GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL

GODAAN- GODAAN LIAR PELUKIS PROFESIONAL
JALAN- JALAN


__ADS_3

Setelah sarapan bersama, Sifa dan juga Diandra berpamitan pada Pak Adityawarman beserta istrinya. Tentu saja,nenek Sifa selalu mengingatkan kalau selama weekend selalu berkunjung di rumah besar itu. Rumah kediaman Adityawarman menjadi sepi ketika Diandra sudah tinggal di rumahnya sendiri. Pak Adityawarman hanya memiliki putra tunggak dan Diandra lah yang menjadi pewaris tunggal perusahaan yang telah berkembang itu.


Di dalam mobil itu, Sifa sangat sibuk sekali membicarakan perihal Kasandra. Mulai dari kecantikan nya maupun keramahtamahan nya dengan dirinya. Diandra hanya senyum- senyum saja mendengar cerita dari putrinya itu.


" Kita belikan apa, tante Kasandra nak? Masak ke rumahnya tidak membawa apa- apa?" tanya Diandra.


" Terserah ayah, saja! Lagi pula kami kan hendak jalan- jalan, ayah!" sahut Sifa.


" Hem, ayah belikan donat saja yah!" usul Diandra.


" Baiklah! Tante Kasandra suka yang manis- manis kok!" kata Sifa sambil tersenyum.


Dalam perjalanan Diandra singgah di toko kue untuk membelikan bermacam jenis kue, tidak hanya donat saja. Sifa yang melihat ayah ya seperti memborong berbagai jenis kue- kue itu tidak ingin memprotes nya.


" Sepertinya ada yang mau pendekatan dengan tante Kasandra nih?" sindir s


Sifa. Diandra hanya tersenyum mendengar sindiran dari putrinya itu.


" Biar adik cepat mendapatkan bunda baru loh, nak!" sahut Diandra sambil terkekeh.


" Begitu yah! Tapi apakah tante Kasandra belum memiliki kekasih yah, Yah?" tanya Sifa ragu.


" Belum ada janur melengkung di depan rumahnya kan? tanya Diandra.


" Bukan rumahnya, Yah! Namun itu kontrakan tante Kasandra. Di sana tante Kasandra berdua mengontrak dengan tante Gita." terang Sifa.


" Tante, Gita?" sahut Diandra.


" Iya, benar! Berdua kerja di perusahaan kakek. Makanya tante mencari kontrakan di dekat perusahaan kakek itu." jelas sifa.


" Astaga! Kamu kok tahu dengan detail sih, sayang?" kata Diandra sambil mengacak-acak rambut Sifa.


" Ayah! Jangan di acak- acak rambut, Sifa! Berantakan kan?" ucap Sifa dengan cemberut.


Diandra menjalankan mobilnya pelan ketika mulai masuk ke gang.


" Dimana rumahnya, nak?" tanya Diandra.


" Lurus dikit! Yah stop ayah! Ini rumahnya." kata Sifa akhirnya dengan melihat petunjuk google map


Diandra menghentikan mobilnya. sifa lalu bergegas turun dari dalam mobil.


" Ayah! Tidak turun?" tanya Sifa.


" Ayah disini saja! Bukankah ayah hanya mengantarkan adik saja? Ayah tidak boleh ikutan jalan- jalan?" sahut Diandra.


" Oh iya, ini kuenya dibawa! Kasih ke tante Kasandra yah, Nak!" tambah Diandra sambil menyerahkan tas belanjaan yang berisi kue- kue itu.


" Siap ayah!" kata Sifa lalu meninggalkan ayah nya setelah bersalaman dan mencium punggung tangan ayahnya.

__ADS_1


Namun Diandra masih nangkring di dalam mobil itu seolah masih menunggu dan menanti wajah wanita yang selalu sering hadir di mimpi nya itu, keluar dari rumah kontrakan tersebut. Namun, di teras sudah ada yang duduk menunggu di sana. Seorang laki-laki yang juga tidak buruk rupa dengan penampilan santai namun pakaian yang dikenakan terlihat bukan orang biasa. Pakaian yang dikenakan terlihat ber kwalitas dan bermerek. Diandra memperlihatkan sekilas laki-laki itu.


" Wajah dan penampilan nya tidak jauh dari aku. Wah rupanya aku sudah ada saingan nih." pikir Diandra.


"Eh, tapi dia ke rumah itu hendak mendekati Kasandra atau Gita sahabat Kasandra?" pikir Diandra masih di dalam mobilnya mengamatinya dari kaca mobilnya.


Tidak berapa lama wanita yang hendak dilihat wajahnya oleh Diandra itu keluar dari rumah itu bersama Gita, sahabat nya. Diandra menatap pemandangan itu penuh kekaguman dan ketertarikan.


