
" Aku akan mengantarkan mu pulang!" kata Dika kepada Gladis. Namun Gladis menanggapi nya dengan senyuman nya.
" Loh, aku serius loh, sayang! Kamu beranggapan seolah aku hanya bercanda dan bermain saja." tambah Dika yang melihat Gladis hanya tersenyum tidak percaya akan ucapan Dika.
" Baiklah! Thank you! Tapi kamu hanya mengantarkan aku sampai di depan gerbang saja, bukan?" tanya Gladis.
" Tentu saja, aku akan masuk ke dalam rumah dan menjumpai papa, mama kamu, sayang!" kata Dika sambil tersenyum.
" Oke! Aku akan melihat, apakah benar semua yang kamu katakan." sahut Gladis menantang.
Dika masih bertelanjang dada dan berdiri hanya berbalutkan handuk sampai dipinggang. Gladis tersenyum dengan tatapan tak berkedip melihat dada bidang milik Dika. Gladis mendekati Dika yang sudah duduk di depan kanvas yang sudah disiapkan Gladis untuk melukis dirinya. Sedangkan Gladis sendiri masih menggunakan selimut putihnya untuk menutupi badannya.
" Kamu mau ngapain, Dika! Sana mandi!" suruh Gladis.
__ADS_1
Dika malah tersenyum sambil berdiri meraih Gladis yang mendekati dirinya.
" Tidak! Nanti saja! Aku akan melakukan ritual lagi dengan kamu." kata Dika tersenyum nakal.
" Dika! Beri aku waktu untuk bernafas dong! Aku sudah lelah." ucap Gladis yang berusaha memberontak karena pelukan Dika makin kuat.
Kini Dika malah menunduk dan berada di bawah Gladis yang berdiri. Kini kepala Dika malah sudah berada di bawah perut Gladis dan mulai bermain- main di sana. Gladis tanpa ampun akhirnya pasrah akan tarian nakal lidah Dika yang mulai berputar- putar di area terlarang milik Gadis. Lenguhan mulai terdengar dan kini sedikit teriakan kecil keluar dari mulut Gladis. Mata yang tadinya membulat kini kembali meredup karena Gladis berasa terbang merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Dika.
Dika sedikit melebarkan paha milik Gladis dan kembali bermain- main di goa kecil yang mulai menganga itu. Betapa Gladis tidak kuasa menahan kakinya yang berdiri tegak itu karena tiga jari Dika dengan nakal pun ikut menerobos ke sana. Dika sesaat tersenyum melihat Gladis yang menikmati segala permainan jarinya dan lidahnya. Bagi Dika membuat Gladis tidak berdaya dan mencapai kenikmatan suatu kepuasan bagi nya. Melihat wanita nya bisa mencapai ******* dalam permainan itu adalah suatu kebanggaan bagi seorang laki-laki dalam memberikan pelayanan dan mengimbangi permainan.
" Dika!!" mulut Gladis bersuara agak keras.
Kembali Dika tersenyum nakal dan kini kepala itu kembali turun ke bawah perut Gladis dan kedua tangannya sudah sedikit melebarkan kedua kakinya. Gladis menjambak kuat rambut milik Dika yang masih bermain di bawah sana.
__ADS_1
" Dika!" panggil Gladis malah semakin menekan kuat kepala Dika yang lidah dan keempat jarinya masuk semua ke goa yang sudah sangat becek dengan genangannya.
Dika sangat puas melihat Gladis tidak berdaya itu. Tiba-tiba Dika merasakan sesuatu yang hangat keluar dari goa itu. Dika secepatnya menyesapnya dan menelan semuanya. Hingga tubuh Gladis yang awalnya menegang kini mulai lemah dan bagian sana mulai berdenyut kencang.
Dika tersenyum lebar. Kaki Gladis melemah setelah pelepasannya. Dika lalu menggendongnya dan meletakkan nya di ranjang. Dengan sedikit dilebarkan kaki Gladis, Dika menghujam bagian inti milik Gladis. Gladis berteriak keras. Hentakan- hentakan keras dan cepat dilakukan oleh Dika. Hingga kembali menegang dan kembali sesuatu yang agak kental itu masuk ke dalam rahim milik Gladis.
Dika terkulai di samping Gladis yang berbaring di ranjangnya. Gladis memeluk Dika dan Dika mengecup kening Gladis.
" Setelah ini aku akan menikahi kamu sayang!" janji Dika sambil tersenyum dan mencium Gladis.
" Walaupun kedua orang tuamu tidak memberikan restu kepadamu?" tanya Gladis.
" Iya, walaupun mereka tidak menyetujui nya." jawab Dika akhirnya.
__ADS_1
" Aku menantikan hari itu tiba." sahut Gladis seolah menantang akan kebenaran ucapan Dika.