GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
URAT MALU PUTUS


__ADS_3

Diandra membanting pintu ruangan yang selalu digunakan untuk kegiatan melukisnya. Diandra kesal dan sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh mantan istrinya bersama kekasihnya itu di ruangan nya. Apa maksud mereka mempertontonkan kemesraan dan keintiman itu di depan matanya. Diandra juga masih memiliki perasaan. Hatinya belum mati karena bagaimana pun juga, Diana pernah singgah dan mengisi relung hatinya. Diana pernah membuat dirinya bahagia apalagi sudah memberikan seorang putri yang cantik yaitu Sifa. Buah hatinya ini sebagai bukti kalau diantara mereka pernah menciptakan keindahan hidup bersama. Walaupun Diandra saat ini sudah tidak berhak cemburu dengan mereka, namun bukan berarti mereka melakukan semua itu di depan matanya.


" Sebenarnya aku yang masih belum ikhlas kamu bersamanya atau memang kalian sudah sama-sama gilanya. Sehingga urat malu kalian sudah hilang?" kata Diandra sambil menarik rokoknya dalam hisapan yang kasar.


Tidak lama keduanya keluar menghampiri Diandra yang duduk termenung di taman belakang rumah megah itu. Senyuman diantara kedua terlempar nyata kearah Diandra. Lalu mereka duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa- apa.


" Apa kamu ingin kopi? Biar Diana yang akan membuatkan itu untuk kamu." kata Diandra sambil melirik Diana seolah memberikan perintah kepada Diana.


" Tidak perlu! Kami sudah cukup letih dengan pertempurannya yang super kilat itu. Aku pun juga tidak mau wanita ku ini capek setelah bertempur dengan aku." kata Pandu sambil terkekeh.


" Apakah kalian suka sekali menunjukkan hal pribadi itu kepada orang lain? Apakah kalian khusus nya kamu tidak pernah takut jika kelak istri kamu diincar pria lain untuk merasakan pelayanan atau servis di atas ranjang itu?" kata Diandra seolah memprotes mereka berdua yang terlalu sembrono dan liar mempertontonkan hal- hal pribadi di depan orang lain.

__ADS_1


" Maaf, mas! Apakah ini juga berlaku bagi mas Diandra? Apakah mas Diandra menjadi berkeinginan bermain kembali dengan calon istri aku ini, mas?" kata Pandu menuduh.


" Ehh??" kaget Diandra yang seketika membulat matanya.


" Kalau mau, mungkin aku akan memberikan kesempatan kepadamu, mas untuk itu. Diana pasti tidak akan keberatan jika melakukan itu lagi dengan kamu, mas! Anggap saja itu adalah perpisahan terakhir kalinya karena kalian sudah tidak menjadi suami istri lagi." ucap Pandu tanpa ragu- ragu.


" Apakah bibir kamu tidak bergetar sedikitpun mengatakan itu? Seorang wanita yang menjadi kekasih hati kamu, kamu dengan rela memberikannya kepada pria lain untuk bermain di atas ranjang. Aku sekarang menjadi berpikir. Apakah kamu benar-benar menyayangi mantan istriku ini atau hanya untuk digunakan sebagai pemuas nafsu kamu dan memenuhi segala kebutuhan dan gaya hidup kamu?" sindir Diandra yang membuat Diana dan Pandu mulai emosi dan membulat bak kelereng.


" Yang pasti kami melakukan ini semua tanpa paksaan dan suka sama suka. Dan aku tidak ada merasa dirugikan oleh permintaan dari kekasihku ini." sahut Diana lagi.


" Oke! Oke! Maaf aku sudah lancang berbicara ini kepada kalian. Namun kalian jangan sekali- kali mengulangi tindakan menjijikan itu lagi di rumah aku dan bahkan di depan mataku kalian dengan sengaja melakukannya. Apakah kalian sudah tidak mempunyai urat malu? Urat malu kalian apakah sudah putus?" ucap Diandra lalu berdiri meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


" Hai kamu, mas! Jangan pergi!" teriak Diana sambil menarik lengan Diandra.


Diandra menoleh menatap tajam kearah kedua nya secara bergantian.


" Ada apa lagi?" tanya Diandra.


" Jadi kapan, lukisan kami selesai?" tanya Diana.


" Besok bisa kamu ambil!" jawab Diandra dengan datar.


" Oke! Aku akan membayar mahal untuk itu." kata Diana yang membuat Pandu seolah tidak menyukainya ketika Diana begitu royal terhadap mantan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2