"Cantiknya! Kamu benar-benar cantik, Kasandra! Dengan sedikit polesan di wajah kamu dan tidak norak, itu yang aku sukai. Penampilan yang sederhana namun elegan. Aku suka, suka sekali." gumam Diandra masih fokus melihat wajah Kasandra.


" Oh mereka berempat jalan- jalannya. Astaga! Sifa seperti adiknya Kasandra saja loh, yang hendak menggangu kakak- kakak nya yang ingin bermain." pikir Diandra.


" Laki-laki itu perhatian sekali dengan Kasandra." nilai Diandra.


" Nanti Sifa akan mengetahui siapa laki-laki yang dekat dengan tante- tante itu." pikir Diandra lagi.


Pelan- pelan Diandra mulai menjalankan mobilnya setelah melambaikan tangan dari dalam mobilnya dan membunyikan klaksonnya. Kasandra, Gita, Sifa dan juga laki-laki itu yang tidak lain adalah Elzatta tersenyum ramah terhadap Diandra.


" Kok, ayah kamu gak mau turun dari mobilnya dan mampir dulu ke rumah sih, dik?" tanya Gita sambil melirik ke arah Kasandra dan Elzatta.


" Kata Ayah ada sedikit urusan dengan sahabatnya mengenai lukisan. Sebentar lagi ada pameran soalnya. Dan ayah juga akan mengikutinya." terang Sifa.


" Oh begitu! Tante jadi ingin melihat karya-karya lukisan dari ayah Diandra." sahut Gita yang mendapat anggukan dari Kasandra. Elzatta hanya menyimak sambil memperhatikan mereka.


" Oke! Kita berangkat sekarang yuk!" ajak Elzatta.


" Oke!" sahut mereka semua.


" Sifa! Nanti kalau pulang titip salam buat ayah kamu yah!" ucap Gita sambil malu- malu. Kasandra jadi membulat matanya mendengar ucapan Gita pada Sifa.


Gita jadi terkekeh-kekeh melihat reaksi wajah Kasandra.


Saat ini mereka sudah berada di pusat perbelanjaan di kota. Mereka sekarang lagi di Timezone. Elzatta sudah menggiring mereka ke tempat bermain rollercoaster. Elzatta sudah membeli tiket masuk ke permainan yang memunculkan adrenalin itu tanpa minta persetujuan dari Kasandra, Gita dan anak Diandra.


" Iya tante nanti akan aku sampaikan salam nya ke ayah!" sahut Sifa sambil melirik ke arah Kasandra yang kini pura- pura tidak memperhatikan percakapan mereka berdua.


Elzatta mengajak ciwi-ciwi itu ke tempat bermain rollercoaster.


" Ayo gadis- gadis kita main di sana!" ajak Elzatta sambil menarik tangan Kasandra dan mengajak Gita, Sifa supaya mengikutinya dari belakang. Sifa yang melihat Kasandra seolah di dekati om Elzatta, jadi kurang suka.


" Waduh! Saingan ayah juga keren habis. Punya penampilan yang oke juga. Dan perhatian sekali dengan tante Kasandra. Ini tidak boleh dibiarkan." pikir Sifa yang berjalan di belakang Elzatta dengan Kasandra. Gita memperhatikan Sifa dengan tatapan kurang suka jika Kasandra didekati oleh Elzatta.


" Ayo naiklah kalian!" suruh Elzatta. Ketiga gadis ragu- ragu dan takut untuk naik rollercoaster tersebut. Namun petugas yang ramah itupun segera mempersilahkan mereka semua untuk masuk dan mengikatkan sabuk pengaman dan memastikan sabuk itu terpasang dengan benar. Elzatta duduk di dekat Kasandra. Wajah Kasandra sudah mulai tegang karena permainan inilah yang selama ini selalu di hindari nya. Ini Elzatta tiba-tiba mengajaknya dengan paksa bermain rollercoaster itu.


" Kasandra, kamu jangan takut! Nanti berteriak-teriak saja kalau memang ingin berteriak dan takut ketinggian. Dan jangan khawatir, aku selalu di sampingmu. Pegang tangan aku jika kamu takut ketika sudah dipuncak ketinggian itu." kata Elzatta penuh perhatian karena melihat Kasandra yang sudah tegang.


Berbeda dengan Sifa dan Gita. Mereka sudah sering bermain rollercoaster itu. Baginya ini permainan yang seru untuk melepaskan segala beban. Dan tempat permainan itu sebagai pelampiasan untuk berteriak-teriak sepuasnya.


" Kamu tidak apa- apa kan, nak?" tanya Gita kepada Sifa seolah-olah sudah menganggap Sifa seperti anaknya yang bakal menikah dengan ayahnya. Hahahaha.

