GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
PUTRA MAHKOTA


__ADS_3

" Tapi aku bisa membawa kanvas aku ke kantor kan, pa?" rengek Diandra dengan mata yang lucu.


" Haha terserah! Kalau itu yang membuat kamu senang! Mainkan saja! Asal pekerjaan kamu disini beres! Oke, ponakan ku yang ganteng!" ucap Tante Fina.


" Tante Fina memang paling cantik dan selalu memahami ponakan nya." sahut Diandra sambil memainkan matanya.


*******


Hari itu juga, Diandra mulai masuk ke ruang kerjanya. Ruangan kerja yang sudah lama tidak ia tempati. Kini dia mulai berbenah dan mulai sedikit merubah posisi meja kerjanya. Diandra mulai besok akan memberikan sedikit ruang untuk melukis di ruang kerjanya itu. Bagi Diandra, dimana pun juga bisa mengekspresikan segala daya kreasi dan imajinasinya dalam bentuk lukisan. Lukisan dari daya khayalan maupun obyek yang nyata ia lihat. Diandra menatap jauh dari balik jendela kaca ruangan kerjanya. Sosok Kasandra sedang duduk bersama teman perempuan nya. Mereka sedang menikmati makan siangnya di warung yang menjadi favorit karyawan di perusahaan itu. Diandra tersentak kaget melihat pemandangan itu.


" Apakah itu benar-benar Kasandra? Apa aku tidak salah melihat nya?" pikir Kasandra sambil Meng kucek matanya.


"Jadi, dia kerja di perusahaan ini? Di divisi mana? Aku harus mencari tahu dimana dia ditempatkan." gumam Diandra.


Diandra mulai menghubungi bagian data karyawan di perusahaan itu.


Seorang laki-laki mengetuk pintu ruangan Diandra dan mulai masuk setelah Diandra mempersilahkan masuk ke dalam ruangan nya.


" Saya Herman pak! Ada yang saya bantu?" tanya Pak Herman yang terlihat masih muda, Kira-kira umurnya juga sebaya dengan Diandra yang masih berkepala tiga.


" Duduklah pak! Saya Diandra!" kata Diandra sopan seolah dirinya di perusahaan itu adalah orang baru. Padahal siapa yang tidak mengenal ahli waris atau putra mahkota dari Pak Adityawarman, Presdir perusahaan konstruksi itu.


Pak Herman duduk di depan meja kerja milik Diandra. Sikapnya masih sopan kepada Diandra. Diandra tidak suka dirinya terlalu di agung- agungkan seperti itu. Diandra lebih suka kalau semuanya dianggap seperti kawan namun tetap sesuatu batasannya.


" Jangan sungkan Pak Herman! Kita sebaya bukan? Mulai sekarang aku ingin lebih dekat dengan kamu." kata Diandra ingin berusaha mengakrabkan dirinya dengan Herman yang menjabat sekretaris itu.


" Saya tidak berani lancang, pak Diandra! Saya tahu posisi saya di perusahaan ini." sahut Pak Herman sambil tersenyum.


" Hahaha, aku suka sekali gaya santai namun serius dari kamu!" ucap Diandra yakin kalau laki-laki di depannya ini bisa diajak menjadi teman, sahabat, saudara dan juga partner kerja yang bisa dipercaya dan diandalkan.


" Pak Diandra mau kopi atau yang lainnya?" tawar Pak Herman karena sejak tadi Diandra masih belum menyampaikan perihal apa, kenapa dirinya disuruh menghadap ke ruangan nya.

__ADS_1


" Nanti saja, setelah aku menanyakan tentang seseorang kepada Pak Herman." sahut Diandra.


"Baiklah, Pak!" kata Pak Herman sambil menunggu kelanjutan dari Diandra yang mulai bertanya tentang seseorang yang dimaksudkan tadi.


" Aku minta tolong, Pak Herman! Coba kamu cari gadis yang bernama Kasandra Ratnasari. Kira-kira dia bekerja disini di bagian apa?" kata Diandra akhirnya. Pak Herman sesaat memikirkan nama yang baru saja disebut oleh Diandra.


" Kasandra Ratnasari? Gadis yang suka mengikuti pertunjukan teater dan akting itu yah?" sahut Pak Herman.


" Benar? Kamu mengenalnya, Pak Herman?" Diandra sangat terkejut.. Diandra mulai berpikir, mana mungkin gadis yang memiliki aura yang kuat dan memiliki kecantikan alami itu tidak menjadi sorotan di sini. Ditambah tipe Kasandra memang mudah bergaul dengan siapa saja.


" Saya hanya sebatas tahu saja, Pak Diandra! Jangan khawatir!" ucap Pak Herman seolah paham akan pikiran Diandra jika laki-laki model Herman juga ikut mendekati Kasandra.


" Hahaha, Pak Herman tahu aja! Jadi? Dia di bagian apa?" tanya Diandra sedikit tidak sabar.


" Kasandra Ratnasari salah satu tim pengawasan konstruksi yang mengawasi pelaksanaan pekerjaan konstruksi dari segi kualitas, kuantitas serta laju pencapaian progres pekerjaan. Mengawasi pekerjaan serta produk nya, mengawasi ketetapan waktu dan biaya pekerjaan agar tidak menyimpang dari perjanjian kontrak yang dibuat. Tentu saja Kasandra Ratnasari bekerjasama dengan tim nya turun langsung ke lapangan." cerita Pak Herman panjang lebar.


