Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Aku Datang


__ADS_3

Dua hari setelah pemakaman Akhtar dan malam ini, adalah malam terakhir tahlilan di rumah orang tuanya.


Ayu telah selesai kelas jam 1 siang tadi, dirinya sekarang memiliki supir pribadi yang diberi oleh Mama Diva.


"Non, kenapa ke pemakaman?" tanya Pak Jajang--supir pribadi Ayu.


"Iya, Pak. Mau liat lahan yang kosong," jawab Ayu bercanda.


"Ih, si Non atuh. Malah ngomong kayak gitu!" omel Pak Jajang menatap Ayu dari kaca spion sedangkan Ayu hanya tertawa.


Mobil berhenti di tempat parkir yang tersedia di TPU tak jauh dari pemakaman, Ayu sudah membeli bunga lebih dulu tadinya.


Karena, penjual bunga akan ramai di TPU nantinya pas menjelang Ramadhan tiba. Padahal, tak ada perintah bahwa ziarah kubur hanya dilakukan pas ingin Ramadhan saja.


"Pak, tunggu sebentar, ya," titah Ayu mengambil bunganya dan meletakkan tas selempang miliknya tadi.


"Baik, Non. Jangan lama-lama, ya," peringat Pak Jajang dan langsung diangguki oleh Ayu. Dia langsung keluar dan berjalan ke kawasan kuburan.


Dirinya mencari-cari nama seseorang yang paling dicintai sekaligus dibenci saat ini, gundukan tanah yang masih dipenuhi bunga dan nama yang bertulis di papan yang tertegak di sana menjadi penghiasnya.


Kaki Ayu seketika melemah, dirinya yang sudah berusaha agar kuat ternyata tetap saja tak mampu menahan tangisan.


Dipegang papan yang bertulis nama pria tersebut dengan gemetar, Ayu menyandarkan kepalanya ke papan tersebut.


"K-kenapa, sih? Kenapa lu pergi sih Tar? Hahaha, lu bilang mau cerita sama gue 'kan? Ayo, cerita! Mari kita cerita, ayo bahas pernikahan. Gak harus tamat kuliah juga gak papa, ayok!"


"Lu tau gak, Tar? Rindu yang paling sakit adalah ketika lu merindukan seseorang yang tubuhnya tak mampu lagi lu dekap! Dan lu ... berhasil membuat gue ngerasakan sakit itu!"


"Ayo bangun Tar! Hiduplah meskipun itu cuma mimpi semata, lu bahkan gak main ke mimpi gue. Kenapa? Lu takut? Lu malu karena lu pengecut, iya? Ha?"


Seperkian detik kemudian, Ayu kembali runtuh dalam tangisan. Ia sedikit meringkuk ke tanah yang penuh dengan bunga tersebut.


Dihelanya napas panjang dan menghapus air mata dengan tangan yang sudah kotor akibat mengenggam tanah.

__ADS_1


Ayu meletakkan bunga juga menaburkan bunga di atas tanah yang menutupi orang tercintanya, "Maaf, ya, gue datangnya telat," kata Ayu dengan mengilap cairan yang keluar dari rongga hidupnya.


"Gue kira, dengan sedikit telat datang akan membuat gue kuat nantinya ketemu sama lu. Eh, ternyata gue salah. Tetap aja gue nangis, di sana gimana Tar? Oh, ya, Papa gue bentar lagi mau nikah lho. Beuh ... lu gak bisa ejek tuh orang tua dong, masa yang tua nikah lagi sedangkan lu nikah aja belum. Kakek gue, ternyata udah meninggal juga lho Tar. Hahaha, sama dong kek lu."


Ayu menatap sekitar pemakaman, "Banyak temen lu, ya, Tar? Itu juga di ujung ada yang baru meninggal, banyak bener dah. Nanti, gue di mana dong Tar? Penuh, nih tempat gue liat. Di samping lu juga udah ada orang. Gue nanti di mana, dong? Tar ... siapa yang akan lindungi gue lagi nanti? Siapa yang akan obati lu kalo hipo di bawah nanti? Tar ... hiks ... hiks ... hiks."


Ayu tak mampu lagi bercerita, ia memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya beberapa menit lamanya.


Setelah merasa lebih baik, ia dongakkan wajah kembali menatap papan bertuliskan nama lelaki tersebut.


"Lu udah bahagia 'kan Tar? Sama, gue juga. Gue harap lu mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya serta bersama dengan orang-orang yang sholeh."


