Gara-Gara Sampah

Gara-Gara Sampah
Gift Melamar


__ADS_3

"Ciee ... yang dapat bunga dan gift," ejek Ningsih di dalam mobil taksi.


"Ciee ... bentar lagi nyusul Kak Kiki."


"Ci---"


"Bisa diam, gak? Kalo gak, lu turun di sini aja!" ketus Ayu dengan wajah masam.


Ningsih langsung mengatupkan mulutnya dengan tiba-tiba ketika mendengar ucapan Ayu. Daripada diturunkan di tengah jalan lebih baik diam.


Setelah kejadian tadi, Ayu dan Akhtar akhirnya maju ke depan pelaminan. Mereka sempat menolak dan memberi bunga ke Ningsih.


Namun, Kiki memaksa dan akan marah jika hal tersebut sampai Ayu lakukan.


"Apa kau tak menghormati Kakaa, Yu? Sampai bunganya ingin kau berikan oleh orang lain?" tanya Kiki dengan pengeras suara.


Mau tak mau, Ayu akhirnya maju dengan Akhtar. Akhtar yang memegang bunga tersebut, dengan wajah yang ditekuk mereka naik ke pelaminan.


Taksi sudah sampai di depan rumah Ningsih, "Tunggu!" cegah Ayu ketika Ningsih ingin keluar.


"Kenapa?" tanya Ningsih menatap ke arah Ayu.


"Nih, buat lu aja!" Ayu menyerahkan bunga dan gift ke Ningsih.


"Hadeuh, yaudah-yaudah! Thanks, ya," potong Ningsih cepat tak ingin ada perdebatan.


Dia keluar dari mobil dengan membawa bunga juga gift berupa kotak yang masih berbungkus dan entah apa isi di dalamnya.


Setelah Ningsih turun, mobil yang di tumpangi Ayu kembali berjalan menuju rumahnya.


'Ngapain juga aku harus simpan tuh barang? Gak ada manfaatnya juga, itu 'kan cuma kebetulan doang,' batin Ayu dan menatap ke luar jendela.


Matanya menyipit kala seorang laki-laki tengah membantu pengendara roda dua yang sepertinya motornya tengah mati.


Beruntung, lampu merah. Ayu jadi bisa melihat dengan jelas itu benar dia atau bukan.


Wajah yang masam dan cemberut seketika tampak lebih santai dengan sesekali bibir terangkat melihat hal yang orang tersebut lakukan.


Lampu merah berubah, taksi kembali berjalan membelah keramaian agar sampai di rumah Ayu.


"Nih, Pak. Terima kasih, ya," kata Ayu memberikan ongkos taksi.


"Sama-sama, Neng!"


Ayu membuka pintu mobil dan berjalan ke arah pagar rumahnya, "Eh, Neng Ayu udah pulang?" Belum sempat Ayu memanggil penjaga rumahnya, si Bapak sudah lebih dulu muncul.

__ADS_1


"Hehe, iya, Pak. Bukain dong, Pak!"


"Oke, Neng!"


"Papa udah pulang?"


"Bentar lagi kayaknya, Neng!"


"Oh, yaudah. Makasih, Pak. Kalo gitu, Ayu masuk ke dalam dulu, ya!"


"Silahkan Neng."


Ayu berjalan ke arah rumah dengan tersenyum simpul yang tak lekang, memang tak terlalu lebar tapi jelas menghiasi wajahnya.


Pintu kamar kembali di tutup, diletakkan tas di atas kasur dan tubuhnya ikut telentang di samping tas.


Menatap langit-langit dengan tersenyum dan sesekali menutup mata dengan kedua tangannya.


"Aaaa ... lu kok sweet banget, sih? Gimana gue mau benci, cobak?" gumam Ayu.


Menit kemudian, dia tersadar dengan apa yang dia ucapkan. Ayu segera duduk dari tidurnya dan menepuk-nepuk pelan pipinya.


"Jangan aneh-aneh deh, Yu! Apa-apaan tadi? Ingat, dia terlahir dari keluarga yang jelas. Sedangkan lu? Gak jelas banget!" cibir Ayu pada dirinya sendiri.


Ternyata, ada pesan juga dari Angga. Mungkin, karena suara musik di pernikahan Kiki terlalu keras.


Membuat Ayu tak bisa mendengar suara notifikasi itu. Dibukanya lebih dulu dari Angga.


