
Setelah kepulangan Elzatta, Kasandra menjumpai Gita yang menangis sedih di kamarnya. Kasandra berusaha menghibur kesedihan Gita. Namun Gita pun masih belum bicara jujur dengan Kasandra tentang alasan apa yang membuat hatinya bersedih.
" Sebenarnya apa yang kamu sedih kan, Gita? Kalau seperti ini aku tidak bisa menolong kamu." kata Kasandra. Gita akhirnya duduk di atas kasurnya itu.
" Aku sudah tidak apa- apa, Kasandra. Mungkin aku terlalu percaya diri jika laki-laki itu juga memiliki perasaan yang sama seperti aku. Ternyata dia menyukai kawan aku sendiri." kata Gita. Kasandra mulai menebak.
" Kamu menyukai Elzatta?" tanya Kasandra. Gita langsung memeluk Kasandra lalu kembali menangis tersedu- sedu.
" Maaf Kasandra! Aku menyukai Elzatta!" ucap Gita masih menangis.
" Tidak apa- apa Gita! Kenapa kamu minta maaf dengan aku? Elzatta bukan pacar aku kok! Elzatta bukan kekasih aku. Aku tidak mencintai nya. Sungguh!" kata Kasandra. Kini Gita melepaskan pelukan nya dan menatap wajah Kasandra. Kasandra mengangguk kan Kepala nya.
"Sungguh, aku tidak menyukai Elzatta. Aku menganggap Elzatta seperti sahabat aku sendiri, sama seperti kamu Gita." kata Kasandra. Gita kini tersenyum dan bernafas lega.
" Tapi Elzatta menyukai kamu, Kasandra." sahut Gita. Kasandra menghela nafasnya dengan kasar.
" Yang penting aku tidak suka dan hanya menganggap Elzatta sebagai teman. Tidak lebih." ujar Kasandra.
" Jadi, kamu berusaha lah! Siapa tahu kelak, Elzatta akan menyukai kamu." kata Kasandra yang membuat Gita tersenyum. Gita memeluk Kasandra.
" Ayo semangat dong! Selagi Elzatta belum punya istri kamu bisa pendekatan dengan dia." ucap Kasandra memberi semangat Gita. Gita akhirnya tersenyum lebar.
" Lalu, siapa yang kamu sukai kalau bukan Elzatta?" tanya Gita. Kasandra hanya tersenyum saja.
" Ayo katakan!" ucap Gita.
" Rahasia dong!" sahut Kasandra. Gita manyun bibirnya.
" Sudah ah bobok dulu! Besok ada agenda meeting di kantor." kata Kasandra. Gita mengerucut bibirnya.
" Duh yang sudah jadi asisten pribadi si bos besar." sahut Gita. Kasandra menjulurkan lidahnya.
" Iya, merangkap baby sitter! Besok harus bangun pagi, buatin bekal pak bos juga nih." ucap Kasandra sambil berlalu dari kamar Gita.
" Aku masih ada kesempatan mengejar cintaku. Elzatta! Oh Elzatta!" gumam Gita.
*******
Di ruangan kerja Diandra.
__ADS_1
Setelah acara meeting itu, Diandra kembali ke ruangannya diikuti oleh Kasandra. Kasandra menyerahkan hasil meeting yang sudah di print nya kepada Diandra. Diandra terlihat sibuk dan sudah fokus menatap layar di laptopnya.
Kasandra melihat jam yang melingkar ditangannya menunjukkan jam istirahat. Kasandra bergegas mengambil bekal makanan hasil masak nya itu lalu menggeser satu kursi di depan meja kerja itu lalu mulai mendudukinya, mendekati Diandra. Kasandra mulai mengambil makanan itu dengan sendok yang ia bawa juga dari rumah.
Diandra belum membuka mulutnya ketika sendok yang berisi makanan hasil masak Kasandra itu mendekati mulutnya.
" Sudah siang, mas! Tidak mau makan?" tanya Kasandra. Diandra menggeleng saja. Masih diam tidak bicara. Matanya fokus di layar laptop nya.
" Makan dikit dulu yuk, mas!" Kasandra seperti menyuruh anak balita yang lagi susah makan. Diandra menolaknya.
" Kalau tidak mau makan, apa mau ngemil saja? Aku buatin kamu puding vla susu loh, mas!" ujar Kasandra. Diandra kembali menolaknya.
