GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
JAHILNYA DIANDRA


__ADS_3

Di ruangan kerja Diandra, perusahaan konstruksi keluarga Adityawarman.


Diandra saat ini disibukkan dengan lembaran kertas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Sang sekretaris utama, Pak Herman masih berdiri mematung menunggu kertas yang berbentuk proposal kerja sama itu ditandatangani oleh sang bos muda. Bos muda itu malah sibuk dengan lembar kertas yang lainnya. Kali ini Diandra meneliti satu persatu tiap lembarnya. Sedangkan Sang sekretaris mulai jenuh menunggu bos mudanya itu untuk mendahulukan lembaran kertas yang dia berikan tadi. Namun tidak juga menyentuhnya. Bahkan melirik pun tidak, proposal yang diberikan oleh nya. Seolah ini sengaja ingin menguji kesabarannya. Pak Herman mulai mengepalkan tangannya menahan kekesalannya.


Kasandra? Saat ini dirinya diberi tugas oleh Diandra untuk membelikan asinan di seberang jalan. Selama Kasandra bekerja menjadi asisten pribadi Diandra selalu saja menyuruhnya hal- hal yang aneh dan tidak berhubungan dengan pekerjaan nya. Kasandra seperti pelayan pribadi untuk Diandra saja.


Tiba-tiba suara ketukan pintu diketuk dan Kasandra tiba dengan membawa asinan buah. Kasandra masih heran kenapa Pak Herman juga masih berada di ruangan Diandra. Padahal sebelum dirinya di suruh beli asinan buah oleh Diandra, Pak Herman sudah ada di ruangan Diandra. Ini sudah berapa lama? Kasandra mulai melihat ekspresi wajah jengkel dari Pak Herman. Namun dalam hati Kasandra menahan tawanya karena Diandra ini terkadang jahilnya kumat- kumat an.


" Pak Diandra, ini asinan buahnya." kata Kasandra sambil berjalan mendekat ke meja kerja Diandra.


" Hem?" sahut Diandra masih fokus dengan kerjaannya. Sedangkan Pak Herman masih tetap. setia berdiri di dekat Diandra menunggu nya.


" Suapi aku!" perintah Diandra. Kasandra melotot dan memutar bola matanya. Namun akhirnya Kasandra menuruti semua perintah Diandra Kasandra menggeser satu kursi untuk lebih dekat ke meja Diandra lalu mulai duduk dan menyuapi asinan buah yang tadi dia belinya. Masih tetap fokus dengan tumpukan kertas- kertas itu, Diandra memeriksa lembarannya dan mencoret yang tidak relevan. Sesekali mulai menandatangani berkas yang memang harus dia tanda tangani. Kasandra melihat wajahnya Pak Herman mulai kusut.


" Ini Pak Diandra! Tolong proposal yang baru saja saya bawa tadi mohon disegerakan dulu Pak." kata Pak Herman sambil menahan amarahnya. Otaknya sudah mendidih ketika melihat Diandra makin cuek akan dirinya.


" Suapi lagi!" perintah Diandra. Kasandra menyuapi asinan itu ke mulut Diandra setelah itu melihat Pak. Herman semakin jengah.


" Diandra sayang! Tolong berkas dari Pak Herman disegerakan dahulu." ucap Kasandra sedikit merayu.


" Hem?" sahut Diandra namun masih cuek. Kasandra mendekati Pak Herman lalu meminta proposal nya yang harus segera ditandatangani oleh bos yang kumat suka- suka hatinya.


" Ini. tanda tangani dulu. Atau aku akan berhenti dari asisten pribadi kamu eh bukan baby sitter kamu." kata Kasandra dan seketika Diandra mulai melihat proposal dari Pak Herman. Kini dahi Diandra malah mengkerut melihat proposal itu.

__ADS_1


" Setelah ini kamu harus kasih aku kontribusinya karena sudah menandatangani proposal dari Pak Herman." bisik Diandra ke telinga Kasandra. Kasandra kembali memutar bola matanya.


Setelah proposal itu ditandatangani oleh Diandra, Pak Herman menarik nafas lega dan bergegas meninggalkan ruangan Pak Diandra. Namun sebelum keluar dari pintu ruangannya, Diandra menghentikan langkah Pak Herman.


" Tunggu!" kata Diandra. Seketika Pak Herman berhenti melangkah.


" Iya, Pak! Ada apa pak!" tanya Pak Herman.


" Kamu tahu, apa kesalahan kamu? Kalau bukan karena Kasandra, itu proposal sampai besok tidak akan aku tanda tangani." kata Diandra. Pak Herman menarik nafasnya.


