
" Ayah! Tolong hari ini kita bawa mobil yah, ayah! Ini akan lebih keren, ayah! Jangan tunjukkan penampilan tidak miskin ayah. Eh maksudnya pura-pura miskin." protes Sifa.
" Astaghfirullah, anakku sayang!" sahut Diandra.
" Mana orang memperhatikan kita datang naik apa, nak? Ayah lebih nyaman naik motor." protes Diandra lagi.
" Tidak boleh! Sifa mau naik mobil!" kata Sifa. Diandra menarik nafasnya pelan. Akhirnya Diandra menuruti putri nya Sifa.
Mobil putih mewah yang jarang keluar dan hanya sering di panasin doang itu akhirnya keluar dari garasi rumah meraka. Mobil putih itu beberapa bulan ini hanya keluar jika ke rumah orang tua Diandra atau nenek, kakek Sifa. Selain itu keluar ketika Diandra ke kantor perusahaan keluarga nya jika mengharuskan kehadiran Diandra dalam acara meeting atau hal penting. Selain itu Diandra malah sering mengendarai motor nya.
" Ayah! Jangan lupa buket mawar putih dan coklatnya!" kata Sifa rempong habis. Diandra tersenyum melihat putri nya yang malah Sangat sibuk akan perihal ini.
*******
Kasandra dan Gita yang saat ini kerja di perusahaan yang sama langsung cepat- cepat keluar dari kantor itu setelah jam pulang kantor tiba. Mereka berdua langsung menuju ke lokasi dimana pertunjukan teater itu diadakan. Tentu saja Kasandra sudah mulai panik karena diri nya akan mementaskan tokoh dari peran utama di pertunjukan malam nanti. Ditambah dirinya belum make up sesuai lakonnya. Wajar saja jika Kasandra panik karena Kasandra akan berakting di atas panggung tetapi Gita lebih panik dan cemas dengan pertunjukan teater tersebut.
" Kamu kenapa ikut panik sih? Aturan aku dong yang mulai demam panggung. Ini kamu malah lebih panik daripada aku sih?" ucap Kasandra pada Gita.
" Itu artinya aku menginginkan pertunjukan kamu ini the best dan tidak ada kendala. Kalau begitu aku tinggal kamu dulu yah! Aku akan ganti pakaian dan membelikan sesuatu yang spesial untuk kamu. Awas yah! Pertunjukan kamu kali ini jangan sampai membuat aku kecewa. Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu setelah usai pertunjukan teater itu. Biar kamu menjadi pusat perhatian disitu. Dan aku ingin menunjukkan para penonton kalau tanpa adanya kamu pertunjukan teater itu tidak spektakuler. Hahaha." kata Gita serius.
" Ais! Kamu jangan mulai deh! Aku tidak suka didiskriminasi gitu. Nanti tanggapan kawan- kawan teater gimana coba? Kan jadi tidak enak." protes Kasandra.
" Aku tidak peduli! Anggap saja fans kamu banyak di sana." sahut Gita.
" Gita! Terimakasih dukungan kamu yah!" kata Kasandra sambil memeluk sahabat nya itu.
" Sudah jangan mewek! Aku cabut dulu yah! Bye Kasandra yang cantik!" kata Gita sambil melambaikan tangannya meninggalkan ruang ganti di gedung pertunjukan itu.
*******
__ADS_1
" Kasandra! Bagaimana, apakah kamu sudah siap?" tanya Elzatta sambil mendekati Kasandra.
" Aku sedikit khawatir Mas!" kata Kasandra kepada Elzatta.
" Kamu pasti bisa! Bukankah ini bukan untuk pertama kalinya kamu pentas dan memerankan tokoh utama? Tarik nafas kamu pelan lalu keluarkan!" kata Elzatta sambil meraih tangan milik Kasandra. Kasandra mengikuti arahan dari Elzatta.
" Eh??" Kasandra terkejut saat menyadari tangannya digenggam oleh Elzatta. Elzatta hanya tersenyum tanpa mau melepaskan.
" Tangan kamu dingin sekali! Aku hanya ingin membuat kamu sedikit tenang saja!" ucap Elzatta. Namun Kasandra malah melihat kanan kirinya, Kasandra takut jika Dita melihat hal ini apakah tidak jadi ribet urusannya nanti.