__ADS_1


" Jangan khawatir, tante Gita! Aku sudah sering bermain rollercoaster dengan ayah! Ini mah sudah biasa banget." kata Sifa sombongnya.


" Oh ya? Kamu bermain dengan ayah kamu? Ayah kamu sungguh ayah yang perhatian dengan anaknya yah? Aku semakin tertarik dan terpesona." sahut Gita benar-benar tidak menyangka jika Diandra sangat perhatian dengan putrinya.


" Tentu saja! Ayah selalu menemani aku kalau renang juga, tante! Makanya kemarin waktu lihat pertunjukan teater ketika tante Kasandra main, aku juga ikut menyaksikannya bersama ayah." kata Sifa.


" Mama kamu? Kamu kurang dekat dengan mama?" tanya Gita penuh selidik.


" Mama aku sangat sibuk! Sibuk dengan kerjaan nya dan kekasih barunya hehehe." sahut Sifa tanpa sensor.


" Jadi kamu segera dapat ayah tiri dong!" goda Gita.


Sifa malah manyun bibir nya.


" Mama hanya kasih aku barang- barang mewah dan kasih aku uang saja. Yah, terkadang ngajak shopper aja. Tapi sekarang setelah mama bertemu dengan om Pandu, jadi lupa deh dengan aku." cerita Sifa.


" Om Pandu?" sahut Gita.


" Iya, om Pandu kekasih mama sekarang! Mungkin akan menjadi ayah tiri aku. Om Pandu memang ganteng sih, tapi bagi aku lebih ganteng ayahku dibandingkan dengan om Pandu." terang Sifa. Gita jadi mengusap puncak kepala Sifa.


Setelah semua tempat sudah terisi. Permainan rollercoaster itu sudah mulai berjalan pelan lalu mulai cepat dan cepat. Naik turun sehingga membuat teriakan- teriakkan terdengar di sana. Gita dan Sifa berteriak-teriak namun sesekali malah tertawa penuh riang. Berbeda dengan Kasandra yang benar-benar takut. Wajahnya seketika memucat. Elzatta seketika memegang pergelangan tangan Kasandra memberikan kekuatan untuk Kasandra.


" Berteriak-teriak saja, Kasandra! Jangan takut, sayang!" kata Elzatta dengan suara yang keras.


Benar- benar permainan itu menjadi menciut Kasandra.


Sampai beberapa putaran permainan rollercoaster itu berjalan. Gita dan Sifa masih tidak ada takutnya. Hingga permainan itu berhenti berputar. Mereka lalu melepas pengaman nya dan mulai keluar dari kursi mereka.


Kasandra berjalan sedikit merasakan puyeng. Elzatta tersenyum melihat Gita dan Sifa saling bergantian. Elzatta menuntun Kasandra ke tempat duduk di depan kios kecil di mall itu yang menjual sosis bakar dan minuman. Elzatta menyerahkan dompetnya ke Gita supaya membelikan minuman atau sosis bakar tersebut. Gita dan Sifa segera memesan sosis bakar tersebut. Namun Sifa lagi- lagi tidak menyukai kalau Om Elzatta dekat- dekat dengan tante Kasandra.


" Ah om Elzatta modus banget! Ayah kalah satu langkah deh!" pikir Sifa.


" Sifa! Kamu mau sosis bakar kan?" tanya Gita penuh perhatian.


" Iya tante! Teh botolnya satu tante!" kata Sifa.


" Itu teh botolnya ambil saja di lemari pendingin. Kasih tante Kasandra dan om Elzatta dulu, nak! Kasihan tante Elzatta masih pucat wajahnya. Hehehe." kata Gita.


" Iya, tante Kasandra harus sering- sering main rollercoaster deh supaya hilang takutnya. Entar aku mau ajak tante Kasandra dengan ayah juga." kata Sifa lalu berjalan mendekati tante Kasandra dengan om Elzatta yang duduk di kursi itu.


" Jangan lupa, tante Gita nanti juga di ajak loh!" sahut Gita dengan sedikit berteriak karena Sifa sudah berjalan mendekati Kasandra dan Elzatta.


" Tentu, tante!" sahut Sifa sambil menengok kembali ke arah Gita.


" Tante! Om Elzatta! Ini minuman nya!" kata Sifa menyerahkan teh botol yang dingin itu.


" Terimakasih Sifa cantik!" sahut Elzatta. Kasandra hanya tersenyum masih malas berucap. Elzatta hanya tersenyum melihat wajah pucat Kasandra.


" Ini diminum dulu, Sandra! Setelah ini kita main rollercoaster lagi yah!" goda Elzatta.

__ADS_1


" Ogah! Aku gak mau!" sahut Kasandra sambil meminum teh botol dingin itu. Elzatta terkekeh-kekeh dibuatnya.


__ADS_2