Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Tambah Sakit


__ADS_3

Universitas Indonesia Kampus Salemba, gedung berwarna putih itu kini dimasuki Ayu dan Ningsih. Mereka kembali ke sini untuk mengurus pendaftaran kedua.


***


"Mau ke mana Tar? Kan, belum masuk kuliah," ujar Caca sambil mengoleskan selai ke roti menatap Akhtar turun dari kamarnya.


"Mau latihan basket, Ma," kata Akhtar mendekati Caca.


Dia duduk di bangku samping Caca dengan Leon di sebrang juga Riki.


"Sama siapa?"


"Sama temen-temen Ma."


"Gak sampe malam pulangnya 'kan?"


"Emangnya kenapa Ma?"


"Kita mau makan malam di luar, sesekali. Udah lama juga gak makan bareng di luar."


"Nanti Akhtar usahain."


"Kamu beneran mau main basket atau mau liat anak baru di kampus yang daftar ulang?" tanya Riki menyelidiki.


"Uhuk!" Akhtar mengeluarkan kembali susu putih yang baru saja ia minum, bisa-bisanya Riki tahu soal itu.


"Papa tau dari mana kalo hari ini daftar ulang mahasiswa-mahasiswi baru?" tanya Akhtar mengelap mulutnya yang terkena susu.


"Jadi, bener? Mau liat mahasiswi baru?"


"Enggaklah, Pa. Emang mau main basket juga."


"Ohh, okey kalo emang bener cuma mau main basket doang."


"Iya, Pa."


"Abang, kalo nanti ada cewek cantik jangan dijahatin, ya. Gak boleh jahat sama cewek," kata Leon menasehati.


"Ck! Sok tau banget sih lu Singa! Bisa jadi gak ada cewek cantik nanti di sono," ketus Akhtar menatap tajam ke arah Leon.


"Kamu ini! Mama ngasih nama yang bagus ke dia malah kamu panggil Singa! Sejak kapan Mama lahiran hewan?" tanya Caca emosi.


Leon mengejek Akhtar yang dimarahi oleh Caca, ia menjulurkan lidahnya ke arah Akhtar. Sedangkan Riki hanya bisa diam melihat perdebatan antara anak dan juga ibu di depannya kini.


"Hehe, maaf Ma," terang Akhtar menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Yaudah kalau gitu, Akhtar pergi dulu, ya, Ma, Pa." Akhtar bangkit dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya takzim.


Ia keluar dengan mengendari mobil kesayangannya itu, Akhtar sudah ada janji dengan teman-teman basketnya untuk latihan.

__ADS_1


Karena sudah terlalu lama tak latihan akibat kesibukan masing-masing yang menikmati libur kuliah.


Akhtar kini sudah semester 4 dengan mengambil jurusan hukum di salah satu kampus yang ada di Jakarta.


"Lu udah di mana?" tanya Akhtar dengan seseorang dari handphone.


"Udah cuci mata, nih!" jawabnya dengan semangat.


"Cuci mata? Maksud lu?" tanya Akhtar menaikkan satu alisnya.


"Liatin mahasiswi baru, Tar. Kayak lu gak tau aja, gue udah sampe di kampus nih. Temen yang lainnya juga masuk ke lapangan basket."


"Jadi, lu ngapain belum masuk?"


"Ya, mau cuci mata dulu. Beuh ... body-nya kayak gitar Spanyol semua Tar," jelas Ahmad.


"Ck! Tutup tuh mulut, keluar ntar iler lu cuma karena terlalu melihat ke mereka!" ujar Akhtar mematikan panggilan sepihak.


"Lucknut beut lu Tar!" maki Ahmad mendengar ucapan Akhtar tadi.


Ia segera memasukkan handphone ke saku celana, Ahmad, Bambang dan Bayu tengah asyik menatap pelajar baru yang tengah mendaftar ulang.


Berbagai jurusan hari ini kembali mendaftar, banyak juga yang berkeliling-liling sambil menunggu tempat pendaftaran agak sunyi.


Hanya menempuh 40 menit, Akhtar telah sampai di kampus tempat dirinya menempuh pendidikan. Ia meletakkan mobil ke parkir yang biasa tempatnya.


"Mau latihan, ya?" tanya Satpam yang sudah kenal Akhtar.


"Enggak atuh, Nak Akhtar. Kalo cuti kerja dan kampus kehilangan, gimana? Bisa-bisa Bapak gak akan dapat gaji selama bertahun-tahun," cakap Satpam dengan tersenyum.


"Haha, tenang Pak. Nanti tiap bulan kami buat penggalangan dana, jadi Bapak tetap akan dapat gaji. Kalo mereka gak mau nyumbang? Tenang, saya paksa Pak!" tegas Akhtar.


