GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
KASANDRA


__ADS_3

Pagi itu Diandra sudah di depan kanvasnya.Imajinasinya sudah mulai jelas di angan-angan nya. Diandra ingin melukis sosok wanita polos, yang sedang duduk di tengah-tengah telaga dengan perahu kecilnya. Menatap langit- langit yang sedikit mendung pertanda hujan. Namun di kejauhan ada sosok pria kota yang tampan dengan berpenampilan bak CEO yang memperhatikan sosok wanita sederhana itu. Setidaknya itu baru gambaran dari pikiran Diandra. Dia tidak ingin menunda-nunda nya. Diandra segera menuangkannya di atas kain yang tebal dan kasar itu. Warna- warna mulai di coret coret kan dengan campuran warna alam yang alami.


Diandra tersenyum ketika dirinya mendapati wajah wanita polos yang sederhana itu. Dia mulai berpikir.


" Kok hasilnya seperti wajah Kasandra?" gumam Diandra sambil tersenyum.


Kasandra adalah seorang wanita yang pernah ia kenal dekat dengan dirinya. Dia satu fakultas dengan Diandra namun berbeda jurusan. Diandra mengambil jurusan seni rupa sedangkan Kasandra mengambil jurusan sastra. Dahulu Diandra begitu dekat dengan Kasandra karena sering menjumpai Kasandra di kos nya. Namun karena tipe Kasandra yang cuek seolah tidak menyadari akan maksud Diandra yang berusaha mendekati dirinya. Akhirnya malah Diandra berpacaran dengan kawan Kasandra yang masih satu kos dengan Kasandra. Mungkin saja Kasandra tidak menyukai Diandra atau pada saat itu memang Kasandra lagi belum memikirkan untuk berpacaran atau mungkin saja Kasandra sudah memiliki seorang kekasih. Nyatanya ketika Diandra jadian dengan kawan kos Kasandra, Kasandra masih bersikap cuek tidak menunjukkan kecemburuan atau penyesalan. Mungkin Diandra bagi Kasandra masih belum spesial dimatanya. Namun bagi Diandra, Kasandra masih membuat dirinya terpesona karena Keanggunan, Kelincahan nya, keuletannya, dan kecerdasan nya.


Saat itu Kasandra memang sudah bekerja selain dengan aktivitas kuliahnya. Ditambah lagi Kasandra juga sangat aktif dalam kegiatan kampus dan keorganisasian. Hal itulah yang menjadikan nilai lebih dimata Diandra. Walaupun sudah jadian dengan kawan Kasandra satu kos itu, Diam-diam Diandra masih memperhatikan Kasandra.


Dan kemarin lusa, Diandra bermimpi jumpa dengan Kasandra. Akhirnya muncullah gambaran di angan Diandra dituangkan dalam coretan atas kanvasnya.


"Bagaimana kabar kamu, Kasandra?" kata Diandra pelan sambil tersenyum menatap hasil coretan nya yang begitu mirip dengan wanita itu, yaitu Kasandra.


Ketika masih asyik dan tenggelam dalam imajinasi nya, Diandra dikejutkan dengan langkah kaki yang masuk ke dalam kamarnya. Yah, langkah kaki itu milik Diana. Diana tersenyum diam melihat hasil coretan yang dibuat oleh Diandra.

__ADS_1


" Ah Hai! Kamu lagi jatuh hati dengan seorang wanita, Diandra?" tuduh Diana sambil tersenyum melihat lukisan wanita dengan pose duduk di perahu ditengah telaga itu.


Lukisannya memang belum selesai seratus persen, namun ceritanya sudah mulai jelas. Pria yang dari kejauhan memperhatikan wanita itu. Seolah ingin menggapainya namun jurang dan jarak sangat jauh untuk mewujudkannya.


Diandra tidak menanggapi ucapan Diana. Baginya Diana hanya ingin mengganggu dan merendahkannya saja.


" Aku ingin membeli lukisan itu! Kamu ingin hargai berapa?" ucap Diana seolah merendahkan Diandra.


" Tidak akan aku jual kepadamu!" sahut Diandra seolah mengajak perang Diana.


Diana tertawa terbahak- bahak dengan sikap angkuh Diandra. Tepatnya mantan suami nya itu. Ya, mereka secara agama sudah bukan suami istri lagi.


" Baiklah! Kamu bisa mengambilnya! Anggap saja ini adalah hadiah dari aku untuk pernikahan kamu dengan suami barumu nanti." kata Diandra menyindir.


" Tidak! Aku akan membayarnya, Diandra! Aku tidak perlu hadiah dari kamu!" sahut Diana.

__ADS_1


" Tampaknya kamu lebih segar hari ini. Apakah kamu sudah terpuaskan oleh pria itu, Diana?" sindir Diandra lagi.


" Hahaha apakah kamu cemburu? Tentu saja, hanya pria itu yang bisa memuaskan aku ketika di atas peraduan." ucap Diana tanpa sungkan kepada Diandra.


" Syukur lah! Jadi kapan kamu menikah dengan pria itu?" tanya Diandra.


" Setelah urusan perceraian kita selesai!" jawab Diana.


" Baiklah! Aku akan mendoakan untuk kebahagiaan kamu. Kamu sudah pernah menjadi wanita yang spesial di hatiku dan memberikan putri yang cantik seperti Sifa. Aku tidak akan melupakan hal itu. Kamu yang dulu pernah mewarnai hidupku. Dan kamulah yang pernah memberikan mahkota keperawanan mu terhadap ku." kata Diandra melow.


" Hah? Jangan kamu ungkit soal malam pertama itu Diandra!" sahut Diana.


" Kenapa, kamu malu?" tanya Diandra.


" Sudahlah! Tidak perlu dibahas lagi! Aku akan menjumpai Sifa dulu." kata Diana.

__ADS_1


" Oh iya, Jangan lupa, aku akan tetap membayar hasil karya mu itu Diandra!" imbuh Diana sambil melangkah meninggalkan Diandra yang masih duduk di dekat kanvas nya.


" Diana! Kamu tetap ibu untuk Sifa. Maaf aku telah gagal menjaga kamu sehingga kamu mencari yang lain yang tidak kamu dapatkan dari aku." kata Diandra pelan.


__ADS_2