GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
MASIH JAHIL


__ADS_3

Diandra tersenyum dan melirik Kasandra yang masih berdiri mematung di ujung tembok.


" Dia berpikir aku hendak menciumnya. Wajahnya begitu ketakutan. Hem entah takut atau merasakan jantungnya berdetak kencang." pikir Diandra dengan senyuman nya yang super jahil.


" Apakah kamu kecewa?" tanya Diandra setelah kembali duduk di dekatnya dan mulai menyuapi dirinya namun kali ini menyuapi nasi hasil dari masakannya.


Iya, Diandra meminta Kasandra setiap hari harus membawakan bekal untuk makan siang. Dan semua bekal itu harus hasil dari masakan Kasandra. Benar-benar jadi baby sitter kan?


" Kecewa apa?" tanya Kasandra. Diandra hanya tersenyum saja tidak ingin menjelaskan.


******


Diandra hari ini benar-benar fokus dengan tumpukan berkas- berkas di atas meja nya. Hal itu semakin membuat jengah oleh Kasandra. Karena Kasandra menjadi tidak bisa bergeming oleh keadaan itu. Dirinya benar-benar seperti baby sitter yang harus menjaga, merawat anak bayi nya. Diandra ingin segera merampungkan tumpukan kertas- kertas di mejanya itu. Namun dirinya juga tetap ingin Kasandra tidak jauh darinya.


" Laki-laki ini kalau sedang serius terlihat sangat seksi." pikir Kasandra yang memperhatikan wajah Diandra yang tanpa ada senyum. Benar-benar otaknya diperas hari itu dengan Kerjaan nya. Sampai hari ini tidak ada kesempatan untuk meluangkan waktu nya mencoret kanvas nya.


" Panas banget!" kata Diandra sedikit melonggarkan dasi dan membuka dua kancing kemejanya. Padahal AC di ruangan itu sudah dihidupkan. Kasandra semakin melotot dengan ulah Diandra yang suka- suka dan seenak jidatnya membuka sedikit bagian da da nya itu. Sungguh hal itu benar-benar membuat Kasandra membayangkan hal konyol. Diandra mang memiliki dada yang bidang. Bahunya yang lebar mampu merengkuh tubuh wanita hingga mampu memberikan kehangatan dan kenyamanan jika berada dalam dekapan Diandra. Kasandra membayangkan hal itu saja air liurnya menjadi keluar.


" Hai, kamu kenapa?" kata Diandra membuat Kasandra terkejut.


" Hah?" Kasandra jadi kepergok kalau dirinya mengamati bagian terbuka milik Diandra. Diandra jadi tersenyum jahil. Kini malah Diandra berdiri dan melepas dasi dan kemejanya. Lalu meninggalkan meja kerjanya dan duduk di depan kanvasnya. Otaknya sudah panas akan kerjaannya hari ini. Diandra tidak. mau memaksakan diri dengan kerjaan berat menurutnya itu. Kasandra masih duduk di kursi yang sama. Namun matanya jauh melihat Diandra yang bertelanjang dada namun masih dengan celana panjangnya. Tangan Diandra sudah mulai sibuk mencampurkan berbagai macam warna di atas kanvas nya. Entah kali ini apa yang akan Diandra buat.


Kasandra tidak mampu menatap bagian bahu dan dada bidang Diandra yang sungguh membuat dirinya terpesona dan mengeluarkan air liur nya.

__ADS_1


" Kamu kenapa bengong! Masih ada tidak asinan buah tadi? Suapi aku!" ucap Diandra. Kasandra menghela nafas panjang. Kasandra mulai mengangkat kursinya berdekatan dengan Diandra. lalu mengambil sisa asinan buah yang masih satu porsi belum dibukanya. Betapa Kasandra merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Tangannya sedikit gemetar karena dirinya begitu dekat dengan laki-laki yang dengan seenaknya bertelanjang dada itu. Badannya memang benar-benar bagus. Rasanya tangan Kasandra ingin sebentar saja menyentuh nya. Hanya menyentuh saja tidak lebih.


Kasandra mulai menyuapi buah itu ke dalam mulut Diandra. Diandra masih tetap memainkan lukisannya. Gambar itu sudah setengah berbentuk. Betapa terkejutnya Kasandra, Diandra melukis seorang wanita yang sedang melamun. Mungkin lebih tepatnya wanita yang berpangku tangan memperhatikan sesuatu. Bukankah itu pose dirinya ketika dia sedang memperhatikan Diandra yang sedang fokus dengan tumpukan kerjaan nya.


Disaat Kasandra sibuk menyuapi Diandra dan Diandra juga sibuk dan fokus dengan gambar lukisannya, pak Adityawarman masuk ke ruangan itu.