Elzatta mengusap- usap telapak tangan Kasandra supaya tangan yang dingin itu menjadi menghangat.
"Mas Elza! Terimakasih. Ini sudah lebih baik!" ucap Kasandra sambil menarik tangan nya dari genggaman Elzatta.
" Kamu cantik sekali malam ini! Aku yakin setelah ini kamu akan dilirik oleh sutradara Aris Susilo." ucap Elzatta.
" Sutradara Aris Susilo?" tanya Kasandra.
" Ah Mas Elzatta! Ini terlalu berlebihan kalau aku harus menjadi artis. Kalau aku nanti menjadi artis, mas Elzatta jadi asisten aku, mau gak?" goda Kasandra.
" Hahaha! Aku rela asal bisa menjaga kamu!" sahut Elzatta sambil tersenyum.
" Elzatta!! Ahh aku cari kemana- mana ternyata kamu ada disini?" teriak Dita sambil mendekati Elzatta dan Kasandra. Kasandra sesaat terdiam dengan datangnya Dita yang terlihat manja dengan Elzatta.
" Hai Kasandra!" sapa Dita.
" Hai Dita! Kamu cantik banget!" ucap Kasandra.
" Terimakasih banyak! Kekasih Elzatta harus terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan yang lain. Elzatta adalah salah satu produser yang dikenal oleh banyak sutradara." cerita Dita yang keceplosan.
__ADS_1
" Apa? Elzatta produser film?" batin Kasandra.
" Padahal aku tadi sudah sangat merendahkan nya. Menjadikan dia asisten pribadi ku jika aku menjadi artis. Walaupun itu hanya candaan. Tetapi itu membuat aku tidak enak. Aduh bodohnya aku." pikir Kasandra.
" Sudahlah! Ayo Elzatta! Kita minum dulu yuk! Kau sudah bawakan es cappucino untuk kamu!" ajak Dita sambil menggandeng Elzatta dan menariknya jauh dari Kasandra. Kasandra hanya berdiri mematung tanpa bisa berkata.
" Kasandra! Kami pergi dulu yah!" kata Elzatta sambil mengedipkan matanya.
Kasandra hanya melemparkan senyumnya kepada pasangan kekasih itu.
*******
Acara pertunjukan sudah dimulai. Penonton sudah duduk di kursinya Masing-masing. Mereka menyaksikan acara pertunjukan dengan khidmat. Diandra dan Sifa tentu sudah berada diantara banyaknya penonton pertunjukan teater tersebut. Diandra dan Sifa benar-benar duduk di barisan pertama. Sifa selalu sibuk mengabadikan momen indah dari pertunjukan teater tersebut. Tentu saja, Sifa banyak mengambil foto- foto Kasandra ketika sedang memerankan tokohnya.
" Ayah! Benar-benar sangat cantik dan bersinar tante Kasandra! Tidak heran jika ayah sangat mengagumi dan selalu merindukan tante Kasandra." bisik Sifa di dekat ayahnya.
Diandra hanya tersenyum dengan putrinya yang sedari tadi menggoda nya. Mata Diandra tidak lepas dari arah Kasandra ketika Kasandra berakting secara totalitas.
" Kasandra! Malam ini bolehkah kamu hadir kembali dalam mimpi aku?" pikir Diandra sambil melihat Kasandra yang sedang mempertunjukkan aksinya.
" Ayah! Tante benar-benar seperti bintang. Hanya dialah yang memiliki aura bintang yang kuat. Aku saja sampai terpukau melihat penampilan nya. Ayah.. ih aku gemes banget!" ucap Sifa yang tanpa sadar malah mencengkram tangan ayahnya dan menggigit nya.
" Sayang! Ini tangan ayah! Jangan digigit dong. Ini sakit." protes Diandra.
" Eh maaf ayah! Setelah usai pertunjukan, ayah jangan lupa kasih hadiah dan buket nya. Awas saja kalau ayah malu mengejarnya ke panggung sana." ancam Sifa.
Sifa menatap ayahnya seperti ada khawatir dan rasa deg deg ser itu.
" Ayah! Tunjukkan kalau ayah penggemar berat nya. Ok!" bisik Sifa kembali.
__ADS_1
" Kasandra! Aku akan mengejar mimpi itu!" pikir Diandra masih dengan mata yang tertuju pada sosok wanita yang saat ini menjadi obyek di lukisannya.