Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Satu Tim


__ADS_3

Hari yang ditunggu akhirnya tiba, Ayu juga teman yang lainnya telah menunggu dosen pembimbing nantinya di perkemahan.


Ningsih tampak senyum-senyum sendiri karena memang sudah lama tak pergi jalan-jalan seperti ini.


"Makasih banget, Yu! Berkat lu, gue jadi bisa ikut pergi. Mayan, cincinnya gue jual bisa buat tiket ke sana," bisik Ningsih


"Rezeki lu itu mah!"


"Bener, rezeki anak baik!"


"Dih, sejak kapan emangnya dia baik?" cibir Ayu sambil memandang ke arah lain.


"Ha, apa Yu?" tanya Ningsih yang ternyata mendengar ucapan Ayu meski hanya sekilas.


"Ha, enggak kok," potong Ayu cepat.


Seketika keadaan hening saat dosen pembimbing sebanyak 4 orang berdiri di depan mereka menggunakan toa.


"Selamat pagi semuanya ...."


"Pagi Pak!" teriak mereka serempak.


"Baik semuanya, pagi ini kita berkumpul di lapangan kampus untuk sekalian bimbingan. 80 mahasiswa dan mahasiswi akan mengikuti kegiatan ini dan akan dipecah menjadi 4 bagian."


"Satu bus hanya berisi 20 orang, dengan satu pembimbing juga satu sukarelawan yang sudah kami pilih sebanyak dua orang dalam satu tim. Tentunya berpasang-pasangan."


Semua orang menyimak dengan seksama, diketahui ada sekitar 200 orang yang mendaftar. Hanya saja, banyak yang menyerah entah karena faktor uang, kesehatan juga izin dari orang tua hingga tersisa 80 orang saja.


Sedangkan sisanya, akan tetap belajar dengan dosen yang ada saat kelas tersebut.


Ayu dan Ningsih ternyata berbeda bus, Ningsih dipercaya sebagai sukarelawan bersama dengan Ahmad di satu bus.


"Ayu!" panggil dosen di depan pintu bus satu lagi.


"Saya, Pak!" pekik Ayu dan berjalan dengan membawa tas ransel miliknya. Untuk alat-alat dan lainnya, sudah lebih dulu ia serahkan ke pihak dosen yang mengadakan acara ini.


"Kamu masuk dan duduk di paling depan, kamu ditunjuk sebagai sukarelawan!" Dosen memberikan pin dengan tulisan 'sukarelawan selama perkemahan'


Ayu mengangguk dan mengambil pin tersebut, ia duduk di belakang supir dekat dengan kaca sambil memasang pin tersebut di kerudungnya.

__ADS_1


Ia menatap luar dari jendela, pemandangan dari dalam jendela baik itu; bus, mobil atau pasawat adalah favorit Ayu.


Entah mengapa, ia akan merasa senang dan bahagia ketika melihat pepohonan yang seolah mengikuti atau tertinggal.


Seseorang menjatuhkan bobot tubuhnya di samping Ayu, dia tahu itu pasti adalah tim rekannya nanti.


Ia segera melihat ke samping dengan tersenyum berpikir untuk mengajak berkenalan terlebih dahulu.


"Kenapa?" tanya orang tersebut merapikan bajunya menatap wajah Ayu yang menekuk.


"Gak papa," jawab Ayu kembali membuang pandangan.


"Gak mau kenalan sama tim relawannya?"


"Udah kenal!"


"Wah ... hebat banget, ternyata udah kenal, ya?"


"Hmm!" dehem Ayu yang tak mau melanjutkan percakapan.


Semua orang sudah masuk, dosen kembali berdiri di depan mereka dengan pintu mobil sebelah belakang telah di tutup.


Akhtar maju lebih dulu dengan memegang microfon toa tersebut, "Hay semuanya, kenalin nama saya Akhtar dari jurusan hukum. Sebenarnya, saya belum pantas untuk menjadi sukarelawan di perkemahan kali ini. Namun, apa salahnya mencoba, bukan? Agar kita menjadi orang yang saling mengingatkan untuk menjaga dan peduli akan lingkungan. Sekian dari saya, semoga kita semua bisa bekerja sama dengan baik!"


Suara tepukan tangan terdengar setelah Akhtar mengembalikan microfon tersebut, Ayu pun akhirnya berdiri setelah Akhtar duduk kembali.