[Sayang, Papa akan pulang agak sore, ya. Kamu jangan pulang sore banget juga, setelah pulang langsung mandi dan jangan ke mana-mana lagi! Jika ada teman yang ngajak keluar, bilang gak dikasih izin. Kalo mau main di rumah saja 'kan bisa tuh!]


Ayu tertawa melihat pesan dari Angga, ia menutup mulut dan menggelengkan kepala melihat ke-posesifan dari Angga.


[Iya, Papa. Papa hati-hati di jalan, jangan cemas dan jangan nyuruh ngebut buat bawa mobilnya. Santai aja, Pa. Sekalian liat-liat wanita yang sekiranya cocok dijadikan istri, hahaha]


Setelah membalas pesan dari Angga, Ayu berpindah ke nomor Ningsih. Ayu mengerutkan kening melihat Ningsih mengirimkan foto yang entah apa.


[Ayu ... gue gak tau lu bego atau apa, tapi lu liat nih hadiahnya, ya, ampun! Kaya banget, ya, Kak Kiki? Gue belum pernah main ke rumahnya, Yu. Rumahnya kaya, ya? Ya, Allah. Langsung bisa beli rumah kayaknya gue, ini mah! Ntar, hasil jual emasnya kita bagi dua, ya!]


Di bawah kata-kata tersebut, Ayu menunjukkan foto cincin emas sepasang yang sudah dimasukkan ke dalam box berwarna merah juga ada suratnya.


Di surat yang Ayu fotokan, tertera keterangan emas tersebut. Emas Antam dengan berat masing-masing 1 gram dengan kisaran harga kedua cincin emas tersebut seharga dua juta lima puluh tiga ribu.


[Ck! Dari mananya cukup beli rumah? Rumah sewa?]


[Lu mau uangnya apa kagak?]

__ADS_1


[Gak usah, itu 'kan gue kasih ke lu. Artinya gue udah ikhlas dan apa pun isinya itu adalah hak lu]


[Oke-oke, besok gue traktir deh lu!]


[Terserah lu aja dah!]


Ayu memilih meletakkan handphone kembali dan mengambil tas yang tergelatak begitu saja meletakkan pada tempatnya.


Ia langsung masuk ke kamar mandi karena sebentar lagi masuk waktu salat.


***


"Ya, Allah, Akhtar! Kamu dari mana? Katanya mau undangan, kok pada hitam-hitam gini tangan dan muka kamu?" tanya Caca ketika Akhtar sudah sampai di rumah.


"Ha? Iyakah Ma?" tanya Akhtar dengan cepat melihat wajahnya di cermin yang memang ada di ruang tamu.


"Tadi, Akhtar habis bantu Bapak-bapak Ma. Sepeda motornya mati, gitu. Kesian. Lagian, Akhtar tetap cakep, kok!" sambung Akhtar dan melihat ke arah Caca kembali.


"Dih, kambuh pedenya!" ketus Caca dan kembali menatap sinetron yang tengah tayang.


"Ma! Mama tau, gak?" tanya Akhtar dengan sumbringah.


"Enggak, lebih baik kamu sekarang mandi dulu! Sofanya nanti hitam-hitam juga, Tar!" amuk Caca menatap marah ke arah Akhtar yang duduk di sofa dengan tangan memegang pinggiran sofa.


"Dasar, Mama! Lebih sayang sofa dibanding anak ternyata!" Akhtar bangkit dan mengayunkan kakinya ke kamar.


Ia menaiki anak tangga satu per satu dengan berlari.


"Abang!" teriak Leon yang baru keluar dari kamar.


"Iya?" tanya Akhtar yang berhenti di tangga teratas.


"Nanti tulun, ya. Leon mau ngomong sesuatu!"


"Oke, Singa!"


Leon duduk di sofa dan fokus ke mainan yang di pegang, sedangkan Caca mengerutkan kening menatap ke arah anak tersebut.


"Leon mau ngomong apa sama Abang?" tanya Caca dengan lembut.


"Biasa Ma, ulusan laki-laki. Mama gak boleh kepo!" tegas Leon.


"Serah kalian deh!"


Caca akhirnya menyerah, memang di rumah ini saran dia paling tidak di dengar. Tapi, kalau saran dari orang lain tersebut nantinya ternyata salah. Maka, semua orang yang ada di rumah ini akan uring-uringan ke dirinya.

__ADS_1


__ADS_2