GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
MEMBELA DIRI


__ADS_3

Masih di rumah kakek nenek Sifa, Diandra kini sudah berhadapan dengan papa, mama dan juga Diana.


Pandangan tajam mata papa nya sangat menusuk jantung Diandra. Apalagi mama nya seperti menyalahkan dirinya. Perceraian dirinya dengan Diana padahal bukanlah Diandra yang meminta. Namun Diana lah yang mulai berulah dan bermain api sebelumnya. Hingga pisah ranjang hampir satu tahun lamanya itu terjadi sebelum perceraian diputuskan. Diana lah yang terang- terangan mengakui kepada Diandra kalau dirinya sudah tidak. memiliki rasa kepada Diandra sehingga Diana menjalin hubungan dengan seorang pemuda yang jauh lebih muda dibandingkan dengan Diana. Istilah kasarnya Diana memelihara brondong muda untuk mencari kesenangan dirinya serta kesepian nya. Walaupun akhirnya mereka berencana akan melanjutkan hubungan yang lebih serius yaitu pernikahan.


" Masalah sebesar ini pun kamu tutupi! Maksud kamu apa hah?" ucap papa Diandra, Pak Adityawarman mulai keluar taringnya. Diandra masih diam sambil. melihat mama dan Diana bergantian.


" Ini masalah rumah tangga kecil kami, pa! Dan ini sudah diputuskan kalau kami sudah resmi bercerai dan bukan lagi suami istri. Mau apa lagi pa? Kenapa harus dibahas dan dipermasalahkan kembali?" kata Diandra tegas yang membuat mama nya serius menatap putra mahkota nya itu. Pewaris tunggal dari perusahaan keluarga yang sudah dirintis, dikembangkan hingga punya nama yang patut diperhitungkan dalam deretan perusahaan elit di negara itu.


" Setidaknya kalian harus membicarakan kepada kami. Kami ini orang tua kalian. Kami seperti tidak kalian anggap sama sekali." ucap Papa Adityawarman ya g mendapatkan pembenaran dari mama Diandra.

__ADS_1


" Maaf, papa! Bukan itu maksud aku! Maaf pa!" ucap Diandra sambil menunduk.


" Ya sudah, semua sudah terjadi. Lalu mertua kamu apakah sudah mengetahui putusan cerai ini? Pernikahan kalian ini adalah penyatuan dua keluarga besar tidak sekedar kalian menikah lalu nyari enak- enak saja serta memiliki anak. Bukan hanya itu saja anakku." kata Pak Adityawarman.


" Benar ayah! Maaf saya mendahului dan memutuskan semuanya secara sepihak." sahut Diandra kembali meminta maaf kepada papanya. Lagi pula percuma juga kalau dirinya hendak membela diri. Entah Diana tadi bicara apa saja dengan mama, papa nya.


" Saya juga minta maaf, pa ma! Saya juga bersalah telah gagal menjadi istri yang baik untuk Diandra. Saya tidak bisa menjadi wanita yang diharapkan oleh Diandra." kata Diana dengan menunduk, Dirinya juga tidak mau disalahkan. Makanya sebelum itu terjadi, dirinya pura- pura menjadi wanita yang teraniaya.


huf...

__ADS_1


" Dalam hal ini, Diandra lah yang salah. Dia sebagai laki-laki tidak bisa memimpin dan membina kamu. Diandra tidak bisa berupaya mempertahankan rumah tangga nya dengan merangkul dan mengayomi kamu. Sehingga terlepas dari semua itu, kamu pun juga rela bercerai dengan Diandra. Kamu juga rela bekerja mengembangkan bisnis keluarga besar mu untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga kalian? Sedangkan Diandra masih sibuk dengan hobinya melukis." kata Pak Adityawarman sambil melihat anak laki-laki nya itu.


" Loh papa! Maaf pa! Aku walaupun banyak di rumah dan kerjaan saya terlihat hanya melukis saja. Namun saya juga menghasilkan uang, pa! Memang terlihat seperti pengangguran. Papa harus tahu, kalau saya juga melukis sudah memiliki nama yang diperhitungkan. Ditambah saya pun mendapatkan beberapa bagian dari perusahaan itu beberapa persen. Jadi, kalau dalam hal ekonomi saya tidak mau disalahkan jika saya lepas tanggung jawab. Istri saya saja yang sombong tidak mau menerima uang dari saya." kata Diandra akhirnya yang membuat mama papa nya melongo lalu melihat ke. arah Diana. Diana jadi menunduk setelah melihat ke arah Diandra.


" Maaf papa mama dan kamu Diana! Kalau sudah membahas dan bicara soal kebutuhan keluarga, saya sungguh tidak Terima jika saya di bilang tidak memberikan kebutuhan nafkah lahir itu. Karena Diana tidak mau, akhirnya saya atur semua kebutuhan rumah tangga dibantu dengan putri ku yang cantik, Sifa. Kalau kalian tidak percaya akan ucapan aku. Silahkan tanyakan semua kepada Sifa." ucap Diandra.


Cukup lama mereka akhirnya terdiam. Diandra akhirnya permisi meninggalkan mereka dan duduk di taman belakang rumah. Di sana Diandra mulai menghubungi seseorang. Dan itu cukup membuat hatinya akan kembali cerita.


" Kasandra?? Hanya mengingat dan memanggil nama mu pelan saja aku seketika menjadi tersenyum dan berbunga- bunga! Hahaha. Sifa saja menyukai kamu, apalagi aku? Rasanya tidak sabar besok ke kantor. Tapi besok weekend? Huff." pikir Diandra lalu mulai mengetik sesuatu yang akan dikirimkan ke Kasandra.

__ADS_1


__ADS_2