" Atau mau minum aja?" tawar Kasandra. Kembali Diandra tetap tidak bergeming. Kasandra mulai menghela nafasnya pelan.
" Atau kamu ingin makan sesuatu, mas? Biar aku membelikan nya di luar." kata Kasandra. Diandra masih cuek dan sepertinya Kasandra benar-benar di cuekin Diandra hari ini.
Kasandra akhirnya merapikan makanan itu ke wadahnya. Kasandra kembali duduk di kursi sudut ruangan itu. Kasandra menatap Diandra yang seperti cuek akan keberadaan nya. Seperti ketika di ruangan meeting tadi, wajah dingin dan datar Diandra mulai terlihat. Kasandra seperti melihat Diandra hari ini berbeda dengan hari- hari yang lalu.
" Sebenarnya apa yang terjadi sih?" pikir Kasandra sambil memperhatikan Diandra.
" Apakah Diandra sedang ada masalah?" batin Kasandra.
" Apakah dia marah dengan aku?"batin Kasandra lagi.
" Aku buatin kopi untuk kamu yah, mas!" kata Kasandra kembali. Kembali Diandra enggan mengiyakan atau menjawab nya.
" Oke, aku buatin dulu yah." kata Kasandra kembali. Kasandra mulai membuatkan kopi untuk Diandra laku meletakkan nya di depan Diandra dan di atas meja kerjanya itu. Namun sampai setengah jam pun kopi buatan Kasandra tidak disentuhnya sama sekali.
Kasandra benar-benar bingung akan sikap Diandra. Ketukan pintu ruangan kerja Diandra terdengar. Pak Herman masuk dengan membawa secangkir kopi lalu meletakkan nya di atas meja Diandra.
" Terimakasih Pak Herman!" ucap Diandra. Kali ini Diandra berkata. Kasandra tersenyum senang, Diandra sudah mulai berbicara dengan Pak Herman.
" Kamu boleh pergi, Pak Herman!" ucap Diandra serius. Pak Herman keluar ruangan itu tanpa ada candaan seperti biasanya. Diandra mulai menyeruput kopi buatan Pak Herman. Sedangkan kopi buatan Kasandra dibiarkan dingin di atas meja itu.
Kasandra memperhatikan itu semuanya. Sakit hati? Kasandra hanya menelan ludahnya sendiri. Dia masih bingung kenapa Diandra seperti mendiamkan diri nya. Bahkan makanan dan minuman buatannya tidak mau memakan dan meminumnya. Kasandra masih menahan sesaknya dadanya. Kasandra berusaha menutupi sedihnya. Kasandra bertahan jangan sampai air matanya jatuh dengan sikap diam Diandra terhadap diri nya.
" Saya, permisi keluar dulu mas! Pasti mas menyukai iga bakar bukan? Aku akan membelikannya untuk mas." kata Kasandra sambil bergegas keluar dari ruangan kerja Diandra.
Setelah jauh meninggalkan ruangan kerja Diandra, Kasandra mulai menitihkan air matanya. Dia sudah tidak tahan berpura-pura manis dan tetap ceria. Kasandra berjalan meninggalkan gedung bertingkat itu dan mencari rumah makan yang menjual iga bakar kesukaan Diandra. Matanya masih terus saja menitikkan air mata. Kasandra sedih namun juga bingung. Diandra seperti marah namun apa yang menjadi penyebab kemarahan Diandra terhadap dirinya.
__ADS_1
" Apakah aku tadi melaksanakan kesalahan di ruang rapat?" pikir Kasandra berusaha mengingat kembali dari dia datang ke kantor sampai acara rapat perusahaan tadi. Namun Kasandra belum juga menemukannya.
Setelah membayar pesanan nya, Kasandra membawa bungkusan iga bakar itu. Lalu mulai berjalan menuju gedung bertingkat tempat kerjanya itu. Memang rumah makan iga bakar itu letaknya dekat dari kantor. Sehingga Kasandra hanya berjalan kaki saja kalau hendak membeli iga bakar itu.
Kasandra merapihkan wajahnya supaya tidak terlihat habis menangis. Kini Kasandra mulai masuk ke ruangan kerja Diandra setelah mengetuknya.Namun Diandra sudah tidak duduk di kursi kerjanya.
