Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Bimbang


__ADS_3

Ayu dan Ningsih kini tengah menikmati makanan di kantin kampus, Akhtar dan teman-temannya tengah sibuk menyiapkan skripsi karena satu bulan lagi akan ada wisuda.


"Lu tau, Ayu? Dicintai dan diterima baik serta dianggap sebagai anak sendiri adalah impian setiap wanita dan gue liat, nih, ya. Mamanya Akhtar sangat cinta dan udah anggap lu sebagai anaknya sendiri," ucap Ningsih memasukkan es cendol ke dalam mulutnya.


Ayu belum memberi tahu soal Akhtar yang mengungkapkan perasaan kepadanya saat di pesawat dengan siapa pun termasuk Ningsih.


"Semua orang tua juga, gitu. Mama Ahmad juga kayaknya sayang banget sama lu, terlihat pas acara lamaran waktu itu," kata Ayu sambil menyeruput kuah mie ayam bakso miliknya.


"Iya, lu bener banget. Mamanya baik banget sama gue, ya, ampun. Kadang, gue dianterin makanan yang banyak banget sampe gue kadang doa sama Allah semoga mereka benar-benar akan jadi keluarga kedua gue setelah keluarga kandung gue," jelas Ningsih dengan menopang dagu dan tersenyum menatap dinding di belakang Ayu.


Ayu hanya diam dengan wajah datar, ia bingung harus berbicara apa karena ia belum merasakan dan belum tahu bagaimana keluarga keduanya kelak.


Brakk ...!


Meja tiba-tiba dipukul oleh Bambang yang baru saja datang dengan Akhtar dan pastinya teman-temannya di belakang.


"Kalian, makan gak ngajak-ngajak!"


Bambang segera mengambil dua lagi bangku dan mendekatkan ke meja Ayu juga Akhtar.


"Lu bisa gak sih datang tuh pake salam dulu? Buat orang kaget, aja!" ketus Ningsih menatap tajam ke arah Bambang yang ada di sampingnya.


"Lagian, bukannya pada ngobrol gitu. Malah pada diem-dieman aja!" celetuk Bayu yang membela Bambang.


Ayu yang hanya menatap perdebatan orang di depannya, seketika melihat ke samping saat mangkuk baksonya berpindah dari depannya.


"Dih, punya gue itu!" teriak Ayu saat Akhtar sudah memasukkan bakso ke dalam mulutnya menggunakan sendok bekas Ayu.


"Terus, kenapa? Lu gak punya penyakit menular 'kan? Gak masalah, dong!" sahut Akhtar dan mengeluarkan uang ke Bambang, "beli mie ayam bakso yang baru dan jajan kalian!"


"Siniin, Tar! Lu 'kan itu beli yang baru!"


"Lama, gue udah lapar. Capek nih otak habis mikir."

__ADS_1


Ayu hanya bisa pasrah dan memajukan mulutnya, ia menatap ke arah lain.


"Gimana skripsinya? Lancar, Ay?" tanya Ningsih dengan suara lemah lembut menatap Ahmad yang ada di sampingnya.


"Alhamdulillah, lancar kok By. Paling tinggal sedikit lagi dan semoga gak ada yang perlu dibenerin lagi," jawab Ahmad dengan tersenyum ke arah Ningsih.


Ayu menatap dengan ilfil pembicaraan kedua orang di depannya ini, "Giliran sama Ahmad, lembut beut tuh nada bicara! Gak jelas lu, Ningsih! Buat emosi aja!" gerutu Ayu menatap sinis ke arah Ningsih.


"Dih, paan sih lu Ayu! Mangkanya, cepetan punya gandengan atau tunangan atau bahkan suami. Biar ada temen uwu-uwuan," ejek Ningsih menjulurkan lidahnya.


Ayu hanya menaikkan sebelah bibirnya dan memutar bola mata malas memandang ke arah lain.


"Kenapa? Lu juga pengen gue panggil begitu, Ayang?" tanya Akhtar dengan menekan kata 'ayang' yang membuat Ayu refleks membukatkan mata lebar-lebar dan menatap ke arah Akhtar.


"Dih, jangan pernah lu manggil gue dengan sebutan itu, ya! Atau gue gak akan pernah mau temenan sama lu, lagi!" ancam Ayu dengan menunjuk ke arah Akhtar yang tersenyum menggoda.