"Hahaha, Nak Akhtar bisa aja."


"Yaudah, saya ke dalam dulu, ya, Pak," pamit Akhtar.


"Silahkan."


Meskipun Akhtar bukan salah satu laki-laki most wanted di sekolah, tapi ditinya tetap memiliki banyak penggemar.


Dirinya pun bukan tipe laki-laki yang suka memanfaatkan wanita yang menyukainya atau mengejarnya.


Badboy, bukan gelar yang cocok bersanding pada dirinya. Bahkan, pacaran saja dirinya tak pernah semenjak sekolah.


Dari kejauhan, Akhtar melihat ketiga sahabatnya tengan duduk di bangku pohon rindang sembari tertawa dan menunjuk ke arah mahasiswa-mahasiswi yang ada.


"Nah-nah, pada gosip dah ini," timbrung Akhtar menatap ketiga sahabatnya.


Mereka langsung terdiam dan menatap ke arah Akhtar, "Sini dulu, Tar. Kan latihannya jam 9, ini masih jam 8 juga. Kita cuci mata dulu sejam liat yang bening-bening," timpal Ahmad si paling suka bening tapi tak dadar diri.

__ADS_1


"Apaan, sih? Udah, ayo! Mending ke dalam lapangan aja, ngapain juga di sini?" tanya Akhtar kesal dengan mereka karena tetap menatap ke arah pendaftaran.


Sedangkan dirinya memunggungi tempat tersebut menghadap ke arah sahabatnya.


"Eh, itu kayak cewek waktu di gunung, deh," tunjuk Bambang menyipitkan matanya ke arah Ayu dan Ningsih.


Semua menatap ke arah yang Bambang tunjuk tak ketinggalan Akhtar juga ingin melihat ke arah yang sama.


"Widih, mereka kira-kira ambil jurusan apa, ya? Semoga hukum, deh!" ungkap Ahmad menadahkan tangannya dan mengusap ke wajah.


"Ck! Semoga psikologi, biar sekelas sama gue," timpal Bayu yang memang berbeda jurusan sendiri dengan mereka.


Ahmad, Bambang dan Akhtar memilih jurusan hukum sedangkan Bayu menginginkan jurusan psikologi.


"Mangkanya, waktu itu pilih hukum aja!" suruh Ahmad menatap Bayu.


"Gue maunya psikologi masa harus pindah ke hukum, lagian walaupun pelajarannya bikin mumet tapi gue bisa bertahan kok sampe udah 4 semester ini," ujar Bayu membanggakan diri yang tak pindah jurusan.


"Ningsih!" teriak Ahmad ke arah Ningsih juga Ayu yang agak jauh dari mereka.


Kedua wanita yang dipanggil dengan tangan melambai langsung berhenti dan menatap ke arah Akhtar dan geng.


"Lu ngapain manggil mereka?" tanya Akhtar.


"Mau nanya mereka masuk jurusan mana," ujar Ahmad tanpa dosa.


Ningsih dan Ayu berjalan ke arah mereka, "Ada apa?" tanya Ningsih ramah.


Sedangkan Ayu menampilkan wajah cuek dan datarnya dengan bersedekap dada juga membuang pandangan.


"Kalian ngambil jurusan apa?" tanya Ahmad berdiri diikuti dua orang lainnya karena Akhtar memang dari tadi masih berdiri.


"Kedokteran," jawab Ningsih.


"Kalian berdua?" tanya Ahmad tak percaya.


Ningsih mengangguk, "Hahaha, gimana mau jadi dokter orang galak gini, yang ada bukannya sejat malah tambah sakit," sindir Akhtar menatap ke arah Ayu.


Ayu yang tahu bahwa Akhtar tengah menyindirnya langsung menatap tajam ke arah Akhtar dan mendongak.


"Biarin galak yang penting beneran bisa buat sehat, 'kan?" tanya Ayu marah dan menginjak kaki Akhtar sebelah.


Ia langsung membawa Ningsih menjauh dari mereka semua, sedangkan Akhtar meringis karena ulah Ayu.


"Kam pret tuh cewek! Liat aja nanti pas mos, gue suruh Kakak kelas buat ngehukum dia dan buat dia sampe nangis," geram Akhtar memegangi kakinya yang di injek.


"Lu gak papa Tar?" tanya Ahmad menatap Akhtar.


"Gak papa, mending kita ke lapangan basket aja sekarang," titah Akhtar tetap menatap punggung Ningsih juga Ayu yang semakin menjauh.

__ADS_1


Sesekali Ningsih menatap ke arah mereka. Namun, Ayu tak sama sekali melakukan hal itu bahkan beberapa kali ia membuat kepala Ningsih untuk fokus menatap ke depan.


__ADS_2