" Dimana Diandra? Apakah dia sedang di kamar mandi?" pikir Kasandra mulai mencari keberadaan Diandra. Benar saja, tidak lama Diandra keluar dari toilet di ruangan nya itu. Kasandra kembali tersenyum.
" Mas Diandra! Ini aku belikan iga bakar untuk kamu! Ayo makan! Atau kamu mau makan sendiri? Tidak ingin aku suapi?" ucap Kasandra masih menunjukkan keceriaan nya.
" Kamu makanlah! Aku mau pulang!" ucap Diandra lalu menyambar tasnya. Kasandra melongo dan diam menatap punggung Diandra yang keluar dari ruangan itu tanpa ada basa- basi seperti kemarin untuk mengantar Kasandra pulang.
Kasandra mulai pecah tangisnya. Dia sudah tidak peduli. Di ruangan itu, Kasandra mulai menangis terisak sendirian. Wajahnya ia tutupi dengan kedua telapak tangannya. Bahunya Berguncang hebat, betapa dia merasakan sesak dadanya sedari tadi dengan sikap Diandra terhadap dirinya.
Di balik pintu ruangan kerja itu, ternyata Diandra masih mengintip Kasandra. Diandra ikut merasakan sesak hatinya ketika melihat Kasandra menangis seperti itu. Betapa Diandra tidak tega melukai gadis yang ia puja selama ini. Kasandra terisak dan suara tangisnya pecah memenuhi ruangan kerja itu.
Diandra pelan- pelan masuk kembali ke dalam ruangan kerja nya. Kasandra masih dengan tangisnya duduk di kursi sofa ruangan itu. Diandra pelan- pelan meraih kepala Kasandra dan meletakkan di dalam dadanya. Diandra memeluk gadis itu yang masih sesenggukan.
" Maaf!" ucap Diandra lirih. Kasandra memukul dengan keras dadanya Diandra. Diandra menerimanya. Diandra menerima kekesalan dari Kasandra terhadap dirinya.
" Sudah yuk! Malu kalau nanti pak Herman masuk ke ruangan ini. Lihat kamu nangis seperti ini." ucap Diandra. Kasandra masih belum puas menangis nya.
Diandra memegang pipi Kasandra lalu mengusap air mata yang masih berjatuhan di sana.
" Jeleknya kalau menangis seperti ini." goda Diandra. Kasandra kembali memukul dada Diandra karena masih kesal.
" Ya sudah! Cup... cup... cup... ayo, aku sudah lapar. Boleh minta disuapin gak?" ucap Diandra. Kasandra melengos masih malas diajak baikan dengan Diandra.
" Kalau begitu, ganti aku yang menyuapi kamu saja yah!" kata Diandra kini mengambil kotak yang berisi paket iga bakar. Diandra membuka nya lalu mulai menyuapi nya ke mulut Kasandra. Kasandra membuka mulut nya. Diandra tersenyum geli dengan tingkah imut Kasandra.
" Lapar yah?" tanya Diandra. Kasandra mengangguk cepat dan tanpa malu berubah ekspresi nya dari sedih ke mode normal.
" Aku pun juga lapar." kata Diandra akhirnya sambil menyendok makanan itu masuk ke mulutnya sendiri. Kasandra jadi tersenyum setelah tangisnya yang panjang. Diandra menatap wajah Kasandra setelah tangisnya itu. Diandra merasa sangat menyesal telah membuat wanitanya itu menangis.
" Kasandra, maaf aku telah membuat kamu menangis!" ucap Diandra kembali merengkuh tubuh Kasandra. Diandra mengusap lembut pucuk kepala Kasandra.
" Aku bingung Diandra! Kamu dari pagi mendiamkan aku. Kamu tidak mau makan maupun minum. Aku buatin kopi tidak juga diminum. Tapi ketika Pak Herman membuat kan kopi untuk kamu, kamu meminumnya. Kamu keterlaluan." kata Kasandra dengan pelan namun dengan suara yang manja. Diandra semakin erat memeluk Kasandra.
' Maaf! Aku cemburu." kata Diandra. Kasandra melongo.
__ADS_1
" Sudahlah! Jangan dibahas. Kita lebih baik makan saja dulu." ucap Diandra lalu dengan cepat mengecup dahi milik Kasandra.
" Aku menyukai kamu, Kasandra! kamu jangan lagi berdua- dua dengan laki-laki lain." kata Diandra. Kasandra masih belum paham, siapa yang Diandra cemburuin?