" Sebenarnya ini tidak ada untungnya bagi aku kalau, Pak Diandra mempersulit kerja sama ini. Aku kan hanya menjalankan tugas-tugas di bagian aku. Kalau sudah kelar sudah kerjaku hari ini. Namun untuk kemajuan dan perkembangan kerja sama bukankah berdampak semuanya terutama hasil dari proyek itu sendiri dan tentunya berpengaruh terhadap para bos pemilik perusahaan ini kan? Hadeuh!" pikir Pak Herman sambil menepuk jidatnya sendiri.


" Kesalahan saya apa yah, pak?" tanya Pak Herman.


" Ya ampun! Hanya masalah ini? Bukankah tadi karena aku melihat Kasandra berjalan sendirian dari kontrakan nya menuju kantor. Dan lagi pula tadi satu arah dan bertepatan aku lewat. Sekalian saja kan aku bonceng kan? Apa aku salah?" pikir Pak Herman.


" Yang kedua, kamu sudah berani mendekati Kasandra. Itu aku juga tidak suka." kata Diandra lagi. Kembali Pak Herman menahan tawanya dan Kasandra malah cekikikan.


" Diandra, cukup deh! Jangan seperti anak kecil! Pak. Herman pergi saja Pak, Pak Herman lagi kurang kopi." sahut Kasandra.


" Oh iya, akan saya buatkan kopi dulu." kata Pak Herman dengan cepat melangkah keluar dari ruangan Diandra. Kasandra masih tetap menyuapi asinan buah itu ke mulut Diandra.


" Ini dulu mama nya ngidam apa sih? Kok ada orang macam sejenis ini manjanya minta ampun." batin Kasandra.

__ADS_1


" Ada apa? Kamu mulai terpesona karena aku ganteng yah?" ucap Diandra yang melihat Kasandra sudah lama memperhatikan dirinya.


"Ih kepedean jadi orang!" sahut Kasandra.


" Kamu belum kasih kontribusi nya ke aku karena sudah menyuruh aku mendahulukan berkas milik Pak Herman?" ucap Diandra kini terlihat serius dengan laptopnya, namun mulut dan sikapnya kok tidak sesuai dengan pikirannya yah.


" Ini anak, aku rasa tingkat jahilnya gedhe banget dan suka sekali bikin geram dan emosi orang." batin Kasandra.


" Suapi aku! Jangan melihat wajah aku terus! Kamu nanti jatuh cinta sama aku." kata Diandra membuat Kasandra menjadi semakin geram. Namun ada rasa suka di sana karena Kasandra mulai sudah terbiasa dengan rayuan dan kata kepedean nya Diandra.


" Malas! Aku pastikan tidak akan jatuh cinta dengan kamu, Mas Diandra!" sahut Kasandra. Diandra seketika menghentikan aktivitas nya dan mulai mendekati wajah Kasandra. Kasandra mundur dan mulai menjauh dari wajah Diandra yang terlalu dekat dengannya.


" Diandra! Ini tidak lucu, apa yang akan kamu lakukan kepadaku?" tanya Kasandra mulai gugup dan mulai menahan nafasnya karena wajah Diandra begitu dekat dengan wajah Kasandra. Kasandra mulai berdebar jantungnya dengan keadaan seperti itu.


" Tidak ada! Rupanya di dekat bibir kamu ada tai lalat yang kecil. Makanya terkadang kamu cerewet sekali." ucap Diandra lalu kembali ke tempat duduknya. Kasandra menarik nafas lega. Hampir saja jantungnya hendak lepas jika pikirannya itu benar-benar dilakukan oleh Diandra.


Diandra tersenyum dan melirik Kasandra yang masih berdiri mematung di ujung tembok.


" Dia berpikir aku hendak menciumnya. Wajahnya begitu ketakutan. Hem entah takut atau merasakan jantungnya berdetak kencang." pikir Diandra dengan senyuman nya yang super jahil.


" Apakah kamu kecewa?" tanya Diandra setelah kembali duduk di dekatnya dan mulai menyuapi dirinya namun kali ini menyuapi nasi hasil dari masakannya.


Iya, Diandra meminta Kasandra setiap hari harus membawakan bekal untuk makan siang. Dan semua bekal itu harus hasil dari masakan Kasandra. Benar-benar jadi baby sitter kan?

__ADS_1


" Kecewa apa?" tanya Kasandra. Diandra hanya tersenyum saja tidak ingin menjelaskan.


__ADS_2