" Apakah harus kamu jelaskan sedetail itu, Pak Herman?" sahut Diandra yang sambil terkekeh-kekeh karena Pak Herman menjelaskan tentang Kasandra sampai ke tugas- tugasnya di perusahaan ini.


" Mana tahu, Pak Diandra ingin buru- buru menjadikan istri gadis itu. Jauh- jauh hari saya harus memikirkan pengganti nya juga, Pak! Kalau setelah menikah Kasandra Ratnasari tidak bekerja lagi di sini." sahut Pak Herman mulai ingin bercanda dengan Diandra.


" Jadi hanya itu saja, Pak Diandra bertanya soal gadis itu? Pak Diandra tidak ingin mengetahui alamat rumah, nomer HP nya, nama orang tuanya siapa?" goda Pak Herman yang mulai tidak sungkan bercanda dengan Diandra.


" Boleh! Aku juga perlu itu semua!" sahut Diandra. Pak Herman menjadi ikut tertawa karena Diandra tertawa juga.


" Jadi, akan saya pesankan kopi atau apa ini Pak?" tanya Pak Herman berusaha memberikan pelayanan yang baik untuk pimpinan nya itu.


" Kopi hitam saja, Pak!" sahut Diandra sambil tersenyum.


" Siap, Pak Diandra! Oh iya Pak! Titip salam buat Kasandra Ratnasari tidak pak?" goda Pak Herman lagi.


" Hahaha! Aku sangat menyukai kamu, Pak Herman! Lain waktu aku akan mengajakmu nongkrong dan ngopi bersama." ucap Diandra yang sudah merasa akrab dengan Pak Herman. Pak Herman mudah sekali masuk ke pribadi Diandra. Jadi mereka serasa sudah seperti kawan lama saja walaupun batasan Pak Hendra sangat jauh dari Diandra. Kalau Diandra tidak memulai mengajaknya bercanda dan berbicara santai, Pak Herman juga tidak mungkin berbicara tidak sopan terhadap Diandra.

__ADS_1


Pak Herman keluar dari ruangan Diandra. Diandra kembali membuka layar ponselnya. Diandra melihat kontak Kasandra.


" Dia masih memblokir aku! Mungkin besok aku harus berpikir untuk bertemu dengan nya. Atau aku memanggilnya ke ruangan ku? Tapi ini terlalu terburu- buru. Aku juga akan membuatnya terkejut karena aku juga bekerja di gedung yang sama dengan nya." pikir Diandra.


" Aku menjadi semakin bersemangat untuk kerja di sini. Setelah bertahun-tahun, papa berusaha membujuk aku untuk terjun dan aktif di perusahaan. Namun aku malah cuek saja dan malas. Kalau ada Kasandra disini, setiap hari pun aku akan selalu datang ke gedung ini." pikir Diandra.


" Hai, kamu ngapain nak? Apakah masih ada yang perlu di tambah untuk ruangan kerja kamu, nak?" kata Pak Adityawarman, papa Diandra yang tiba-tiba datang dan masuk ke ruangan Diandra.


" Papa! Bikin kaget saja!" sahut Diandra sambil menjabat tangan dan mencium tangan papa nya dengan penuh hormat.


" Hahaha, gitu saja kaget loh! Kamu sudah makan belum?" tanya Pak Aditya.


" Belum, pa! Lagi dibuatkan kopi sama Pak Herman. Oh iya, pa! Aku bisa minta satu orang untuk menjadi asisten pribadi aku tidak, pa?" tanya Diandra.


" Silahkan saja! Asal kamu betah dan rajin di kantor ini. Kamu harus bisa diandalkan dan ikut mengembangkan perusahaan ini, nak! Papa sudah harus banyak istirahat. Papa, tinggal duduk manis menerima laporan saja dari kamu." kata Pak Adityawarman sambil tersenyum.


Suara ketukan pintu terdengar dan Pak Herman sudah datang dengan membawa dia cangkir kopi hitam.


" Ini pak, silahkan di minum kopinya!" kata Pak Herman sopan.


" Kok dua,Pak Herman?" tanya Diandra.


" Siapa tahu Pak Diandra kurang kalau cuma satu cangkir kopi saja!" sahut Pak Herman. Pak Adityawarman yang mendengarkan nya menjadi tertawa.


" Oh iya, Pak Herman! Anakku minta satu asisten pribadi buat dirinya. Pak Herman, bisa mencarikannya, pak!" kata Pak Adityawarman.


Pak Herman melihat Diandra yang tersenyum kepada nya. Pak Herman seketika memainkan matanya.


" Asisten pribadi yang cantik, kan pak?" goda Pak Herman kepada Diandra. Diandra seketika terkekeh-kekeh. Pak Adityawarman menatap ke arah putranya, Diandra.


" Diandra! Jangan macam- macam! Kamu sudah punya Diana. Kamu mau di potong burung kamu sama istri kamu?" sahut Pak Adityawarman. Pak Herman menjadi melongo.

__ADS_1


" Papa! Buat semangat dan betah kalau ke kantor!" sahut Diandra.


Perceraian antara Diandra dan Diana memang belum diketahui oleh pihak keluarga. Antara Diandra dan Diana memang sudah sepakat belum memberitahukan kepada mereka. Sampai Diana dan Diandra nanti siap untuk menyampaikan sendiri dengan orang tuanya dan juga mertuanya itu.


__ADS_2