Ayu mengadahkan tangan dan mengirimkan doa pada Akhtar, meskipun seharusnya tak perlu di hadapan makam laki-laki itu langsung.


Namun, dirinya pun selalu mengirimkan doa selesai melaksanakan kewajiban juga sunnah yang ada.


Diusap Ayu papan tersebut beberapa kali, mengeluarkan napas dengan berat dan bangkit dari duduknya tadi.


Kotornya tanah yang bercampur pasir tak dipedulikan oleh wanita itu lagi, ia tetap duduk di sana demi bisa bercerita dengan orang terkasih.


Pak Jajang langsung membukakan pintu, sebenarnya ia ditelepon oleh Mama Diva karena Ayu yang kenapa bisa belum pulang juga.


Dirinya memberi tahu dan langsung diperintahkan untuk membawa Ayu pulang dari situ, tapi karena melihat Ayu yang tengah mencurahkan kesedihannya.


Pak Jajang tak tega dan memilih untuk menunggu di depan mobil saja, "Non, kita langsung pulang, ya. Nyonya udah nyariin," jelas Pak Jajang sebelum menutup pintu bangku belakang.


Ayu hanya menatap kosong ke arah depan dan mengangguk, Pak Jajang langsung menutup pintu dan masuk ke bangku supirnya.


Sekitar 35 menit, akhirnya mobil yang membawa Ayu sampai di depan rumah milik Diva, "Sayang, kamu dari mana aja?" tanya Mama Diva dan memeluk Ayu.


Ayu langsung menangis sejadi-jadinya di dekapan wanita paruh baya itu, dia langsung panik melihat cucu yang dirawat seperti anak sendiri itu menangis tak seperti biasanya.


"Ada apa? Kau kenapa, Sayang?" tanyanya dengan panik dan menangkup wajah Ayu.

__ADS_1


"Ayu pengen ke makam Kakek, Nek," ujar Ayu dengan terisak.


"Yaudah, nanti kita akan ke sana sama-sama, ya," bujuknya dan menghapus air mata di pipi Ayu.


Ayu mengangguk, "Yaudah, kita masuk yuk!" ajaknya dengan tersenyum dan merangkul Ayu masuk ke dalam.


"Kakak mana, Nek?" tanya Ayu mengedarkan pandangan menatap mencari orang yang biasanya akan selalu ada di sofa dengan wajah datar.


"Lagi ke luar kota, Sayang. Nah, kebetulan dia ke luar kota. Lusa, kita ke makam Kakek, ya."


"Yee ... oke, Nek!" seru Ayu yang bahagia. Bagaimana pun ada rasa sesal karena tak bisa hadir untuk melihat kakeknya untuk terakhir kali akibat Angga yang tak memberi tahu akan hal itu.


Namun, Ayu pun tak bisa marah karena pasti ada alasan tersendiri kenapa Angga tak mau memberi tahu hal tersebut pada dirinya.


"Yaudah, kamu naik dulu ke atas habis itu kita makan, ya."


"Oke, Nek!"


Ayu menaiki anak tangga menuju kamar yang sudah lumayan lama ditinggalkannya. Dirinya dan Angga sesekali masih komunikasi.


Tapi, Ayu tak pernah duluan menghubungi Angga selalu Angga yang duluan. Bukan maksud ingin sok atau apalah, hanya dia tak mau jika mengganggu aktivitas Angga nantinya.


[Sayang, besok kamu bisa datang ke rumah Tante? Ada yang ingin Tante bicarakan sama kamu soal Akhtar sebelum dia pergi]


Satu pesan yang sekitar 16 menit terkirim baru dibaca Ayu, dia sedikit heran dengan isi pesan dari Caca tersebut.


[Baik, Tante. Besok setelah pulang dari kampus, Ayu akan langsung ke sana] balas Ayu cepat dan langsung mematikan data.


Ia keluar dari kamar dan menemui Nenek yang sudah berada di meja makan, "Nek," panggil Ayu dan duduk di salah satu bangku.


"Iya?" tanya Nenek dengan menatap Ayu sedangkan tangan sibuk mengisi makanan di piring miliknya.


"Besok, boleh, ya. Ayu ke rumah Tante Caca, sebentar aja, Nek," bujuk Ayu memelas dengan menangkup tangannya di depan dada.

__ADS_1


Nenek Ayu tampak berpikir sejenak, kemudian anggukan diberikannya pada Ayu yang membuat anak tersebut kegirangan dan langsung memeluk tubuh wanita tersebut, "Makasih, Nek!" seru Ayu bahagia.


__ADS_2