone agar dirinya bisa tenang karena Mama menitipkan dia padaku.


Aku membulat saat mendengar penjelasan dari bibir kecilnya yang sangat ingin rasanya kuikat agar tak berbicara lagi.


Tatapan horor Mama berikan ke arahku, aku menampilkan cengengesan. Aku tahu, itu bukan hanya karena banyaknya masuk telepon ke handphone melainkan kenapa kuberi Singa pinjam handphone.


"Tar ... uang kuliah kamu Mama potong!" tegas Mama dengan wajah datarnya.


"Yah ... tapi, Ma," keluhku dengan bahu yang merosot tak semangat akibat mendengar ucapan Mama barusan.


"Untuk kamu juga akan Mama kasih hukuman karena berani minjam handphone sama Abang," jelas Mama menunjuk ke arah Singa.


Nah, kapok 'kan! Dikira dengan jujur akan membawa berkah, apa? Dia kira Mama akan mengajak dia ke Mall habis ini setelah dia berkata jujur?


Aku tersenyum puas saat mendengar Mama akan memberinya hukuman, beginilah seharusnya orang tua. Adil dalam memberi hukuman ke anak.


"Hukumannya kamu nanti malam harus temenin Mama ke mall, nanti kamu boleh ngambil ice cream karena udah berkata jujur sama Mama," ungkap Mama tersenyum dan merentangkan tangannya.


Singa langsung tersenyum sumbringah dan berhambur kepelukan Mama, mereka layaknya kartun Teletabis.

__ADS_1


'Dih, apaan sih! Gak jelas banget nih keluarga!' batinku menggerutu sambil menatap televisi lagi.


Malas banget jika harus menatap apa yang tengah mereka lakukan sekarang, seolah aku ini hanya anak pungut di rumah ini. Menyebalkan!


__ADS_2