
Sepasang kekasih itu masih di dalam kamar Gladis. Gladis dan Dika sudah membersihkan dirinya di bathub dalam kamar pribadi Gladis. Senyuman merekah kembali terukir dari wajah Dika. Dika serasa puas bersama Gladis dari di villa sampai di rumah Gladis pun masih mendapatkan kenikmatan yang menghangatkan itu.
" Kamu tidak bercanda kan, sayang? Melukis aku dengan tubuh yang polos itu?" tanya Dika dengan mata berbinar.
" Tergantung!" jawab Gladis dengan senyuman nakalnya.
" Hahaha! Jangan bilang, kalau kamu akan memandangi foto aku ketika polos begitu." tuduh Dika sambil merapikan rambut milik Gladis yang masih basah karena mandi keramas.
" Kamu pasti yang akan melototi foto dengan tubuhku yang polos itu." sahut Gladis akhirnya.
" Hahaha kalau itu, jujur aku akan mengakui nya, sayang! Karena bagiku kamu membuatku semakin menggilai kamu. Dan kamu sudah menjadi candu bagi aku." ucap Dika jujur.
" Bagi aku ini juga indah dan memiliki nilai seni yang cukup tinggi dalam renainssan." ucap Gladis karena sebagai pelukis dan pencinta seni.
" Aku akan melukis nya untuk kamu, Dika!" kata Gladis akhirnya sambil tersenyum.
" Baiklah, aku menyerah! Namun jangan lupa sertakan wajah kamu juga sayang! Dan aku akan membelinya dengan harga mahal untuk itu." ucap Dika memberikan penawaran.
" Oke! Namun aku tidak dengan pose polos begitu yah, paling tidak aku dengan berbalutkan handuk atau kemeja putih saja. Oke!" tawar Gladis lagi.
__ADS_1
" Baiklah! Yang terpenting ada kamu di dekat lukisan kau yang menurut kamu sangat indah dan memiliki nilai tinggi dalam seni." ucap Dika mengalah.
" Oke! Jadi mau kamu hargai berapa, Dika?" tanya Gladis.
" Lima ratus juta." jawab Dika ringan.
" Baiklah! Transfer sekarang juga beserta nominal lukisan pemandangan kemarin." pinta Gladis sambil membuka ponselnya dan berjalan ke luar menuju ruang tamu. Dika mengikuti langkah Gladis yang hendak ke ruang tamu.
Sesaat keduanya kembali duduk di ruang tamu itu. Sesekali obrolan ringan kembali keluar dari mulut mereka berdua.
" Sudah masuk kan, sayang! Sudah aku transfer satu milyar. Sisanya bisa buat shopping kamu, sayang." kata Dika dengan entengnya.
" Tidak! Tidak! Kamu sudah cukup membuat aku senang dari di villa sampai di sini pun aku bersama masih merasakan kebahagiaan itu Kamu sudah membuat candu bagi aku, sayang." kata Dika jujur.
" Baik! Thank you!" sahut Gladis sambil mengecup bibir Dika yang seksi dan super tebal.
Dika tersenyum lebar. Dan menatap Gladis dengan kasih sayang.
" Kamu mau makan gak, Dika?" tanya Gladis lalu berjalan ke ruang makan.
__ADS_1
Dika mengikuti Gladis seolah-olah seperti sudah terbiasa berada di rumah itu.
Mereka akhirnya melahap makanan yang sudah di sajikan di atas meja oleh Mbak Tutik.
Tidak berapa lama suara klakson mobil terdengar. Dan itu sudah bisa dipastikan kalau papa, mama Gladis telah datang.
" Apakah itu papa, mama kamu yang datang, sayang?" tanya Dika sedikit khawatir.
" Kelihatannya seperti itu. Apakah kamu mulai takut menghadapi papa, mama aku?" tebak Gladis sambil tersenyum.
" Ah mana mungkin! Aku laki-laki yang gentleman, sayang! Aku akan baik- baik saja." ucap Dika sombong.
" Syukurlah! Aku menyukai laki-laki yang pemberani dan penuh tanggung jawab." sahut Gladis tersenyum.
" Gladis!" panggil Dika pelan.
" Heem?" sahut Gladis.
" Aku menyukaimu!" ucap Dika gombal banget.
__ADS_1
Gladis hanya tersenyum mendengar nya.