"Hay, semua. Saya Ayu dari jurusan kedokteran. Saya harap untuk kalian semua yang entah apa niatnya di dalam hati ketika ingin ke gunung nanti, jangan pernah acuh dan tak perduli dengan sampah yang kalian buat. Dan jangan egois dengan sampah yang tak punya salah, kalian tak akan jatuh harga dirinya hanya karena mengutip sampah yang bukan punya kalian. Saya harap, tidak akan ada satu sampahpun yang kalian dan kita tinggalkan di sana nantinya!" jelas Ayu dan melirik ke arah Akhtar yang tengah menatapnya.


"Baik, terima kasih. Kalau begitu, kita akan mulai perjalanan ini. Jangan lupa berdoa menurut kepercayaannya masing-masing, ya!" Dosen keluar dan menutup pintu, ia masuk ke kursi di samping pengemudi dan menutupnya dengan cukup keras.


Suara mesin mobil mulai terdengar, Ayu juga teman-teman lainnya mulai berdoa setelah mendapat intruksi dari dosen.


"Selesai!" jelas dosen dengan suara yang cukup keras agar orang yang berada di bangku paling belakang bisa dengar.


Bus mulai meninggalkan kawasan kampus, bus yang ditumpangi Ayu pergi setelah dua bus lainnya telah melesat pergi lebih dulu.


"Apa kau takut?" tanya Akhtar sedikit berbisik.


"Enggak, biasa aja," jawab Ayu datar.

__ADS_1


"Apakah tadi kau sedikit menyindirku?" tanya Akhtar menatap wajah Ayu.


Ayu menatap ke arah Akhtar, "Apakah lu merasa tersindir?" tanya Ayu menaikkan sebelah alisnya.


"Hmmm ... gak juga, sih," ucap Akhtar menjauhkan tubuhnya dari Ayu.


"Yaudah kalo gitu!"


Hening di bangku Ayu, tak ada yang membuka suara. Akhtar sibuk dengan gamenya sedangkan Ayu menatap pemandangan yang ada di sebelahnya.


Ia mengambil tas yang dari tadi memang dipangku agar mudah mengambil makanan. Dibuka salah satu ciki yang ia bawa.


"Uhuk! Gak ada niatan mau nawarin?" tanya Akhtar masih fokus dengan gadjet-nya.


"Kalo mau, ambil! Gak ada sistem nawarin!" ketus Ayu dengan memasukkan ciki ke dalam mulutnya serta sesekali masih membuang pandangan ke arah samping.


Akhtar yang mendengar seolah diberi lampu hijau langsung mematikan handphone dan merebut satu bungkus ciki dari tangan Ayu.


Ia memakan ciki seolah tanpa dosa dengan menatap ke arah depan, Ayu yang melihat hal tersebut tentu saja marah.


"Dih, gak semuanya juga kali!" decak Ayu merampas kembali bungkus cikinya.


Akhtar tersenyum tipis melihat hal tersebut, ia menepuk-nepuk tangannya agar bumbu ciki tak lengket di tangannya lagi.


"Gengsimu begitu tinggi, itu bagus apalagi untuk seorang perempuan. Namun, pernahkah kau tahu bahwa gengsi juga mampu membuat seseorang menjauh dan hilang dari hidupmu?" tanya Akhtar dengan nada pelan.


Ayu menatap ke arah Akhtar dengan wajah tanpa ekspresi sama sekali, "Jangankan karena gengsi, karena kehadiranku pun aku sudah pernah merasakan kehilangan seseorang. Jadi, jangan ajari aku soal itu!" tegas Ayu dan menatap lurus ke depan.


Akhtar tertegun mendengar penuturan Ayu, ia tak tahu jika Ayu akan berkata sedemikian rupa. Ia mengerjapkan beberapa kali matanya.


Mereka akhirnya sampai di bandara, dengan keheningan di bangku mereka. Ayu berjalan lebih dulu keluar dengan melewati Akhtar.


"Ayu, tunggu!" panggil Akhtar dan turun mengikuti Ayu saat pintu telah terbuka.


Ayu tak menghiraukan ucapan Akhtar tadi, ia hanya berhenti di tempat yang telah ditentukan dosen.


Akhtar berdiri tepat di sampingnya dengan Ayu yang langsung memilih untuk menatap lurus ke depan.


"Maaf. Maafin aku, Yu," lirih Akhtar.

__ADS_1


__ADS_2