"Gak papa, bagus dong! Gue juga gak mau cuma jadi teman lu, tapi gue mau jadi orang yang berarti di dalam hidup lu. Gue mau jadi penyempurna agama lu, gue mau jadi imam lu, gue ma--"


"Suttt ...!" Ayu menutup mulut Akhtar menggunakan tas miliknya membuat Ningsih dan dua orang yang ada di meja tersenyum menatap apa yang mereka lakukan.


"Ayang, kamu mau ke mana?" teriak Akhtar tersenyum. Seketika, Ningsih dan kedua teman Akhtar tertawa setelah memastikan Ayu pergi dari kantin.


***


Surya tenggelam, membuat bintang dengan sinarnya menerangi langit. Ayu sedang bermain ayunan di taman mini miliknya itu.


Meskipun tengah sibuk kuliah, dirinya pasti menyempatkan untuk mengurus dan merawat taman punyanya.


Ting ...!


Satu notifikasi masuk di handphone Ayu, dia segera membuka aplikasi hijau dan melihat siapa yang mengirim pesan untuknya.


[Dua hari lagi, gue akan diwisuda. Gue akan meminta jawaban itu dari lu, gue udah pasrah dan siap jika nanti akan ditolak]

__ADS_1


[Seberapa besar siap lu?] balasku ke nomor tersebut.


[Lebih besar dari rasa cinta gue ke elu, karena ketika gue mengungkapkan gue harus sudah siap untuk ditolak.]


[Dan, berharap untuk diterima atau ditolak?]


[Hanya orang bodoh yang berharap di tolak, hanya saja aku termasuk orang bodoh tersebut. Karena, rasa kecewaku sudah kupupuk untuk ditolak itu.]


Ayu tak membalas pesan tersebut, dirinya keluar dari aplikasi dan mematikan jaringan data. Mengayun ayunan dengan pelan dan menatap langit.


"Kenapa dengan anak Papa? Apa ada yang disembumyikan dari Papa?" tanya seseorang yang datang dan membuat Ayu langsung menoleh ke arah pemilik suara bariton itu.


"Papa," ucap Ayu dan mendapat senyuman dari Angga. Angga duduk di depan Ayu dan menganyun dengan pelan.


Ayu masih bergeming, ia menunduk. Suara helaan napas keluar dari bibir Angga membuat Ayu menatap ke arahnya.


"Kalau kamu memang tidak yakin dengan dia, maka tak apa jika kamu tolak," ucap Angga tersenyum dengan suara lemah lembutnya.


"Kamu punya hak untuk menolak dan menerima siapa yang pantas menjadi pendamping hidupmu," sambungnya kembali.


"Pa ... Ayu ngerasa gak pantas berada di samping Akhtar," lirih Ayu dengan menunduk.


"Karena?" tanya Angga menaikkan alisnya.


"Dia dari keluarga yang jelas Pa, sedangkan Ayu?" tanya Ayu menatap ke arah Angga dengan sendu.


"Sayang, kamu juga jelas. Negara sudah mencatat bahwa kamu anak Papa Angga juga Mama Diva. Lantas, di mananya yang tidak jelas?"


"Ya, Pa. Tapi, kalo negara tau yang sebenarnya, gimana? Pasti berbeda lagi ceritanya!"


"Sayang ... kamu menikah dengan seseorang bukan hanya dilihat dari bebet, bibit dan bobotnya. Namun, dari akhlaknya, dari dia memperlakukan kamu dari keluarganya yang menerima kamu. Masalah itu, menjadi ke sekian dalam hal pernikahan. Lagian, dia menunjuk kamu artinya dia sudah menerima segala kekurangan kamu," jelas Angga mencoba meyakinkan Ayu bahwa dirinya pantas bersanding di samping Akhtar.


Ayu bergeming, hatinya bimbang, "Tapi, Pa. Ayu belum kepikiran untuk menikah," lirih Ayu dengan menunduk wajahnya.

__ADS_1


Angga mengangkat dagu Ayu agar bisa menatap wajahnya, "Papa gak maksa kamu mau menerima atau enggak, jika kamu emang gak siap. Ya, lepaskan dia. Biarkan dia dengan orang lain, shalat istiqorah. Minta petunjuk sama Allah, ada 2 hari lagi 'kan sebelum acara wisuda? Kalo kamu emang masih belum ngerasa siap menikah, maka siapkan diri dan hati kamu sama Allah agar dibuat rela melepaskan dia dengan orang lain," ungkap Angga dengan panjang.


Ia keluar dari ayunan dan mengusap bahu Ayu, "Jangan terlalu lama di luar, Papa masuk dulu," perintah Angga dan meninggalkan Ayu sendirian di ayunan.


__ADS_2