" Diandra!" panggil Pak Adityawarman yang membuat Kasandra berpindah tempat duduk nya dari sana.


" Pak!" sapa Kasandra sambil menunduk hormat. Pak Adityawarman sekilas tersenyum ramah dengan Kasandra namun matanya melotot ke arah Diandra. Apalagi Diandra masih belum mengenakan kemejanya.


" Oh ini anak, benar-benar yah!" batin Pak Adityawarman.


" Iya, ayah! Kerjaan aku sudah 80 persen sudah selesai ayah. Ini aku coba mendinginkan otak aku sebentar." kata Diandra lalu meninggalkan kanvasnya dan menuju kamar mandi mencuci tangannya. Lalu mulai mengenakan kemeja nya. Pak Adityawarman kini duduk di kursi meja Diandra.


" Apakah kamu. menemukan kejanggalan dalam bahan- bahan material yang digunakan di bangunan proyek lokasi B?" tanya Pak Adityawarman.


" Benar ayah! Sesuai proposal awal harusnya menggunakan bahan baku material dengan kwalitas yang tinggi. Namun karena dalam pelaksanaan lapangan ada kecurangan jadi bangunan yang dihasilkan tidak tahan lama. Ini akan membuat kerugian dan menimbulkan kekecewaan dari pihak yang sudah mempercayakan perusahaan kita dalam bidang-bidang proyek ini. Besok aku akan turun ke lokasi sendiri, Ayah! Ini kebetulan ada salah satu orang bagian pengawasan yang sudah aku jadikan asisten pribadi aku." kata Diandra sambil menunjuk Kasandra. Pak Adityawarman menghela nafas panjang.


" Kamu dimana-mana selalu saja modus." bisik Pak. Adityawarman kepada Diandra.


" Ini juga dalam rangka mencarikan mama sambung untuk Sifa, Ayahku yang baik dan bijaksana.


" Dia bisa diandalkan tidak dalam kerjaan nya?" bisik Pak Adityawarman.

__ADS_1


" Dia yang bawa kesini loh, om Dedy! Sudah lama kerja disini, Ayah!" bisik Diandra. Kasandra yang duduk di kursi sofa merasa tidak enak seperti sedang dibicarakan oleh laki-laki dewasa tidak jauh darinya.


" Kasandra!" panggil Diandra. Kasandra berdiri dan mendekati kedua laki-laki pimpinan perusahaan besar itu.


" Ini ayahku, calon mertua kamu. Eh bukan ini Pak Adityawarman akan memberikan tugas kecil untuk kita." kata Diandra sedikit cengengesan. Kasandra menjabat tangan Pak Adityawarman sambil menunduk hormat.


" Kasandra, Pak!" ucap Kasandra ramah. Pak Adityawarman tersenyum simpul.


" Jangan sungkan, Diandra selalu begitu. Ya sudah Diandra kamu besok cek lokasi dengan Kasandra mengenai kecurangan- kecurangan itu. Setelah memastikan mereka melakukan kesalahan, buat SP dan menghadap ke kantor. Langsung menemui aku." kata Pak Adityawarman serius. Lalu berdiri dan meninggalkan Diandra dan Kasandra di ruangan itu.


Kasandra menatap ke arah Diandra.


" Ada masalah serius dalam lapangan, mas?" tanya Kasandra.


" Iya benar! Bangunan yang seharusnya tahan kurang lebih berpuluh-puluh tahun, namun kini malah mengalami kerusakan yang fatal. Kecurangan dalam pengadaan bahan material ber kwalitas sangat rendah. Besok kita memastikan kebenarannya." jelas Diandra, Kasandra sudah sedikit memahami akan hal itu.


"Kamu kepanasan juga yah?" ucap Diandra sambil mengambilkan tisu lalu mengusapnya ke dahi Kasandra. Kasandra melongo akan tingkah Diandra.


" Apakah kamu grogi, ketemu calon mertua kamu?" bisik Diandra sambil mendekati Kasandra. Kasandra mundur beberapa langkah berusaha menjauh dari Diandra yang begitu dekat kepada nya. Namun kakinya kurang keseimbangan hingga membuatnya terjatuh. Namun dengan cepat, Diandra menangkapnya hingga kini Kasandra terbenam dalam dekapan Diandra. Cukup beberapa saat mata itu saling tatap. Keduanya merasakan debaran jantung yang tidak karuan.


" Bilang saja minta dipeluk seperti ini. Kok pura- pura menjatuhkan dirimu. Biar aku menangkap kamu yah?" goda Diandra mencoba menutupi groginya juga. Kasandra seketika cemberut bibir nya.


" Si.. si siapa yang sengaja ingin jatuh?" sahut Kasandra berusaha memprotes nya. Namun Diandra malah terkekeh dengan sikap imut dari Kasandra.

__ADS_1


__ADS_2