GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
PERSIAPAN LIHAT TEATER


__ADS_3

" Ayah! Kata wanita itu, disini juga melayani tiket masuk untuk menyaksikan pertunjukan teaterikal itu." kata Sifa dengan mata bersinar.


Diandra ikut berbinar matanya. Hatinya sangat bahagia mendengar Sifa memberitahu akan hal ini.


" Ayah! Beli langsung disini kan? Aku juga mau lihat juga deh pertunjukan teater itu." kata Sifa bersemangat.


Diandra tanpa berucap menarik dompetnya yang diletakkan disaku celananya dan menyerahkannya pada Sifa. Sifa mengambil dompet yang diberikan oleh ayahnya lalu bergegas ke wanita yang sudah siap melayani pembelian tiket masuk melihat pertunjukan teater itu.


" Alhamdulillah ya Tuhan! Aku akan melihat kamu Kasandra!" gumam Diandra sambil tersenyum.


*******


Hari yang ditunggu- tunggu oleh Diandra telah tiba. Diandra dari jauh- jauh hari sudah mempersiapkan dirinya. Penampilan nya yang kini mulai lebih segar ditambah gayanya lebih terlihat seperti anak muda. Sifa, putrinya sangat membantu merubah penampilan Diandra. Diandra ingin dan sangat berharap bisa menjumpai Kasandra usai pertunjukan itu. Sore itu Diandra dan Sifa sudah bersiap menyaksikan pertunjukan teater yang salah satu tokohnya adalah Kasandra.

__ADS_1


" Ayah! Hari ini ayah terlihat begitu manis sekali!" goda Sifa.


" Manis? Gula kali?" sahut Diandra.


" Benar ayah! Ayah lebih terlihat muda." nilai Sifa.


" Terimakasih, anakku!" sahut Diandra yang sebenarnya sudah sangat malu diledekin oleh Difa terus.


Sifa sudah mengetahui sosok yang dikagumi oleh ayahnya. Banyak lukisan ayahnya saat ini dengan obyek Kasandra. Persiapan pameran lukisan untuk akhir tahun nanti bersama beberapa pelukis dalam kota maupun luar kota. Siang dan malam Diandra kejar tayang membuat dan menciptakan karya seni lukisannya. Modal dari Diana yang meminta melukis dirinya dan pacarnya, Diandra gunakan untuk membeli bahan- bahan dasar melukisnya. Sisanya buat tabungan dan untuk Sifa putri nya. Diandra merasakan kenikmatan tersendiri ketika menikmati hasil dari melukisnya dibandingkan dengan jatah bulanan dari beberapa saham perusahaan milik keluarga nya itu. Ini sungguh berbeda sekali.


" Hah? Kok kamu yang sibuk sekali sih, nak?" sahut Diandra.


" Habis ayah kurang romantis dan inisiatif. Kalau begitu ayah, jangan lupa nanti kita belikan beberapa coklat yah. Nanti kita berikan ke tante Kasandra beserta buket mawar putihnya. Jangan lupa di sana kasih juga no ponsel ayah dan ucapan nya. Supaya setelah ini tante Kasandra bisa menghubungi ayah." ucap Sifa dengan idenya.

__ADS_1


" Hah?" Diandra malah melongo mendengar ide dari Sifa.


" Ayo kita berangkat, ayah!" ajak Sifa akhirnya.


Sifa menarik tangan Diandra menuju garasi rumah mereka. Diandra mulai mengeluarkan sepeda motor nya, namun dengan cepat Sifa memproses nya.


" Ayah! Tolong hari ini kita bawa mobil yah, ayah! Ini akan lebih keren, ayah! Jangan tunjukkan penampilan tidak miskin ayah. Eh maksudnya pura-pura miskin." protes Sifa.


" Astaghfirullah, anakku sayang!" sahut Diandra.


" Mana orang memperhatikan kita datang naik apa, nak? Ayah lebih nyaman naik motor." protes Diandra lagi.


" Tidak boleh! Sifa mau naik mobil!" kata Sifa. Diandra menarik nafasnya pelan. Akhirnya Diandra menuruti putri nya Sifa.

__ADS_1


Mobil putih mewah yang jarang keluar dan hanya sering di panasin doang itu akhirnya keluar dari garasi rumah meraka. Mobil putih itu beberapa bulan ini hanya keluar jika ke rumah orang tua Diandra atau nenek, kakek Sifa. Selain itu keluar ketika Diandra ke kantor perusahaan keluarga nya jika mengharuskan kehadiran Diandra dalam acara meeting atau hal penting. Selain itu Diandra malah sering mengendarai motor nya.


" Ayah! Jangan lupa buket mawar putih dan coklatnya!" kata Sifa rempong habis. Diandra tersenyum melihat putri nya yang malah Sangat sibuk akan perihal ini.


__ADS_2